
Hua Chunran merasa dia seperti seorang dosen yang memberi penjelasan kepada para mahasiswanya. Perasaan ini Hua Chunran sangat menyukainya.
Hua Chunran kemudian melanjutkan penjelasannya.
" Jika negara hanya memikirkan kepentingan satu golongan lalu dimana keadilan untuk rakyat biasa? .Sementara rakyat dituntut untuk membayar pajak kepada negara, kepada kerajaan.Tapi mereka tidak bisa menikmati apa yang mereka bayarkan. Seharusnya pajak digunakan untuk mensejahterakan rakyat bukan hanya memperkaya golongan tertentu saja." Hua Chunran melanjutkan penjelasannya.
Semua yang ada disitu tercengang mendengar kata-kata Hua Chunran. Mereka baru menyadari apa yang dikatakan oleh Hua Chunran. Selama ini mereka hanya dituntut harus membayar pajak dan upeti kepada kerajaan, tapi mereka semakin miskin sementara para bangsawan dan pejabat semakin kaya.
Zhao Xifeng juga termenung , identitasnya yang sebenarnya adalah salah satu dari orang paling agung di kerajaan ini. Terbiasa hidup dengan kemewahan , lahir dengan sendok emas di mulutnya Zhao Xifeng tidak pernah benar-benar mengerti kehidupan rakyatnya.
Zhao Xifeng hanya tahu bagaimana kerajaan aman dan makmur. Dia tidak tahu bahwa dibalik kerajaan yang makmur ada banyak pajak dan upeti yang diambil dari rakyat jelata. Rakyat yang susah payah mengumpulkannya dengan keringat dan airmata.
Zhao Xifeng termenung, dia seolah tertampar keras.
Melihat ekspresi semua orang yang tercerahkan,Hua Chunran merasa sedikit puas.
Dia kemudian melanjutkan "kembali kepada pembahasan tentang rakyat tadi, jika kehidupan mereka sejahtera tentu mereka akan lebih mampu membayar pajak yang dipungut negara. Jika pajak lancar , keuangan pajak bisa digunakan untuk membangun negara terutama membangun untuk kepentingan umum .Maka negara juga akan semakin makmur dan rakyat akan semakin mencintai negaranya . Tapi keuangan pajak ini harus diawasi dengan ketat agar tidak diselewengkan oleh pihak-pihak tertentu yang ingin menguasainya untuk keuntungan pribadi atau golongannya ."
Semua orang mengangguk setuju dengan penjelasan Hua Chunran. Mereka sangat takjub dengan pemikiran Hua Chunran. Bahkan Dan Yin tidak menyangka nona yang dia kenal sejak kecil hingga dewasa sangat pintar dan bijak . Dan Yin semakin mengagumi Hua Chunran.
"Tidak hanya bisa menjadi pejabat negara, rakyat yang pintar dan berilmu juga bisa menerapkan ilmu mereka di bidang pekerjaan lainnya. Misalnya rakyat kita banyak yang hidup dari bertani dan berdagang. Bertani bukan hanya sekedar bertani , bagaimana memilih dan menghasilkan bibit yang baik, bagaimana mengolah lahan yang baik , bagaimana menjaga dan mengatasi serangan hama agar tidak gagal panen. Semua ini ada ilmunya, jika banyak petani yang pintar tahu cara mengolah lahan dan merawat tanaman pertanian dengan benar, maka gagal panen bisa dihindarkan , hasil panen bisa ditingkatkan dan tentu saja penghasilan petani akan meningkat. "
Semua orang semakin antusias mendengar penjelasan Hua Chunran. Mereka tak pernah memikirkan hal ini sebelumnya. Sebagian besar dari mereka memiliki orang tua yang juga petani, jadi mereka tahu bagaimana susahnya mengolah lahan ,terlebih jika gagal panen , mereka hampir selalu terancam kelaparan . Makanya mereka berusaha keras bekerja menjadi penjaga dan pelayan para bangsawan atau pejabat agar bisa mendapatkan penghasilan tetap dan bisa hidup lebih baik.
" Begitu juga berdagang, berdagang juga ada ilmunya, bagaimana kita mengelola keuangan , memisahkan modal dan laba agar modal tidak habis terpakai atau diambil begitu saja yang bisa mengakibatkan dagangan atau modal semakin lama semakin habis. Bagaimana mengemas dagangan agar lebih menarik , bagaimana menarik perhatian pembeli agar mau membeli produk kita. Semua itu hanya bisa diketahui dengan ilmu. Ilmu bisa di dapatkan dengan rajin membaca buku. Buku adalah jendela dunia. " Hua Chunran dengan penuh semangat menjelaskan.
__ADS_1
Zhao Xifeng menatap Hua Chunran dengan pandangan rumit. Pemikiran Hua Chunran mengalahkan pemikiran para sarjana di kerajaan, mengalahkan para negarawan dikerajaan yang pernah mengajarinya .
Hua Chunran bak permata tersembunyi, dia sangat pintar dengan pemikirannya yang luas. Bahkan sebagai salah satu orang yang bertanggung jawab atas kerajaan ini, dia mengakui pemikirannya kalah jauh dengan Hua Chunran.
Zhao Xifeng menghela nafas dalam hatinya. Beruntung dia mengenal Hua Chunran, beruntung Hua Chunran adalah rakyat kerajaannya, jika tidak , dengan pemikiran cemerlangnya maka orang lain yang akan beruntung mendapatkannya dan memanfaatkannya.
"Dunia ini sangat luas , bukan hanya ada kerajaan ini dan beberapa kerajaan tetangga. Banyak negara diberbagai benua yang terpisahkan lautan. Juga ada orang berbagai warna kulit salah satunya yang kita lihat beberapa hari lalu . Mereka adalah ras kulit putih, juga ada ras kulit hitam ."
" Ras kulit hitam?" tanya Dan Yin tak mengerti.
" Benar mereka memiliki kulit lebih gelap dari kita dan mereka tinggal dibenua lain. Buku adalah jendela dunia dengan membaca kita bisa mengenal dunia di sekitar kita. Nanti jika kita bertemu kembali dengan orang berkulit putih itu , aku akan meminta mereka membawakan banyak buku untuk kalian baca . "
Hua Chunran teringat di zaman modern bukan hanya buku yang bisa menjadi sumber ilmu, di zaman modern yang era digital dan internet, ilmu bisa dengan mudah didapatkan dengan hanya mengetik dari ponsel. Mengingat kembali ponselnya, tiba-tiba Hua Chunran merindukan ponselnya .
Semua orang mengangguk senang dan merasa sangat gembira. Merasa tak sabar untuk segera lancar dan bisa membaca semua buku di dunia. Hua Chunran memberi mereka pengetahuan dan harapan baru.
Di dalam hati mereka bertekad akan mengabdikan seluruh hidup mereka untuk Hua Chunran dan melindunginya dengan nyawa mereka.
Orang zaman kuno sebenarnya sangat sederhana, jika seorang tuan memperlakukan mereka dengan baik dan tulus mereka akan membalas dengan sepenuh hati bahkan berkali-kali lipat hingga tak segan mengorbankan nyawa.
Hua Chunran menatap bahagia para pengikutnya yang sedang belajar dengan penuh semangat. Dia merasa lebih bersyukur diberi kesempatan hidup di zaman ini.
Membayangkan kembali hidupnya di zaman modern yang mengenaskan ,kilatan kesedihan terpancar dari matanya. Meski sesaat pancaran kesedihan itu tertangkap oleh mata kelam Zhao Xifeng yang setajam elang.
" Kerjakan tugas yang aku berikan, besok aku akan memeriksanya. Aku akan beristirahat dulu di dalam tenda." Hua Chunran bangkit dari duduknya sembari mengibaskan tanah yang melekat di roknya.
__ADS_1
Semua orang mengangguk penuh semangat. " Selamat malam nona, selamat beristirahat.."
sahut mereka serempak.
Hua Chunran tersenyum lalu beranjak pergi menuju tendanya.
Zhao Xifeng juga bangkit dari duduknya lalu berjalan mengikuti Hua Chunran. Sementara yang lain tetap melanjutkan mengerjakan tugas belajar yang diberi Hua Chunran.
Merasakan langkah kaki yang mengikutinya dari belakang, Hua Chunran menoleh dan melihat sosok tampan Zhao Xifeng melangkah ke arahnya.
Dengan heran Hua Chunran bertanya pada Zhao Xifeng " ada apa? apakah kamu sudah menyelesaikan tugas yang aku berikan tadi? "
" Ya nona , tapi besok saja diperiksa, malam ini segeralah beristirahat, aku akan menyalakan api di dekat tenda agar hangat dan mengusir nyamuk." Sahut Zhao Xifeng sopan.
Hua Chunran terkejut, Zhao Xifeng sudah selesai mengerjakan tugas yang dia berikan dalam waktu singkat? . Ternyata selain tampan dia juga cerdas.
Hua Chunran merasa penasaran dengan kemajuan pembelajaran Zhao Xifeng. Jadi dia memutuskan memeriksa hasilnya malam ini juga sebelum tidur.
" Tidak apa-apa, sembari kamu menyalakan api aku akan memeriksa hasil tugasmu.."
" Baik nona.." Zhao Xifeng menyerahkan batu yang telah ditulis hasil tugas yang diberikan Hua Chunran.
Hua Chunran menerimanya dengan kedua tangannya. Karena lebar batu itu terasa agak berat Hua Chunran terlihat kesusahan saat akan membawa batu itu ke tenda. Zhao Xifeng yang menyadari Hua Chunran merasa berat memegang batu itu sambil berjalan , segera mengambil kembali batu itu dari tangan Hua Chunran.
" Aku akan membawanya ke tenda nona.." Zhao Xifeng kemudian melangkah ke tenda Hua Chunran sambil membawa batu itu.
__ADS_1
Hua Chunran tersenyum, memandang sosok tinggi dan gagah di depannya . Rasa hangat tanpa sadar menyusup ke dalam hati Hua Chunran. Zhao Xifeng ini dia sangat perhatian.