Musim Semi Di Tiansheng

Musim Semi Di Tiansheng
Bab 62


__ADS_3

Jenderal Wen sedang gusar, bulan ini Menteri Hua tidak memberinya sokongan dana seperti biasanya. Ini sudah hampir seminggu berlalu dari batas waktu yang selalu di sepakati bagi menteri Hua untuk memberikan mereka uang. Karena itu jenderal Wen segera memerintahkan orang kepercayaannya memanggil Wen Cheng Si


Saat Wen Cheng Si datang dia melihat wajah suram ayahnya. Wen Cheng Si mengernyitkan dahinya heran .


" Ayah ada apa? Tanya Wen Cheng Si sambil tak lupa memberi hormat terlebih dahulu kepada ayahnya.


" Bagaimana kau mengurus calon ayah mertuamu? Kenapa dia belum memberikan uang untuk bulan ini. Ini sudah seminggu berlalu dari tanggal yang disepakati biasanya ." Ujar Jenderal Wen kesal.


Wen Cheng Si terkejut, tidak biasanya menteri Hua mangkir dari jadwal.


" Bagaimana hubunganmu dengan putri menteri Hua? " tanya Jenderal Wen penuh selidik.


" Masih seperti biasa ayah, masih baik-baik saja."


Sejujurnya di dalam hati Wen Cheng Si dia bahkan tidak terlalu memperdulikan hubungannya dengan Hua Chunran. Dia hanya menganggap Hua Chunran pion dan batu loncatan demi mencapai kekuasaan. Karena itu dia bahkan belum mengunjungi Hua Chunran setelah gadis itu kembali dari desa suku Nu.


" Ayah tahu kamu sudah hampir sebulan tidak mengunjunginya. Kamu harus sering mengunjunginya , meski saat ini dia tergila-gila padamu, jika kamu terus mengabaikan dia seperti ini , tidak ada yang menjamin perasaannya padamu akan tetap sama dan tidak hilang." Ujar Jenderal Wen dengan suara dalam .


Sebagai senior yang sudah lebih banyak memakan asam garam kehidupan dia tahu bahwa hati wanita tidak mudah berubah, tapi begitu dia diabaikan terus menerus sekali wanita itu menyerah tidak ada kata kembali. Saat itu jika Wen Cheng Si kehilangan cinta Hua Chunran ,maka langkah mereka merebut kekuasaan akan menemui kesulitan.


Dalam hidup, sekali terlewatkan, itu akan selamanya.


" Ayah tenang saja, wanita itu hanya punya aku dimatanya. Dia tidak akan pernah berpaling dariku.." Ujar Wen Cheng Si sambil mencibir sinis.


Wen Cheng Si ingat saat dia membawa Hua Chunran pergi ke festival perahu naga, gadis itu tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. ( POV Author : Duh Wen Cheng Si ke GR an alias ke pedean ya haha )


" Apakah kamu yakin? . Jika yakin percepatlah pernikahan kalian , agar menteri Hua bisa selalu tunduk kepada kita karena putrinya berada di tangan kita. "

__ADS_1


Jelas sekali niat Jenderal Wen dan Wen Cheng Si menjadikan Hua Chunran menantu dan istri keluarga mereka hanya untuk menjadikannya sandera politik untuk mengendalikan menteri Hua.


" Baiklah ayah, aku akan segera membicarakannya dengan menteri Hua dan Hua Chunran. Perempuan bodoh itu pasti akan sangat senang. " ujar Wen Cheng Si sambil tersenyum sinis.


" Perlakukan gadis itu dengan baik jangan membuatnya tidak senang sebelum keinginan kita tercapai. Kelak jika kamu sudah menduduki tahta ,kamu bisa melakukan apa saja dan mendapatkan perempuan manapun yang kamu inginkan. Sekarang kamu hanya bisa menahannya dan tunjukkan saja bahwa kamu juga mencintai gadis itu." Jenderal Wen mengingatkan.


Wen Cheng Si mengangguk yakin, lagipula dia tidak perlu bersusah payah mendapatkan hati Hua Chunran. Gadis bodoh itu sudah tergila-gila padanya sejak lama dan rela melakukan apapun untuknya. Dengan hanya sedikit bersikap manis saja pada Hua Chunran, hati gadis itu pasti sudah berbunga - bunga bagai musim semi.


Wen Cheng Si lalu berpamitan kepada ayahnya. Dia berencana hendak pergi ke kediaman Menteri Hua hari ini.


Dengan ditemani Qi Shuo, Wen Cheng Si mengendarai kereta kuda pergi ke kediaman Menteri Hua.


Menteri Hua yang sedang berbincang santai dengan putri kesayangannya Hua Chunran terkejut saat pelayan menyampaikan kabar kedatangan Wen Cheng Si.


Menteri Hua dan Hua Chunran saling berpandangan dengan tatapan rumit. Menteri Hua tahu Wen Cheng Si mungkin datang untuk menanyakan dana yang sudah seharusnya dia berikan untuk bulan ini.


Terakhir kali Wen Cheng Si datang meminta dana saat Hua Chunran pergi ke desa suku Nu. Sekarang sudah sebulan berlalu dan tanggal yang disepakati setiap bulan telah satu minggu berlalu .


Hua Chunran juga menyarankan ayahnya mengembalikan uang yang telah dia gelapkan sedikit demi sedikit ke kas negara sebelum semuanya terbongkar dan bisa membahayakan keluarga mereka.


" Ayah aku tidak ingin menemui Wen Cheng Si, ayah saja yang menemuinya ya.." Ujar Hua Chunran dengan nada suara malas.


" Apa yang harus ayah katakan jika Wen Cheng Si ingin bertemu denganmu? Ayah rasa dia sudah tahu kepulanganmu."


" Bilang saja aku sedang beristirahat karena masih lelah melakukan perjalanan jauh dan tidak ingin di ganggu." sahut Hua Chunran.


Menteri Hua mengernyitkan dahi, bukankah alasan ini terlalu aneh ? Wen Cheng Si tahu bahwa selama ini setiap kali dia berkunjung kemari Hua Chunran pasti akan sangat bersemangat menemuinya .

__ADS_1


Bahkan pernah saat Hua Chunran dalam kondisi sakit dia rela pergi ke kediaman Jenderal Wen demi bertemu Wen Cheng Si yang telah lama tidak mengunjunginya.


"Baiklah akan ayah katakan begitu pada Wen Cheng Si.." Menteri Hua menghela nafas. Meski dia juga kurang senang dengan Jenderal Wen yang memanfaatkannya , dia tetap merasa heran kenapa perubahan sikap putrinya yang tergila-gila pada Wen Cheng Si begitu drastis.


Menteri Hua berjalan menemui Wen Cheng Si yang telah menunggunya di aula tamu.


Begitu melihat kedatangan menteri Hua, Wen Cheng Si segera berdiri menyambutnya sebagai bentuk kesopanan kepada yang lebih tua.


" Menteri Hua, maaf aku datang tiba-tiba kemari.." Sapa Wen Cheng Si sambil mengepalkan kedua tangannya tanda hormat.


" Haha tidak apa-apa, senang akhirnya kamu berkunjung lagi kemari " Menteri Hua memaksakan senyumnya .


" Menteri Hua, saya dengar Hua Chunran sudah kembali, kenapa anda tidak mengirim orang untuk memberi tahu padaku?" tanya Wen Cheng Si dengan ekspresi seolah-olah sedih tidak diberitahu.


" Ini karena Hua Chunran masih merasa lelah setelah melakukan perjalanan jauh. Dia bilang tidak ingin diganggu dulu dan ingin beristirahat dengan tenang sampai tubuhnya kembali pulih." Menteri Hua mengatakan kebohongan dengan canggung .


Wen Cheng Si menyipitkan mata, entah kenapa dia merasa menteri Hua sedang berbohong padanya. Tidak biasanya Hua Chunran tidak antusias ingin bertemu dengannya.


"Apakah Hua Chunran sakit? Apakah perlu kucarikan tabib terbaik untuk mengobatinya?" Tanya Wen Cheng Si dengan ekspresi seolah-olah sedang mencemaskan Hua Chunran.


Menteri Hua buru-buru menggeleng dan menolak " Tidak, tidak perlu, Chunran baik-baik saja dia hanya kelelahan dan ingin bermalas-malasan. Tabib kediaman sudah merawatnya dan memberinya tonik herbal setiap hari untuk kembali meningkatkan vitalitas tubuhnya."


Wen Cheng Si mengangguk meski dalam hati tidak puas. " Syukurlah kalau dia baik-baik saja, sayang sekali kalau saya tidak bisa bertemu dengannya hari ini. Padahal saya sudah sangat merindukannya. "


Wen Cheng Si terlihat sangat kecewa.


Menteri Hua hanya tersenyum canggung.

__ADS_1


" Nanti kalau kondisi Hua Chunran sudah pulih, dia pasti akan menemui tuan muda Wen".


Wen Cheng Si mengangguk pelan, lagipula dia juga tidak benar-benar berharap ingin bertemu Hua Chunran.


__ADS_2