
Tak terasa pernikahanku dan azka sudah berjalan selama satu bulan,dan suasana yang kurasakan masih tetap sama seperti pertama bertemu dengan azka dan selama satu bulan itu pun aku tidak mencoba mencairkan suasana setidaknya harapku bisa sedikit lebih akrab,namun aku terlalu lelah menata dan menguatkan hatiku untuk menhadapi banyaknya kemungkinan dari balasan sikap azka.
5 bulan lagi usiaku 24 tahun dan aku harus segera melakukan sesuatu untuk menyingkirkan paman ardhan,tapi rasanya terlalu buntu ditambah azka sudah mulai kembali sibuk mengurusi cafe yg sudah ramai kembali.
Yah memang hubunganku dengan azka tidak lebih dari sekedar partner bisnis menurutku pernikahan yang kami jalani kuanggap sebagai bonus untukku.maka tidak aneh jika kami sama sekali tidak memiliki waktu satu sama lain.
Selesai menandatangani berkas aku bergegas menemui paman zack untuk memastikan bagaimana kesiapan perencanaan pengalihan jabatanku kepada azka.
Yah selain keluarga icha,om dimas dan mama yang mengetahui statusku telah menikah adalah paman zack karena bagaimanapun hanya dia kaki tangan yang sangat aku percaya di perusahaan ini.
"Paman apakah persiapannya sudah selesai"setelah aku memasuki ruangan paman zack
Meskipun aku atasan di perusahaan ini tapi aku tidak pernah menggunakan nama kekuasaanku hanya untuk kepentinganku sendiri buktinya jika aku bisa menghargai semua karyawan disini dengan tanpa diminta mereka akan kembali menghargaiku.
"Ya nona saya rasa semuanya telah siap jika mulai bulan depan tuan azka yang memimpin perusahaan"
"Baiklah aku akan berbicara padanya,terima kasih paman"
Segera setelah keluar dari ruangan paman zack aku menelpon dan mengajak azka untuk bertemu hanya sebatas rekan bisnis tentunya.
"Halo azka apa kau sedang sibuk"tanyaku setelah telpon diangkat oleh azka.
Rasanya aku harus menceritakan secara mendetail tentang semua yang menyangkut perusahaan kepada azka.
Sebenarnya selama satu bulan pernikahanku dengan azka mama selalu berkunjung ke rumah atau ke kantor saat tidak ada azka dan mama selalu menanyakan apakah sudah isi atau apakah kamu merasakan sesuatu Al,mama selalu bertanya tentang kehamilan dan cucu untuknya.
Setiap kali mama menanyakan hal tersebut rasanya aku sangat bersedih dan kecewa pada diriku sendiri karena telah membohongi banyak pihak yang mempercayaiku.
Pernikahan yang baru berusia satu bulan tanpa ada yang mengetahuinya dan bahkan di jari manis masing-masing dari kami berdua tidak tersemat sebuah cincin pernikahan.
Flashback on
Rasanya aku sangat bahagia setiap kali aku memandangi cincin yang dari beberapa hari yang lalu melingkar manis dijariku.
Aku tidak percaya bahkan hanya untuk sekedar berpura-pura azka sampai melakukan seperti ini.
"Emm azka apa kau sengaja menyiapkan cincin pernikahan ini?" Tanyaku saat aku mengunjungi cafe A&R
__ADS_1
"Sebenarnya nona cincin ini adalah cincin pernikahan mama dan ayahku yang sengaja aku simpan untuk pernikahanku yang sesungguhnya nanti tapi berhubung mama tidak mengetahui bagaimana cerita yang sebenarnya maka mama menyuruhku menggunakan cincin itu pada akhirnya karena yang mama sendiri tau pernikahan kita itu atas dasar saling mencintai"
Hatiku mencelos mendengar jawaban azka,rasanya aku terlalu percaya diri dengan pernikahan ini karena sampai detik ini hatinya bukan tertuju padaku.
Flashback off
Begitulah pada akhirnya aku enggan untuk selalu memakainya karena sejak awal cincin itu bukan ditujukan untukku.
Aku selalu berusaha menguatkan hatiku demi azka dan perusahaan ayah.aku tidak pernah menuntut apapun pada azka karena bagiku selalu melihat azka dan azka mengenalku itu sudah lebih dari cukup.
Akhirnya setelah kejadian cincin pernikahan itu aku kembali menginjakan kakiku di cafe A&R.
Tanpa menunggu lama aku mengirimi azka pesan
"Azka aku sudah berada di cafe milikmu"
Tak butuh waktu lama azka muncul dari arah dapur
"Maaf nona apakah anda lama menunggu?"
"Baiklah mari ikuti saya nona"
Aku berjalan di belakang azka,hampir semua karyawan di cafe menatapku bingung mungkin mereka bertanya kenapa bos mereka yang cuek bisa membawa perempuan ke ruangannya.
"Baiklah apa yang ingin anda sampaikan nona?"
"Yang pertama aku ingin membahas tentang perusahaan karena kau pasti sudah mengerti kemana arah pembicaraanku azka"
Dia masih diam menunggu setiap kata yang ku ucapkan
"Aku ingin kau membantuku menyingkirkan pamanku ardhan dia terlalu serakah untuk menjadi seorang pimpinan perusahaan,jika semua saham ini sampai jatuh ke tangan paman ardhan maka akan sangat banyak sekali pihak yang dirugikan karenanya,maka dari itu aku membutuhkan bantuanmu azka"
Dapat kulihat dia hanya terdiam tanpa menanggapi semua ucapanku
"Maksud anda nona"
"Maksudku aku ingin kau memimpin perusahaan inti di indonesia ini azka,aku ingin kau memimpin fuzieyama group di jakarta ini azka"
__ADS_1
Untuk sepersekian detik aku bisa menangkap ekspresi terkejut dari azka.
"Mohon maaf nona apa alasannya bukankah hanya sekedar untuk membantu anda saya bisa menjadi karyawan lainnya maksud saya tidak sampai harus menjadi pemimpin perusahaan?"
"Tidak azka pamanku bukan orang sembarangan dia sangat cerdas azka dan juga... licik"
Kulihat azka tampak berfikir,mungkin dia berfikir bagaimana cara membagi waktu untuk tetap fokus antara cafe dan perusahaan
"Tapi saya harus mengurus cafe ini nona"
"Aku bisa membantumu dengan orang kepercayaanku azka,aku tidak akan mengecewakanmu demi membangun kembali cafe ini azka"
"Baiklah nona saya menerima tawaran anda"
Dapat kudengar azka menghembuskan nafasnya kasar
"Dan satu lagi azka... sepertinya kau harus mengubah panggilanmu padaku azka? Maksudku akan sangat terdengar aneh bukan jika kau memanggil istrimu nona di depan mama dan keluargaku?"
Azka mengerutkan dahinya dalam
"Meskipun itu bisa dirubah sewaktu ada mama dan keluarga tapi menurutku akan lebih baik dirubah dari sekarang azka agar tidak terlalu kaku nantinya bukan?"
"Baiklah aku harus memanggilmu apa?"
Sepertinya Dengan sangat berat hati azka menyetujui usulanku
"Kurasa apapun yang membuatmu nyaman selain nona aku tidak keberatan sama sekali azka" tanpa kusadari aku terlalu bersemangat dan tersenyum ke arah azka
Sepersekian detik dapat kulihat azka terdiam menatapku mungkin karena sikapku yang terlalu antusias dan membuatnya tidak nyaman
"Baiklah aku akan memanggil anda sama seperti yang lainnya"
Tiba-tiba saja aku kecewa mendengar ucapan azka ternyata tidak ada panggilan khusus untukku dari azka
"Baiklah terima kasih dan jangan lupa perusahaanku azka besok datanglah ke kantor,aku permisi azka"
Dengan keberanian yang aku tumpuk dari tadi aku mencium tangan azka sebelum kembali ke kantor.
__ADS_1