
Hari ini rasanya membuatku menjadi wanita yang paling berbahagia di dunia. Semua yang kuharapkan selama ini satu persatu menjadi nyata dan satu hal yang paling sangat kusyukuri saat ini adalah aku terbangun dalam pelukan seorang yang sangat kucintai. Rasanya aku ingin menangis karena terharu, perjuanganku selama ini ternyata tidak sia-sia. Sejenak aku teringat petuah ayah "jika kau sudah berusaha biarlah semua mengalir, sebanyak dan seberat apapun rintangannya semua akan tetap bermuara pada tempatnya" begitulah satu kata menurut ayah yaitu {YAKIN}. Itulah yang akhirnya aku ingat dan membuatku semakin merasa kecewa dengan keputusasaan yang kurasakan selama ini danĀ ternyata tak berarti sama sekali.
"Hmm rasanya masih seperti mimpi menatapmu seperti ini."gumamku dengan jemari yang menyusuri setiap inchi wajah azka yang masih terlelap
"Aku mencintai alis tebal dan hitam ini, aku mencintai mata elang ini, aku mencintai hidung bangirmu ini, dan... "aku menghentikan jari telunjukku tepat di bibir azka dengan warna merah muda menggoda karena dia tidak pernah merokok sama sekali.
Aku menggigit bibir bawahku dan tersenyum malu dengan wajah yang tiba-tiba memanas jika mengingat lembutnya bibir azka saat semalam mengecup setiap inchi tubuhku dengan lembut. Entah kenapa membuat perasaan yang sangat tidak bisa kujabarkan karena sensasi yang unik, gelisah, rasa menginginkan berlebihan dan sensasi yang memabukkan lainnya muncul dalam waktu yang bersamaan membuatku merasa menjadi sosok yang berbeda semalam tadi.
Saat aku masih melamunkan kelembutan dan kehangatan azka yang seakan memujaku semalam tadi dengan jantung yang masih berdetak cepat karena kebahagiaan yang membuncah tiba-tiba azka menarikku dan memelukku erat.
"Apa semalam masih belum cukup sayang?"azka sedikit bergumam dengan mata yang masih terpejam
"Apa kau sudah bangun, anata?"suaraku sedikit bergetar menahan malu atas apa yang kulakukan tadi
"Belum, tapi sepertinya sesuatu yang lain sudah bangun saat ini."jawabnya dengan suara yang terdengar serak
Mataku membulat karena terkejut dengan jawaban azka yang terdengar sedikit mesum.
"Ich kenapa jadi mesum begitu?"aku memukul pelan dada telanjang azka
"Hahaha tidak apa sayang sama istri sendiri ini."
Hah jantungku sudah bertalu talu sejak kemarin dan sama sekali belum bisa berdetak normal karena setiap saat pasti azka mampu membuatku merasa sangat dicintai dan dipuja dengan semua ucapan dan prilakunya.
"Anata, bangunlah hari ini kau harus kembali ke kantor!"aku berusaha merenggangkan pelukan azka yang kian erat
"Apa aku ambil cuti saja hari ini?"jawabnya
"Tidak anata, sudah cukup kau mengabaikan tanggung jawabmu 3 minggu kemarin."
"Tapikan salahmu juga sayang."azka menjawil hidungku gemas
__ADS_1
"Aku temani seharian di kantor bagaimana?"
Azka tampak berfikir sebelum akhirnya jawabannya membuatku sangat terkejut
"Hmm baiklah, sepertinya akan sangat menyenangkan jika kita bermain di ruangan nanti."
Aku menatap horor ke arah azka karena bisa dipastikan semua yang azka ucapkan akan terjadi nantinya tanpa bisa sedikitpun aku menolak. Yah karena tubuhku sendiri menginginkan semua sentuhan lembut dari azka, suamiku.
"Ya sudah aku segera bersiap."azka turun dari tempat tidur kami dengan keadaan yang masih sangat polos dan sukses membuatku menunduk malu
"Eh tapi tunggu, kurasa kau sangat membutuhkan bantuanku sayang."azka berbalik dengan tanpa sedikitpun merasa canggung karena penampilan polosnya saat ini
"Aacckk ... turunkan aku anata, kau mesum."aku berusaha turun dari pangkuan azka yang saat ini menggendongku ala bridal style
"Sstt sayang kurasa sesuatu di tubuhmu masih sangat terasa sakit, karena bukankah ini pertama kalinya untuk kita berdua?"azka menaik turunkan kedua alisnya menggodaku
Tanpa menjawab pertanyaan azka aku menenggelamkan wajahku yang telah merona di dada bidang azka.
Aku tidak bisa membantah sama sekali jika azka sudah mengatakannya maka pasti akan terjadi karena azka pun tau jika aku juga sangat menginginkan dirinya seperti azka menginginkanku setiap saat. Hingga akhirnya waktu yang kami butuhkan untuk sekedar mandipun menghabiskan waktu hampir 2 jam dan jelas sekali membuat kami terlambat bahkan sangat terlambat untuk sampai ke kantor, bagaimana tidak tepat pukul 10 pagi menjelang siang kami baru sampai di kantor padahal kan jarak rumah dengan kantor sama sekali tidak jauh dan jalanan tidak semacet pagi hari.
"Anata ... bagaimana kabar cafe A&R?"tanyaku saat tiba di ruangan azka di kantor fuzieyama
"Sepertinya aku ingin merubah ulang tatanan cafe sayang!"
Dahiku mengernyit tak memahami kemana maksud dari perkataan suamiku saat ini.
"Aku ingin mengubah semuanya dari mulai nama dan penataan semua furniture di dalamnya karena kurasa semua terlihat sedikit berantakan."
Aku terharu mendengar ucapan pertamanya tentang ingin merubah nama dari cafe yang dia bangun entah kenapa aku merasa banyak sekali kupu-kupu berterbangan di dalam perutku saat ini, sensasi geli yang dirasa menyenangkan.
Dengan cepat aku menghambur ke dalam pelukan azka dan mengecup bibirnya sekilas. Namun tidak bagi azka karena saat aku hendak melepaskan ciuman kami dengan cepat azka melumatnya lembut namun penuh tuntutan hingga ciuman kami berubah panas. Kami saling memagut mencecap rasa kami masing-masing. Ciuman azka mulai menjadi liar, ciumannya semakin turun dari mulai menggigit dagu dan turun ke leher membuatku meremang di pangkuan azka.
__ADS_1
Tok tok tok
Suara ketukan pintu mengejutkan kami berdua.
"Shit."azka mengumpat dan berjalan cepat ke arah pintu
Aku tertawa pelan melihat ekspresi azka yang lucu menurutku. Dia merajuk karena adanya pengganggu di sela aktifitas panas kami.
"Apa kau bisanya hanya menjadi penganggu?"ucapan azka ketus kepada seorang yang jelas telah menganggu kegiatannya saat ini
"Sorry tuan azka, saya hanya ingin menyerahkan dokumen yang harus anda tandatangani saat ini."suara yang sangat kukenali dan memang hanya kak kevin yang selalu menjadi penganggu menurut azka.
"Masuk dulu kak." Aku berusaha mencairkan suasana azka yang masih terlihat marah
"Tidak apa Al, kakak hanya sebentar dan kakak harap kamu bisa mengenyangkan singa yang lapar dihadapan kakak saat ini." Dengan nada terdengar jahil kake mengatai azka
Aku hanya tertawa menanggapi ucapan kake
"Sudahlah cepat sana pergi dan segera halalkan kekasih hatimu itu, biar kau memahami bagaimana rasanya terganggu saat kau baru manapaki lereng!"ucap azka ketus dengan pintu yang ditutup dengan kasar.
Aku berlari menghampiri azka yang masih berdiri tak jauh dari pintu dengan amarah yang masih menghiasi wajahnya.
Cup
Aku mencium pipi azka dengan harapan bisa mengurangi amarahnya saat ini. Meski kurasa marah azka tak berarti sama sekali, rasanya aku ingin sekali tertawa saat ini melihat ekspresi azka yang sangat lucu menurutku
"Sayang, jangan tertawa seperti itu!"titahnya sedikit merajuk
"Maaf anata, aku hanya sedikit merasa gemas dengan ekspresimu saat ini. Entah kenapa rasanya kalian tidak pernah bisa akur. Padahal aku sudah menjelaskan semua perihal aku dan kak kevin, tapi tetap saja kalian selalu seperti 2 kubu yang bersebrangan."jawabku dengan tawa yang sedari tadi kutahan
Azka mendengus melewatiku dengan ekspresi merajuk yang masih kentara dan duduk di kursi kebesarannya. Dan jika sudah seperti itu maka aku harus sangat ekstra mengeluarkan seluruh kemampuanku untuk membuat suamiku yang penuh ambisi itu tersenyum kembali. Meski dengan rayuan panas yang selalu dia inginkan setiap saat.
__ADS_1