My Ambitious Husband

My Ambitious Husband
chapter 39


__ADS_3

Keesokan harinya


Menyadari terbangun dalam pelukan azka membuatku merutuki kebodohanku sendiri. Rasanya aku menyesali kebodohanku yang tidak memiliki kontrol diri karena dengan mudahnya aku menangis dan terlihat sangat lemah di depan azka meski sejak semalam azka tak mengucapkan sepatah katapun dan hanya memeluk serta menarikku untuk tidur dalam pelukannya tapi semua itu sukses mebuatku kembali kacau, entah apa tanggapan dan sikap yang akan ditunjukkan azka saat ini.


Dengan perlahan aku melepaskan pelukan tangan azka yang melingkar posesif di pinggangku dan dengan perlahan beranjak pergi ke kamar mandi hanya untuk meringankan debaran jantung yang tiba-tiba menjadi semakin menggila.


Selama 45 menit berada di dalam kamar mandi tanpa melakukan apapun membuat pikiranku semakin buntu, aku sungguh tidak tau harus bersikap seperti apa setelah ini.


Tok tok tok


"Apa kau baik-baik saja Al?"


"Hah a.. ya aku baik-baik saja"dengan nada sedikit gemetar aku mencoba meredam rasa gugupku


"Cepatlah kita sarapan kau sudah terlalu lama berada di dalam"


"Em ya sebentar lagi aku menyusul"


Hah entahlah aku tidak ingin terlalu bodoh hanya memikirkan apa yang harus aku lakukan nanti karena aku masih harus menjalankan semua rencanaku hari ini yang kuharap bisa berjalan dengan sangat baik.


Akhirnya setelah 10 menit bersiap-siap aku segera menemui azka dan mertuaku yang sudah menungguku di meja makan.


"Selamat pagi maaf Al telat"sapaku dengan cengir kuda yang terpatri kaku


"Tak apa nak mamah sangat mengerti"mamah tampak senyum penuh arti


Uhuk uhuk


Azka tampak tersedak minumannya entahlah aku tidak mengerti memangnya kenapa tiba-tiba azka tersedak dan kenapa pula mamah mertuaku ini malah tertawa. Dengan langkah penuh kebingungan aku mendekat dan duduk di  samping azka dengan mata yang menatap antara azka dan mamah bergantian.


"Oh ya kita antar mamah dulu setelah itu kau berangkat denganku"titah azka telak

__ADS_1


"Apa?"


"Mulai hari ini kau harus pergi denganku"


"Tapi azka bukankah sudah menjadi kebiasaan aku selalu berangkat dengan mobilku sendiri"


"Denganku atau tidak sama sekali"titah azka tak ingin dibantah


"Baiklah"dengan berat hati aku hanya bisa menuruti permintaan azka


"Kau itu terlalu posesif azka,lihat kasihan menantu mamah"mamah berkata seakan sedang menggoda azka karena dapat kulihat cuping telinga azka yang memerah sangat kontras dengan warna kulit putihnya.


Aku hanya bisa tertawa menyaksikan pemandangan yang sangat jarang sekali dapat kulihat dari seorang azka.


"Oh ya mamah juga sudah menyiapkan bekal makan siang untuk kalian nanti"


"Ya ampun mah maaf tadi Al tidak sempat membantu mamah"aku menunduk malu menyadari kebodohanku pagi ini.


Sepanjang waktu sarapan kami hanya mengalir obrolan dari mamah yang semakin menggoda azka atas sikapnya padaku sedari semalam kemarin alhasil aku bisa menyaksikan perubahan dari azka yang merajuk seperti anak kecil yang sialnya membuatku semakin jatuh cinta dengan semua yang ada pada seorang azka putera mahardika.


Setelah semua siap kami mengantarkan mamah ke rumah temannya sesuai janji azka semalam dan sepanjang perjalanan menuju kantor kami hanya diam sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Tanpa terasa kami sudah sampai di tempat parkir kantor. Aku berusaha meredam rasa gugup yang tiba-tiba mendera saat azka membuka pintu di sisi kiriku dan dengan luwes membukakan seatbelt yang melingkar padaku serta tanpa kata azka menuntun dan menautkan jemari kami dari saat menuruni mobil hingga sampai ke dalam ruanganku.


Dari mulai kami tiba di lobby perusahaan hingga sampai di dalam ruangan semua karyawan yang menyaksikan kami memandang dengan tatapan terkejut ada pula yang menyoraki kami namun aku tidak berniat untuk melepaskan tautan kami dan dengan senyum yang terpatri pagi ini setidaknya aku hanya ingin menikmati saat-saat bersama azka seperti saat ini.


"Kau diamlah di ruanganku, denganku dan jangan sekali pun pergi ke ruangan pengacara itu"azka membuka keheningan kami sepanjang pagi ini dengan titahnya telak


"Apa kenapa?"aku tidak terlalu mengerti memangnya kenapa aku tidak boleh pergi ke ruangan kak kevin


"Hmmp tidak apa-apa sebenarnya hanya saja... hanya saja bukankah akan lebih cepat karena mengingat kau pergi denganku nanti"tampak ada jeda dari ucapan azka


"Ah ya kau benar"entah kenapa aku sedikit kecewa dengan jawaban yang azka berikan entahlah memangnya apa yang bisa kuharapkan dari jawaban azka.

__ADS_1


"Jadi apa kau yakin dengan keputusanmu hari ini?"azka membungkuk dan mensejajarkan wajahnya denganku


"Hah ya a..aku sangat yakin" Aku terlalu terkejut dengan keadaan kami yang cukup dekat saat ini


"Baiklah Al kita bersiap untuk mengirim tim audit ke tempat pamanmu,dan kau ikut dimobilku"


"Hah bukankah kita sepakat untuk satu mobil dengan kak kevin kemarin"aku tidak terlalu mengerti kenapa tiba-tiba azka bersikap seperti ini bukankah dia sendiri yang menyetujui untuk satu mobil dengan kak kevin


"Tidak biarkan dia dengan tim audit"


"Tapi kenapa?"


"Bukankah sudah jelas untuk meminimalisir pengeluaran bahan bakar"


Aku hanya bisa menyetujui permintaan azka karena meski tidak masuk akal azka sedikitnya benar dalam hal ini.


"Wow sorry Al sepertinya kakak mengganggu kalian"kake tampak membuka pintu ruangan yang memang sebelumnya tidak tertutup rapat dan sialnya kami melupakan itu


Dengan gerakan cepat aku memundurkan wajahku dari azka dan berusaha bersender senyaman mungkin di sandaran sofa. Namun sebelum punggungku sampai pada sandaran sofa azka dengan cepat merangkulku posesif.


"Saya rasa anda sudah tau jawabannya"azka tampak menjawab ucapan kake dengan ketus.


"Baiklah saya hanya ingin menyampaikan semua persiapan sudah selesai kita akan berangkat sebentar lagi"kake tersenyum jahil


"Baiklah kau satu mobil dengan team audit dan Al berangkat dengan saya"


"Hoho baiklah tuan azka kuharap anda tidak akan menyakitinya, karena dia sangat berharga bagi saya"kake tampak serius meski tatapan jahilnya masih kentara


Azka tampak tidak berniat menanggapi apapun karena yang kulihat rahangnya mengeras dan tatapan tajam dari mata elang yang menatap permusuhan itu sangat jelas kentara menghunus kake.


Aku tidak berniat mencampuri dua lelaki gila di depanku dengan tergesa aku meninggalkan keduanya guna menyadarkan mereka adanya hal yang lebih penting yang harus kami lakukan hari ini.

__ADS_1


__ADS_2