
Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari dan Azka masih tetap saja terjaga. Kekesalan pada Kevin dan dirinya sendiri yang membuatnya menyesali semua kejutan yang dia siapkan untuk istrinya, Almeera. Dan sayangnya semua gagal total.
Azka bergerak tak nyaman di sofa yang berada di ruang keluarga kediaman Fuzieyama. Rasanya selimut tebal yang menemaninya saat ini pun tak mampu menghangatkannya meski sedikit.
"Ah ... rasanya tidak nyaman sekali."dengan kesal Azka menyeret selimut dan berjalan ke arah kamar dengan harapan Almeera akan memberikan sedikit keringanan dari hukumannya.
Dengan perlahan Azka mencoba memutar gagang pintu kamarnya. Dan betapa bahagianya saat keberuntungan berpihak padanya malam ini dengan mendapati pintu yang tidak terkunci. Dengan senyum lega yang terulas di wajah lelahnya Azka melangkah perlahan ke atas ranjang yang berisi istrinya.
"Inilah yang ku inginkan sedari kemarin."dengan perlahan Azka menarik Almeera ke dalam pelukannya.
Tanpa menunggu waktu terlalu lama untuk Azka bisa memasuki alam mimpi menyusul sang kekasih hatinya, dengan cepatnya nafas Azka terdengar teratur dengan tangan yang memeluk erat istri cantiknya.
🌻🌻🌻
Subuh hari saat waktu menunjukkan pukul lima pagi Almeera terbangun dan betapa terkejutnya saat dia terbangun dalam pelukan suaminya, Azka.
"Neh anata ... i miss you so bad."seandainya saja Almeera tidak dalam mood yang buruk dan memutuskan adanya gencatan senjata. Pasti pagi ini dia akan menciumi setiap inchi wajah suaminya.
Almeera menatap seluruh wajah suaminya yang terlihat sangat lelah. Ada sedikit rasa penyesalan atas apa yang telah dia lakukan pada suaminya semalam tadi. Namun, memang dasarnya dia seorang Almeera yang tidak akan pernah merasa puas sebelum orang itu menyesali perbuatannya, tak terkecuali suaminya sekalipun.
"Biarlah, biarkan Azka tau rasa dan menyesali perbuatannya."dengan tangan yang mencoba melepaskan pelukan Azka perlahan dari tubuhnya dia bergumam ketus.
Almeera bukanlah seorang wanita seperti pada umumnya, dia bukan seorang wanita yang akan berteriak histeris bahagia saat seorang spesialnya menyiapkan semua hal yang mengejutkan. Almeera lebih akan menyukai jika saja saat itu Azka membicarakan dan mempersiapkan semuanya langsung dengan dirinya.
Terlepas dari kekecewaan Almeera atas apa yang telah Azka lakukan tiga hari kemarin. Almeera tetap mengakui dan menghargai semua usaha suaminya selama ini. Dia merasa sangat bahagia, tentu saja. Setidaknya Azka telah melakukan semua yang terbaik untuknya hari ini. Meski cara yang dia lakukan tidak disukai Almeera.
Almeera berjalan ke kamar mandi untuk mempersiapkan diri demi menyambut hari besarnya dengan Azka hari ini. Kebahagiaan yang Almeera tidak pernah bayangkan adalah tepat saat hari ulang tahunnya saat ini Tuhan memberikan kebahagiaan atas usahanya selama ini dan Tuhan pun telah memberikan penyempurna kehidupannya dengan memberikan kepercayaan-Nya yang saat ini tumbuh di dalam rahim seorang Almeera.
Tak membutuhkan waktu lama Almeera sudah merasa lebih segar dan terlihat sangat cantik meski tanpa make up yang terpoles di wajahnya. Dia berjalan keluar kamar mandi dan mendapati suaminya yang telah terduduk menguap menahan rasa kantuk yang masih sangat kentara.
"Sayang ... kenapa tidak membangunkanku."dengan suara serak khas bangun tidur Azka menghampiri istrinya
"Kamu wangi sekali sayang."Azka mencoba memeluk dan mencium Almeera seperti rutinitas pagi hari mereka biasanya.
"Jangan peluk dan juga cium, kamu bau. Sana mandi!"jawab Almeera ketus
Azka yang awalnya masih merasa sangat mengantuk dengan tiba-tiba rasa kantuk itu hilang dan terganti dengan keterkejutan yang membuatnya sadar seratur persen karena menerima penolakan yang ketus dari istrinya.
__ADS_1
"Sayang ... jangan seperti ini, maafkan aku."Azka masih mencoba peruntungannya, namun bukannya mendapatkan apa yang dia harapkan, Almeera malah kembali mengejutkan Azka dengan ancamannya
"Mandi atau acara hari ini dibatalkan!"ucapan yang terdengar bagai badai dari Almeera yang memang bukanlah hal sulit baginya untuk membatalkan seluruh acara hari ini hanya dengan jentikan jari saja semua akan gagal
"Baiklah."akhirnya dengan langkah lesu Azka hanya bisa menuruti keinginan istrinya yang terasa berbeda hari ini
Azka merasakan adanya keanehan dari istrinya hari ini. Biasanya setiap bangun pagi, ketika Almeera yang selalu terbangun lebih awal dia selalu mengecup setiap inchi dari wajahnya atau bahkan dia akan menempel lengket di pelukannya. Tapi hari ini, lihatlah jangankan kecupan tanpa permisi. Saat Azka ingin mendekatinya saja dia sudah ditolak dengan telak.
"Hah apa kesalahanku sangatlah fatal kali ini?"Azka bergumam frustasi di dalam kamar mandi
Lama Azka berdiam di kamar mandi masih dengan menyesali apa yang telah dia lakukan tiga hari kemarin. Azka merasa sangat menyesal meski Almeera terlihat mempersiapkan dirinya sesempurna mungkin hari ini. Tapi tetap saja tak cukup menghilangkan penyesalan Azka.
Tok tok tok
"Anata ... cepatlah kita sudah hampir terlambat, mamah sudah menunggu di bawah."suara Almeera yang masih terdengar tidak ramah hanya menambah seorang Azka frustasi. Tanpa menjawab Azka membuka pintu dengan keadaan yang memang sudah siap sedari tadi. Dan menemukan sosok istrinya yang sudah terlihat sangat cantik didepannya.
"Sayang ... kau terlihat sangat cantik."dengan tersenyum lembut Azka seakan melupakan penyesalannya saat mendapati istrinya yang terlihat sangat cantik sempurna saat ini.
"Jangan sentuh! Cepat, kita harus segera berangkat!"dengan ketus Almeera menghancurkan angan Azka yang hendak memeluknya dan membiarkan tangan Azka yang masih mengudara.
"Hah ... seramnya saat kau marah Al,"Azka bergumam frustasi saat mengikuti langkah Almeera menuju ruangan tamu kediaman Fuzieyama
"Maaf mah, Azka yang bikin telat. Gak tau deh ngapain aja di kamar mandi tadi,"jawab Almeera merajuk
"Azka, kamu harusnya bisa lebih pagi dari Almeera. Kamu yang menyiapkan semuanya, qo ya kamu sendiri yang bikin telat."
Fitria untuk pertama kalinya terlihat memarahi Azka. Dan itu berhasil membuat Azka kian frustasi, entah kenapa masalah yang telah dibuatnya kali ini menimbulkan kesialan beruntun untuknya sendiri.
Azka dibuat melongo tak percaya melihat sikap sang ibu untuk pertama kalinya seemosi itu. Tanpa berniat menjawab apapun Azka melangkah mengikuti kedua wanita berharganya.
Perjalanan tak membutuhkan waktu terlalu lama dan hanya dalam dua puluh menit mereka tiba di sebuah hotel megah di sekitaran ibu kota.
"Sayang,"dengan cepat Azka menarik dan memeluk posesif istrinya.
Azka memang menyadari kesalahannya, namun dia tidak akan menyerah dan frustasi lagi. Karena mulai saat ini dia akan menjadi Azka yang selalu diharapkan Almeera dengan segala ambisinya.
"Jangan menolak, kau istriku! Ingat?"ucap Azka telak dan anehnya selalu membuat Almeera menyukainya
__ADS_1
Meski Almeera menyatakan gencatan senjata pada suaminya. Tapi saat melihat Azkanya yang penuh ambisi seperti saat ini entah kenapa selalu membuat Almeera kembali luluh dan melupakan semua kemarahannya. Almeera semakin mengeratkan pelukannya pada Azka. Dan tentu saja membuat Azka kembali tersenyum senang.
Sesampainya di tempat resepsi Azka dan Almeera dibuat sibuk dengan segala kubikel semua orang yang membantu persiapan hari ini. Almeera dan Azka ditarik kesana kemari untuk mempersiapkan diri mereka masing-masing serta menerima banyak tamu dari berbagai kalangan yang menghadiri acara hari ini dan tentu saja membuat Fitria, sang mertua merasa sangat khawatir melihat anak menantunya saat ini.
"Al ... ini minum susumu dulu dan makanlah sedikit kue ini!"Fitria memberikan segelas susu lengkap dengan kue untuk sekedar mengganjal perut dan asupan calon cucu-cucunya di dalam perut Almeera
Semua aktifitas Almeera dan sang ibu tak pernah lepas dari pandangan Azka dan membuatnya merasa sangat aneh. Pasalnya setau Azka, Almeera ridak pernah menyukai susu meski dia suka semua yang berbau manis. Tapi tidak dengan susu, dan apa yang dia lihat hari ini, Almeera meminum susu satu gelas penuh dan menghabiskannya.
Dengan langkah tergesa Azka menghampiri kedua wanitanya yang membuatnya merasa sangat penasaran dan menimbulkan banyak pertanyaan di dalam kepalanya.
"Sayang ... bukankah kau sangat tidak menyukai susu?"tanya Azka tepat saat dia berada dihadapan istrinya
"Itu untuk asupan calon anakmu."bukan Almeera yang menjawabnya melainkan, Kevin.
"Hah?"dengan dahi yang berkerut Azka hanya menatap bergantian antara ibu dan istrinya
"Apa maksudnya?"tanyanya lagi semakin tidak memahami situasi saat ini
"Princess gue hamil, masa lo gak tau istri lo lagi hamil?"Kevin kembali bersuara dan jelas membuat Azka semakin geram dan kesal ditambah jika mengingat saran konyolnya yang membawa petaka
Tatapan Azka kini beralih pada ibunya, meminta penjelasan.
"Iya nak ... Almeera hamil dan usia kandungannya hari ini tepat satu minggu jika menurut perhitungan dokter."
"Hah,"Azka kembali tertegun dengan tatapan yang sulit diartikan namun terlihat sangat lucu dimata Almeera.
"Ya anata aku hamil."ucapan Almeera akhirnya menyadarkan ketertegunan dari Azka. Tanpa menunggu lama Azka menghambur memeluk istrinya dan melupakan kekecewaannya karena tidak mengetahui apapun.
"Apa dia merindukan ayahnya yang tidak menyadari kehadirannya saat ini?"tangan Azka terulur mengusap perut rata istrinya.
"Bukan dia Azka tapi mereka."ucapan Icha mampu membuat seorang Azka semakin tertegun dan tak lama pandangan matanya memicing ke arah istrinya. Pasalnya semua orang telah mengetahui berita bahagia ini, dan sialnya dia yang berstatus calon ayah dari buah hatinya sendiri menjadi orang terakhir yang mengetahui kejutan mengharukan ini.
"Sayang ... kau berhasil memberikan kejutan untukku hari ini,"dengan cepat Azka mencium dan memagut lembut bibir istrinya, Almeera.
Mereka saling memagut dalam tanpa memperdulikan sekitar, mereka saling mencecap dalam menyalurkan kebahagiaan dan kerinduan masing-masing, seakan disana hanyalah ada mereka berdua.
"Hei, bisakah kalian lanjutkan nanti saja!"ucapan Kevin mengejutkan keduanya
__ADS_1
Almeera dan Azka tersenyum penuh haru dengan kening yang saling menyatu dan nafas yang masih tersenggal.
"Terima kasih, terima kasih untuk setiap momen bersamamu hingga saat ini bahkan untuk selamanya. I love you more Almeera."