
Dengan langkah gontai aku berjalan menuju ke ruangan kak kevin, rasanya ketakutanku menjadi semakin nyata saat melihat azka terdiam dipelukan rania dan sama sekali tak menyadari kepergianku dari ruangannya.
"Boleh aku masuk"ucapku parau saat tiba di depan ruangan kak kevin
"Apa yang terjadi?"dengan tergesa kake menghampiriku dan terlihat sangat khawatir
Tanpa mengatakan apapun aku menghambur ke pelukan kake dan menangis tersedu, setidaknya saat ini aku hanya ingin menangis. Kake membawaku masuk dengan tetap memelukku dan mengelus punggungku lembut.
"Apa aku harus menjadi egois kak?"ucapku pada akhirnya
"Apa aku tidak akan pernah bisa mendapatkan hati azka meski itu sedikit?"
"Kenapa semua terasa semakin berat?"
"Sssttt dengar princess semua usahamu tidak akan menjadi sia-sia?"kake masih setia mengusap lembut punggungku yang bergetar karena menangis
"Tidak kak kurasa aku tidak akan pernah mendapatkannya?"
"Kakak tidak ingin membuatmu menjadi egois kakak hanya ingin melihat kebahagiaanmu jadi kakak hanya akan mendukung apapun yang akan kau lakukan Al"kake mengurai pelukannya dan mengusap lembut sisa air mata di pipiku.
"Terima kasih kak"aku berusaha tersenyum meski hati masih sangat terasa sesak.
"Nah jadilah Almeera kakak yang selalu kuat, bagaimana kalo kakak traktir hari ini sampe kamu puas?"kake memang selalu tau cara menghiburku
"Hahaha tidak perlu, aku hanya ingin pergi berbelanja karena sepertinya sudah sangat lama aku tidak menghabiskan penghasilanku"dengan tawa yang sedikit dipaksakan aku mencoba dan berusaha menjadi diriku sendiri.
"As you wish my princess"kake membungkukkan badan layaknya pelayan kepada tuannya
Akhirnya kami pun sama-sama tertawa, setidaknya meski tidak akan ada sosok azka disisiku suatu hari nanti, aku akan tetap bersyukur masih dikelilingi orang yang menyayangiku.
Aku berjalan beriringan menuju tempat parkiran kantor dan tepat saat aku hendak memasuki mobil, mataku beradu tatap dengan seorang yang membuatku bahagia dan lemah dalam satu hari ini. Aku melihat azka dan rania berjalan berdampingan dengan rania yang bergelayut manja disisi azka dan aku bisa melihat azka yang terlihat bahagia, Jika saja kake tidak memegangiku maka dapat kupastikan aku akan terjatuh saat itu juga.
Aku berusaha mengalihkan pandanganku aku mencoba bertahan beberapa saat hingga tanpa kusadari azka sudah berada di depanku.
"Apa kau selalu seperti ini?"azka menarik paksa tanganku dari genggaman kake
__ADS_1
"Hei,bisakah kau sedikit berlaku lembut pada perempuan?"kake menepis kasar tangan azka
"Dengar kau tidak berhak ikut campur"jawab azka geram dengan telunjuk lurus mengarah tepat di depan wajah kake
"Mohon maaf tuan azka, jelas sekali ini menjadi urusan saya karena saya tegaskan sekali lagi Almeera fuzieyama ini seorang yang berharga bagi saya"kake membawaku memasuki mobil tanpa memperdulikan azka yang semakin mengetatkan rahangnya karena marah diluar sana.
"Al dengar kakak ingin kau bahagia jadi mulai saat ini kakak tidak akan pernah mendukung semua keputusanmu jika itu menyangkut azka"kake semakin mengeratkan pegangan pada stir mobilnya .
Aku tidak pernah melihat kake semarah ini, aku merasa tidak mengenal sorotan mata penuh amarah kake saat ini. Dan Melihat kemarahan kake saat ini membuatku merenungi semuanya, sepertinya apapun yang terjadi mulai saat ini aku akan berusaha untuk tidak perduli pada azka, karena walau bagaimanapun perjanjian konyol kami tidak lama lagi akan segera berakhir dan dengan atau tidaknya aku mencintai azka semua ini sudah sangat jelas akan berakhir seperti apa nantinya.
"Kau benar kak aku akan mencari kebahagiaanku sendiri"ucapku pada akhirnya
"Bagus itu yang memang harus seorang Almeera fuzieyama lakukan"kake tersenyum meski amarah dari sorotan matanya masih sangat kentara
Akhirnya aku pergi berbelanja ditemani kake yang selalu setia dan bisa membuatku tertawa, meskipun semua hal yang biasanya tidak pernah kulakukan namun hari ini hanya sekedar pengalihan suasana hati aku merasa ingin menjadi sedikit seperti perempuan pada umunya, kami terlalu asik dengan kesibukan kami khususnya aku hingga tanpa terasa kami sudah menghabiskan waktu 6 jam lamanya dan waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.
"Apa malam ini kau kembali ke apartemen kakak?"
"Tidak kak aku akan kembali ke rumah"
"Hah memangnya dari kemarin aku pergi kemana"aku membalas ucapan kake dengan guyonan yang kurasa tidak akan lucu
"Hahaha tidak penting, jadi mari kakak antarkan princess kakak dengan selamat sampai depan pintu rumahnya"
Malam ini dipenuhi tawa kami berdua setidaknya sejenak aku bisa melupakan sedikit masalahku dan berkat kejadian hari ini pula membuatku kembali menyadari posisiku sebenarnya. Maka, aku akan kembali menjadi seorang Almeera Fuzieyama sosok yang dibenci azka.
Tak butuh waktu lama kami sudah sampai di rumah kediaman fuzieyama.
"Mari princess"kake membukakan pintu mobil dan membawakan semua barang belanjaanku
"Thanks kak"aku hanya tertawa menanggapi guyonan dari kake
Saat kake membukakan pintu untukku kami disambut azka dengan ekspresi yang tidak terbaca entah aku tidak mengerti kenapa azka duduk di ruang tamu dan menatap kami dengan tatapan yang kemarahan yang sangat kentara.
"Terima kasih untuk hari ini kak"aku mengambil alih paper bag belanjaan dari tangan kake
__ADS_1
"Oke sama-sama Al kakak pamit pulang, kalo terjadi sesuatu telpon kakak" kake mengacak rambutku sebelum akhirnya dia pergi
Perasaanku menjadi sangat gugup mendapati azka masih duduk terdiam dengan tatapan datarnya seperti dulu. Karena dirasa sangat lelah dengan Tanpa ingin menyapanya aku bergegas naik ke kamar karena yang kuinginkan hanyalah mandi dan beristirahat. Namun sebelum aku menaiki tangga dengan tiba-tiba azka menarik tanganku.
"Apa begini kelakuanmu selalu pulang larut malam dengan lelaki manapun bahkan sempat tidak pulang sama sekali?" Azka mencengkram erat pergelangan tanganku
Hatiku terlalu sakit untuk sekedar menjawab pertanyaan azka yang menyakiti hatiku.
"Apa kau tidak dengar?"suara azka kian meninggi karena aku masih terdiam
"Maaf azka jika memang sebenarnya aku seperti itu apa yang akan kau lakukan"suaraku masih sedikit bergetar meski aku telah mencoba menahan tangisku
"Hoh ternyata rania benar kau memang perempuan licik almeera"ucapan azka terdengar mencemooh
Semua energyku terkuras habis hanya untuk menghadapi masalah hari ini.
"Kenapa kau diam hah"untuk pertama kalinya azka membentakku
"Tadinya kukira kita bisa berteman tapi ternyata semua yang kau tunjukkan hanya palsu"
Aku masih terdiam dengan tangan yang berpegangan pada sandaran sofa karena kakiku tidak dapat menopang berat tubuhku sama sekali.
"Kau, kuharap kau menyangkal semua bukti yang ada ditanganku saat ini"suara azka terdengar lebih pelan namun penuh penekanan dengan menunjukkan amplop cokelat tepat di depan mataku
"Apa Kau dengar sangkal semua bukti yang ditanganku saat ini"suara azka kembali meninggi dan dengan kasar azka melemparkan semua data yang kusembunyikan sejak awal dari seorang azka
Dengan tanpa diminta tubuhku meluruh ke lantai yang terasa semakin dingin dan menangis pilu. Runtuh sudah semua asa dan harapku selama ini.
"Dan sialnya aku terlanjur percaya padamu"dengan langkah tergesa azka pergi keluar meninggalkanku
meski nada suara azka tidak setinggi sebelumnya namun ucapan terakhir itulah yang membuat tangisku semakin pilu.
dengan cepat aku segera mengambil gawai untuk menelpon seseorang yang sangat kupercayai
"kak tolong segera jalankan rencana terakhir"
__ADS_1