
Sejak malam kemarin entah kenapa aku tidak bisa mengendalikan emosiku setiapku bertemu dengan azka rasanya aku ingin sekali mengatakan semua kebenaran yang ada, egoku seakan mendominasi saat ini, namun tak ayal ku lakukan mengingat semua hanya akan menjadi sia-sia. Dengan sangat berat hati aku berusaha menghindari azka berusaha untuk tidak pernah hanyut dalam obrolan seperti biasanya karena jika semua sampai terjadi maka dapat dipastikan aku tidak bisa menahan diri untuk tidak berterus terang yang pada akhirnya hanya akan membuat semua menjadi kacau.
Aku memang tidak pernah berkomunikasi lagi selain mengajak sarapan atau sekedar mengatakan selamat tidur atau selamat pagi hanya sebatas itulah komunikasi diantara kami saat ini, karena melihat sikap azka sendiri pun aku menjadi enggan untuk sekedar beramah tamah seperti biasanya. Azka seakan menjelma menjadi azka yang dingin dan tak tersentuh seperti dulu. Namun aku masih setia melayani semua kebutuhan azka meski terkadang dia tidak menerimanya seperti saat aku menyiapkan pakaian untuk dipakainya ke kantor azka dengan dinginnya menyiapkan kembali sendiri semua keperluannya tanpa berniat melihat semua yang sudah aku siapkan.
"Azka mengenai rencana yang kau katakan tempo hari kurasa itu mèmang harus dilakukan secepatnya"aku mencoba menghilangkan keheningan diantara kami pagi ini
"Baiklah"
"Dan kurasa mulai hari ini aku akan kembali ke kantor, meski kau masih memimpin, aku hanya ingin ikut andil dalam menjalankan semua rencananya"
"Baiklah semua terserah padamu Al"azka tampak enggan menanggapi setiap ucapanku
Aku hanya tersenyum kecut mendengar tanggapan azka yang seakan membuatnya terganggu karena mendengarku terlalu banyak bicara.
Akhirnya semua usahaku untuk membuat azka berpaling dari rania menjadi sia-sia karena meski dengan cara apapun aku tetap tidak bisa mengantikan rania dihati azka. Dengan sangat berat aku berusaha mengubur semua angan dan perasaanku tentang azka. Karena jika memang kebahagiaan azka tetap ada pada rania maka aku akan mengembalikan kebahagiaannya.
Setelah pembicaraan dengan azka pagi tadi aku kembali ke kantor dengan menempati ruangan kak kevin meski tuan ruangan tidak terlalu setuju dengan kehadiranku dan dengan sangat keberatan dia tetap mengizinkanku untuk satu ruangan dengannya.
"Al apa kamu yakin akan mempercepat rencananya? Karena kakak rasa tidak akan semaksimal perencanaan awal"
"Ya kak aku sangat yakin karena satu-satunya cara yang bisa kupikirkan hanya ini"
"Dan apa rencana terakhirmu bisa membuatmu merasa bahagia Al?"
"Entahlah kak yang paling penting saat ini adalah kebahagiaan azka dan perusahaan ini"jawabku dengan tatapan menerawang jauh
"Sebenarnya tujuanmu menikahi azka tidak untuk membantumu di perusahaan bukankah begitu Al?"
__ADS_1
Aku tak berniat menanggapi ucapan kake karena kurasa dia cukup pintar untuk memahami posisiku.
"Karena kakak sangat mengenalmu Al, kamu pasti bisa menyelesaikan semuanya sendiri meski itu tanpa bantuan ayahku ataupun azka sekalipun"
"Kakak memang sangat pintar jadi memang pantas kakak ditunjuk menjadi pengacara perusahaan"aku tersenyum tipis mendengar semua ucapan kake
"Lantas untuk apa jika memang akhirnya kamu sendiri yang merasakan kesakitan itu Al?"
"Bukankah kakak juga seperti itu"
"Kakak tidak mengerti apa yang ada dalam kepalamu itu Al"
"Kakak tidak perlu memikirkan itu"
"Kenapa kau selalu memikirkan kebahagiaan orang lain?"
"Karena mungkin tujuan hidupku saat ini adalah untuk itu"
"Bukankah manusia harus bisa bahagia melihat orang yang sangat dicintainya bahagia kak"aku beranjak dari tempat dudukku dan tak ingin membuat obrolanku dengan kake menjadi semakin melemahkan tekadku
"Kamu mau kemana Al"
"Ingin memastikan yang seharusnya"
Aku hanya ingin menghindari pembicaraan yang akhirnya membuat hatiku semakin tersayat entahlah aku hanya meyakini apa yang kulakukan adalah benar meski terkadang aku selalu kembali merenungi Apakah semua ini akan berakhir seperti yang seharusnya apakah benar apa yang kulakukan akan memberikan kebahagiaan untuk azka.
Aku melangkahkan kakiku menuju sebuah cafe tak jauh dari kantor untuk menemui seseorang yang memang sudah lama aku temui.
__ADS_1
"Tom aku sudah ada di tempat yang kau janjikan?"aku menelpon orang yang sudah aku siapkan untuk menggulingkan kekuasaan paman ardhan.
yah dia kaki tangan paman ardhan seorang IT perusahaan yang membantu menggelapkan dan memanipulasi data keuangan perusahaan. Bukankah untuk menggulingkan seorang raja kita hanya harus menghasut kaki tangannya saja maka akan dengan mudah kita menggulingkannya tanpa harus mengotori tangan kita sendiri.
Flashback on
Setelah mengetahui kejelasan permasalahan yang diberikan dari pak hendra, aku meminta paman zack untuk mencari tau siapa kaki tangan paman ardhan saat itu dan seperti biasa dengan cepat semua bisa diketahui.
"Paman zack tolong pertemukan aku dengan orang yang bernama tom ini" aku menunjukkan sebuah fhoto dari amplop data yang kuminta dari paman zack
"Baik nona"
Dan tak butuh waktu lama aku bertemu dengannya meski pada awalnya dia terlalu setia dengan paman ardhan namun setelah aku menjelaskan berbagai kerugian yang akan dia dapatkan dengan mudahnya dia menjadi kaki tanganku.
Jika paman ardhan cerdas dan licik maka aku bisa lebih dari itu.
Flashback off
Dan disinilah kami memulai perencanaan yang sudah kusiapkan sendiri tanpa diketahui oleh azka sekalipun.
"Apa nona yakin tidak ada kerugian yang berarti bagi saya jika saya melakukan semua ini?"tom tampak sangat khawatir,meski wajar sebenarnya mengingat jika sebenarnya dia adalah penghianat dalam dua kubu
"Apa kau meragukanku?"
"Baiklah saya percaya pada anda nona"
"Kuharap besok semua sudah dijalankan tanpa ada yang mengetahuinya sedikitpun"
__ADS_1
Tom mengangguk patuh tanpa berniat menanggapi kembali ucapanku.
Mari kita lihat paman apakah setelah ini paman masih akan bisa bertahan.