My Ambitious Husband

My Ambitious Husband
chapter 33


__ADS_3

Setelah pertemuanku dengan kak kevin dan membicarakan rencana paman ardhan yang mungkin saja akan menyingkirkanku suatu saat nanti membuatku tidak bisa berfikir dengan baik, semua ketakutanku selama ini tiba-tiba membuatku tidak berani bertemu dengan azka.


Sore hari ini aku memikirkan apa yang akan azka lakukan kepadaku apakah sikap manis dan senyuman hangatnya yang belum lama ini dia tunjukkan padaku akan hilang dan kembali pada azka saat awal pertemuanku dengannya, azka yang dingin dan tak tersentuh. Memikirkannya saja membuatku didera ketakutan yang sangat membuat hatiku sesak.


Aku terlalu bergelut dengan kekhawatiran dan ketakutan yang mendera hingga membuatku terlalu malas untuk melakukan apapun meski waktu terus bergulir dan menunjukkan waktu yang seharusnya sosok azka sudah kembali.


"Sepertinya aku harus menyiapkan makan malam"aku berjalan gontai melihat jam sudah menunjukkan pukul 17.00


Terlalu lama berkutat dengan masakanku membuatku tidak menyadari jam sudah menunjukkan pukul 17.45 tapi belum ada tanda-tanda kepulangan azka ke rumah ini.


"Tidak biasanya azka belum datang"gumamku risau


Kekhawatiran dan ketakutan mendominasiku saat ini entah kenapa rasanya aku tidak akan kuat dan tidak akan bisa melaluinya jika memang pernikahan ini harus usai. Salahkah jika aku menginginkan lebih dari sekedar kebahagiaan azka salahkah aku jika egois menginginkan kebahagiaan untuk diriku sendiri.


Lama aku menunggu hingga waktu menunjukkan pukul 20.00 Aku masih  menunggu kedatangan azka di ruang tamu berharap kekhawatiran dan ketakutanku tidak berarti.


"Assalammualaikum Al"azka pulang dengan wajah yang terlihat sangat lelah


Dengan cepat aku berhambur kepelukan azka tanpa memikirkan apapun aku memeluk azka menangisi ketakutanku selama ini dan bersyukur azka masih kembali ke rumah ini.


"Kenapa menangis?"azka mengusap air mataku yang membasahi pipi dengan ibu jarinya


"Aku hanya merindukanmu"akuku masih dengan tangis dan terisak


"Maaf aku tidak sempat memberi tahumu tadi ada sedikit masalah dan mengharuskanku mengulang kembali semua laporan hari ini"azka mengusap lembut punggungku


"Apa kau sudah makan malam?"


"Belum karena aku hanya ingin makan malam denganmu Al"

__ADS_1


Tanpa mengatakan apapun aku menguraikan pelukan kami dan bergegas ke dapur untuk menghangatkan kembali makan malam kami.


"Maaf membuatmu khawatir Al"azka memecah keheningan diantara kami


Entah kenapa mengingat setiap perkataan kak kevin siang tadi membuatku tidak bisa bersikap seperti biasanya kepada azka rasanya menjadi sangat canggung.


"Tidak apa azka yang paling penting saat ini kau kembali padaku"aku tersenyum dan menatap azka


"Akan kubuatkan vanilla latte kesukaanmu"azka mengusap punggung tanganku


"Benarkah, aku sangat merindukan vanilla latte buatanmu"dengan cepat azka mengembalikan moodku hari ini


Seperti biasa setelah menyelesaikan acara makan malam, kami berbincang ringan atau sekedar menonton tv berbagai acara hanya sekedar hiburan ringan menurut azka.


"This you favourite drink my queen"azka memberikan secangkir vanilla latte hangat di meja dengan senyum hangat yang selalu terukir di wajahnya


Azka tampak tidak menanggapi ucapanku dan dapat kulihat dia tertegun sepersekian detik mungkin karena aku mengecup bibirnya tadi. Tapi aku tidak memikirkannya karena saat ini aku hanya ingin merasakan setiap detik kebahagiaanku.


"Apa rasanya masih sama?"


"Hah apa maksudmu vanilla latte ini?"aku tidak terlalu mengerti pertanyaan azka yang ambigu


"Ekhem ya maksudku vanilla latte itu apa rasanya masih sama mengingat sudah lama ini aku tidak pernah membuatnya lagi bukan"azka tampak canggung dalam menjawabku


"Tentu saja rasanya masih sama kau tidak perlu khawatir"pada akhirnya hanya itu jawaban yang terucap dari lidahku diselingi dengan tawaku


"Kau tau Al aku tidak mengerti apakah yang aku jalani saat ini adalah benar adanya?"azka tampak serius bertanya tentangnya padaku


"Maksudmu?"

__ADS_1


"Maksudku apakah benar caraku mendapatkan rania dengan cara ini adalah benar adanya karena entah kenapa aku semakin tidak menemukan titik temu apakah aku benar memilih rania ataukah itu hanya sebatas ujian untukku dalam memperjuangkan rania"


"Ah begitu, jika itu aku maka kurasa itu benar karena bukankah apapun akan kulakukan demi kebahagiaan orang yang sangat kita cintai"aku mencoba tersenyum menanggapi ucapan azka dan dalam waktu yang bersamaan vanilla latte yang tadinya sangat manis menjadi begitu hambar di lidahku.


"Kau benar membuatnya bahagia adalah prioritas utama"


"Kurasa sudah terlalu malam sebaiknya kau beristirahat lebih dulu"kurasa hatiku tidak akan bertahan lebih lama jika melanjutkan obrolan kami malam ini


"Baiklah"tanpa ada ciuman pada puncak kepalaku azka bergegas meninggalkanku yang tersenyum miris memandangi punggungnya yang semakin menjauh


"Hah kau harus kuat Al bukankah dari awal kau tau bagaimana akan berakhir kisah ini"gumamku lirih


Dengan langkah gontai aku menaiki tangga menuju kamarku yang saat ini ditempati azka disana. Namun kekecewaan mendera betapa tidak saat aku membuka kamar tidak ada sosok azka disana, aku melihat ke seluruh sudut ruangan dan kamar mandi namun azka tidak ada disana sosok azka yang seminggu ini menemani tidurku menghilang.


"Kemana azka, apa dia kembali ke kamarnya? Tapi kopernya masih ada disini"aku bergumam lirih menguatkan hatiku jika azka hanya sedang keluar sebentar namun hati tidak bisa berkompromi Tanpa diminta aku menangis dan terduduk di depan koper azka yang selama seminggu ini menghuni kamarku.


"Kau sedang apa Al?"dari nada bicara yang kudengar azka tampak kebingungan melihatku yang berjongkok di depan kopernya.


"Kau dari mana?"dengan posisi membelakangi azka aku mengusap air mataku yang membasahi pipi.


"Kau menangis, tapi kenapa Al?"dengan cepat azka menghampiri dan memutar tubuhku hingga kami saling berhadapan satu sama lain.


"Aku tidak ingin tidur sendirian saat ini azka"dengan cepat aku memeluk dan kembali menangis tergugu dalam pelukan azka


"Ssttt tidak akan, aku akan selalu menemanimu sampai nanti Al"azka menggiringku ke tempat tidur tanpa melepaskan pelukannya.


"Sekarang tidurlah aku akan memelukmu Al"azka menenangkanku dan mencium puncak kepalku berkali kali.


Dalam pelukan azka Aku menghirup rakus aroma maskulin bercampur mint yang menyeruak dari tubuh azka seakan ini adalah saat terakhir azka ada bersamaku. Tanpa terasa mataku menjadi berat dan terlelap nyaman dalam pelukan azka putra mahardika.

__ADS_1


__ADS_2