My Ambitious Husband

My Ambitious Husband
chapter 40


__ADS_3

Sepanjang perjalanan aku hanya diam membisu memikirkan semua kemungkinan yang akan terjadi nanti.


"Apa kau gugup Al?"azka mencoba menghilangkan keheningan diantara kami


"Tidak, hanya sedikit ragu"


"Kau ragu untuk menyingkirkan pamanmu begitukah?"


"Hah tidak, bukan seperti itu hanya.... aku terlalu takut dengan kemungkinan yang ada nantinya"


"Tenanglah Al aku selalu disampingmu"azka tampak tersenyum hangat


"Hmm terima kasih"dengan nada lemah aku menjawab karena aku mencoba sedikit percaya ucapan azka.


"Ah ya, azka bisakah saat disana nanti kau tidak perlu ikut terlibat dalam obrolan kami, maksudku bisakah kau hanya menjadi penguatku dan selalu disisiku"


"Kenapa?"azka tampak tidak memahami maksudku


"Tidak apa aku hanya ingin menunjukkan kepada pamanku bahwa aku bukanlah almeera fuzieyama kecil yang dulu selalu berlari kedalam pangkuannya"


"Baiklah Al aku harap kau akan cukup kuat"azka tampak mengusap punggung tanganku seakan berusaha mengalirkan kekuatan disana.


Meski perjalanan tidak terlalu memakan waktu banyak tapi sejujurnya sangat membuatku lelah dan tak bersemangat sama sekali karena walau bagaimanapun aku sangat menyayangi paman ardhan disamping sikapnya yang licik dan serakah tapi dia selalu ada untukku dulu.


"Kita sampai Al"azka menyadarkan lamunanku


"Hmm ya baiklah mari kita ke ruangan paman ardhan"aku membuka pintu mobil dan mendahului azka. Dapat kulihat azka sedikit terkejut dengan sikapku saat ini.


Saat kami tiba di lobby kantor banyak sekali karyawan yang berlarian karena kuyakini mereka cukup terkejut dengan kedatangan kami dan melihat pemilik perusahaan yang tiba-tiba mendatangi mereka hari ini. Kami berjalan menuju ke ruangan paman ardhan dengan azka yang memimpin kami. Dapat kulihatĀ  beberapa karyawan perempuan menatap azka dan kak kevin tak berkedip, yah meski aku akui mereka memang sangat mencolok dengan penampilan sempurna mereka. Jika dilihat mereka seperti black prince and white prince yang bertolak belakang namun terlihat keren dengan cara mereka sendiri.


"Al kita akan memulainya dari mana?"kak kevin tampak bingung karena memang niat kami kemari hanya ingin menjebak paman ardhan dengan mengaudit seluruh divisi bagian.


"Sesuai rencana"aku mengatakan dengan berlalu tanpa menatap kak kevin ataupun azka


Aku tidak terlalu perduli dengan semuanya karena aku hanya memikirkan bagaimana paman ardhan nantinya dan meski aku berusaha kuat nyatanya hatiku tidak begitu aku merasa sangat bersalah melakukan ini pada pamanku ardhan. Tanpa perduli dengan sautan azka yang memanggilku Aku terus berjalan menuju ke ruangan paman ardhan.


"Nona almeera apa anda ingin bertemu dengan pak ardhan?"terlihat sekretaris dari paman ardhan terkejut melihatku ada disini.


"Benar apa paman ardhan ada di tempat?"


"Ada nona mari saya antarkan"sang sekretaris berjalan di depan dan mengantarku tepat di depan ruangan paman ardhan


Tok tok tok


"Masuk"terdengar suara paman ardhan mengintrupsi

__ADS_1


"Maaf pak ada nona almeera yang ingin bertemu"


"Baiklah biarkan dia masuk"aku bisa melihat dari balik sekretaris paman ada keterkejutan yang jelas dari raut wajahnya.


"Selamat pagi menjelang siang paman"aku mencoba beramah tamah dengan tersenyum saat menyapanya.


"Apa yang membawamu berkunjung kemari Al?"tak ada senyum disana hanya ada raut wajah yang datar


"Hanya ingin menjalankan kegiatan rutin tiap tahunnya"jawabku santai namun tubuhku sudah sangat bergetar dari tadi


"Apa maksudmu?" Paman ardhan tampak mengernyit tak mengerti


"Kurasa paman sangat mengerti"aku tersenyum sinis menjawab pertanyaan paman


"Bukankah kegiatan itu hanya dilakukan di awal tahun dan ini baru menjelang akhir tahun"paman tampak pias mengetahui maksud kedatangan mendadakku kemari


"Aku hanya ingin mempercepatnya saja sebelum hari kelahiranku tiba"aku berkeliling melihat-lihat ruang kerja paman ardhan


"Apa tujuanmu sebenarnya Al?"


"Apa paman bertanya padaku, bukankah sudah kukatakan tadi aku hanya ingin mempercepatnya saja"


"Alasanmu tidak masuk akal"paman bangkit dan hendak keluar namun dihadang oleh azka dan kak kevin.


"Maaf tuan ardhan saya rasa urusan anda belum selesai"dengan penuh keramahan kak kevin membawa paman ardhan kembali ke dalam.


"Paman duduklah tidak perlu gusar seperti itu"dengan nyaman aku menduduki kursi kekuasaan paman dan berusaha menenangkan paman ardhan.


dengan tanpa perlawanan dia duduk di depanku meski kemarahan sangat jelas kentara di wajahnya mungkin karena dia merasa tidak akan mudah melawan kami semua.


"Nah jadi bagaimana hasil sementara di beberapa divisi bagian?"aku bertanya pada kake yang memang sejak awal dia yang kujadikan informanku hari ini


"Kami baru selesai mengaudit di 5 divisi bagian dan salah satunya divisi keuangan"


"Baik, apa ada yang dirasa janggal dari beberapa divisi tersebut?"


"Semua aman kecuali divisi keuangan"


"Apa yang terjadi disana?"aku masih berusaha tidak berekspresi apapun meski sebenarnya aku merasa sangat bersedih mengingat akhir apa yang akan paman ardhan alami.


"Saya rasa ada manipulasi data dalam laporan yang diakibatkan adanya pemasukan dana ke rek lain"


Aku mencoba melirik sekilas ke arah paman ardhan dan tepat seperti apa yang kupikirkan air muka paman ardhan berubah pias.


"Apa ada laporan yang menjelaskan tentang itu?"

__ADS_1


"Saya membawa serta pak hendra selaku kepala divisi keuangan untuk menjelaskannya nona"


"Ini laporan manual keuangan yang saya rangkum selama setahun belakangan dengan serta dokumen pendukung lainnya nona"pak hendra menyerahkan semua dokumen dan laporannya dan hanya kubaca sekilas sekedar formalitas di depan paman ardhan.


"Jadi paman apa paman bisa menjelaskan semua yang ada disini"aku menunjukkan laporan yang dibawa pak hendra


"Kenapa kau bertanya padaku Al, bukankah itu hanya data manual jadi bisa saja dimanipulasi bukan?"


"Kau memang benar paman, pak kevin apa ada bukti lain yang menyatakan data telah dimanipulasi?"pintaku pada kake


"Kebetulan saya mengajak serta kepala bagian IT perusahaan nona"


"Ah selamat siang pak tom"aku berusaha untuk berlura-pura seakan semua kebetulan


"Selamat siang nona, seperti yang pak kevin inginkan saya membawakan data system satu tahun belakang beserta dengan data jumlah uang yang di transfer ke rek lain dalam bentuk mata uang asing" tom menyerahkan laporan yang kuminta


"Nah paman jadi sekarang apa masih kurang bukti yang meyakinkan menurut paman?"aku menyerahkan dokumen yang membuat paman ardhan semakin pucat pasi.


"aku baru menjabat belum genap 3 bulan dan bukankah tadi dia bilang kejanggalan itu sudah terjadi setahun yang lalu?"paman ardhan masih tampak mencoba peruntungannya


"Memang benar tapi selama setahun belakangan juga ada uang perusahaan yang di trasnfer setiap bulannya ke rek bank atas nama naysila dan setauku itu adalah adik perempuan dari bi marta istri paman, benar?"


"Apa kau percaya begitu saja pada nya?"paman ardhan menunjuk tom tepat di wajahnya


"Maksud paman?"aku tidak mengerti maksud dari perkataan paman


"Al, tom itu seorang programer jadi bukan hal yang sulit untuknya memanipulasi semua data yang kau terima hari ini bukan?"


"Kau benar paman, tapi apa paman melupakan tim ahli analisis data yang kubawa hari ini?"


Paman ardhan tampak diam seribu bahasa dengan raut wajah yang pias dengan keterkejutan yang sangat kentara


"Jadi paman apa yang akan paman katakan lagi saat ini?"


"Kau... dasar penghianat"paman ardhan berdesis dengan telunjuk yang mengarah tepat ke arah wajah tom.


"Maaf tapi kurasa pamanlah sendiri penghianat disini"aku mulai tidak bisa menahan gemetar tanganku karena harus melakukan semua ini pada paman ardhan


"Lihat nanti akan kubuat perhitungan denganmu tom"paman ardhan masih dirundung emosi atas penghianatan tom


"Maaf paman tapi tidak ada nanti bagi paman karena aku sudah membawa kasus ini ke jalur hukum"suaraku mulai bergetar menahan tangis


"Apa kau bilang, apa kau gila memenjarakan pamanmu sendiri Al?"


"Tidak ada yang gila disini paman, karena ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan semuanya"

__ADS_1


"Kau boleh menang saat ini tapi lihat nanti aku akan menghancurkanmu hingga ke hatimu, camkan itu"itulah kata-kata terakhir paman sebelum di giring kake ke kantor polisi.


Akhirnya tepat setelah semua tim pergi meninggalkanku dan azka yang selalu setia disisiku, aku menangis tergugu. Aku merasa sangat bersalah atas apa yang kulakukan Dan juga dilanda ketakutan yang teramat sangat mengingat ucapan terakhir paman ardhan yang tidak bisa dikatakan main-main.


__ADS_2