
Setelah kejadian memalukan di ruangan azka rasanya aku masih merasa sangat malu hanya sekedar bertatap muka dengan azka.
"Paman tolong beritahu azka perihal pesta penyambutannya minggu depan"akhirnya aku meminta paman zack untuk memberi tahu azka
Sepertinya aku harus pulang lebih awal demi menghindari azka karena aku sama sekali belum menyiapkan harus bersikap seperti apa nantinya .
"Hah gue kangen lo icha"gumamku tepat setelah menaiki mobil
Saat ini Icha memang sedang masa sibuk-sibuknya menjaga butik setiap kali aku mengajaknya jalan-jalan pasti selalu jawabannya "gue sibuk Al ibu udah nyerahin semua sama gue" selalu jawaban seperti itu yah kadang aku selalu ingin berkunjung menemui icha tapi selalu ku urungkan karena bukannya membantu disana yang ada aku pasti selalu mengganggu icha dan aku tidak mau menghancurkan semua usaha icha selama ini.
Pada akhirnya hanya selalu azka yang berada di sekitarku setiap saat aku harus selalu melakukan control diri saat berhadapan dengan azka aku selalu berusaha menekan perasaanku supaya azka merasa nyaman di dekatku karena semua usahaku untuk melindunginya serta perusahaan belum tercapai maksimal.
Maka disinilah aku mengurung diri di dalam kamar karena aku yakin akan sangat tidak siap jika aku berlalu lalang di dalam rumah dan dengan tiba-tiba azka ada dihadapanku dapat kupastikan aku akan segera berlari menjauhinya dan aku tidak ingin itu terjadi.
Kruyuukk
Hah sial kenapa saat seperti ini cemilan dikamar malah habis dan kenapa juga aku tidak mendengar bi imah di sekitaran luar kamarku.
Akhirnya dengan sangat terpaksa aku membuka pintu kamar dengan sangat pelan layaknya pencuri yang tidak ingin ketahuan.
Dan naasnya tepat saat tubuhku diluar kamar dan pintu kamar sudah tertutup aku dikejutkan dengan suara yang hari ini sangat kuhindari.
"Kamu sedang apa Al?"
Dengan gerakan slow motion aku memutar kepalaku dan menemukan sosok azka tepat dibelakangku.
Aaaaaa....
"Bisakah kamu tidak mengejutkanku azka"
"Apa suaraku begitu menyeramkan sampai kau terkejut Al?"jawab azka terkekeh
Tanpa menjawab azka aku bergegas menuruni tangga dan menuju dapur
"Hei Al kurasa kau salah arah dapur ada di sebelah kananmu"dapat kudengar tawa azka setelah menunjukkan arah dapur
"Sial kenapa mesti hilang pengendalianmu Al harusnya kamu ingat azka itu hanya mencintai rania dan sama sekali tidak akan ada kamu dihatinya"batinku
"Tidak biasanya azka pulang lebih awal seperti ini biasanya juga tidak kurang dari jam 7 malam tapi ini bukankah ini masih pukul 5 sore?kenapa azka harus datang sekarang sih."aku mengomeli kesalahanku sendiri
Aku membuka kulkas melihat apa saja kira-kira yang bisa kumakan untuk mengganjal lapar sebelum makan malam
"Hanya ada mie instan"gumamku sambil membolak balik pembungkus mie
Dulu ibu selalu melarangku memakan mie instan bahkan hanya untuk menyimpan dan memakan satu bulan sekalipun ibu selalu mengomel panjang lebar tanpa jeda dan sialnya ayahpun sama dengan ibu malah lebih terlalu protektif menurutku.
Mungkin karena aku satu-satunya harta berharga peninggalan ibu untuk ayah begitulah yang selalu ayah ucapkan setiap ayah selesai memarahiku.dan yah aku percaya ayah seperti itu karena menyayangiku.
__ADS_1
Akhirnya dengan penuh semangat aku memasak mie instan karena memang sebenarnya mie makanan kesukaanku karena dulu aku selalu berusaha sembunyi sembunyi memasak mie dengan meminta bantuan bi imah padahal bi imah juga diamanatkan oleh ayah dan ibu untuk menjauhkanku dari mie instan tapi memang dasarnya aku nakal maka dengan sangat oenuh oenyesalan bi imah pada akhirnya membantuku bersembunyi demi bisa memakan mie instan.
Sejak kecil aku memang cenderung tomboy padahal aku perempuan dan jika dilihat mainanku dari kecil sampai saat ini boneka yang kupunya bisa dihitung jari itu pun hanya hadiah dari berbagai kolega ayah dan aku hanya menyimpannya dilemari kaca.
"Kau sedang memasak apa Al?"
Lagi-lagi suara itu mengejutkanku
"Yaa Ampun azka sudah berapa kali aku katakan jangan selalu mengejutkanku"
"Aku tidak mengejutkanmu Al,aku sudah memanggilmu dari tadi tapi kamu hanya fokus pada masakanmu,makanya aku tanya kamu sedang memasak apa sampai tidak mendengar panggilanku Al"jawab azka yang saat ini telah duduk di kitchen bar
Untungnya posisiku membelakangi azka jadi aku bisa berusaha menenangkan debaran jantungku saat ini.
"Hanya mie instan apa kau mau?"tawarku
"Apa masih ada?"
"Ada azka di dalam kulkas masih ada 1 kalo kamu mau aku siapkan sekalian untukmu?"
"Boleh Al tapi tidak perlu tambahan telur sepertimu cukup sayurannya saja"
Hah apa ini suara azka terlalu dekat rasanya dan benar saja tepat saat aku berbalik keningku membentur dada azka.
"Ya ampun azka sudah berpa kali dibilang juga jangan suka mengejutkanku untung saja aku tidak terhuyung ke belakang,bisa bahaya nanti mie instannya tumpah dan tidak bisa dimakan"
"Ya sudah kamu kembali sana duduk di kursi bar itu aku siapkan buat kamu sana jauh-jauh"jawabku ketus
Kulihat dia mulai menjauh dan tidak berhenti tertawa.
Akhirnya semua sudah siap herannya aku makan lebih lahap dibanding azka porsiku sedikit lebih banyak dari azka mungkin karena tambahan sayuran yang kumasukkan tadi.
"Apa itu bisa dihabiskan?"tanya Azka tampak mengerutkan dahinya
"Ya pasti bisa kuhabiskan kenapa memangnya"aku menjawab azka tanpa melihat kearahnya karena aku fokus dengan melahap mie yang sangat enak buatanku tadi yummy.
"Seriusan Al kurasa itu terlalu banyak untukmu Al sini biar gak mubazir kita tukeran aja porsiku lebih sedikit jadi kurasa pas untukmu"
"Enak aja ini punyaku azka aku pasti bisa menghabiskannya malah kurasa maaih kurang"jawabku sambil memukul tangan azka yang mencoba mengambil mangkok yang berisi mie milikku.
"Kamu makannya banyak banget ya gak takut gendut memangnya?"
"Justru aku ingin gendut dikit azka biar badanku gak lempeng gini biar lebih berisi tapi sayangnya selalu tidak bisa karena sebanyak apapun makanan yang kumakan entah kemana mereka pergi pada akhirnya dan berat badanku pasti mentok di 48kg"
Azka hanya tertawa tanpa berniat menanggapi jawabanku.
"Oh ya kata paman zack kamu mengadakan pesta penyambutanku sebagai pemimpin fuzieyama minggu depan?"
__ADS_1
"Ya"
"Apa tidak terlalu berlebihan,maksudku tidak perlu mengadakan pesta seperti itu Al"
"Azka dengar itu salah satu caraku mengenalkanmu kepada dunia kalo kamu pemimpin yang baru dan paman ardhan tidak akan mungkin bisa menolaknya karena acara itu sudah sangat resmi"
"Baiklah kalo memang seperti itu aku tidak akan membantahmu"
"Hemm akhirnya habis juga apa kamu ingin memakan makanan manis setelah ini azka?"tanyaku seraya membawa mangkuk kotor ke wastafle
"Kamu yakin masih ingin memakan sesuatu?tadi itu porsi penuh menurutku dan kamu masih lapar Al?"
"Azka aku memang seperti ini makanku banyak azka,aku mau bikin pancake apa kau mau?"
Azka hanya tertawa
Akhirnya kami pun larut dalam obrolan yang ringan dan entah kenapa aku tidak secanggung tadi,masalah yang kufikirkan tentang kejadian di ruangan azka sama sekali sudah tidak kufikirkan karena semuanya menjadi seperti biasa kami kembali akrab satu sama lain.
Aku memakan pancake buatanku dengan lahap di depan tv dan tidak terlalu peduli dengan kehadiran azka disebelahku karena menurutku makanan manis ini yang bisa mengalahkan azka dihatiku.
"Apa seenak itu pancake buatanmu Al sampai kau tidak melihatku disini?"tanya azka begitu dia duduk didekatku
"Enak azka kau mau?"
Awalnya aku hanya iseng menawari azka langsung dengan sendok yang berisi pancake dan kudekatkan ke mulut azka,tapi diluar bayanganku ternyata azka memakan pancake yang kuberikan tadi langsung dari sendok ditanganku.
Aku mengerjap tak percaya benarkah ini azka,sebelum kesadaranku kembali azka mengambil piring yang masih berisi pancake dari tanganku.
"Enak Al kuhabiskan ya" azka berkata sambil memakan pancake
"Ya Ampun azka kenapa diambil itu pancakenya tinggal dikit mana itu bagian yang paling enak"
Azka masih tertawa dan berusaha memasukan sisa pancake ke mulutnya
"Kamu lucu Al ini sini aku suapi bagian terenaknya"
Dengan sangat tiba-tiba azka menyuapiku pancake kedalam mulutku yang akhirnya cokelat yang kujadikan topping blepotan di sekitaran pipiku.
"Ya ampun Al klo makan itu jangan kaya anak kecil"azka membersihkan cokelat di pipiku dengan jarinya
Aku terkesiap apa ini apa sebenernya yang terjadi saat ini azka berada tepat di depan wajahku yang dapat kurasakan nafas azka yang semakin terasa diwajahku namun sesaat setelah hidung mancung azka menyentuh hidungku azka memundurkan kembali wajahnya.
"Ekhem terima kasih pancakenya Al"azka segera berlari menuju kamarnya
Entah kenapa rasanya aku masih terpaku dengan kejadian yang baru saja terjadi rasanya kesadaranku belum sepenuhnya kembali dengan hanya mengangguk aku menjawab azka
Setelah azka menghilang di balik pintu kamar aku memegang dadaku merasakan debaran yang tak menentu membuatku mengukir senyum dan rasanya ingin berteriak bahagia.
__ADS_1
"Daisuki azka putra mahardika" ❤