
Saat matahari menyapa dengan kehangatan sinarnya dipagi hari namun tidak bagiku karena saat terbangun dengan kesendirian dalam sepi aku tidak menemukan sosok yang selama ini selalu mengisi hari-hariku meski dengan keanehan dari kemandiriannya namun tak dapat dipungkiri dia bisa mengalihkan sebagian duniaku.
Aku terbangun di apartemen yang sengaja kubeli 7 bulan lalu saat sebelum cafe mengalami penurunan. Aku berharap dengan adanya apartemen ini aku bisa membawa rania saat setelah menikah nanti. Namun semakin hari saat kujalani kehidupanku dengan seorang Almeera ambisiku untuk menikahi rania seakan menguap perlahan hingga saat ini pun aku rasaku untuk rania seakan berubah.
Saat kesadaranku belum sepenuhnya kembali aku mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan yang tampak asing mencari sosok yang selalu menyambutku dengan senyum manis yang terukir di wajahnya setiap pagi. Namun saat kesadaranku kembali sesak di dada yang tak dapat kumengerti kembali mendera. Aku tidak mengerti aku merasa sangat kecewa namun satu sisi ada rasa sakit yang memasuki hatiku saat melihatnya menangis.
Aku merenungi diri memahami apa sebenarnya yang kurasakan saat ini. Di awal pagi yang tak dapat kutemukan sosok yang menjadi sangat kurindukan hatiku terasa nyeri, saat melihatnya menangis semalam tadi hatiku seakan meminta berlari dan segera memeluknya erat namun egoku terlalu mendominasi hingga membuatku pergi meninggalkannya dalam tangis yang terdengar pilu.
Bugh bugh bugh
Suara ketukan pintu yang sangat terdengar kasar mengejutkan lamunanku. Aku pun bergegas membukakan pintu dan ingin melihat siapapun itu yang dengan tidak sopannya mengusik pagiku. Namun saat pintu baru terbuka dengan tiba-tiba aku tersungkur ke belakang dengan rahang sedikit ngilu kerana pukulan seseorang yang saat ini berdiri dihadapanku.
"Dengar dari dulu gue pengen nonjok muka lo itu"ucapan kevin yang terdengar tidak bersahabat menyambutku dipagi hari ini.
"Kenapa"dengan senyum smirk aku menantang kevin
"Gue gak habis fikir kenapa bisa orang yang paling berharga bagi gue bisa jatuh cinta sama manusia brengsek macam lo"kevin menarik kerah bajuku
Aku terlalu terkejut dengan ucapan yang dilontarkan kevin hingga membuatku hanya terdiam
"Ini terakhir kalinya gue berurusan sama lo"kevin berdesis dengan melemparkan amplop cokelat tepat di depan wajahku.
"Dan ini, hadiah terakhir dari gue,jangan harap penyesalan lo bisa membawa kembali almeera dari tangan gue"kevin melemparkan beberapa kertas serta fhoto sebelum akhirnya meninggalkanku dengan keterkejutan di pagi hari ini.
__ADS_1
Dengan satu tangan menahan ngilu di rahang kiriku aku mencoba meraih kertas dan beberapa fhoto yang membuatku terkejut. Dengan perlahan aku membaca satu persatu dari kertas yang dilemparkan kevin padaku.seketika amarahku tersulut melihat semua bukti tentang rania dan perselingkuhannya atau mungkin aku adalah selingkuhan dari seorang rania, dengan tanpa berniat melanjutkan membaca keseluruhan data yang tertulis disana aku meremas kuat dan melemparkan ke sembarang arah.
Aaaaarrrgggghhhhh
"Brengsek"aku memukul dinding apartemen dengan keras serta memaki kebodohanku sendiri.
Tanpa menunggu terlalu lama aku bergegas untuk menemui rania sekedar ingin memastikan dengan kepalaku sendiri jika rania memang mempermainkanku selama ini. Aku berusaha menelpon rania yang sialnya selalu saja tidak langsung terjawab, dengan kesal aku melempar gawai ke sembarang arah di dalam mobilku.
"Sial sial sial" aku memukul mukul stir mobil dengan kuat
Aku membawa mobil menuju ke tempat rania mengajar les vokal selama ini dengan emosi yang entahlah aku tidak mengerti aku hanya ingin mendengar kejujurannya selama ini.
Perjalanan yang memang tidak membutuhkan waktu lama dari apartemen menuju tempat les vokal dimana rania bekerja hanya dalam waktu kurang dari 20 menit aku sudah sampai di parkiran VR voice. Aku berjalan masuk dan disambut oleh resepsionis karena memang tempat les vokal disini terbilang cukup besar maka tidak aneh jika tempatnya saja sudah seperti perusahaan besar di ibu kota. Tanpa perlu menunggu waktu lama aku diberikan akses masuk karena seringnya aku berkunjung menemui rania maka tidak akan sulit bagiku menemuinya secara langsung. Dengan langkah tergesa dan emosi yang memuncak aku berjalan menyusuri koridor yang membawaku ke taman luas nan asri karena biasanya memang disinilah rania selalu menenangkan diri jika seharian sudah dia bergelut dengan aktifitasnya.
"A...... azka ka..kapan kau datang?"rania tampak gugup dan terkejut melihatku di depannya.
"Baru saja"dengan datar aku menjawab rania yang tampak gugup, entahlah sepertinya aku terlalu malas beramah tamah saat ini.
"Hai bung kenalkan,vico pemilik VR voice dan tunangan gadis di depanmu ini"vico tampak mengulurkan tangannya.
"Azka"dengan tenang aku menyambut uluran tangannya
"Apa kau teman dari tunanganku bung"vico tampak mengukir senyuman ramahnya
__ADS_1
"Kebetulan memang ya"aku menjawabnya dengan tatapan yang menatap tajam pada rania
"Oh kau beruntung memiliki teman seperti tunanganku bung dia sangat baik dan anggun, bukankah begitu?"
"Ya kau benar aku sangat beruntung"aku menjawab dengan penuh penekanan di setiap kata yang ku ucapkan
"Karena kau teman dari gadisku maka aku ingin mengajakmu minum coffee bagaimana?"
"Sebelumnya Saya merasa tersanjung atas undangan anda tuan tapi mohon maaf saya disini hanya ingin berterima kasih pada tunangan anda karena berkat dia saya menemukan kebahagiaan saya"
Tanpa menunggu tanggapan dari keduanya aku bergegas melangkah pergi dari dunia semu yang rania tunjukkan padaku.
"Hahahahaha kau sudah sangat gila hari ini azka"seketika tawa frustasiku mengalahkan music yang sengaja ku putar dengan volume cukup keras
"Dunia memang hanya semu, tidak ada kebahagiaan di dunia ini"ucapku lirih
Aku menunduk frustasi pada stir mobil yang kupegang dengan tangan gemetar karena amarah atas kebodohanku sendiri. Aku mencoba menenangkan diri barang sekejap di dalam mobil karena walau bagaimanapun waktu terus berjalan tanpa ingin berkompromi dan mengharuskanku untuk tetap menata masa depan dan mencari kebahagiaanku sendiri. Aku termenung meratapi setiap kejadianku selama 6 bulan belakangan yang sangat tidak kuharapkan terjadi padaku. Seandainya aku tidak meninggalkan almeera malam itu maka dapat kupastikan aku akan menjadi lelaki paling menyesal karena mengejar kebahagiaan semu.
Berbicara tentang Almeera tiba-tiba aku mengingat amplop cokelat yang dititipkan almeera melalui kevin. Dengan bergegas aku menghidupkan mobil dan melaju secepatnya menuju ke apartemen. segera setelah menuruni mobil aku berlari tergesa menuju apartemenku, entah kenapa rasanya perasaanku tidak nyaman mengingat amplop coklat yang terasa familiar itu. Dengan tergesa aku meraih amplop coklat yang memang kusimpan di meja tak jauh dari tempat kevin memukulku pagi tadi.
Aku membaca tulisan yang berderet rapi di bagian depan amplop dengan alis yang bertaut karena merasa sangat aneh kenapa amplop dari pengadilan yang kusimpan dan kucari cari selama ini ada di tangan almeera. Aku membuka amplop dan melihat isi dari amplop yang selama ini memang kucari, saat pertama melihat isi dari surat di dalamnya membuatku terkejut dan merasakan nyeri yang teramat sangat yang tiba-tiba menjalari hatiku.
Tanpa bisa menahan berat tubuhku sendiri aku terduduk dan menangis mengingat betapa bodohnya aku selama ini.
__ADS_1