
Aku merasa menjadi seorang lelaki yang rapuh hari ini. Setelah terakhir kali menangis karena melihat ibuku yang selalu sabar atas sikap yang ditunjukkan ayah maka saat ini kedua kalinya aku menangis setelah melihat tanda tangan Almeera yang terbubuh rapi di lembaran surat perceraian yang sialnya aku sendirilah yang mengajukannya dulu.
Aku melemparkan asal amplop cokelat yang menyita kewarasanku saat ini. Namun disaat yang sama terlihat satu amplop putih yang sedikit mencuat keluar dari dalam amplop, dengan penuh rasa penasaran aku mengambil dan membuka amplop putih yang menyita perhatianku saat ini dan membuka amplop yang ternyata berisi sepucuk surat dengan tulisan tangan yang mejadi penghias hitam di atas warna putihnya. Dahiku mengernyit dan ingin mencari tau apa isi dari surat tersebut, tanpa menunggu lebih lama aku mulai membacanya.
*Hai azka apa kabar 😊 hmmp bagaimana memulainya ya aku tidak pernah membuat surat secara langsung,
Baiklah mungkin seharusnya aku langsung meminta maaf atas apa yang kulakukan selama ini padamu namun aku tidak sanggup untuk menatapmu secara langsung, kuharap janjimu untuk memberikan sedikit rasa percayamu saat itu masih berlaku untukku.
Kau tau aku jatuh cinta padamu sejak pertama kali melihatmu azka sejak aku melihatmu di depan cafe dan bertengkar dengan ayahmu. Entah kenapa rasanya jantungku berdebar saat melihatmu dan kuyakini aku mencintaimu saat itu juga.
Aku sangat mencintaimu hingga aku mencari tahu semua tentangmu tentang keluargamu dan lainnya. Haha maaf jika aku seperti stalker bagimu 😅
Awalnya aku ingin mengalah pada perasaanku sendiri saat tau kau sudah memiliki tambatan hatimu sendiri , aku meyakini kebahagiaanmu ada padanya. Namun entah kenapa aku ingin mencari tahu siapa dan bagaimana kehidupan perempuan yang sangat kau cintai setidaknya aku hanya ingin memastikan kebahagiaanmu saat itu dan kau tau sebelum aku mendapatkan semua informasi tentang rania aku sudah mengubur dalam-dalam perasaanku padamu karena aku tidak akan pernah mengambil sesuatu yang bukan milikku dan bukan untukku.namun semua itu ku urungkan saat aku mengetahui siapa sebenarnya perempuan yang sangat kau cintai. Dari saat itu Aku mulai menyusun rencana dengan harapan akan berakhir baik untukmu dan bisa memberikan kebahagiaan untukmu.
Seperti yang kau lihat dari bukti yang kau dapatkan entah dari mana aku memang orang dibalik tutupnya cafemu 5 bulan yang lalu dan yah seperti yang kau katakan aku memang perempuan yang licik, karena sejak awal aku memang sudah menyiapkan diriku untuk dibenci olehmu, tapi terlepas dari itu semua aku hanya berfikir ingin membuatmu bahagia dan mencarikan seseorang yang tepat yang mencintaimu dan yang kau cintai azka meski tidak denganku sekalipun karena aku hanya ingin kebahagiaan atas dirimu, aku hanya ingin memberikan kebahagiaan untukmu. Namun ternyata aku salah karena pada akhirnya semua yang kulakukan adalah kesalahan aku hanya memberikan penderitaan padamu terlebih kekecewaan pada semua orang yang mempercayai ide konyolku saat ini terutama mamah.
sejak awal aku tau jika saat ini pasti akan datang dan sekuat tenaga aku berusaha menekan ego dan perasaanku sendiri meski terkadang aku masih terlalu lemah jika setiap hari dihadapkan denganmu yang mulai bersikap ramah dan selalu terbuka padaku, tapi semua kembali lagi padamu jika memang rania adalah kebahagiaanmu maka nikahilah dia, menikahlah dengannya saat hari ulang tahunku nanti dan tolong terimalah semua aset perusahaan fuzieyama yang akan diberikan atas namaku nanti, tapi kau tidak perlu khawatir aku sudah menyiapkan semua persyaratan pengalihan kepemilikan dariku padamu azka. Kau tau aku berharap kau percaya semua yang kulakukan ini karena aku mencintaimu, sangat.
Yang selalu mencintaimu
Almeera Fuzieyama ❤*
"Maafkan aku Al maaf"aku menangis memandangi tulisan tangan Almeera saat ini.
Dengan pandangan yang kabur karena tangis aku mencari surat pengalihan kepemilikan yang sudah disiapankan sangat rapi oleh seorang Almeera dengan tanda tangan yang tergores rapi di atas kertas berlogo burung garuda di bagian kiri atasnya.
jerit gawai yang tiba-tiba menuntut perhatian sedari tadi akhirnya membuatku meraihnya dengan terpaksa dan menampakkan nama my mom yang menghiasi layar ponselku dan akhirnya dengan mencoba mengontrol suara aku menggeser tombol hijau hingga terdengar suara mamah dari sebrang sana.
"Azka kalian dimana? Ini mamah di depan rumah kalian qo ya gerbangnya dikunci"
Aku terkejut mendengar mamah sedang ada di depan rumah kami dulu. Aku terlalu kalut semalam hingga tidak mengingat bagaimana dengan ibuku jika beliau mengetahui semua ini. Dan apa tadi dikunci lantas kemana penghuni rumah termasuk Almeera. Hatiku terasa diremas sakit sekali mendapati tidak adanya Almeera di rumahnya.
"Halo azka hei kalian sebenarnya sedang dimana ini mamah kepanasan diluar dari tadi"suara ibuku terdengar kesal
"I iya mah azka jemput mamah"
__ADS_1
Aku bergegas menjemput ibuku tanpa memikirkan apapun yang akan ku katakan nanti karena semua terasa sangat kacau dan aku tidak mengerti apa yang sebenarnya ku inginkan. Tak lama aku sudah ada di depan kediaman fuzieyama yang memang terlihat tak berpenghuni. Aku menatap lama rumah yang dingin tak berpenghuni dan dengan tiba-tiba perasaanku resah memikirkan tidak adanya seorang almeera di rumah ini.
"Loh qo sendirian Al kemana memangnya?"ibuku langsung bertanya tanpa kukira
"Hmm Al sedang ada perjalanan dinas ke luar negri mah"dustaku
"kamu qo tidak menemaninya bukankah selama ini kamu yang menjadi pemimpin dan harusnya kan kamu yang ke luar negri" feeling seorang ibu memang sangat kuat jadi aku tidak terlalu terkejut dengan keanehan yang ibuku rasakan
Lidahku terasa kaku dan aku sama sekali tidak bisa memikirkan apapun karena memang aku sendiri tidak mengetahui dimana sebenarnya Almeera berada.
"Kenapa pertanyaan mamah tidak dijawab azka?"suara ibuku melembut namun kuyakin tidak akan berakhir bagus
"Maafkan azka mah"ucapku akhirnya
"Ceritakan semuanya"feeling seorang ibu memanglah selalu kuat dan aku sangat sadar akan hal itu makanya aku tidak berani kembali membohongi ibuku sendiri.
"Dan kita akan kemana ini nak"ibu mungkin merasa heran karena memang tidak ada yang mengetahui apartemenku selain kevin saat pagi tadi dan rania. Sial mengingat rania menbuatku semakin marah pada diriku sendiri
"Ke apartemen milik azka sendiri mah"
Setelah sampai di apartemen ibuku tampak tak ingin membuang waktu bahkan sekedar menyempatkan diri untuk minum pun dia tidak melakukannya dan akhirnya aku pun menceritakan semua tanpa terkecuali dengan semua bukti yang memang masih berserakan di meja karena kutinggalkan saat menjemput ibuku tadi. Kulihat ibuku tampak sangat kecewa dan sedih terlihat jelas dari air mata yang mulai membendung di pelupuk matanya.
"Maafkan azka mah"aku bersimpuh di kaki ibuku karena telah membuatnya menangis
"Nak dengar mamah sangat menyayangkan sikapmu yang percis seperti ayahmu"mamah membangunkanku dan membawaku ke sampingnya.
"Mamah seorang perempuan jadi mamah sangat tau bagaimana perasaan seorang istri saat digugat cerai oleh suami yang sangat dicintainya"
Aku tidak bisa mengatakan apapun karena aku terlalu terkejut dan sedikit tidak terima jika aku disamakan dengan orang yang sialnya harus kupanggil ayah.
"Kau tau ceritamu dengan Almeera sama seperti cerita mamah hanya yang berbeda mamah sama sekali tidak bisa berbuat apapun dan hanya bisa menerima takdir mamah seperti saat ini"tatapan mamah tampak menerawang jauh
Aku masih menunduk meratapi kebodohanku sendiri.
"Apa kau tidak melihat cinta dari mata istrimu sendiri nak?"
__ADS_1
Hanya kebisuan yang bisa kutunjukkan saat ini
"Apa kau tidak bisa merasakan cinta yang tulus dari istrimu sendiri azka?"
Ucapan ibuku sukses membuatku merasa menjadi pria yang sangat brengsek seketika gelenyar nyeri menyusup dalam relung hatiku mengingat tangis Almeera yang pilu malam itu hingga tanpa terasa aku menangis di depan ibuku menangisi keburukanku dan kebodohanku selama ini.
"Apa kau mencintai Almeera?"ibuku mengusap puncak kepalaku seraya berucap lembut
Dahiku mengernyit bingung karena memang aku tidak mengerti apa yang saat ini kurasakan.
"Apa kau merasa kehilangannya saat ini?"
"Apa kau bisa merelakan jika hari ini atau suatu saat nanti Almeera bersanding dengan pria lain?"
Seketika amarah menguasaiku jika harus melihat Almeera bersanding dengan pria lain selain diriku, dan tanpa sadar aku mengepalkan tanganku hingga terlihat buku jariku memutih
"Kau mencintainya tanpa kau sadari nak"ibuku tampak tersenyum menyadari perubahan sikapku saat ini.
Aku terkejut dengan pernyataan ibuku, apakah benar aku mencintainya tapi sejak kapan
"Kau mencintainya nak semua terlihat jelas dari sikapmu saat ini"
Kenapa aku tidak menyadarinya sama sekali kenapa aku terlalu bodoh untuk menyadari perasaanku sendiri, kenapa semua harus terasa saat sudah sangat terlambat seperti ini.
"Mamah benar aku sangat mencintainya, tapi semua tidak mungkin kembali karena azka rasa sudah sangat terlambat"aku menunduk lemah dengan pandangan menatap surat perceraian yang sudah ditandatangani Almeera
"Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki semuanya sayang"
"Semua tidak sama lagi mah Almeera sudah memutuskan menyerah atas azka dengan menandatangani surat perceraian kami"
"Tidak ada wanita yang akan dengan mudah melepaskan pria yang sangat dicintainya kecuali untuk membuat pria itu bahagia"
Aku merenungi ucapan terakhir ibuku, sebesar itukah cinta seorang Almeera untuk pria yang sangat bodoh ini.
"Sekarang pergilah bawa kembali menantu kesayangan mamah"
__ADS_1
Ucapan ibuku seakan memberikan semangat yang luar biasa membuatku bertekad akan memperjuangkan pernikahan kami dan membawa kembali wanita yang membawa seluruh dunia dan hatiku meski harus mengalami ribuan pukulan dan penolakan sekalipun.