My Ambitious Husband

My Ambitious Husband
chapter 38


__ADS_3

Setelah pertemuanku dengan tom aku berniat kembali ke rumah karena kurasa jika aku kembali ke kantor maka semua akan semakin membuatku melemah.


Dengan seperti biasa aku melakukan semua kegiatanku pada umumnya menyiapkan makan malam dan semua kebutuhan untuk azka meski kadang pada akhirnya makanan itu tak pernah tersentuh namun aku tetap menyiapkannya hanya sekedar untuk menyibukkan diri dan mengalihkan atensi hati yang selalu didominasi egoku sendiri.


Dari hari ke hari aku selalu mencoba menyiapkan hati dan mempersiapkan diri dengan semua kemungkinan yang ada aku mencoba membangun tameng pertahanan untuk diriku sendiri meski aku tak yakin dengan itu apakah akan tetap membuatku kuat ataukah sebaliknya karena jika itu mengenai urusan hati maka tidak bisa dikatakan sepele.


"Assalammualaikum"ucapan salam dari suara yang membuatku semakin bersedih tiba-tiba terdengar di rumah ini


"Waalaikum salam"aku berlari menuju pintu depan untuk menyambut mertuaku


Yah yang datang tanpa diduga hari ini adalah ibu mertuaku sendiri. Aku selalu merasa sedih mengingat aku telah melukainya dengan menghianati kepercayaannya aku telah melukai wanita pengganti ibu dengan permainan konyolku sendiri.


"Apa kabar sayang"mamah selalu mencium pipiku setiap pertemuan kami


"Alhamdulillah Al baik mah,mari masuk"aku mengambil alih tas mamah dan mengandengnya memasuki hunian fuzieyama yang kembali mendingin


"Oh ya apa azka sudah pulang?"


"Belum mah mungkin sebentar lagi, mamah qo gak bilang-bilang datang berkunjung?"


"Mamah sengaja ingin memberikan kejutan ditambah mamah merindukan menantu mamah yang baik ini"mamah menjawab seraya memelukku erat


"Maafkan Al mah"entah kenapa aku tiba-tiba menangis dalam pelukan mamah


"Sstt jangan minta maaf Al kamu memang sudah sangat sempurna menjadi pendamping azka"mamah mengusap lelehan air mata yang menuruni pipiku


"Terima kasih banyak mah" pada akhirnya hanya ucapan terima kasih yang bisa kukatakan kepada mamah


"Oh ya apa kamu sedang memasak?"


"Ya tadi Al memang sedang memasak makan malam"


"Mamah bantu kamu ya Al"


"Eh jangan mah mendingan mamah istirahat kan habis perjalanan jauh"

__ADS_1


"Tak apa sayang mamah suka memasak jadi tidak akan cape"


"Baiklah Al sangat berterima kasih jika mamah membantu"


Akhirnya akupun memasak makan malam dengan bantuan dari mamah hingga tanpa terasa waktu sudah melebihi dari jadwal kepulangan azka dari kantor.


"Nah Al coba kamu telpon azka, suruh dia cepat pulang istri secantik kamu qo ya dibiarin aja"mamah sedikit bercanda meski sangat menampar telak hatiku


"Ahaha baiklah mah Al telpon dulu"aku menjawab dengan tersenyum kaku


Sambungan telpon pertama sama sekali tidak ada jawaban dari azka begitu terus hingga sampai pada sambungan yang kelima kalinya barulah azka menjawab telpon dariku meski dengan nada yang terdengar ketus.


"Azka maaf jika aku menganggumu tapi aku hanya ingin memberitahumu, mamah datang berkunjung dan kami selesai menyiapkan makan malam dan mamah mengharapkanmu segera pulang untuk makan malam bersama"


"Baiklah"


Hanya itulah jawaban dari semua ucapanku untuk azka, yah aku terkadang ingin sekali bersikap egois namun semua hanya angan yang tidak akan menjadi nyata.


Berselang 30 menit kemudian terdengar suara deru mobil memasuki halaman rumah dan kuyakini itu azka.


"Waalaikum salam"tanpa sadar aku menyambutnya dengan senyuman seperti biasanya


"Mamah kenapa gak bilang dulu kalo mamah datang berkunjung?"azka mencoum tangan wanita yang melahirkannya dengan khidmat


"Mamah sekalian mau ke acara temen mamah di daerah sekitar sini besok jadi hari ini mamah ingin menginap disini"


"Baiklah besok azka antarkan mamah ke tempat teman mamah y"


"Ya nak sekarang mendingan kita makan malam dulu istrimu sudah menyiapkan semuanya azka"


Azka tampak menatap kearahku tanpa ekspresi hangat seperti biasanya. Dan dengan cepat bergegas menuju kamar untuk membersihkan diri.


Akhirnya suasana makan malam kami hanya ada obrolan-obrolan yang diawali oleh mamah mertuaku karena aku maupun azka tampak tidak ingin membuka obrolan seperti biasanya selebihnya kami hanya menjadi pendengar dengan sesekali menanggapi seperlunya.


Setelah selesai membersihkan semua sisa makanan dan mencuci semua piring kotor setelah makan malam kami, aku bergegas untuk segera ke kamar sekedar ingin menghindari semua pertanyaan mamah menyangkut pernikahan kami.

__ADS_1


Saat sampai di depan pintu kamar entah kenapa tubuhku bergetar dan tak mampu sekedar untuk memutar knop pintu. Aku berusaha membuang nafas kasar dan menetralkan debaran jantung yang menggila karena ketakutan dengan semua kenyataan yang menyambut dibalik pintu ini. Dengan menahan gejolak hati aku tetap mencoba masuk meski aku sudah tau apa yang akan menyambutku.


Aku mengedarkan semua pandanganku ke penjuru kamar mencari sosok azka yang membuat hatiku semakin perih, aku tidak menemukan azka di dalam kamar hanya terasa angin yang berhembus dari arah balkon yang terbuka dan kuyakini disitulah azka malam ini. Aku mencoba untuk tidak membuat suara apapun demi menghindari seorang azka karena walau bagaimanapun aku tidak akan siap jika ada satupun pertanyaan menyangkut pernikahan kami. Namun sialnya saat aku hendak menaiki tempat tidur azka sudah berada tak jauh di belakangku.


"Ada yang ingin kutanyakan padamu Al"azka mengejutkanku dan membuatku mematung dengan posisi membelakangi azka


Aku terlalu terkejut untuk sekedar menanggapi ucapan azka hingga tanpa aba-aba azka menarik tanganku dan membawaku ke balkon.


"Azka tolong lepaskan tanganku"aku mencoba melepaskan tanganku yang digenggam keras oleh azka


"Dengar aku hanya ingin bertanya"azka tampak semakin kencang menekan pergelangan tanganku hingga pergelangan tanganku terasa perih


"Tolong lepaskan azka kau menyakitiku"entah kenapa aku menangis menyadari kasarnya sikap azka padaku malam ini


Azka tampak mengendurkan genggaman tangannya dan terkejut melihatku menangis


"Maafkan aku Al"


"Kau tau azka sebenarnya yang seharusnya meminta maaf itu aku bukan kamu"aku berusaha tersenyum di sela tangisku malam ini


Dahi azka tampak mengernyit tak mengerti


"Apapun yang terjadi akhirnya nanti kumohon berikanlah sedikit rasa percayamu untukku"aku masih menangis dengan mata yang menerawang jauh ke langit


"Aku tidak keberatan jika pada akhirnya kau akan sangat membenciku tapi bolehkah aku meminta sedikit rasa percayamu untukku azka"aku menatap ke dalam matanya meminta kepada azka atas ucapan yang sengaja ku ulang


"Kau tau semua manusia pasti selalu memiliki alasan di setiap apa yang mereka lakukan bukan"aku masih mendominasi dalam obrolan kami malam ini


Azka masih diam dan hanya mendengar setiap ucapanku


"Entah apa yang paman ardhan katakan saat pertemuan kalian tempo hari tapi yang jelas setelah hari itu semuanya kembali berbeda azka"aku menangis menatap azka dengan semua kata-kata yang kuyakin azka tidak akan mengerti kemana arah pembicaraanku malam ini


"Aku selalu berharap dan meyakini diriku sendiri jika kau hanya lelah dan terlalu banyak pekerjaan di kantor, aku selalu berusaha bertahan selama kau abaikan aku selalu mencoba berfikir positif selama ini setidaknya aku berharap besok azka akan kembali bersikap hangat padaku. Kau tau entah kenapa semakin aku mencoba berharap semakin dingin sikap yang kau tunjukkan padaku"


"Tapi aku tetap ingin berterima kasih setidaknya kau masih bersikap ramah padaku 2 bulan belakangan, aku tidak ingin menjadi egois memaksamu azka, aku cukup tau diri dengan melihatmu mencoba membuka diri dan berusaha bersikap ramah selama ini itu sudah lebih dari cukup bagiku"aku tersenyum miris disela tangisku

__ADS_1


Azka tak berkata apapun dia hanya menarikku ke dalam pelukannya dan memelukku erat yang pada akhirnya membuat tangisku semakin tergugu.


__ADS_2