
Entah apa yang dibicarakan azka dan paman ardhan tempo hari karena yang jelas azka berubah, sikap manis azka berangsur menghilang seiring jalannya hari setelah pertemuannya dengan paman ardhan.
Azka dan aku memang masih tidur dalam satu kamar berjaga-jaga takutnya mamah datang mendadak begitulah menurut azka dan aku hanya mengikuti semua yang azka inginkan.
Jika dulu aku merasa sakit hati dengan sikap azka yang enggan berada satu kamar denganku maka untuk saat ini aku lebih merasa sakit jika berada dalam satu kamar dengan azka karena kami hanya saling menyapa selamat pagi dan selamat malam tanpa adanya obrolan ringan dan sikap manis azka seperti sebelumnya.
Sesaat aku selalu terfikir perkataan azka mengenai rencana kami untuk menyingkirkan paman ardhan secepatnya, apakah semua ini ada hubungannya dengan pertemuan mereka tempo hari?
Setiap malam aku selalu terjaga hingga larut karena terlalu sibuk memikirkan apa saja yang harus aku lakukan dan bagaimana sikapku kedepannya atas kembali dinginnya sikap azka seperti awal pertemuan kami.
Sejak malam itu aku bertekad akan tetap menjadi almeera yang kuat seperti dulu aku bertekad tidak akan kembali merengek dan bermanja kepada azka karena kurasa tidak akan ada gunanya jika melihat pada sikap azka yang mulai berubah akhir-akhir ini.
Malam ini seminggu sudah azka berubah tidak ada lagi kecupan selamat malam atau kecupan selamat pagi bahkan pelukan pengantar tidurpun seakan ikut terlupakan. Azka seakan tidak ingin meski sekedar melihatku disampingnya bahkan cenderung lebih nyaman menghindariku. Dengan langkah gontai aku beranjak turun dari tempat tidur yang kurasa semakin dingin, aku berjalan menuju dapur sekedar ingin membuat minuman manis dan hangat yang kuharap bisa menghangatkan hatiku yang sedikit membeku atas perlakuan azka.
Entah kenapa aku tidak ingin menangis rasanya air mataku seakan mengering mengingat sikap azka yang berubah dan sama sekali bukan akhir seperti ini yang kuharapkan. Aku berjalan ke arah balkon dengan secangkir cokelat panas dan selimut sekedar untuk menghilangkan sakit kepala yang mendera akhir-akhir ini.
__ADS_1
"Apakah semuanya akan usai seperti ini"aku bergumam sambil sesekali menyesap cokelat panas dengan tatapan yang menengadah menghadap sang langit yang kelam
"Apa takdir tak mengizinkan kebahagiaan untukku dan azka, apakah tak ada goresan takdir bahagia antara aku dan azka?"aku menatap kosong langit tanpa bintang dengan sesekali aku melihat azka memperhatikan dari jauh apakah dia akan terjaga sekedar hanya untuk mencari keberadaanku, namun semua itu hanya anganku azka tidak akan pernah kembali seperti itu. Aku tertawa miris menyadari kenyataan pahit ini.
Lama aku menekuri goresan takdir yang kujalani dengan kebahagiaan semu dan sementara yang sialnya lebih membuat sakit hati ini. Aku tidak pernah menyangka akan secepat ini kebahagiaan semuku berakhir dan sangat menyakitkan padahal aku selalu percaya jika usaha tidak akan pernah menghianati hasil tapi takdir seakan mempermainkan kewarasanku dengan membalikkan semua angan bahagiaku.
Waktu yang semakin larut dan Hembusan angin yang semakin dingin menusuk tulang tak membuatku beranjak dari balkon kamar ini karena setidaknya disini membuatku sedikit terbebas dari perasaan sakit yang menjerat dari permainanku sendiri.
"Apakah semua yang kulakukan ini salah ayah?"akhirnya air mata yang seminggu tak kunjung meluruh pun turun berlomba membasahi pipi
"Apa tidak adilkah jika aku meminta kebahagiaan untuk diriku sendiri"air mata semakin deras memuruni pipi
"Ayah ibu bisakah sedikit saja berikan perasaan kalian yang saling mencintai untuk kami"aku semakin meracau tak jelas dengan kepala menengadah ke langit kelam dan seakan alam memberikan belas kasihannya untukku malam ini
Lama aku menangis tergugu menekuri kisah dan hati yang tak kunjung menemukan kebahagiaanku sendiri bahkan aku tidak menyadari ketika sang langit kini ikut menangisi kemalangan hatiku.
__ADS_1
"Al kau kah itu?"suara azka yang terdengar semakin mendekat menyadarkanku
Dengan tergesa aku mengusap air mata di pipi dengan kasar karena aku tidak ingin terlihat lemah di depan azka. Aku sudah menekadkan hatiku aku akan tetap menjadi seorang almeera fuzieyama dengan tujuan awal pilihanku.
"Apa kau menangis lagi?"azka sudah berdiri di depanku dan dengan perlahan berjongkok hingga wajahnya tepat di depan wajahku
"Tidak, hanya terlalu banyak terkena ac"aku menjawab azka dengan tatapan yang jauh menerawang ke langit yang telah menurunkan keberkahannya malam ini.
Dapat kudengar hembusan kasar nafas azka dengan di iringi ucapan yang terkesan bosan "lebih baik kita segera masuk, angin malam tidak baik untuk kesehatan"
"Ya sebentar lagi saja aku masih ingin merasakan semilir angin dari hujan yang baru kali ini menyentuh bumi kembali"aku masih enggan menatap azka karena jika sekali saja mata kami bertemu maka dapat dipastikan aku menangis saat itu juga
"Kumohon Al jangan seperti ini jadilah kuat seperti Almeera fuzieyama saat pertama kali kita bertemu"azka menarik tanganku untuk mengikutinya masuk ke dalam kamar dan dengan cepat azka menutup jendela yang menghubungkan kamar dan balkon
"Aku masih seorang Almeera fuzieyama yang sama jika kamu lupa"tanpa ingin menatap azka aku bergegas menaiki ranjang dan berusaha tidur memunggungi azka.
__ADS_1
Aku tidak ingin terlalu larut dengan pembicaraan saat ini karena dapat kupastikan aku tidak akan bisa menahan diri lagi semua kekesalan semua kekhawatiran dan semua keinginan pasti akan terucap dan mengakibatkan kegagalan atas apa yang kuharapkan setidaknya biarkan 1 tujuanku tercapai biarkanlah keinginanku membahagiakan azka terwujud.