
Setelah hampir 2 bulan menjalani pernikahan yang entah bisa dikatakan pernikahan atau tidak rasanya aku semakin melupakan tujuan awalku untuk membahagiakan azka meski tidak denganku sekalipun, kian hari rasa yang kumiliki untuk azka semakin menuntut, ego semakin mendominasi untuk memiliki seorang azka.
"Kau mau ke kantor atau langsung kembali ke rumah Al?"kake mungkin bingung harus membawaku ke rumah atau ke kantor karena waktu memang masih menunjukkan pukul 15.00 jadi kake rasa mungkin aku akan mengunjungi azka.
"Kurasa lebih baik kembali ke rumah kak karena aku harus menyiapkan makan malam dan juga mamah sudah kembali ke bogor tadi pagi"
"As you wish princess kakak antar kamu pulang"
Akhirnya dsinilah aku kembali ke rumah karena memang aku harus menyiapkan makan malam karena sebisa mungkin aku akan mengerjakan kewajibanku sebagai wanita meski di rumah ini ada sisten rumah tangga sekalipun.
"Hmmp kira-kira masak apa ya?"aku terlalu bingung melihat bahan masakan di dalam kulkas yang sudah hampir menipis
"Masak apapun aku selalu memakannya Al"tiba-tiba azka datang dan memelukku dari belakang
"Aaaacckk"
"Azka bi..bisakah kau tidak selalu membuatku terkejut"aku mencoba menekan kegugupanku karena perlakuan azka
"Haha Al kau lucu sekali"azka masih setia memelukku
"Azka bisakah kau melepaskan pelukanmu,aku ingin memasak makan malam"aku berusaha melepaskan tautan tangan azka di pinggangku
"Kapan kau pulang Al?"tanyanya yang saat ini sedang duduk di kitchen bar
"Setengah jam yang lalu, oh ya kenapa juga kau sudah di rumah padahal belum waktunya kembali dari kantor?"
"Merindukanmu"jawab azka enteng
"Awww"rintihku saat jari telunjuk teriris pisau saat memotong sayuran untuk kuhidangkan saat makan malam nanti
"Apa kau baik-baik saja Al?" Azka tampak hendak mendekatiku dengat raut wajah terlihat khawatir
"Aku tidak apa-apa azka jadi tetap disitu"selaku cepat karena debaran jantungku kian menggila setiap azka berada disekitarku
__ADS_1
"Tapi itu telunjukmu berdarah"azka tampak tidak mengindahkan laranganku dia tetap mendekat meraih jari telunjuk dan memasukkan ke dalam mulutnya
"Ahaha kurasa tidak terlalu parah azka jadi cukup dikasih plaster luka juga langsung sembuh"dengan gugup aku menarik telunjukku dari dalam mulut azka.
"Kau perempuan Al jadi akan sangat berbahaya jika lukamu berbekas" azka kembali mendekat dan mencoba meraih telunjukku lagi
"Tidak apa azka jadi kurasa lebih baik selama aku memasak kau menungguku di ruang tv saja" aku mendorong punggung azka untuk segera menjauh dari dapur
Setelah dirasa azka menjauh dari dapur aku mencoba mengatur nafas dan debaran jantungku yang tiba-tiba saja menggila.
"Hah apa itu tadi azka mesum sekali hari ini"gumamku, aku terlalu terkejut kian hari sikap azka semakin membuatku aneh tapi tidak dipungkiri akhir-akhir ini azka membuatku bahagia.
Setelah dirasa kondisi hati dan jantungku baik-baik saja aku mencoba membuatkan teh hangat untuk azka karena biasanya setelah kembali dari kantor aku selalu membuatkan azka teh manis hangat sekedar untuk menghilangkan penatnya.
"Kenapa kau belum juga berganti pakaianmu azka setelah itu ini aku buatkan teh manis hangat dan kue bolu ketan kesukaanmu"aku menegur azka yang sibuk dengan gawainya dan apa itu dia masih mengenakan baju kebesarannya di kantor.
"Baiklah Al terima kasih"azka bergegas ke kamar setelah sebelumnya mencium pipi kiriku
Apa itu kenapa hari ini azka bersikap sangat manis dan penuh dengan kejutan, untung saja teh dan cemilan sudah kuletakkan di meja jika tidak maka dapat dipastikan semuanya akan jadi santapan dinginnya lantai.
"Kenapa kau masih diam disitu Al?"pertanyaan azka membuatku terkejut dan kembali kepada kenyataan yang sangat manis hari ini
"Ah aku.. aku hanya sedang menjaga makanan dan minumanmu"hah sepertinya aku salah menjawab bukankah itu terlalu ambigu Al?'
"Kau aneh Al ada-ada saja"azka menyentuh puncak kepalaku dan mengajakku untuk duduk dengannya di ruang tv sambil sesekali dia menyuapiku bolu ketan kesukaannya.
"Bukankah kau sedang menyiapkan makan malam Al?"
"Ah y tinggal diolah karena memang hari ini menunya sangat sederhana jadi tidak terlalu sibuk"
Akhirnya sebelum aku kembali ke dapur selama setengah jam aku habiskan untuk sekedar mengobrol ringan dengan azka yang tak luput dari sikap manis azka yang selalu dia tunjukkan akhir-akhir ini.
Sepertinya waktu tidak ingin berkompromi denganku meski itu hanya untuk sekedar berbincang lebih lama dengan azka karena kewajibanku setelah ini memang harus menyiapkan makan malam. Akhirnya dengan berat aku kembali ke dapur melanjutkan pekerjaanku yang memang tadi sempat terganggu karena sikap manis azka.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama aku menyiapkan dan menata hidangan sederhana untuk kami makan malam.
"Sepertinya sudah selesai semua,baiklah mari kita panggil sang pangeran"aku terkikik geli menyadari ucapanku saat ini.
"Apa semuanya sudah siap Al?"azka berdiri di pintu dapur dengan senyum hangat yang terukir di wajahnya.
"Ah ya semuanya sudah siap azka jadi mari kita segera makan malam karena aku sudah sangat lapar"aku meringis mengingat memang sedari siang aku sama sekali belum makan
Azka tampak sudah duduk dan menungguku mengambilkan makan malam untuknya. Karena memang itu kewajibanku sebagai seorang istri.
"Masakanmu memang selalu enak Al"azka tampak semangat melahap masakanku malam ini
"Oh ya mamah kan sudah kembali ke bogor apa perlu barangmu yang dikamarku kubawakan kembali ke kamarmu azka?"pertanyaan yang memang sedari tadi ingin kutanyakan karena bukankah sudah tidak ada kewajiban kami lagi untuk tidur satu kamar jika mengingat status pernikahan kami.
"Tidak Al tetap biarkan dikamarmu karena aku akan tetap tidur satu kamar denganmu"azka menjawab dengan tenang di sela makan malamnya
Uhuk uhuk
"Pelan-pelan makannya Al"azka mengusap punggungku sembari memberikan satu gelas air ke arahku
Aku tidak berniat menanggapi ucapan terakhir azka karena aku masih sangat terkejut dengan jawaban azka malam ini. Dan akhirnya menimbulkan berbagai pertanyaan di kepalaku.
"Ah ya Al bagaimana pertemuanmu dengan paman ardhan hari ini?"
"Hah semuanya berjalan percis seperti apa yang kita bayangkan"
Untung saja azka menanyakan perihal paman ardhan karena itu sedikit membantuku menutupi perasaan gugupku malam ini.
"Begitukah? Untuk saat ini kurasa kita tunggu pergerakan paman ardhan selanjutnya saja sembari kita menyiapkan rencana terakhir kita Al"
"Ya kuharap semua berjalan semestinya karena kau pun tau semua hidup orang banyak sangat dipertaruhkan disini"aku menunduk karena ketakutan yang tiba-tiba mendera mengingat jika saja semua rencana ini gagal maka dapat dipastikan ayah dan semua orang yang berpegang padaku akan sangat kecewa.
"Tenanglah Al semua pasti akan berjalan lancar dan jangan terlalu difikirkan karena aku ada disini Al"azka mengatakan tepat di depan wajahku sembari tangannya yang mengenggam erat tanganku seakan mengalirkan kekuatan padaku.
__ADS_1
Aku tersenyum menanggapi ucapan terakhir azka yanh memanglah sangat kuharapkan saat ini dari seorang azka suamiku yang semoga saja selalu seperti itu selamanya.