My Ambitious Husband

My Ambitious Husband
kebahagiaan semu (Almeera)


__ADS_3

Satu minggu sudah aku tidak bertemu azka lelaki yang sangat aku cintai dan satu minggu pula aku mencoba mengubur dalam-dalam perasaanku untuknya karena walau bagaimanapun kebahagiaan azka adalah yang paling penting meski hatiku tersakitipun aku harus tetap mencoba bahagia.


"Al ... apa semua roti sudah matang,"suara kake mengejutkanku pagi ini


Aku memang sudah merencanakan sedari awal jika memang saat ini tiba maka aku ingin membuka usahaku sendiri dan karena kesukaanku akan kue serta semua makanan yang berbau manis maka aku mendirikan usaha kecil kecilan membuka toko kue jauh dari hiruk pikuk ibu kota setidaknya kuharap kesibukanku saat ini bisa membantuku terlepas dari bayang-bayang seorang azka putra mahardika. Awalnya kukira aku bisa tetap berada di sekitaran ibu kota dan tetap tinggal di rumahku, namun ternyata semua sangat terasa sulit jika hampir setiap sudut mengingatkanku akan sosok azka yang pernah mengisi hari-hariku, hingga akhirnya aku memilih pergi dari semua hal yang membuatku mengingat azka dan disinilah aku, di kota kecil nan asri ditemani kakakku kevin.


"Ah ya kak ini tolong bawa ke depan."


"Jangan melamun terus bukankah semua ini yang membuatmu bahagia,"kake mengusap puncak kepalaku seraya tersenyum ramah seperti biasanya


"Ya aku sangat bahagia kak,"itulah mantra yang selalu ku ucapkan meski kebahagiaan ini masih terasa sangat semu.


Aku selalu berharap semua yang kulakukan saat ini bisa membawaku kembali pada cinta dan bahagia yang sesungguhnya karena walau bagaimanapun perasaan cintaku pada azka tidak bisa dihilangkan barang sedikitpun dan tidak ada sama sekali rasa benciku untuknya selama 5 bulan ini. Entahlah mungkin ini yang dimaksudkan buta karena cinta buktinya sampai saat ini aku masih setia berharap dan enggan menghilangkan rasa cintaku untuk azka, aku terlalu menutup hatiku untuk lelaki lain meski tak jarang beberapa dari teman kake yang baik dan bersikap ramah serta menunjukkan ketertarikannya padaku namun sayangnya hatiku tidak menerima semua itu hatiku seakan telah terpatri pada satu nama seorang azka putra mahardika.


Meski kesibukan setiap hariku disini mampu mengalihkan pemikiran dan kesedihan hatiku tapi tidak jika hari beranjak malam dan aku mendapati diriku kembali sendirian kembali merasakan sesak dan sesal di dada atas keputusanku sendiri.


"Ayah ... apa yang kulakukan sudah tepat?" Aku membelai fhoto ayah dan ibuku yang sengaja kubawa selain biola dan barang-barang sangat penting yang memang bisa memungkinkan untuk dibawa.


"Apakah semua yang kulakukan hanya sia-sia?"gumamku dengan tangis yang selalu menemaniku setiap malam


"Aku ingin bertemu dengannya ayah, aku ingin melihatnya"


"Semua terasa amat menyakitkan karena aku begitu mencintainya ayah."gumamku dengan tangis yang kian pilu

__ADS_1


Setiap hari saat melihat sepasang kekasih aku selalu berharap bisa berada di posisi yang sama bisa saling mencintai dan juga melengkapi. Terkadang aku selalu berharap azka bisa menemukanku disini, aku berharap azka berada di depanku mencariku dan mengatakan dia mencintaiku, meski itu hanya menjadi sebatas angan bagiku karena kenyataannya hampir 2 minggu sudah tidak ada sama sekali yang berubah, semua masih tetap sama tetap pada apa yang seharusnya.


"Kau harus kuat Al, semua demi kebahagiaannya." Ucapku lirih


Setiap hari aku selalu berusaha untuk mengubur perasaanku untuk azka, namun semua terasa sia-sia karena semakin aku mencoba mengubur perasaanku maka semakin sakit kurasakan.


2 minggu sudah aku berada jauh dari ibu kota selama itu pula rasa rinduku semakin membuatku sesak meski aku selalu mencoba terlihat kuat tapi kurasa hatiku tidak sekuat ragaku saat ini. Setiap kali memikirkan hari ulang tahunku semakin sakit pula yang kurasakan, seakan semua sudah berakhir seakan semua takkan pernah bisa kugapai.


"Al ... kuenya gosong itu,"kake menghampiriku dengan tergesa dan mengeluarkan kue gosong dari dalam oven


"Ya ampun kak maaf aku melupakan kuenya,"rutukku sendiri dan secepat mungkin aku membuat adonan yang baru


Kake tampak tak ingin menanggapi apapun yang bisa kulihat dia hanya melihatku dengan tatapan yang sulit kuartikan, aku mencoba sebisa mungkin menghindari kake yang bisa kupastikan dia tidak akan membiarkanku saat ini. entahlah untuk saat ini aku hanya tidak ingin terlalu larut dalam kesedihan meski masih mencoba ataukah aku memang tak ingin rasa cinta ini hilang.


"Memangnya kakak akan pergi kemana?"tanpa menatap kake aku mencoba mengontrol suaraku yang gemetar karena ini pertama kalinya aku hidup seorang diri di lingkungan yang asing bagiku


"Kakak ada sedikit urusan dan kakak janji setelah semua selesai kakak akan langsung kembali kemari."kake mendekat dan memutar tubuhku perlahan hingga posisiku berhadapan dengannya saat ini


"Kakak janji?"akhirnya tangisku pecah mengingat aku akan sendirian dan kembali mengingat kenyataan pahit yang membuat hatiku sesak


"Kakak janji princess, jangan menangis oke semua akan baik-baik saja,"kake mengusap air mataku lembut dan menarikku dalam pelukannya


Aku hanya mengangguk dengan tangis yang kembali mengalir. Saat ini hanya kak kevin yang selalu bisa membuatku melewati hari-hariku hanya kak kevin yang mengetahui semua isi hatiku meski aku tak mengatakannya sekalipun.

__ADS_1


"Kakak yakin kamu princess kakak yang kuat, jadi kakak harap kamu tetap kuat dan bahagia dengan apa yang kamu pilih saat ini Al."


"Aku akan selalu mencoba." Suaraku terdengar parau dalam pelukan kak kevin saat ini


"Baiklah kakak siap-siap dulu, janji sama kakak kamu akan selalu kuat dan baik-baik saja selama kakak pergi?"kake mengendurkan pelukannya dan menatapku lembut


"Al janji."aku mencoba tersenyum di sela tangisku pagi ini


Akhirnya setelah tak lama kemudian kake sudah siap dan hendak pergi meninggalkanku sendirian di tempat asing meski semua orang sangat ramah disini namun aku tetap merasa sendiri bukan karena aku enggan bersosialisai tapi lebih pada hatiku yang masih belum sepenuhnya membaik.


"Kakak pergi dulu jaga dirimu baik-baik Al!"ucap kake lembut seraya mengecup puncak kepalaku


"Baik kak dan kakak berhati-hatilah!"aku mendorong perlahan punggung kake untuk segera pergi karena jika semakin lama kake di dekatku maka semakin aku tak bisa mqenahan tangisanku saat ini.


Dengan terlihat sedikit enggan kake tetap melangkah pergi dan memasuki mobil dengan tatapan yang terlihat sangat khawatir melihat air mataki yang sudah meluncur saat ini.


Akhirnya saat mobil kake semakin terlihat menjauh maka semakin pilu juga tangisku saat ini.


"kumohon jangan terlalu mengedepankan semua kebahagiaanku, kejarlah kebahagiaan kakak untukku."gumamku lirih disela tangis pilu aku memukul pelan dada yang kian terasa sesak.


Aku sangat memahami apa yang kak kevin inginkan dan harapan apa yang kak kevin miliki dalam hatinya. Namun setiap aku mengatakan untuknya agar tidak terlalu memikirkan kebahagiaanku maka dengan tegas pula dia menolak semua keinginanku dengan alasan ingin melihatku bahagia. Aku tidak bisa mengatakan apapun lagi pada akhirnya karena nyatanya jika kake bersikap seperti saat ini maka semakin terasa sakit hatiku melihatnya seperti saat ini.


Aku dan kak kevin memang saling menyayangi tapi kami memahami perasaan kami masing-masing. Kami hanya saling menyayangi layaknya seorang adik kepada kakaknya begitupun sebaliknya.

__ADS_1


__ADS_2