My Ambitious Husband

My Ambitious Husband
chapter 7


__ADS_3

"Apa tidak ada syarat lainnya, karena kurasa pernikahan hanya bisa dijalankan dengan sepasang manusia yang saling mencintai."


Kurasa Azka sangat berat menjalani pernikahan denganku, karena yah aku pun sangat mengerti tanpa perlu bertanya lagi Azka pasti tidak ingin menikah denganku. karena dia sama sekali tidak mencintaiku.


"Yah kurasa tidak ada, oh ya perkenalkan namaku Almeera Fuzieyama dan kurasa anda pasti tau nama Fuzieyama yang tersemat di belakang nama saya, tuan azka?"


Akan sangat tidak mungkin ada orang yang tidak tau nama perusahaan dan nama pemilik dari perusahaan yang hampir merajai asia ini.


"Apa kau pemilik dari persuahaan Fuzieyama?"tanyanya dengan wajah datar


"Kurasa tidak perlu dijelaskan, karena memangnya masih ada lagi di indonesia yang memakai nama Fuzieyama, tuan azka?" Tanyaku tak kalah tenang


"Apa sebegitu tidak ada yang menyayangi dan mencintai anda hingga akhirnya anda menawarkan diri anda sendiri dengan berkedok bantuan kepada saya?"tanyanya dengan nada sinis dan hei apa perlu, dia mengatakan secara tidak langsung kalo aku tidak laku begitu.


"Hahaha anda memang cerdas tuan Azka, tapi maaf sebelumnya bukan hal itu yang saya maksud tapi sebenarnya sangat banyak yang mengantri di belakang sana hanya untuk memperistri saya."


"Lantas apa yang menjadi alasan anda melamar saya seperti ini, nona Almeera?"


Hei apa tadi itu artinya aku melamarnya begitu? boleh juga harga dirinya, huh klo saja aku tidak mencintainya.


"Kurasa anda orang yang tepat untuk mendampingi saya setidaknya sampai saya berhasil menggenggam semua saham ayah saya." jawabku dengan raut wajah yang kubuat sedatar mungkin


"Ah ya tentu saja anda pasti tidak akan semudah itu memilih calon pendamping anda jika saja tidak menguntungkan bagi anda, bukan begitu nona?" Jawab azka sinis


"Benar tuan Azka sepertinya tidak sulit berbicara dengan anda."


"Memang benar kenyataan semua orang kaya seperti itu bukan, hanya karena mereka bergelimbang harta maka akan dengan sangat mudah mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan melalui kekuasaan mereka." dengan sangat kentara ketidakramahan dari kata-kata Azka yang menjadi tanggapan dari ucapanku sebelumnya


"Haha semua itu benar tuan Azka, jadi apakah anda akan menyetujuinya?" Tanyaku lagi mencoba peruntungan untuk kedua kalinya


Hah jika dilihat lagi aku seperti tidak punya harga diri mengemis status untuk menjadi istri dari seorang Azka. Meski jauh dari alasanku sebelumnya adalah kenyataannya bahwa aku mencintainya, sangat. Dan apapun akan kulakukan hanya untuk kebahagiannya.


"Apa yang anda lihat dari saya sampai akhirnya anda menawarkan hal yang menurut saya sangat gila."


"Kurasa satu yang kulihat dari anda tuan, ambisi anda yang sangat besar akan sesuatu bisa membantu saya mengambil alih semua aset perusahaan dan menyingkirkan orang-orang yang serakah itu."

__ADS_1


"Apa saya boleh mengajukan banding selain penawaran bantuan nona kepada saya?" tanyanya yang mebuat dahiku berkerut


"Maksud anda apa tuan?"


"Maksud saya bukankah pernikahan yang nantinya akan kita laksanakan hanya untuk sebuah status?"


Aku hanya mengangguk menanggapi pertanyaannya yg sama sekali belum aku fahami akan mengarah kemana.


"Maka dari itu saya ingin membuat bandingan hanya beberapa point supaya tidak ada yang saling dirugikan dalam keuntungan keduanya?"


Jadi dia ingin pernikahan ini hanya diatas kertas begitukah maksudnya, entah kenapa semangatku yang tadinya akan segera memiliki Azka sepenuhnya hilanglah sudah. Jika saja aku berdiri saat ini kurasa aku akan segera terjatuh di atas lantai yang terasa semakin dingin.


"Apakah maksud anda pernikahan ini hanya pernikahan di atas kertas begitukah tuan Azka?"


"Saya rasa anda cukup pintar untuk menangkap maksud saya"


"Ah ... baiklah tuan Azka saya tunggu surat perjanjiannya besok dikantor saya"


Akhirnya hanya itu yang bisa aku katakan dan sesegera mungkin aku ingin pergi dari tempat ini karena semua perkataan Azka yg kudengar tadi hanya membuatku tak ingin menjalani hidup lagi rasanya. Namun aku tidak akan mundur sekarang, seorang Fuzieyama tidak pernah akan mundur selama belum berusaha.


Sesampainya di dalam mobil bulir bening yang ku tahan sedari tadi tidak dapat kubendung lagi semuanya saling berlomba menuruni pipiku, rasanya sangat sesak aku menangis pilu menahan sesak didada.


🌻🌻🌻


Matahari yang mulai meninggi mengusik ketenangan tidurku.


Kucoba sedikit mengintip untuk memastikan jam berapa saat ini.


Aaaarrrggghhh.....


"Gila gue kesiangan banget ini"aku berteriak sambil mondar mandir karena dengan sangat konyolnya menangis semalaman suntuk karena menyesali keputusanku kemarin, tanpa disadari ternyata aku melamar Azka, terlepas dari banyaknya alasan tetap saja intinya kemarin aku melamar Azka.


Pada akhirnya sekitar jam 9.30 AM aku baru sampai ke kantor, dengan sangat tergesa aku memasuki ruanganku. Namun, baru saja aku membuka pintu aku dikejutkan dengan adanya sosok Azka di dalam ruanganku.


"Hah ya bukankah kamu sendiri yg mengundangnya hari ini Al?"gumamku

__ADS_1


"Ekhemm..


Azka memutar kursi tempatnya berada, bak disediakan tontonan live slow motion hari ini Azka terlihat sangat ... perfect.



"Hahaha memangnya sejak kapan seorang Azka putra mahardika jelek dimatamu Al." batinku


"Apa selalu begini jadwal kedatangan atasan yang sangat baik" sinis Azka


"Ekhem ... maaf tuan Azka saya sedikit ada kepentingan mendadak yang akhirnya saya terlalu siang datangke kantor, apa anda menunggu terlalu lama tuan Azka?" Tanyaku berusaha menormalkan detak jantungku


"Menurut anda?"


Baiklah sangat terlihat jika ternyata dia sudah terlalu lama menunggu. Huh memangnya semua ini gara-gara siapa membuatku datang terlambat. Seandainya aku berani mengatakannya.


"Baiklah tuan Azka apakah anda sudah menyiapkan point apa saja yang anda akan masukan dalam perjanjian ini?" Tanyaku to the point


Tanpa menjawab Azka menyerahlan secarik kertas dihadapanku, isinya memang tidak banyak hanya saja tiga point yang tertulis disana mebuatku merasa sangat tidak dihargai sebagai istrinya nanti.


"Baiklah saya rasa saya tidak akan menambahkan apapun karena dengan anda menyetujui tawaran saya kemarin saja sudah sangat-sangat merasa terbantj tuan Azka." dengan menahan gejolak hati yang tiba-tiba sesak aku tetap berusaha tersenyum


Azka diam tanpa menjawab apapun dia hanya langsung menandatangani perjanjian yang lebih dulu kutandatangani sebelumnya.


"Jadi kapan saya harus melamar dan membawa ibu saya kepada keluarga anda?"


Ah ya aku tidak berfikir sampai kesana, menurut agama jika ayahku tidak ada maka secara tidak langsung paman Ardhanlah yang menjadi wali nikahku.


"Ayo berfikir Almeera Almeera!" batinku gelisah


"Ah ya tuan Azka bagaimana kalo saya hubungi via chat saja untuk sementara?"


Dia hanya mengangguk menanggapi ucapanku


"Baiklah saya permisi ini no saya silahkan anda hubungi saya!" titahnya telak

__ADS_1


Hei memangnya harus seperti itu bersikap ke calon istrimu. Andai saja memang saling mencintai mungkin tidak akan seperti ini.


"Entahlah sesak sekali hati ini apakah yang aku lakukan ini benar ibu?" Lirihku


__ADS_2