My Ambitious Husband

My Ambitious Husband
chapter 35


__ADS_3

Aku berusaha menyangkal dan menguatkan hatiku jika amplop yang kini berada ditanganku isinya bukanlah hal yang sangat kutakutkan. Dengan tangan gemetar aku berusaha membuka amplop cokelat yang bertuliskan surat resmi dari pengadilan.


Hati beserta harapan kecil yang kuinginkan semua lebur hancur tak bersisa dadaku sesak rasanya hatiku seperti dihantam batu besar  yang pasti hati ini tidak akan kembali utuh meski di tata kembali.


Aku menangis dalam diam meresapi sakit hati yang menjalar ke seluruh bagian tubuhku karena surat resmi perceraian antara aku dan azka yang sudah azka siapkan tepat 1 bulan setelah pernikahan kami.


"Apakah kau tidak bisa merasakan perasaanku, apakah perasaan ini tak pernah tersampaikan padamu azka"aku menangis tersedu memandangi surat ditanganku


Kenyataan yang paling pahit dan membuatku tak ingin menjalani hidupku kembali adalah azka sama sekali tidak pernah menginginkan pernikahan ini dan semua dilakukannya hanya karena semata-mata ambisinya untuk rania.


Dengan langkah gontai aku keluar dan pergi ķe ruangan tempatku bisa memeluk ayah dan ibuku disana.


Aku berjalan perlahan menyeret kakiku yang terasa sangat berat aku membawa serta surat perceraian yang azka ajukan 1 bulan lalu untuk kusimpan sampai saatnya nanti, aku berusaha untuk tidak kembali menangis dan mencoba kembali menjadi seorang almeera fuzieyama yang kuat, namun semua itu tak pernah bisa kulakukan karena tepat saat memasuki ruang musik ini air mata kembali berlomba membasahi pipi dan sesak yang semakin tak terelakkan.


Aku berjalan mengitari semua fhoto kenanganku dengan kedua orang tuaku, jika aku bisa memilih maka aku ingin kembali di awal waktu saat sebelum menikah dengan azka karena setidaknya aku tidak akan terlalu merasa sesakit ini.


Aku menyimpan amplop berisi surat perceraian kami di lemari tempatku menyimpan semua barang berhargaku dari ayah dan ibu setidaknya akan kusimpan sampai saat nanti ulang tahunku yang ke 24.


"Ayah ibu apakah kisah asmaraku akan serumit ini?"aku bergumam lirih di depan fhoto kedua orangtuaku yang disertai bulir kristal bening yang tak kunjung surut


"Ayah apa akan ada lelaki seperti ayah yang akan menjaga dan mencintaiku sepertimu yang sangat mencintai ibu"aku mengusap fhoto ayah yang tersenyum menatap ibu dengan hangat


Aku kembali berjalan ke setiap sudut ruangan hingga aku berhenti tepat di depan biola pemberian ibu. Tanpa berfikir apapun aku meraih biola berwarna putih gading dan memainkannya.


"Ibu apakah ibu bahagia dicintai ayah?"


"Aku ingin menjadi seperti ibu yang didampingi lekaki yang sangat mencintaimu"


Aku terus menggumam pertanyaan kecil di sela permainan biolaku yang diriringi tangis.


Entah kenapa mengingat kenyataannya azka yang sangat menginginkan perceraian dan menikahi rania rasanya aku seperti diharuskan mengubur dalam-dalam semua perasaanku untuk seorang azka putra mahardika.


Aku akan berusaha mengembalikan posisi azka untuk rania jika memang kebahagiaan azka adalah seorang rania maka akan kubiarkan perasaanku terkubur dalam dan takkan ku ingat lagi karena walau bagaimanapun kebahagiaan azka adalah prioritas untukku.

__ADS_1


Tanpa terasa setelah banyak menangis aku tertidur di ruangan ini dengan memeluk fhoto kedua orangtuaku berharap hatiku terhibur karena memiliki mereka sebagai orangtuaku.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membangunkan tidurku. Aku menggeliat tak nyaman karena tertidur di sofa yang hanya berukuran 3/4 dari panjang tubuhku. Dengan langkah lemah aku membuka pintu dan mendapati bi imah yang beriri dengan raut yang kebingungan.


"Ada apa bi kenapa melihatku seperti itu?"


"Saya hanya khawatir nona seharian ini nona sama sekali tidak keluar dari ruangan ini bahkan untuk sekedar makan siang dan sekarangpun jika bibi tidak membangunkan nona maka makan malam akan nona lewatkan"


"Memangnya ini jam berapa bi?"


"Sudah hampir pukul 9 nona"


Dan jawaban dari bi imah sukses membuatku tersadar dan kantuk yang kurasa sejak tadi menghilang tak bersisa.


"Kenapa bibi baru membangunkanku"aku berjalan tergesa keluar dari ruangan pribadiku


"Maaf nona bibi hanya tidak ingin menganggu nona"bi imah tampak tergesa mengikuti langkahku


"Maaf nona tuan azka bahkan belum kembali"


Deg


Jawaban yang diucapkan bi imah sukses membuat langkahku terhenti dan membuatku lemas seketika.


"Nona apa nona baik-baik saja?"bi imah tampak mencemaskan keadaanku yang tiba-tiba melemas dan bersender di tembok


"Aku baik-baik saja bi,tolong siapkan teh manis hangat untukku malam ini"tanpa melihat ke arah bi imah aku berusaha melangkah pergi menuju kamarku.


"Apa nona tidak ingin memakan sesuatu karena sedari siang anda belum memakan apapun"


"Tidak perlu bi aku hanya ingin teh manis hangat malam ini"aku bergegas kembali melangkahkan kakiku menuju kamar.

__ADS_1


Berdiam diri di dalam kamar tidak membuat perasaanku menjadi lebih baik karena semua pikiran dan kesakitan datang bersamaan membuatku hanya menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong tanpa ada air mata. Entahlah apa sebenarnya yang kurasakan apa karena aku terlalu sakit hati atau terlalu kecewa pada diriku sendiri yang sama sekali tidak bisa menjauhkan azka dari rania.


Tok tok tok


Tanpa menjawab aku membuka pintu dan menampakan bi imah dengan nampan yang berisi secangkir teh manis hangat dan pancake cokelat kesukaanku.


"Nona ini bibi buatkan pancake kesukaan nona karena bibi khawatir nona sama sekali belum memakan apapun dari siang tadi"


"Terima kasih banyak bi"aku menerima nampan dari tangan bi imah dengan tangan yang bergetar menahan semua kesakitan yang terasa sesak hingga ulu hati.


Aku menatap tanpa minat teh manis hangat dan pancake cokelat kesukaanku karena semuanya mendadak seperti hambar dan dengan enggan aku memakan pancake karena walau bagaimanapun aku tidak boleh sakit dan mengalah dengan hatiku karena tubuhku tidak akan bisa sekuat hatiku saat ini.


Suap demi suap aku berniat menghabiskan pancake cokelat kesukaanku dengan tempo makan yang sangat lambat hingga tanpa terasa setengah jam aku menghabiskan satu buah pancake kesukaanku dan pada saat itu pula pintu kamar terbuka menampilkan sosok yang sehari ini menyita kewarasanku.


"Maaf aku pulang terlalu larut Al"azka menghampiriku


"Tak apa, apa kau sudah makan malam?"aku menjawab tanpa semangat


"Aku sudah makan malam jadi kau tidak perlu khawatir"azk menjawab dengan berlalu ke arah sisi lemari dan seperti mencari sesuatu


"Apa kau mencari kopermu azka?"


"Ya bukankah selama ini aku menyimpannya disamping lemarimu Al?"azka tampak bingung mencari-cari kopernya


"Isinya sudah kupindahkan ke dalam lemari dan kopermu sendiri sudah ku simpan di pojokan sana"aku menjelaskan dengan nada tanpa semangat


"Hah kenapa kau harus repot seperti itu Al, tapi terima kasih banyak"azka tampak sangat bahagia


"Kau terlihat sangat bahagia malam ini"aku mencoba memberanikan diri menanyakan kabar apa yang membuat azkaku sebahagia itu


"Hahah apa sangat jelas terlihat Al?"


"Ya sangat jelas terlihat"aku tersenyum miris

__ADS_1


"Kurasa kau sudah sangat mengetahuinya Al ditambah cafe A&R yang sudah sangat maju pesat seperti yang kau janjikan. Terima kasih"azka tampak bersemangat menceritakan semua itu padaku malam ini


"Aku turut berbahagia untukmu azka"hanya jawaban dan senyuman miris yang bisa aku berikan untuk azka malam ini mengingat semua kata-kata azka yang kuyakini semakin dekatnya pernikahan antara azka dan rania.


__ADS_2