My Ambitious Husband

My Ambitious Husband
kejutan yang gagal


__ADS_3

Sepulangnya dari rumah sakit, Almeera berusaha bersikap acuh pada suaminya, Azka.


"Pokoknya aku tidak akan menjadi Almeera yang kembali mengemis cinta pada suamiku sendiri."gumamnya


Almeera bertekad untuk mengacuhkan suaminya, Azka. Dia tidak akan menjadi terlalu bodoh untuk kembali mengemis cinta pada suaminya sendiri. Biarlah mulai saat ini Azka akan melakukan apapun Almeera tidak akan peduli. Karena dia hanya akan fokus pada si kembar yang masih menghuni rahimnya saat ini.


"Dukung bunda untuk melancarkan gencatan senjata pada ayahmu ya nak!"Almeera tersenyum dengan tangan mengelus lembut pada perutnya yang masih terlihat rata.


Waktu menunjukkan pukul 5 sore hari dan sampai saat itupun tidak adanya tanda-tanda dari Azka. Meski Almeera selalu berusaha sekuat tenaga mengacuhkan suaminya, hatinya tetap selalu menjerit merindukan setiap sentuhan dan kelembutan dari suaminya.


"Apa Azka tidak akan pulang?"dengan tanpa permisi air mata mulai meleleh kembali membasahi pipi


"Kenapa harus cengeng seperti ini sih?"dengan kasar Almeera mengusap air mata yang mulai membanjiri pipi


"Nak tolong sekali ini saja bantu bunda ya sayang ya!"


Waktu terus bergulir Almeera masih setia menunggu kepulangan suaminya, Azka.


"Ya sudah pokoknya kalo sampai jam 8 nanti Azka tidak pulang, aku akan menyuruhnya tidur diluar dan gencatan senjata selamanya. Biar dia tau rasa."ucapnya berapi-api


Waktu sudah hampir menunjukkan pukul 8 malam dan sampai detik itu pun tidak terlihat sama sekali sosok yang ditunggu-tunggu seorang Almeera.


"Ok, sudah pukul 8. Baiklah aku ikuti permainanmu."


Dengan cepat Almeera mengeluarkan bantal serta selimut untuk tidur Azka, dan dia mengunci pintu kamarnya serta bergegas untuk tidur.


"Kalian jadi sekutunya bunda oke, biar ayahmu tau rasa."


Dengan mengelus perut yang masih terlihat ratanya Almeera terlelap karena memang rasa kantuk saat hamil selalu saja berlebihan.


🌻🌻🌻


"Gue udah siapin semuanya, awas kalo rencana yang lo sarankan gagal dan merugikan gue."Azka mengatakan dengan kesal pada sahabatnya, kevin.


"Gue jamin sukses, princess gue pasti suka. Ya kan sayang?"ucap Kevin yakin seraya memeluk erat kekasih hatinya, Icha.


"Tapi qo gue ngerasa gak nyaman ya."


"Perasaan lo aja karena udah rindu berat sama princessnya gue."


Azka tidak menanggapi apapun dia hanya mengangguk samar dengan pikiran-pikiran serta ketakutan yang mengisi kepalanya saat ini.


"Udah hampir jam 9, gue sama calon istri balik dulu ya. And good luck."ucap Kevin seraya memukul pelan pundak Azka.


"Oke, pokoknya kalo semua rencana ini gagal, lo orang pertama yang gue cari."tunjuk Azka tepat di depan wajah Kevin.

__ADS_1


"Tenang aja."Kevin berlalu tanpa berniat menanggapi ucapan Azka


Dengan penuh rasa percaya diri Azka melangkah bergegas untuk kembali ke pelukan hangat sang istri yang selalu dirindukannya. Dia tidak menghiraukan titah sahabatnya untuk menunggu di kantor hingga sebelum tengah malam nanti.


"I miss you so bad, Almeera."Azka bergumam dengan tatapan lurus menatap kotak kecil berwarna biru navy yang telah dia siapkan satu minggu yang lalu


Azka telah sampai di depan pintu rumahnya saat ini. Namun kebodohan yang mendominasi karena rasa percaya diri yang sangat tinggi atas ekspektasi yang dia bayangkan. Dia hanya berdiam diri di luar rumah dengan senyuman yang selalu terukir saat membayangkan bagaimana keterkejutan Almeera saat nanti dia memberikan semua yang dia siapkan sedari dua hari yang lalu.


"Masih satu jam lagi."gumamnya saat menatap pada jam tangan yang melingkar di tangan kirinya


"Kenapa malam ini terasa sangat dingin."Azka merapatkan jas kebesarannya yang sedari pagi masih membalut gagah di tubuhnya.


Azka mengira istrinya masih selalu setia menunggu di sofa ruang tamu seperti biasanya. Namun nyatanya jika saja Azka tau Almeera saat ini bukanlah Almeera yang selalu setia padanya untuk selalu menunggunya. Almeera kini memiliki sekutu yang akan selalu ada untuknya dan membelanya.


Setengah jam berlalu Azka semakin tidak sabar menunggu waktu bergulir tepat ke pukul 00.00.


"Sebentar lagi Azka."dia merasa sangat kedinginan dengan sesekali meniupi kedua tangannya guna menghilangkan rasa dingin yang semakin menusuk.


Tepat sepuluh menit sebelum waktu menunjukkan pukul 00.00, Azka melangkah dan membuka pintu utama untuk memberikan kejutan pada istrinya. Senyum Azka masih terukir di wajahnya. Namun tak lama kian surut saat ia tak mendapati Almeera yang biasanya tertidur di sofa karena menunggunya.


Dengan pikiran yang kian kalut Azka mencari ke setiap sudut ruangan, dia berharap Almeera sedang menunggunya saat ini, Azka terus mencari ke berbagai ruangan. Namun hasilnya nihil dia sama sekali tidak menemukan Almeera dimanapun.


"Kenapa semua menjadi seperti ini?"Azka menjambak rambutnya kian frustasi


"Al, sayang apa kau di dalam?"Azka mencoba membuka pintu, namun sia-sia karena pintu dikunci oleh Almeera


"Sayang, kumohon buka pintunya!"Azka masih setia mengetuk pintu kamarnya


"Sayang, aku mohon buka pintunya?"


Azka terus mengetuk hingga setengah jam lamanya. Hingga saat waktu menunjukkan hampir pukul 1 dini hari suara kunci yang terbuka menimbulkan senyum di wajah Azka.


"Kenapa berisik sekali?"suara serak Almeera khas bangun tidur menyambut kerisauan Azka


"Sayang, kenapa pintunya dikunci?"


Seketika Azka melupakan kejutan yang telah dia siapkan untuk istrinya.


"Memangnya kenapa, kalo kamu mau tidur dan istirahat. Itu aku sudah menyiapkan bantal dan selimut untukmu."dagu Almeera menunjuk angkuh tepat pada bantal dan selimut yang tergeletak di depan kamarnya


"A..apa maksudmu sayang?"


"Tidak ada maksud apapun, masih syukur aku inget kamu. Buktinya noh aku udah siapin bantal sama selimut buat kamu biar gak kedinginan."


"Ta..tapi kenapa harus diluar kand bisa disimpan di tempat tidur?"

__ADS_1


"Ya kan bobonya diluar ... anata, jadi ya aku siapin di luar lah."


"Hah di.. di luar?"


"Ya anata udah ah aku ngantuk!"


Almeera hendak menutup pintu namun dengan cepat Azka menahannya.


"E..eh sayang tunggu sebentar!"


"Apa lagi aku ngantuk ini."


"Ada yang mau aku katakan sama kamu sayang."


"Ya udah sok aku dengerin."


Mereka masih berdiri di pintu kamar mereka


"Masa disini kan gak nyaman sayang."


"Ya sudah kalo gak mau aku tutup pintunya."ancam Almeera geram


"Eh eh ya ya disini saja."


"Ya udah ayo cepetan!"


Azka hanya terdiam pikirannya berlari entah kemana, semua kata-kata yang dirangkai semanis mungkin dengan tiba-tiba pergi menghilang, menguap tak bersisa.


"Loh katanya mau ngomong qo diem? Aku itung sampe tiga, kalo masih diem aku tutup pintunya. Udah ngantuk ini."


"Hah ya ya baiklah disini, oke."


"Ya udah cepetan ih ngeselin."untuk pertama kalinya Almeera kembali emosi


"Maaf sayang, aku minta maaf selama dua hari ini aku mengacuhkanmu. Tapi tolong percayalah, itu semua karena aku menyiapkan sesuatu khusus untukmu. Oke awalnya aku ingin mengucapkan selamat ulang tahun dengan kejutan tepat saat pukul 00.00 dan setelahnya aku ingin mengatakan padamu, aku sudah menyiapkan pesta untuk resepsi pernikahan kita dan ulang tahunmu besok, karena itulah aku selalu pulang larut dan sengaja aku mengacuhkanmu. Tadinya kuharap ini akan menjadi kejutan yang luar biasa untukmu."wajah Azka kian sendu mengingat kejutannya yang gagal total


"Oke terus, ada lagi?


"Hah su..sudah hanya itu."


"Ya sudah sana tidur besok kita harus terlihat sempurna. Bye anata good night."


Tepat setelah ucapan terakhir dari Almeera pintu kamar tertutup kasar tanpa menunggu sepatah kata dari bibir suaminya, Azka.


"Kevin sialan."Azka menjambak kasar rambutnya karena frustasi dengan semua kejutan yang sudah dia siapkan atas saran kevin dan semuanya gagal. Ekspektasi yang dia bayangkan sama sekali tidak menjadi nyata. Betapa hebatnya realita yang mengampiri Azka saat ini dan sangat berhasil membuatnya menyesal dan takkan pernah menuruti semua ucapan kevin, lagi.

__ADS_1


__ADS_2