
Entah sudah berapa jam aku tertidur di ruang keluarga setelah menangis tersedu setiap mengingat bagaimana dengan lembutnya azka memperlakukan rania di depanku istrinya sendiri.
Aku selalu berfikir pantaskah aku untuk marah atau pantaskah aku hanya sekedar untuk bertanya apa saja yang kalian lakukan setelah aku pergi.tapi kurasa itu semua tidak akan mungkin
Andai azka tau andai azka mengerti maksudku sebenarnya keinginanku sebenarnya andai aku bisa mengutarakan semua yang kutahu.
Kepalaku terlalu berat hanya sekedar untuk memikirkan apa yang akan terjadi dengan hatiku selanjutnya.
Aku cukup terkejut melihat jam menunjukkan pukul 7 malam dan aku sama sekali tidak melihat adanya tanda-tanda azka di rumah ini.
"Sepertinya aku harus segera menyiapkan makan malam"gumamku dengan berusaha beranjak dari tempat tidur
Sesaat aku memasuki dapur semua makanan sudah tersaji di meja makan
"Bi kenapa memasak bukankah sudah kukatakan memasak tugasku bi"kataku menyapa bi imah di dapur
"Tidak apa non tadi bibi sempat mau bangunin non tapi non terlihat sangat lelah" jawab bi imah
"Terima kasih banyak bi"jawabku seraya mencoba tersenyum
Baru saja aku akan memulai makan malamku tiba-tiba azka muncul dari depan dengan menampilkan senyuman yang tak pernah pudar dari wajahnya dan bisa kupastikan suasana hatinya sangat bagus dan sangat berbanding terbalik denganku.
"Azka apa kau sudah makan malam?"tanyaku parau
"Ah aku sudah makan diluar Al jadi lanjutkan saja makanmu terima kasih"azka menjawab sambil lalu dan bergegas pergi ke kamarnya
Untuk kesekian kalinya makan malamku rasanya hambar.
__ADS_1
Apakah azka sama sekali tidak bisa menghargaiku sedikit saja sebagai seorang istrinya kenapa semuanya terlalu berat kurasa untuknya.
Aku harus tetap kuat setidaknya setelah semua perusahaan dan semua orang dibawah fuzieyama group aman.
Saat pagi menjelang seperti biasa aku selalu memasak sarapan untukku dan azka.
"Tumben sekali azka belump keluar dari kamarnya apa aku coba panggilkan saja ya rasanya dia tidak pernah terlambat bangun pagi."gumamku
Tok tok tok
Aku mencoba mengetuk pintu kamar azka tidak ada jawaban sama sekali
Aku mencoba mengetuk untuk kedua kalinya namun masih tidak ada jawaban dari dalam,karena aku mulai khawatir maka akhirnya aku memutuskan untuk masuk.
Ceklek
Aku terus memutari setiap sudut kamar yang ditempati azka sekedar melihat apa saja yang azka simpan selama ini.
Tatapanku berhenti tepat pada pigura yang disimpan di atas meja samping tempat tidur disana bisa kulihat ada beberapa fhoto yang memang sengaja azka simpan, bisa kulihat disana fhoto azka dan rania dalam berbagai angle dan seketika mataku memanas akhirnya aku menangis saat itu juga ketika aku melihat ada 1 fhoto yang disimpan terpisah dari beberapa fhoto yang lainnya,disana ada fhoto azka mencium pipi rania dan dapat kulihat pancaran cinta dimata azka hanya untuk rania.
Sakit sekali rasanya sesak sekali kenapa mencintai harus sesakit ini ayah kenapa aku harus mencintai seorang azka kenapa perasaan ini harus hadir untuk azka kenapa harus aku yang tidak bisa memenangkan hati azka.aku menangis tergugu
Rasanya aku tidak mampu lagi menumpukan kakiku.
"Aku harus segera keluar dari tempat ini"lirihku
Saat hendak melangkahkan kaki ini keluar azka muncul dari kamar mandi
__ADS_1
"Al?sedang apa kau dikamarku Al?"begitulah pertanyaan azka yang mengejutkanku
Aku terlonjak kaget dan mengusap kasar sisa air mataku
"Aku hanya ingin mengajakmu sarapan azka"tanpa berbalik aku menjawab pertanyaan azka dengan suara parau.
Saat selangkah lagi aku keluar dari kamar azka dapat kurasakan tanganku ditarik dan dengan sangat tiba-tiba kami saling berhadapan pada akhirnya
"Apa kau menangis Al?" Itulah pertanyaan azka yang sangat aku hindari
"Hah mana mungkin aku menangis azka ini hanya kelilipan kurasa kamarmu berdebu azka jadi tolonglah rajin dibersihkan"kupaksa tertawa menjawab pertanyaan azka meski kuyakin tawaku terdengar sangat sumbang
Tanpa menunggu tanggapan azka aku segera bergegas menuju ruang makan karena kurasa aku tidak akan sanggup jika harus lebih lama melihat pemandangan di kamar azka.
Masih pagi saja rasanya sudah sangat berat jika itu menyangkut hati manusia.
Jika aku dibiarkan memilih antara bekerja tanpa jeda atau memenangkan hati azka maka dengan senang hati aku akan memilih bekerja tanpa jeda namun aku tidak bisa menyalahkan perasaan yang tanpa izin telah menguasai hatiku perasaanku untuk azka yang telah memenuhi seluruh relung hatiku.perasaanku untuk azka yang bertahta dihatiku.
"Pagi Al apa mulai hari ini aku ke kantormu Al?"
"Ya azka hari ini paman zack sudah menyiapkan semua persyaratan dan apa saja yang kamu butuhkan sebagai pemimpin"
"Baiklah Al aku tidak akan mengecewakanmu"
"Tidak apa azka kita sama-sama berusaha jadi kau tidak perlu terlalu terbebani dan tetap jadi dirimu sendiri azka"
Aku menjawab tanpa semangat yang kurajut semalam tadi semua seakan pergi menguap tanpa sisa hanya karena dengan terus menerus tanpa jeda aku ditarik kembali pada kenyataan bahwa hati azka hanya untuk seorang rania.
__ADS_1
Kulihat azka tak berniat menanggapi ucapanku yang kulihat dia hanya menatapku tanpa ekspresi.