
Setelah semalam aku tertidur dalam keadaan menangis dipelukan azka pagi ini aku dikejutkan karena terbangun tanpa sosok azka yang memelukku padahal waktu masih menunjukkan pagi sekali jadi rasanya tidak akan mungkin azka pergi ke kantor. Netraku mencoba melihat ke berbagai sudut berharap azka ada di dalam kamar ini namun kian aku mencari sosok azka dengan amat sangat naas aku tak kunjung menemukannya, hanya ada koper azka yang selama ini berdiam rapi disamping lemari pakaianku.
Dengan kepanikan dan ketakutanku semenjak kemarin aku beranjak dari tempat tidur dan tergesa mencari sosok azka yang sangat aku cintai. Aku mulai mencari di setiap sudut rumah namun tidak ada sama sekali kehadiran azka disana, dengan harapan kecil yang tersisa aku kembali ke kamar berharap tidak melihat kehadiran azka di kamarku hanyalah mimpi namun saat kembali ke kamarpun sosok yang kunanti tetap tak terlihat, aku mulai putus asa rasanya kakiku melemas dan tak mampu menopang berat tubuhku sendiri tanpa bisa ditahan tubuhku meluruh kelantai dan menangis tersedu di depan koper azka.
"Apa harus seperti ini akhirnya? Apa hanya sampai saat ini?"gumamku lirih
"Apa yang kau lakukan disitu Al?" Azka tampak tergesa menghampiriku yang saat ini sedang terisak.
"Aku mohon jangan pernah meninggalkanku seperti ini azka, aku mohon tetaplah disampingku sampai saat kau sendiri yang menginginkan untukku menjauh"dengan mata yang buram karena tangis aku berlari menghambur kepelukan azka
"Hei kenapa dari kemarin kau tampak aneh seperti ini Al, dengar aku tidak akan pernah meninggalkanmu"azka menangkup wajahku dan mengusap air mataku dengan lembut
Aku tidak bisa mengucapkan apapun selain kembali memeluk azka sangat erat seakan esok dia akan pergi dan tak pernah kembali.
"Sssttt dengar aku akan selalu ada untukmu sampai semuanya selesai, kau tidak perlu takut aku akan selalu ada untukmu sampai saatnya nanti Al"azka tetap menenangkanku dengan ucapan yang sangat menyentil hatiku.
Seketika kenyataan kembali menamparku azka memang benar adanya aku harus bisa menahan diriku untuk tidak terlalu bergantung dan menuruti egoku yang ingin memiliki azka untukku sendiri, rasanya takdir tidak mengizinkanku memilikimu seutuhnya azka bahkan kau pun tampak sangat enggan menjanjikan selalu disisiku meski itu hanya sebatas teman.
"Kau benar azka"aku megurai pelukan azka dengan mencoba mengontrol hati dan menahan diri untuk tidak terlalu terbawa suasana dalam permainan yang sialnya kubuat sendiri.
"Aku percaya kau wanita yang kuat Al"
__ADS_1
"Terima kasih dan maafkan selama 2 hari ini" tanpa ingin memperpanjang pembahasan ini aku beranjak ke dapur untuk menyiapkan sarapan
Sejak mendengar ucapan azka pagi ini aku berusaha menguatkan dan menahan diriku sebisa mungkin untuk tetap pada tujuan awalku untuk membuat azka bahagia meski itu tanpaku sekalipun.
"Ah ya kurasa rencana kita harus segera dipercepat Al"azka membuka obrolan kami di sela sarapan kami pagi ini
"Apa alasan untuk itu?"
"Karena bukankah kita sudah mengantongi banyak bukti untuk menyingkirkan paman ardhan dan kaki tangannya"
"Ya memang benar hanya saja kurasa jika kita menjalankan saat ini akan terlalu mengambil resiko"
"Bukankah resiko selalu ada setiap apapun pilihannya Al"
"Sederhana saja hanya ingin membuatmu bahagia tanpa rasa khawatir"
"Hahah tidak masuk akal sekali"aku tertawa lirih mendengar ucapan azka yang terdengar lucu menurutku
"Memangnya kenapa,bukankah benar adanya jika paman ardhan sudah mengundurkan diri dari jabatan maka dengan pasti semua aset perusahaan aman ditanganmu untuk sementara"
"Memang jelas itu tujuan utama kita tapi bukankah jika kita terlalu terburu-buru maka semua keberhasilan hanya sepersekian kecil presentasinya"
__ADS_1
"Kau memang seorang almeera fuzieyama Al"azka tampak senyum penuh arti
"Maksudmu?"
"Ya ayahmu memang mendidikmu dengan baik hingga membuatmu tumbuh dengan penuh kemandirian dan kuat"
"Apa itu sebuah pujian untuk seorang wanita?"
"Hahaha jika aku mengenalmu sebagai partner bisnis saja kurasa akan sangat sulit mendapatkan kerjasama denganmu"
"Begitukah? Menurutku jika itu tidak akan merugikan kedua belah pihak tak akan sulit sebenarnya" aku tidak terlalu memahami maksud dan arah pembicaraan azka pagi ini
"Begitukah?" Azka tampak mengernyit entah itu tidak percaya atau tidak memahami maksud ucapan terakhirku
"Kenapa kau bertanya seperti itu azka?"
"Ah tak apa hanya sekedar ingin meminta persetujuan dari pemilik perusahaan"hanya itu yang azka katakan selanjutnya kami kembali hening dan sibuk dengan kegiatan sarapan kami masing-masing
Azka tak lagi membuka pembicaraan diantara kami yang ada hanya keheningan dan kecanggungan yang tiba-tiba kembali hadir diantara kami dan bahkan saat hendak pergi ke kantorpun kecupan kening setiap pagi itu sudah mulai menghilang dari azka entahlah aku tidak ingin terlalu berlarut dalam permainan ini karena semua itu hanya akan membuatku rapuh dan melupakan semua tujuan awalku pada akhirnya.
Aku bergegas kembali ke kamar karena aku tidak ingin melakukan aktifitas apapun, terlalu lelah entahlah aku hanya ingin menyendiri. Saat di dalam kamar aku lebih banyak melamun dengan mata yang melihat berbagai sisi dalam kamar hingga tatapanku berhenti pada koper azka yang tergeletak manis di sisi lemariku.
__ADS_1
"Sepertinya aku harus merapikan semua pakaian azka ke dalam lemari setidaknya biar mulai esok pagi aku yang menyiapkan semua kebutuhannya"gumamku saat beranjak menuruni tempat tidur
Tanpa berfikir ulang aku mulai merapikan dan memasukkan satu persatu pakaian azka ke dalam lemariku disisi lainnya karena kupikir azka sama sekali tidak akan keberatan jika itu memudahkannya. Setidaknya dengan adanya kegiatan yang bisa kulakukan bisa membuatku sedikit melupakan kesedihan hatiku. Semua pikiran negatif rasanya seperti menghilang dan membuatku menekuni apa yang kulakukan saat ini hingga tak terasa semua pakaian azka sudah tertata rapi dalam lemari, aku tersenyum memuji kerapihan atas kinerjaku sendiri hingga saat aku ingin melihat apakah ada barang azka yang belum kurapihkan dari dalam koper aku menemukan sebuah amplop cokelat yang berada tepat dibawah baju azka yang terakhir. Dengan ragu aku mencoba membaca tulisan yang berderet rapi di depan amplop yang berhasil membuatku dilanda ketakutan.