
Mereka beranjak pergi setelah menyelesaikan makan bersama. Mereka berpisah dan pulang dengan cara masing-masing.
Tania pulang bareng dengan sang sahabat Chika. Sedangkan Rendi dengan sang kekasih.
Sepanjang perjalanan pulang raut wajah Tania terlihat tidak bahagia. Tania lebih banyak diam dari pada sebelum mereka melihat Dion.
Chika mengerti apa yang dirasakan Tania. Chika juga tidak bisa mengatakan apa pun. Ia tau kalau Tania yang sedang dalam keadaan lesu maka lebih baik di diamkan. Tania hanya butuh keheningan sejenak.
"Udah donk Tan sedihnya. Jangan sedih lagi, kamu harus bahagia. Karena hari ini hari pertama kita bertemu setelah beberapa tahun"
ucap lembut nan ceria ala Chika untuk menghibur Tania.
"Kamu hanya tersenyum. Lupakan di karpet itu. Rasanya aku memang ingin menghajar muka tampannya karena telah membuat sahabatku ini sakit hati " lanjut Chika dengan gaya lucunya membuat Tania menyunggingkan senyum.
"Kamu memang paling bisa menghibur aku Chi, kamu memang terbaik" ucap Tania merangkul tubuh Chika.
"Jelas donk Tan, aku adalah manusia yang berhati baik. Selain itu aku juga cantik dan pintar, aku juga manusia yang paling baik untuk sahabat ku ini"puji Chika dengan percaya diri.
"Ck.. kau ini, baru sekali di puji langsung melebihkan diri dengan percaya diri nya" cibir Tania.
Sepanjang perjalanan pulang mereka tertawa dengan sedikit cerita yang membuat geli untuk mereka berdua.
Begitulah arti dari seorang sahabat, meskipun hanya melakukan hal hal kecil tapi jika seseorang itu adalah seseorang yang sangat berharga yang bisa mendengar semua keluh kesah cerita kehidupan, yang senantiasa mendukung apapun keputusan yang di ambil dan juga setia untuk selalu berada di samping nya dan mengerti bagaimana bentuk perasaan yang sedang di rasakan.
...****************...
"Sudah pulang Tan?"
"Sudah ayah"
__ADS_1
"Mentang mentang udah lama gk ketemu kak Chika lupa waktu dan jalan pulang" sindir Kevin yang seharusnya hari ini Tania yang jaga toko malah di ganti oleh dirinya.
"Ish.. kau ini. Adikku yang paling tampan kau tidak mengerti bagaimana keseruanku bertemu dengan Chika yang sudah lama tidak kakakmu jumpai"
"Halah.. bilang aja Kakak gk mau jaga toko kan, takut tetangga tanya kakak kapan nikah. Sebab anak para tetangga yang sebaya kakak udah punya anak"
"Enggak lah.. masa cuma itu saja bikin aku kena mental. Ya enggak lah, asal kamu tau saja ya, kakakmu yang cantik jelita ini tidak terpengaruh dengan kata kata seperti itu" sanggah Tania.
"Ck.. bilang aja Kakak gk mau ngaku karena malu" lanjut Kevin.
Tania hendak menjawab perkataan Kevin yang ada benarnya. Ia ingin menyanggahnya tapi ucapan itu berhenti di kerongkongan.
"Sudah.. sudah.. kalian ini selalu saja berdebat. Tidak di telpon, secara langsung pun mau berdebat juga" ibu menengahi.
"Putra ibu itu selalu membuat aku kesal dengan kata katanya" adu Tania dengan memelas pada ibu Dewi.
"Tidak ibu.. aku mengatakan hal yang benar" saut Kevin tak mau disalahkan.
Ayah yang hanya sebagai penonton di buat tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat perdebatan kedua anaknya yang tiada habisnya.
Suasana makan malamnya terasa hangat seperti biasanya. Tidak ada yang berubah. Ikatan keluarga yang sangat mendominasi yang membuat semuanya terasa sangat menyenangkan dan membahagiakan tentunya.
Hingga muncul ucapan yang menyebutkan sebuah nama. Nama yang selama ini sangat tidak ingin di dengar Tania.
"Bagaimana keadaan nak Dion Tan? apa kamu sudah bertemu dengan nak Dion kembali?" tanya Ayah yang membuat Tania hampir tersedak makanan.
Keluarga Tania sangat menyayangi Dion seperti mereka menyayangi Tania, mereka tidak tau bahwa ada alasan besar yang membuat hubungan keduanya kandas.
Tania tidak pernah menceritakan kejadian yang terjadi penyebab putusnya hubungan percintaan dirinya dengan Dion. Bagi Tania cukup dirinya saja tau, ia tidak ingin membebani keluarga nya dengan hal itu.
__ADS_1
Tania tidak tau mau memberikan jawaban seperti apa. "Emm... aku belum bertemu dengan nya yah, tapi aku dengar dari temanku seperti nya dia sekarang menjalankan bisnis ayahnya" jawab Tania ngasal.
Tania mengatakan seperti itu karena tadi siang ketika berjumpa dengan Dion dan gadis di sebelahnya, Dion terlihat memakai baju jas dan Tania menebak bahwa Dion berkerja di perusahaan ayahnya.
"Udahlah yah, jangan tanya seperti itu. Lihatlah. wajah Tania menjadi tidak suka" ujar ibu yang melihat perubahan wajah Tania.
"Maafkan ayah Tan, ayah tidak ada maksud apa pun. Ayah hanya ingin mendengar kabarnya saja" ucapan ayah segera yang merasa bersalah dengan pertanyaan nya.
"Tidak apa ayah, ayah tenang saja aku tidak masalah dengan pertanyaan itu. Kan ayah tau sendiri kalau hubungan antara aku dan Dion berakhir dengan cara yang baik" ujar Tania dengan senyum terpaksa nya. Ia menutupi semua lukanya, ia ingin keluarga nya mengetahui bahwa dirinya baik baik saja.
Ayah, ibu dan Kevin mengangguk kepalanya. Mereka kembali melanjutkan acara makan malam nya tanpa tanpa ada pertanyaan mengenai Dion dan hanya fokus pada keadaan Tania selama di kota A.
*******
Sedangkan di sebuah kamar di apartemen mewah, terlihat seorang laki laki tampan yang sedang melihat langit langit kamarnya.
Pikirannya di buat kacau, bagaimana tidak ia secara tidak sengaja melihat di Mall Tania dengan Rendi.
Padahal di sana ada Chika dan Wulan kekasih Rendi. Tapi seakan buta, Dion tidak pernah melihat mereka berdua.
Perasaan Dion kembali di aduk aduk melihat Tania dengan pria lain. Ia mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kenapa aku masih merasakan perasaan ini? aku tidak bisa melihat nya begitu, aku tidak bisa. Hatiku sangat sakit. Aku harus bagaimana? aku tidak tau" lirih Dion.
Ia dibuat bingung dengan perasaannya. Satu sisi ia membenci Tania tapi sisi lain ia seperti mengharapkan Tania agar kembali dengan nya. Ia merasa sangat tidak rela jika Tania memilih pria lain dan bukan dirinya.
"Kau harus melupakan cintamu yang konyol itu Dion!! kau harus mengingat kan dirimu bahwa kau baik baik saja tanpa dirinya, meskipun semuanya bohong. Kau harus membuat dirinya menyesal karena telah menduakan dirimu" ucap Dion pada dirinya sendiri.
Setelah beberapa lama Dion berperang dengan dirinya sendiri dan banyak memikirkan hal yang akan ia lakukan untuk Tania.
__ADS_1
"Sepertinya aku harus membuat sesuatu yang bisa membuktikan bahwa aku tidak pernah mengharapkan kehadiran dirinya di hidupku. Aku harus segera memastikan hal itu" ujar Dion dengan seringai tipisnya.
"Aku harus menyusunnya dengan sangat baik. Aku harus segera mengambil tindakan" lanjut Dion.