
Hari kedua Dion tetap di rumah, ia ingin menghabiskan waktu dengan sang istri. Ia akan memulai kerjanya beberapa hari lagi.
Dion juga mengatakan hal itu dengan sang papa.
Dion sebenarnya ingin melaksanakan bulan madu dengan sang istri, namun karena pekerjaan sangat banyak maka ia menundanya dulu.
Tania yang mengerti keadaan suaminya memilih untuk setuju menunda honeymoon mereka.
“Sayangku ini sangat cantik saat tidur” ujarnya pada sang istri yang masih tertidur pulas.
Pagi ini seperti pagi sebelumnya, Dion sangat bahagia menatap istrinya.
Istrinya yang tertidur pulas karena Dion memulai aksi nya semalam.
Dion juga bingung entah mengapa jika berdekatan dengan istrinya dia ingin nganu-nganu.
Dion serasa dia sekarang telah meraih predikat pria mesyum. Namun, itu tidak salah sama sekali karena ia hanya ingin memanjakan istrinya.
“Eughh….”
“Morning sayang..” ujar Dion dengan tersenyum.
“Morning” balas Tania
“Kamu sudah lama bangun?” tanya Tania
“Tidak,, baru saja”
“Em.. aku mau ke kamar mandi”
“mau mandi yank?” tanya Dion. Tania menganggukkan kepalanya.
“yang.. mandi bareng yok” ajak Dion mengeringkan matanya pada sang istri.
Tania memicingkan matanya menatap Dion. “Pasti ada niat terselubung ini” batin Tania tak percaya jika Dion hanya sebatas mengajak mandi biasa. Pastinya Dion memiliki modus yang lain
Tania baru menyadari ternyata di balik dingin dan cuek nya Dion tersembunyi fakta bahwa Dion sangat mesyum
Meski tidak salah juga Dion mesyum dengan istrinya sendiri. Namun, Tania tidak pernah tau sisi Dion yang satu ini setelah mengenal pria itu bertahun-tahun lamanya.
“kok natap aku gitu sih?” tanya Dion kembali
“Aku hanya ngajak mandi bersama sayang, biar cepat selesai. Lagian kan aku juga ingin mandi bareng istri tercinta Yang”
“beneran hanya mandi saja?” tanya Tania penuh selidik
“Ya iyalah yang, emang kita mau ngapain lagi selain mandi?” tanya Dion berpura-pura polos
“Emm.. entah pun, aku jadi kurang yakin dengan perkataan mu itu”
__ADS_1
“ya.. kok kamu gitu sih yang”
“Aku sangat mengenal suamiku ini, tidak mungkin hanya ingin mandi saja”
“hehehehe… aku ketahuan. Kamu tau aja niatku yang lain yang. Semenjak aku mengenal soulmate junior ku ini, rasanya setiap hari junior ingin bertemu dengannya. Setiap saat junior selalu terbayang rasanya dan kenikmatan yang dirasakan” jawaban vulgar Dion membuat Tania menggeleng-geleng kepalanya.
“Apa aku bilang pasti kamu mau minta jatah”
“ya jelaslah, kita kan suami istri, kita sudah halal. Aku halal untuk kamu sentuh, seluruh tubuhku ini milikmu sayang. Begitu juga denganmu seluruh tubuhmu milikku yang bebas aku nikmati”
“yok lah yang, satu ronde saja. Ya yang ya”
Dion merengek pada Tania seperti seorang anaknya yang meminta izin kepada ibunya untuk bisa pergi ketaman bermain.
“ya iya. Beneran ya satu ronde saja jangan lebih”
“iya yang, kalaupun lebih nanti anggap saja itu bonus aku ke kamu” cengir Dion segera mendorong tubuh istrinya menuju kamar mandi di kamar Dion.
“ckck… itu mah mau nya kamu” celetuk Tania
“Hehehe.. kamu benar lagi sayang, kalau begitu kita buat jadi tiga ronde saja”
“Deee…..” pekik Tania di kamar mandi
“heehehe.. canda sayang. Aku janji hanya tiga ronde saja” jawab Dion tanpa beban
Akhirnya terjadilah pemandian air panas di pagi hari yang sedikit mendung itu. Berbagai macam cara dilakukan agar Tania bersedia memainkan tiga ronde permainan.
Bagi Tania, biar bagaimanapun itu adalah hak Dion terhadap dirinya. Tania harus memenuhi kewajiban nya itu untuk Dion.
Kurang lebih dari dua jam berlalu, mereka sama-sama keluar dari kamar mandi. Dion dengan senyum yang merekah sempurna tidak pernah luntur dari bibir manisnya.
Sedangkan Tania berusaha tersenyum meski pegal menggerogoti seluruh tubuhnya akibat pertempuran air panas di kamar mandi.
Tania tidak habis pikir dengan tenaga yang di miliki sang suami dalam menaklukannya.
“Sayang…. Makasih atas jatahnya. Aku sangat menyukainya” ucap Dion mencium kening Tania dengan mesra.
“hem.. iya,, sama sama”
“yang.. kamu panggil aku dengan sayang, mas atau abang dong, jangan panggil aku dengan panggilan Dee lagi” pinta Dion
“lah,, kenapa? Bukannya biasa aku memanggilmu seperti itu kan memang imut saat di kamu di panggil seperti itu” ujar Tania meledek
“Tapi,, panggilan itu hanya untuk kita saat kita pacaran dulu, sekarang aku suami mu jadi kamu ubah panggilannya menjadi lebih romantis” elak Dion
“Hmm.. baiklah,, aku akan memanggilmu dengan ‘sayang’ juga” ucap Tania menyerah.
Ia tidak ingin berdebat dengan Dion yang ujung-ujungnya Tania akan kesal sendiri karena kalah dalam perdebatan
__ADS_1
“Ayok turun sayang, mama pasti menunggu kita untuk sarapan”
“Iya sayang, ayo” ucapan Tania membuat Dion malu dan bahagia.
Mereka menuruni tangga dengan tangan yang terus terpaut tidak terpisahkan.
Pemandangan itu juga tak kalah membuat darah mama Ami serasa mau mendidih, mama Ami seolah sudah siap untuk menyemburkan wajah Tania dengan amarahnya.
Namun, mama Ami sebisa mungkin menahan amarahnya.
Ia harus kembali ke rencana nya yang pertama.
Ia harus bisa mengontrol keinginannya untuk sekedar marah atau apapun.
Mama Ami harus bisa membuat Dion yakin seutuhnya pada dirinya agar ia lebih mudah menjalankan misi untuk menghancurkan Tania.
“Katanya ingin menjadi manantu yang baik, tapi bangun nya kesiangan begitu. Dasar kelas rendah memang tidak tau diri” hinaan pada Tania terdengar lagi.
Tania yang sedang mencuci piring bekas sarapan pagi terhenti, Tania melihat ke arah mama mertuanya yang sudah berdiri di belakang Tania.
“Maaf ma, aku tadi ketiduran. Aku janji tidak akan terjadi di lain hari ma” ujar Tania meminta maaf.
Tania sadar dengan kesalahannya, biar bagaimanapun di menantu satu-satunya di keluarga ini. Seharusnya ia bangun pagi.
Tania yang sebenarnya sudah bangun pagi namun karena jatah yang minta Dion membuat nya terlambat untuk turun.
“hallllahhh.. kamu jangan banyak janji, manusia murahan kayak kamu itu memang hanya bisa berjanji. Kalian itu tidak bisa di percaya”
“Jangan kamu pikir selama kamu di sini kamu akan di perlakukan seperti ratu hanya karena kau telah menjadi nyonya muda di rumah ini, jangan harap apapun. Perempuan seperti mu tidak akan bisa mendapatkan posisi seperti itu. Orang dari kelas rendahan akan tetap menjadi sampah meski kau mendaur ulang kedudukan mu. Sampah tidak bisa menjadi berlian” ujar mama Ami dengan penuh hinaan.
Mama ami segera berlalu pergi meninggalkan Tania yang terdiam. “Entah jalan yang kupilih ini benar atau salah” lirih Tania.
Tania menhela nafasnya dengan berat. “Sungguh berat ujian ini, aku tidak tau aku bisa menjalaninya atau tidak” tambahnya.
Tania segera menyelesaikan mencuci piring yang sempat terhenti. Tania harus sangat sabar menghadapi mama mertua seperti mama Ami.
...****************...
Kalau author kayak Tania gak sanggup, apalagi menghadapi lemesnya mulut mema ami yang secara terang menghinanya😐
Semoga suka dengan ceritanya, jangan lupa like, komentar ya..
Jangan lupa mampir ke karya author yang lainnya
Tamat
...Menemukan Ibu...
On-Going
__ADS_1
...Sorry My Suami...
Terima kasih 🌹