My Ex Suamiku

My Ex Suamiku
Menawarkan Bantuan


__ADS_3

Tania termenung di meja kasir kafenya. ia masih memikirkan bagaimana cara agar dapat melakukan operasi untuk sang adik.


"Aku harus bagaimana ini?" ujar Tania mengusap rambutnya.


"Tuhan tolong aku, tolong kirimkan seseorang yang bisa membantu ku" ucap Tania menelungkup wajahnya di meja kasir.


Untungnya menjelang sore sehingga pengunjung kafe tidak terlalu ramai. Chika sedang menghabiskan waktunya dengan sang pacar. Sehingga Tania sendiri yang mengurus kafenya.


Tania hanya membuka kafe hingga sore hari tidak hingga jam sembilan malam. Karena Tania harus ke rumah sakit melihat keadaan sang adik yang masih di rawat.


Tak lama terdengar suara telapak kaki seseorang yang berdentum pelan namun terkesan elegan dan keras.


Tania mendongak ke sumber suara melihat siapa yang datang.


"Dion" lirih Tania.


Ia kembali mengingat doanya yang hanya asal saja ia minta agar ada seseorang datang untuk menolong nya.


"mungkinkah Tuhan langsung mengabulkan permohonan ku? Apakah Tuhan langsung mengirimkan seseorang yang bisa membantu ku melalui sosok Dion?" Tania membatin.


"Oi!! beginikah kamu menyambut pengunjung? bukannya di sambut malah bingung" ujar Dion datar.


Ucapan Dion seketika membuat lamunan Tania buyar.


"Tidak.. maaf.. aku sedang memikirkan sesuatu"


"Kau pasti memikirkan bagaimana cara membayar uang operasinya Kevin kan?" tanya Dion tapi cukup di dalam hati nya saja.


"Tuan ingin memesan apa?" tanya Tania. Ia bersikap sopan pada Dion. Bagaimanapun Dion adalah seorang pelanggan kafe nya dan juga anak terpandang di kota ini. Setidaknya bersikap sopan akan lebih baik bagi Tania.


"Aku pesan cappucino saja dan juga ada sesuatu yang ingin aku beritahu kepada mu" ucap Dion.


"Memang nya kamu ingin bicara kan apa?"


"Tak bisakah kamu mempersiapkan pesanan ku dan mempersilahkan aku duduk di kursi" ketus Dion.


"Eh.. maafkan aku" tunduk Tania.


"Dasar kulkas berpintu tajam" umpat Tania dalam hati sembari ia tunduk.


Dion membalikkan badannya menuju meja.


"Jangan mengumpat ku dalam hatimu" ucap Dion tegas.


Tania membulat matanya tak percaya. "Apa selama ini dia berguru kepada cenayang. bagaimana bisa ia mengetahui aku sedang mengumpat nya" batin Tania.


Tak ingin berlama-lama dengan pikiran terkejutnya, ia segera mempersiapkan pesanan Dion.


Tania membawa pesanan Dion ke meja dan kembali ke kasir karena ia harus melayani pelanggan yang ingin membayar. setelah itu Tania menuju pintu kafe dan membalikkan tulisan buka menjadi tutup.


Dion terdiam tak berkomentar apapun karena ia melihat tidak ada pengunjung kafe yang lainnya.


"Mungkin dia memang ingin menutupnya" batin Dion.


"Kamu ingin bicara mengenai apa?" tanya Tania yang sudah duduk di hadapan Dion.


"Kenapa kamu cepat sekali menutup kafe bukankah ini masih sore?" bukannya menjawab pertanyaan Tania, Dion kembali melontarkan pertanyaan.

__ADS_1


"itu karena ada sesuatu hal yang harus aku urus setelah ini" jawab Tania.


"Oh.. begitu" Angguk Dion.


"Sekarang katakan, ada apa?" tanya Tania.


"Emm.. begini.. Dua hari lagi Dimas akan menikah dengan Rina"


"Apa!!" pekik Tania terkejut.


"Kenapa kau berteriak?" tanya Dion yang merasa telinganya menjadi tuli.


"Maafkan aku. aku terkejut karena mbak Rina tidak mengabari apa pun" balas Tania.


"Seperti nya dia sibuk. Sehingga ia lupa mengabari kamu dan juga katanya ponselmu mati, jadi ia meminta aku menyampaikan nya. Jadi apa kamu akan kembali ke kota A? meskipun acara resepsi nya masih lama sekitar satu atau dua bulan lagi"


"Kenapa seperti itu?" tanya Tania.


"Mereka akan menggelar resepsi pernikahan ketika cucu keluarga Malik lahir"


"Owh.. kalau begitu dua bulan lagi"


"Hem.. kamu jadi pergi?" tanya Dion sekali lagi.


"Biaya ke sana lumayan, aku tidak bisa tapi bagaimana dengan mbak Rina ia akan marah padaku" Tania bergelut dengan pemikirannya.


"Oi!!" Dion menjentikkan jarinya ke wajah Tania.


"Aku bertanya, jangan jadi gila"


"Kamu mengatai aku lagi" batin Tania menatap Dion.


"Hem.. aku sebenarnya tidak masalah kamu pergi atau tidak. aku hanya menyampaikan pesan Dimas saja." balas Dion. Dion melihat lama ke arah Tania.


"Dan juga aku lupa beritahu kalau Dimas menyuruh kamu tetap pergi. Dia telah mengirimkan biaya perjalanan serta pesawatnya. Jadi kamu tidak bisa menolaknya"


"Maksudmu?" tanya Tania tak mengerti.


"Kamu harus pergi ke acara nikahnya dan juga biaya perjalanan mu di tanggung" jelas Dion kembali.


"Hah!! benarkah?" Dion mengangguk kepalanya.


"Baiklah aku kan pergi" ujar Tania.


"Ok"


Tania kembali melamun.


"Ada apa?? apa kamu membutuhkan bantuan lagi?"


"Bukan urusan mu"


"Aku hanya bertanya"


Dion menghela nafasnya. "Aku butuh bantuanmu" ucap Dion dengan datar.


"Bantuan?? bantuan apa?" tanya Tania.

__ADS_1


"Bantuan untuk menjadi calon istri ku sementara waktu"


"Hah!! kamu gila" pekik Tania.


"Aku tidak gila. Kamu jangan berpikir yang tidak-tidak. aku hanya butuh bantuan dan juga jika kamu setuju aku juga akan membayarnya dengan uang yang banyak untuk jasamu itu. Ya misalnya sekitar satu sampai dua miliar." ucapan Dion memancing Tania.


"Aku yakin kamu pasti menerima nya" batin Dion tersenyum jahat.


Deg!!


"Uang sebanyak itu sangat aku perlu kan untuk pengobatan Kevin" batin Tania.


"Aku tidak tidak hanya membayar mu, aku akan membantu mu jika kamu membutuhkan bantuan" lanjut Dion.


"Kenapa kamu menawarkan kepadaku? kan bisa menawarkan kepada yang lainnya" ucap Tania mencoba untuk menjaga harga dirinya.


"Kau tau aku sedikit canggung dengan orang baru, nanti aku tidak bisa berakting. Jika dengan mu setidaknya aku mengenalmu" balas Dion.


"Dan juga kita pernah berbagi hati" batin Dion.


"Aku tidak akan memaksamu, aku akan memberikan kamu waktu sampai besok pagi. jika besok jam sembilan kamu juga tidak memberikan jawaban. maka akan aku anggap perjanjian kita tidak ada. Tetapi jika besok kamu menerima nya, maka kabari aku melalui pesan dan jam 11 aku akan menemuimu" lanjut Dion.


"Tapi bagaimana dengan kedua orang mu. apa kamu bisa meyakinkan mereka?" tanya Tania harap harap cemas mengenai keselamatan keluarga nya.


"Kamu tenang saja. aku bisa meyakinkan mereka. Dan juga kamu tidak akan langsung bertemu dengan orang tuaku. Kamu hanya bersikap seperti calon istri ku di depan wanita yang di jodohkan oleh orang tua ku. Urusan orang tuaku biar aku yang mengurusnya" ujar Dion.


Lama merenung akhirnya Tania membalas. "Aku akan menerima nya. Tidak perlu menunggu besok" ucap Tania dengan mantap.


"Maafkan aku ayah.. tapi tidak ada salahnya menerima ajakannya. Kami tidak akan berpacaran seperti pasangan lainnya" batin Tania.


"Secepat itu?" tanya Dion tak percaya.


Tania mengganguk kepalanya. "Dan kapan kamu memberikan uang nya padaku?" tanya Tania.


Dion menatap Tania dengan tatapan tak terbaca. "Jika kamu setuju maka besok pagi jam sembilan jumpai aku di perusahaan ku, kita akan menandatangani surat perjanjian persetujuan kerjasama" ucap Dion.


"Ok.. besok aku akan menemuimu" ucap Tania.


"Kevin sayang.. bertahanlah dik. Kakak akan segera membantu mu" batin Tania.


"Setidaknya aku melakukan ini semua untuk keselamatan adikku. lagian aku tidak menjual diri padanya" lanjut Tania dalam hati.


"Baiklah.. karena kamu sudah setuju. aku permisi" ujar Dion segera pergi meninggalkan Tania.


"Ternyata aku menemuinya di waktu yang tepat" ucap Dion senang ketika berada di luar kafe.


...****************...


Kalau ada salah penulisan atau apa mohon kritik nya ya teman teman🙏🙏


Salam hangat dari author Blue😘 sang penulis Abal Abal.


Jangan lupa tinggalkan jejak nya ya😁


Like👍


Komentar💌

__ADS_1


dan Vote🌹🌹


__ADS_2