
Tania memandang lurus kedepan hingga tidak menanggapi pelanggan yang ingin membayarkan makanan mereka di kasir.
“permisi mbak?” ucap salah satu pengunjung kafe.
Dengan pikiran yang kosong dan terlihat sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat sehingga ucapan pengunjung hanya sebagai angina lalu yang tidak memiliki bobot yang dapat membuat Tania mendengarkan orang yang sedang berbicara di hadapannya
“Mbak….?? Mbak??” panggil lagi pengunjung tersebut.
“ada apa ya kak?” tanya Chika yang melihat ada kekesalan di wajah pengunjung tersebut.
“saya mau bayar mbak, tapi mbak nya tidak mendengar ucapan saya sama sekali” keluh pengunjung dengan menunjuk ke arah Tania
Chika memukul pelan bahu Tania. “Tan…tania??”
panggil Chika yang membuat Tania segera sadar dari lamunannya. Ia segera menoleh ke arah Chika dan pengunjung tersebut.
“ Kamu kenapa? Sakit ya?” khawatir chika pada sahabatnya itu
“ ah… tidak.."
“kamu sedang memikirkan apa? Sehingga kakak ini tidak kau hiraukan”
“hah!!” Tania segera menoleh kepada pengunjung yang sudah dari tadi memunculkan wajah kesalnya.
“maafkan aku kak, maaf.. sebagai permohonan maaf saya atas kelalaian saya minuman kakak akan saya beri gratis” ucap tulus Tania
“Hmmm… baiklah, Terima kasih. Lain kali kalau punya masalah selesaikan dulu dengan baik agar tidak menjadikan orang lain sebagai korban karena masalah yang mbak alami” sindir pengunjung tersebut sebelum berlalu di hadapan Tania dan Chika.
Huh….
Terdengar helaan nafas berat Tania memikirkan ucapan pengunjung tersebut yang ada benarnya.
“kamu punya masalah apa sih Tan? Coba cerita sama aku” tutur Chika
“ aku tidak memikirkan apapun Chi”
“ jangan berbohong….. jika kamu sedang sakit memikirkan masalah kamu sebaiknya kamu istirahat saja tidak perlu bekerja hari ini tan”
“Tidak,, aku tidak apa apa Chi.. kamu lanjut kerja gih, tuh.. pengunjung ada yang mau pesan lagi”
“hmmm… baiklah... aku kembali bekerja, nanti kamu harus cerita sama aku pokoknya” Tania mengangguk.
“Bagaimana ini? Aku harus bagaimana? Apa aku terima saja lamaran Dion? Tapi ibu nya dengan tegas menolakku” batin Tania
Sedari tadi Tania sedang di landa kesusahan karena memikirkan lamaran pernikahan Dion padanya dan penolakan tegas dari sang ibunda Ratu.
“nanti saja aku pikirkan, aku lanjut kerja saja” lanjut Tania.
Tania membuang nafas dengan dalam dan segera mengubah raut wajah dengan wajah yang ramah dan tidak tampak murung dengan senyuman manisnya.
...****************...
Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, pengunjung kafe Tania terlihat ramai dengan gerombolan mahasiswa yang mencari santapan untuk siang mereka.
Kafe Tania memang memiliki nuansa kafe modern yang menjual aneka makanan anak jaman sekarang seperti varian macam hotpot, jajanan kekorean dan kue kering seperti macaron serta minuman kekinian yaitu boba dan tea yang disukai anak muda.
Meskipun terkenal kekinian kafe tersebut juga menyajikan makanan yang pas untuk di santap siang hari yang berbagai macam makanan yang pas disantap dengan nasi putih.
Maka dari itu kafe Tania akan ramai pengunjung di mulai dari jam 12 hingga jam 2 siang dan akan kembali ramai pada jam 4 hingga jam 8 malam karena Tania menutup kafenya pada jam 9 malam.
Tania tidak ingin membuka hingga jam 12 malam, ia ingin istirahat. Apalagi karyawan kafe Tania kebanyakan perempuan maka dari itu untuk keselamatan bersama Tania membuat peraturan tersebut.
...Sekedar Info:...
...Kafe Tania sudah besar dan ramai ya gaes, kemarin hanya dia dan Chika yang ada sekarang sudah ada 10 karyawan lainnya....
Sedangkan di tempat lain
Dion sedang duduk di kursi kebesaran untuk beristirahat dari penat yang melanda. Dion menghabiskan banyak waktu dari tadi pagi dengan pertemuan klien yang tiada hentinya.
“Apa bos ingin makan sesuatu?” tanya Wildan
“Tidak.. tidak perlu, nanti ada yang akan mengantarkan makanan untukku”
“Siapa” tanya Wildan penasaran
__ADS_1
“kau kepo sekali” ujar Dion mencibir
“Hmm.. baiklah.. saya permisi bos” Wildan melenggang keluar.
Hubungan Wildan dan dion sudah seperti teman, dion meminta agar Wildan tidak terlalu formal padanya.
Ia ingin Wildan dan dirinya bekerja seperti teman bukan seperti bos dan bawahan.
Dion memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri guna merelaksasi otot lehernya.
Ia meraih ponselnya dan segera membuka aplikasi berkirim pesan.
“Apa dia sibuk? Apa tidak mengapa aku menghubungi nya? Tiba tiba aku ingin menemuinya, apa aku mulai merindukannya?” ucap Dion
“Ahhh… aku seperti abg saja” teriak Dion memegang kedua pipinya yang sudah memerah karena malu.
Tan… sedang apa? [send]
Apa kamu sedang sibuk? [send]
Dion segera meletakkan ponselnya tanpa menutup room chat nya dengan Tania.
Ia melihat dengan gelisah dan menunggu apa Tania akan membalas nya.
Tak lama terlihat sudah tercentang pesan tersebut membuat Dion kembali berbunga-bunga.
“aku sedang melayani pengunjung”
Dion menghela nafas membaca satu pesan Tania. “Sepertinya dia sedang sibuk” ucap Dion cemberut.
“Ada apa? Apa kamu sudah makan siang?”
Dion membola mata dengan sempurna melihat pesan Tania, mengukir senyuman di wajahnya.
Lagi lagi hatinya kembali berbunga-bunga karena pesan Tania yang terlihat bahagia.
“Dia manis sekali” tutur Dion malu
Aku belum makan, aku ingin memakan masakan mu [send]
Tapi jika kamu sibuk sudahlah,, nanti saja aku keluar untuk makan [send]
“Kamu ingin makan apa? Akan aku hantarkan ke kantormu”
Apa saja, aku akan memakan semuanya yang kamu masak [send]
Dengan cepat Dion membalas pesan tersebut.
“Baiklah.. tunggu sebentar lagi aku akan ke sana” balas Tania
“Baik,, aku menunggumu” balas Dion di akhiri dengan emoticon love
Sedangkan di kafe
Deg…Deg…Deg…
Pipi Tania bersemu merah, ia menjadi malu karena melihat pesan yang dikirim Dion.
“Ada apa denganku? Aku sangat malu” ujar Tania
“Lagi chatting dengan siapa?”
“Ahhh….. kau membuatku terkejut Chika” pekik Tania tanpa sengaja.
Pengunjung melihat kearah mereka karena mendengar teriakkan Tania.
“Maaf…” tutur Tania meminta maaf.
Tania menarik Chika menuju dapur.
“hehhe.. maaf soal tadi ya tan”
“hmm.. kamu ini”
“ya kan aku kepo melihat sahabatku ini tiba tiba tersenyum-senyum sendiri tidak jelas hanya karena melihat ponsel”
__ADS_1
“Sebenarnya kamu lagi chat dengan siapa?” tanya chika kembali
“dengan Di..on” cicit Tania membuat Chika membulat matanya
Detik kemudia dia menelisik Tania dengan tatapan memicing dan penuh penulusuran
“Aku heran deh, apa kamu sama Dion sudah kembali bersama?” tanya Chika
“Tidak” jawab Tania cepat
“iyakah? Karena beberapa hari ini kamu terlihat sangat dekat dengan dirinya tan”
“masa? Gak lah, perasaan kamu aja tu Chi..”
“hmmm… kamu jangan tutupin apa pun dari aku Tania”
“aku mengatakan yang sebenarnya, hanya saja belakangan ini dia yang sering mengganggu ku”
“Oh.. aku paham. Sepertinya tebakanku beberapa hari yang lalu benar jika Dion masih cinta kamu dan ajak kamu balikan. Selamat kalau gitu Tan, aku senang apa pun keputusan mu”
“Tapi aku takut chi, kejadian beberapa tahun lalu terulang kembali” ucap Tania sedih
Chika menatap sendu Tania. Ia paham yang dikhawatirkan sang sahabat.
“kamu tenang saja, aku dan Rendi akan selalu menolong keluargamu. Kami tidak akan membiarkan mereka terluka sama sekali.
Menurut aku sih, si Dion juga korban di sini. Ia adalah korban keegoisan mamanya. Dia tidak menjadi sebab yang kuat kecelakaan beberapa tahun lalu, meskipun karena dirinya mamanya seperti itu.
Jadi menurut aku kalau memang kamu masih ingin kembali bersamanya, aku akan mendukungmu, aku akan menjaga keluargamu Tan. Aku ingin kamu bahagia Tan” tutur Chika penuh haru.
Chika Tau bagaimana perasaan sang sahabat yang masih mencintai Dion. Chika tau bagaimana susahnya Tania memilih antara keluarga dan orang yang dicintainya.
Maka dari itu dia akan turun tangan untuk membantu sahabatnya agar bahagia.
“Baiklah Chi.. terima kasih banyak”
“Ya sudah.. kamu pasti mau keluar menemui Dion kan?” tanya Chika diangguk Tania
“Ya sudah pergilah”
“Baiklah chi.. terimakasih banyak, aku pergi sebentar saja, secepatnya aku akan kembali” tutur Tania yang merasa tidak enak.
"Tidak apa apa, lama pun boleh" goda Chika
“seaaah……..yang mau balikan sama mantan” sorak Chika untuk menggoda sang sahabat
“ih,, kamu Chi.. jangan gitu” tutur Tania menahan malu
“hahahaha….. kamu tenang saja, aku akan menangani kafe kita. Pergilah.. Tapi seperti biasa aku akan menitipkan makanan untuk Wildan ya, karena kamu bilang akan ke kantornya”
“apa tidak sebaliknya kita pergi berdua saja” ajak Tania
“ahhh… aku tidak ingin, dia itu sedang kerja nanti jika aku kesana yang ada dia tidak fokus lagi dan tidak membiarkan aku pulang nanti aku jadi bosan. Kamu kan tau kalau dia itu bucin sekali dengan aku Tan. Dari pada begitu, lebih baik kamu saja yang kesana” jelas Chika dengan menggeleng geleng kepalanya.
“Hmm… baiklah.. aku pergi dulu ya, ntar keburu habis jam istirahatnya”
“ok.. bye.. hati hati”
Tania melangkah keluar dari kafe.
Ting!!!!
“Sopirku akan menjemputmu” Tania melihat pesan yang dikirimkan Dion untuknya dengan tersenyum.
...****************...
...hai.. hai para Reader tersayang, author kembali lagi ni.. maaf y kemarin sempat ngilang🙏 bukan karena sengaja tapi kemarin ada urusan menyambut kelulusan author di jenjang perkuliahan. Jadi author meliburkan diri😁...
...nanti akan author lanjutkan cerita ini sampai tuntas jika tidak ada kendala apa pun. Author akan berusaha untuk update setidaknya tiga hari sekali, maaf ya cuma bisa janji segitu. Gk bisa untuk update sehari sekali 🙏...
...Semoga Reader dengan setia dan senang hati menunggu cerita ini. Jika ada kesalahan di kritik dengan baik ya, pasti author dengarkan. ...
...Jika tidak menyukai cerita ini di skip aja ya😊...
...Jangan lupa berikan hadiah hadiah kecil dari reader untuk cerita ini😆😆 ...
__ADS_1
...Terima kasih banyak ❤️ ...
...Lope you all sekebun mangga aja ya 😂🤣🤣...