My Ex Suamiku

My Ex Suamiku
Menandatangani Perjanjian


__ADS_3

Jam menunjukkan jam 9 pagi. Tania juga sudah berada di dalam ruangan besar. Ya ruangan tempat Dion bekerja.


"Beginilah kehidupan orang sultan. Tempat ia kerja saja luasnya seperti rumahku" ucap Tania.


Tania menunggu Dion yang sedang melakukan rapat online. Tania melirik Dion yang sedang serius sesekali.


"Dia masih sangat tampan meskipun sudah memasuki usia 30 tahunan" gumam Tania.


"Maafkan aku Di.. aku terlalu membuat luka yang dalam di hatimu di masa lalu" batin Tania. Tania menatap sendu pada Dion.


"Semoga kamu sudah memaafkan aku Di" lanjut Tania.


Tak dapat Tania pungkiri bahwa ia juga bersalah di masa lalu untuk menyakiti Dion. Meski waktu itu Tania juga terpaksa, tetap saja rasa bersalah itu masih membekas hingga sekarang di hatinya.


Dion melirik Tania yang sedang menatap sendu padanya.


"Apa yang ada di pikirannya saat ini? kenapa dia menatap ku seperti itu?" batin Dion.


Tania menghela nafasnya. Sudah lelah menunggu Dion selesai rapat online nya yang rasanya tidak akan berhenti.


"Kalau tau begini kenapa dia tidak mengatakan jam 11 saja. aku lelah menunggu disini dari jam 9 tadi" gerutu Tania pelan.


Dion menarik salah satu ujung bibirnya dengan tipis melihat kekesalan Tania.


Tania bergerak ke sana kemari dengan gerak tak beraturan. Ia sungguh letih menunggu.


"Apa dia memang mempermainkan aku?" tanya Tania dalam hati memicingkan matanya ke arah Dion.


"Dari pada ambil pusing, mending chatting dengan Chika. Sejak kemarin dia tidak mengabari aku" ujar Tania merogoh saku untuk mengambil ponselnya.


Ketika hendak membuka ponselnya, lebih dulu dia mendengar suara Dion sehingga ia mengurungkan niatnya untuk mengabari Chika.


"Kheemmm..."Dion menghampiri Tania yang duduk di sofa ruangannya.


Tania memperbaiki duduknya yang dari tadi sudah tidak beraturan menjadi sopan.


Dion menelpon sang sekretaris. "Laras.. tolong bawa yang saya minta kemarin sekarang keruangan saya"


Tak ada percakapan yang terjadi. Mereka diam satu sama lainnya.


Tak lama terdengar pintu di buka. Menampilkan sang sekretaris Laras membawa beberapa lembar kertas. Laras tersenyum hangat pada Tania dan Tania pun membalasnya.


...Maaf guys.. Ada sedikit kesalahan. Laras adalah sekretaris di kantor. sedangkan Wildan adalah sekretaris sekaligus asisten Dion....


"Ini Tuan, sesuai dengan yang ada minta" ucapnya sopan dan memberikan kertas tersebut pada Dion.


"Baiklah"


"Saya permisi tuan" Laras mengundurkan diri.


Dion menyerahkan berkas tersebut pada Tania. Tania mengambil nya dan membaca poin-poinnya. Mata Tania membulat sempurna melihat poin yang sangat menggangu nya, dimana di sana tertulis.




Pihak A dan B berakting menjadi sepasang kekasih sesuai dengan kesepakatan, jarak waktu kontrak sepenuhnya di tentukan oleh pihak A.




Pemegang kekuasaan tertinggi adalah pihak A.



__ADS_1


Pihak B tidak boleh membantah perkataan pihak A.




Pihak B harus siaga jika pihak A membutuhkan bantuan.




Diantara kedua nya tidak boleh saling ikut campur urusan masing-masing.




Diperbolehkan sentuhan fisik antara kedua belah pihak untuk meyakinkan pihak ketiga agar rencana berjalan sebagaimana mestinya.




Sentuhan fisik yang dimaksud sebagaimana sentuhan pada umumnya. seperti pegangan tangan, pelukan dan bahkan berciu*man.




Di depan umum atau di depan pihak yang di yakinkan pihak B memanggil pihak A "Sayang". sedangkan pihak A akan memanggil pihak B sesuka hati.




Jika sudah di setujui maka pihak A akan memberikan sejumlah uang yang telah di janjikan kepada pihak B.






Tertanda


Pihak A Pihak B


Dion Willy Zain Tania Hermawan


Tania melihat Dion dan hendak melayangkan tanda ketidaksetujuan mengenai isi poin perjanjian tersebut. Terlebih lagi poin nomor 7.


"Itu adalah isi perjanjian yang ada di antara kita. Kau tidak bisa mengubah apa pun. Jika nanti setelah kau baca perjanjian nya dan kau tidak setuju dan menolak kesepakatan kita kemarin maka jangan harap. Aku tidak terima penolakannya sekarang. Salah dirimu yang kemarin terburu-buru menjawabnya" ujar Dion datar yang tidak akan terima penolakan Tania terhadap surat perjanjian.


"Tapi.. poin"


"Aku tegaskan sekali lagi, aku tidak terima masukkan darimu" Tegas Dion kembali.


"Percuma saja aku datang ke sini jika aku harus menandatangani semua tanpa ada koreksi apa pun untukku. Dia ini pemaksa sekali. Tapi tidak apa aku akan tetap tanda tangani surat nya. Demi adikku" batin Tania.


Tania menghela nafasnya dan kemudian menandatangani kontrak perjanjian tersebut.


Dion tersenyum melihat Tania menandatangani kontrak perjanjian mereka.


"Baiklah.. karena sudah beres, aku permisi" Tania hendak berdiri tapi tangannya di tahan oleh Dion.

__ADS_1


"Mana nomor rekening mu, aku akan mengirimkan uangnya sekarang" ujar Dion.


"Sudah aku kirim" balas Tania.


Ting!!


Ponsel Tania berbunyi yang menandakan ada pesan masuk.


Tania melihat ponselnya dan membulat sempurna di sana tertera jumlah yang lebih dari perjanjian mereka kemarin.


"Kenapa banyak sekali?" tanya Tania bingung.


Dion tak menjawab, ia berdiri dan kembali ke meja kerjanya.


"Sudah.. kamu boleh pulang" ujar Dion datar mengusir Tania.


"Dasar kulkas. Tidak menjawab pertanyaan ku, tidak memberikan aku air minum sedikit pun dari tadi dan sekarang malah mengusir ku. Argh!!!" batin Tania menjerit.


Tania berjalan menuju pintu keluar dan menutup pintu ruangan tersebut dengan sedikit keras membuat Dion tersentak.


Tania buru buru ke rumah sakit. Ia telah menerima telpon jika sudah ada orang yang menjadi pendonor ginjal untuk adiknya dan akan segera di lakukan operasi dalam lima atau enam hari kedepannya.


Tania sangat senang mendengar kabar itu. sehingga ia melupakan kekesalannya pada Dion.


✨✨


Kedatangan Tania di kantor pagi tadi menjadi bahan gosip di semua karyawan Perusahaan Dion. Hingga berita tersebut terdengar pada telinga Wildan.


"Kalian ngomongin apa sih?" tanya Wildan pada Laras dan pandu.


"Eh.. bapak.. bapak kenapa telat kali datang"


"Saya ada urusan di perusahaan lain untuk kerjasama"


"Bapak tau tidak, tadi pagi ada seorang wanita manis yang datang ke ruangan pak Dion. Kan biasanya pak Dion paling hanya membawa nona Adelia, itupun karena di bawa oleh ibu ratu. Tapi tadi pagi itu ada wanita yang memang kedatangan nya telah di beritahu kepada kami oleh pak Dion" ucap Pandu.


"Jika nanti ada wanita mencari saya silahkan kalian tunjukkan ke ruangan saya" ucap Laras meniru ucapan Dion padanya.


"Wanita?" tanya Wildan.


"Iya pak"


"Namanya siapa?" tanya Wildan.


"Nona Tania" balas Laras.


"Tania?? itukan mantan pacar boss. kenapa dia ke sini ya?"gumam Wildan.


"Tapi kan pak, ada yang aneh. Pak Dion menyuruh ku membawa berkas yang seperti nya perjanjian gitu pak, dan juga ketika keluar dari ruangan si bos nona Tania terlihat kesal" lanjut Laras.


"Perjanjian?"


"Iya pak.. Tapi aku tidak tau perjanjian mengenai apa dan untuk apa" balas Laras.


"Emm.. oklah.. kalian berdua jangan keasikan menggosip dan melupakan pekerjaan kalian" ucap Wildan tegas dan kembali ke ruangannya.


"Cih.. pak Wildan hampir sama dengan si bos, Dingin" cibir Laras yang diangguki pandu.


...****************...


Kalau ada salah penulisan atau apa mohon kritik nya ya teman teman🙏🙏


Salam hangat dari author Blue😘 sang penulis Abal Abal.


Jangan lupa tinggalkan jejak nya ya😁


Like👍

__ADS_1


Komentar💌


dan Vote🌹🌹


__ADS_2