
Dion yang mengalami gundah gulana, akhirnya sore harinya dengan langkah besarnya mendatangi kafe milik Tania.
"Aku harus memastikan sesuatu, apa aku masih mengharapkan kehadiran dirinya disisiku atau tidak. Aku tidak bisa seperti ini, yang ada makin hari makin membuat aku frustasi" gumam Dion di dalam mobilnya dan sedang mengambil ancang ancang untuk keluar dan menjumpai Tania.
"Maaf Tuan, apa aku ikutan masuk juga atau menunggu tuan di sini?" tanya Wildan.
"Semoga si boss kasih aku masuk juga, kan lumayan untuk mendapatkan tambahan energi dari sang pujaan hati ku. Dan juga ingin bertanya pada Chika ada hubungan apa dia dengan pria burik tadi pagi" batin Wildan.
Dion melihat ke arah Wildan. "Khemm... kamu ikut saya ke dalam. Tapi nanti kamu tau kan apa yang perlu kamu kerjakan" ucap Dion dingin.
"Baik tuan, saya mengerti" balas Wildan dengan tegas dan menunduk hormat pada Dion.
Mereka dengan langkah tampannya berjalan menuju pintu kafe. Sesekali Dion menghela nafasnya. Ia merasa tak tau apa yang harus dikatakan pada Tania. Tapi ia harus memastikan sesuatu.
"Aku akan langsung to the point saja nanti" gumam Dion.
Wildan melirik sekilas ke arah Dion. "Seperti nya si boss benar benar menyukai nona Tania. aku merasa kasihan dengan keadaan si boss. Tapi apa aku sebaiknya mencari kebenaran delapan tahun lalu ya, ah.. aku tidak tau dan juga tidak ingin ikut campur urusan boss dengan wanita nya. Jika nanti Si boss minta bantuan baru aku akan turun tangan membantu menyelediki kebenaran nya" batin Wildan kasihan melihat raut kesedihan di wajah Dion.
Dion melanjutkan langkahnya dengan berjalan seperti biasa nya. Wildan berjalan mendahului Dion membuka pintu kafe agar Dion bisa masuk.
Seketika pengunjung kafe menjadi heboh dengan kedatangan Dion. Meski waktu sudah menunjukkan petang hari tak membuat pengunjung berkurang. Banyak pengunjung wanita yang terkesima dengan penampilan Dion yang gagah dan tampan dengan setelan jas nya. Tak lupa pula mereka juga di buat takjub dengan penampilan Wildan yang tidak kalah tampan berdampingan berjalan dengan Dion.
"Dion...Wildan..." ujar Chika dan Tania bersamaan dengan pelan.
Chika bertatapan dengan Tania. Tania mendadak gugup dan sangat terkejut.
"Ada apa dia ke sini" batin Tania bertanya tanya.
"Tidak mungkin kan hanya ingin menemui aku dengan sengaja" lanjutnya.
"Silakan duduk tuan" ujar Chika mempersilahkan Dion.
"Apakah di sini ada private room?" tanya Wildan pada Chika. Mereka berdua terlihat profesional dengan keadaan.
"Owh.. ada, mari saya tunjukkan" ujar Chika.
Wildan dan Dion segera mengikuti langkah Chika. Sedangkan Tania masih bergelut dengan pemikirannya sendiri.
Setiba sampai di ruangan tersebut. Chika mempersilahkan Dion untuk duduk.
"Aku ingin yang menjamu ku adalah wanita yang satu lagi" ujar Dion dingin.
Awalnya Chika kurang setuju, ia takut Dion akan macam macam dengan Tania. Tapi melihat Wildan mengangguk akhirnya Chika memenuhi permintaan Dion.
"Baiklah.. segera saya sampaikan"
Chika mengundurkan diri dan menutup kembali ruangan tersebut.
__ADS_1
Chika berlari kecil menuju Tania. "Tan.. si Dion karpet mu itu meminta kau yang menjamunya, dia tidak ingin aku. Tapi aku takut kamu di jahatin sama dia nanti. Tapi tidak apa nanti jika mereka menjahati kamu, kamu teriak sekuatnya nya Tan" ucap Chika panjang lebar.
"Ok.. kamu tenang saja, dia tidak ngapain aku kok"
"Hmmm.. jika buka karena dia anak orang terpandang di kota ini, sudah aku geprek kulkas dua belas pintu yang sok kegantengan itu" lanjut Chika berkoar koar.
"Hehehe.. kamu tenang saja. Aku pergi dulu ya" ujar Tania.
Chika mengangguk kepalanya dan menatap kepergian sang sahabat dengan menghela nafas nya.
"Ternyata di bos baru Wildan si karpet itu" ucap Chika.
"aku tidak boleh bersikap kurang ajar, takutnya jika nanti bos itu mengetahui hubungan antara aku dan Wildan, maka yang akan mampus itu bukan hanya aku melainkan Wildan juga. Hiks.. aku sangat kesal mengapa orang seperti dia itu aman aman saja hidupnya" gerutu Chika.
"Ngomongin apa sih? kok marah marah sendiri" ucap Wildan tepat di telinga Chika.
Chika tersentak kaget karena Wildan yang sudah berada di belakangnya.
"Ih... kamu bikin terkejut saja"
"Hehehe.. maaf"
"Jadi bos mu yang baru itu, si kulkas ya?"
"Iya.. Dia bos baru ku. Maaf aku tidak sempat memberitahu mu"
"Enggak lah sayang.. aku baik baik saja. Ets... tunggu.. kamu mengenalnya?"
"Jelaslah.. dia kan mata Tania dan aku sempat berkenalan dengan nya semasa dia berpacaran dengan Tania dulu"
"Owh.. pantes.."
"Owh.. iya... ada hubungannya apa kau dengan pria burik tadi pagi?" tanya Wildan dengan nada ketus dan wajah datar.
"Pria burik?? siapa?" tanya Chika tidak mengerti.
"Iya.. pria burik yang mengacak rambut mu tadi pagi"
"Owh.. Rendi maksud mu?"
"Entah.. aku tidak mengenalnya, entah siapapun namanya aku tidak peduli"
Chika tersenyum. "Rendi itu teman Tania semasa SMA, dia juga berteman dengan Dion. Aku mengenalnya karena dulu aku satu tempat kerja dengan Tania. Rendi itu orangnya asik dan baik juga"
"Hmmm... apa kamu tertarik padanya?" tanya Wildan menatap tajam kearah Chika.
Chika tertawa terbahak bahak. "Hahahaha... Tidak lah sayang. Cintaku hanya untuk mu pangeran tampan ku. Hatiku hanya satu, dan itu sudah penuh dengan namamu saja. Jadi tidak ada orang lain di sini" gombalan maut Chika yang membuat Wildan tersipu.
__ADS_1
"Hem.. baiklah.. lain kali jangan terlalu dekat dengannya dan laki laki manapun. Kau hanya milikku" ujar Wildan tegas.
"iya sayang" ucap Chika membelai pipi Wildan.
Wildan tersenyum bahagia.
*Private room
"Ada apa kau kemari?" tanya Tania ketus.
"Apa begini kamu melayani pelanggan?" balas Dion tak kalah dingin.
"Tidak.. tapi kalau untuk anda mungkin" cecar Tania.
"Cih.. sekarang berani bicara dengan nada dingin padaku. Kemarin di kota A kau tidak berani sama sekali"
ucapan menohok Dion membuat Tania tersentak. "Apa jangan-jangan karena di kota ini kekasih mu Rendi itu berada di dekat mu?"
"Kau memang perempuan manipulatif yang naif, di sana terlihat lemah tapi setelah ada pendukung yang pengkhianat seperti mu kau menjadi kuat" cibir Dion.
Tania menahan amarahnya, ia sangat tidak terima ucapan Dion.
"Jika kau sudah tau kalau Rendi lah penyemangat ku kenapa kau dengan sengaja datang ke sini?"
"Dan jika kau memang ingin menjadi pelanggan bukankah seharusnya kau memesan sesuatu. Tapi sepertinya kau ke sini memang ingin berjumpa dengan ku" balas Tania.
Dion menelan ludah nya. "Kau jangan ke ge Eran aku menemui mu karena sengaja untuk bertemu denganmu"
"Terus.. Tuan Dion yang terhormat, apa motifmu untuk menemuiku?" tanya Tania.
"Aku hanya ingin melihat kafe mu saja dan itu tidak salah bukan?" saut Dion.
"Ya sudah.. sepertinya setelah aku melihat aku tidak tertarik untuk berlama lama di sini, Karena seperti nya di sini terlalu tercium bau pengkhianat... Permisi" ujar Dion yang tiba tiba bangun dan berjalan keluar meninggalkan Tania.
Tania tercengang. "Dia masih sangat membenciku" lirih Tania.
"Maafkan aku" lanjutnya.
...****************...
hai.. hai.. author menyapa kembali. maaf author tidak bisa update karena author di sibukkan dengan kegiatan di luarππ
Semoga dengan adanya episode ini mengobati kerinduan untuk reader tercinta.
Happy Reading semuanya β€οΈβ€οΈ
Jangan lupa mampir juga ke cerita author Menemukan Ibu ya π€
__ADS_1