My Ex Suamiku

My Ex Suamiku
Pernikahan Dion dan Tania


__ADS_3

Di rumah Tania


“akhirnya ya tan, setelah sekian purnama, setelah berbagai macam samudera terlangkahi dan setelah gunung-gunung besar di daki kamu pada akhirnya akan menikah juga dengan Dion. Dengan ini menandakan bahwa kalian memang telah di takdirkan untuk hidup bersama” ucap chika dengan sangat beria suka.


Meskipun terdengar sedikit lebay, Tania tetap menampilkan wajah penuh senyum atas ucapan sahabat baiknya itu.


“lebay banget sih lo chi…” cibir rendi.


“ih… biarin. Kan memang seperti itu kenyataan nya”


“iya.. tapi gak gitu juga kalimatnya. Kayak anak alay


lo, malu-maluin” decak Rendi


“Heran gue kenapa bisa Wildan yang tampan, penuh karisma bisa jatuh cinta sama gadis somplak kayak lo” tambahnya dengan meledek dan geleng-geleng kepala


“ish… kayak lo gak sadar aja gitu. Wulan itu manis, lembut dan di jamin perawan. Bisa-bisanya iya jatuh cinta sama buaya darat kayak lo yang sok kegantengan”balas Chika


“mulut lo tu ya, dijaga sikit. Emang lo fikir gua gak lagi perjaka gitu” sarkas Rendi


“gua gak ngomong gitu, lo nya aja yang sewot sendiri ngomong gitu” balas Chika dengan tertawa bahagia.


Rendi terlihat cemberut, ia tidak suka Chika selalu membawa-bawa masalalunya yang terkenal nakal dan playboy.


Semenjak mengenal Wulan sang kekasih, Rendi berhasil keluar dari dua zona nyaman yang menyesatkan itu.


Tania yang sedang banyak fikiran seketika tersenyum melihat perdebatan dua sahabatnya yang sejak dulu tidak pernah akur dan sering bertengkar.


“Sudah.. sudah.. acara ijab Qabulnya kan mau mulai ini. Kalian jangan bertengkar terus, nanti aku gagal nikah lho” ucap Tania membuat Chika langsung mendekat.


“hushhhh…. gak boleh ngomong gitu Tan. Kamu akan menikah hari ini” tegas Chika dengan wajah serius.


“kamu kayak gak tau aja Tan, emang sudah biasa aku dan Chika bertengkar seperti itukan” balas Rendi yang di setujui Chika.


“hahahaha… aku hanya bercanda” balas Tania dengan tertawa.


“Stop!!!” ujar Chika untuk menghentikan Tania tertawa.


“pengantin baru harus kalem gak boleh ketawa besar gitu” larang Chika dengan tujuan agar image jiwa bar-bar Tania sedikit mereda


“ck.. lo ngatain Tania biar gak bar-bar, tapi lo lebih bar-bar” cecar Rendi


“nyambung aja lo, sana pergi.. Tania masih make up. Heran gua, kenapa lo masuk sini, kan Tania masih di make up” saut Chika


“lo gak berhak ngusir gua chiken, dan satu lagi terserah gua dong mau masuk ke sini atau gak” bantah Rendi


“menyebalkan… mendingan lo aja yang pergi sana” usir Chika kembali


“ lo tu yang pergi gua mau temanin Tania” kekeh Rendi


“lo tu yang pergi dasar gak tau malu lo. Hush… hush.. sana” usir chika dengan mendorong Rendi.


“gak mau gua, enak aja lo”


“udah pergi sana”

__ADS_1


“Gk..”


Tania geleng-gelang kepala dengan kelakuan dua anak manusia yang sepatutnya sudah berhak menjadi orang tua masih aja seperti anak-anak remaja.


“udah.. kalian berdua aja yang pergi. Ganggu kita aja dengan pertengkaran kalian” ucap salah seorang Mua yang sedang merias wajah Tania.


Ia terganggu dengan suara cempreng dan perdebatan yang tiada henti membuat mereka kurang fokus.


Chika dan Rendi berhenti bertengkar. Chika kembali duduk di sofa yang tersedia di dalam dengan gerakan pelan. Rendi pun juga duduk dengan rapi. Mereka sama-sama terdiam.


“ok… baiklah.. jika kalian masih ingin di sini. Duduk dan diam saja” tegas MUA tersebut dan melanjutkan merias wajah Tania.


“Makasih ya mbak, maaf banget” bisik Tania pada mbak MUA tersebut


“iya non sama sama, gak apa-apa” balas mbak tersebut


Tania sengaja meminta si mbak nya untuk menegur mereka. Terbuktikan.. keduanya akhirnya duduk diam di sana.


Di luar hotel


“Wih… keren juga lo ya yon, akhirnya si bujang lapuk emak nikah juga” ledek Dimas.


“Sialan lo”


“hahahah.. selamat ya yon.. rupanya jodoh lo gak jauh jauh ya Tuan muda. Rupanya mantan juga yang diinginkan” bisik Dimas.


“selamat ya Yon.. semoga bahagia dan segera dapat keturunan” ucap Rina


Dion tersenyum. “Makasih banyak Dim, mbak Rina. oh iya,, selamat juga ya mbak atas kehamilannya” ujar Dion.


Dion sangat senang mendengar kehamilan Rina, bagaimanapun ia tau Dimas sang sahabat sangat susah melihat Rina yang belum hamil juga.


Tau sendiri lah ya orang jaman sekarang tu makin aneh-aneh aja pemikirannya.


“Gua gak lo selamatin Yon” balas Dimas kesal


“Cih.. iya.. iya.. selamat udah mau jadi ayah” ujar Dion dengan wajah mencibir.


Dimas tertawa bahagia.


“Selamat ya Yon,,,, Upps… Tuan Muda Dion selamat atas pernikahannya” ujar Tika yang baru datang dengan Angga.


“hehehe… panggilnya Dion aja nona”


“Jangan dong,, kan sekarang kamu pemilik Zain Group’s”


“hehehe.. nama aja nona, jangan ada embel-embel gitu, biar akrab”


“ok.. kalau gitu panggil Tika aja, kalau gak mbak Tika aja biar sama kayak mbak Rina”


“baiklah”


“Selamat ya bro.. akhirnya lo nyusul juga” ujar Angga memeluk Dion.


“Terima kasih banyak Tu..”

__ADS_1


“Angga saja” potong angga cepat.


Dion tersenyum. “baiklah,, terimakasih banyak angga”


Angga mengacungkan jempolnya.


“yang lain mana? Anak anak juga mana?” tanya Dion tidak melihat dua orang CEO dan cucu-cucu Malik.


“ada di belakang” balas Angga.


“Selamat ya yon.. akhirnya mantas sekretarisku laku juga” ujar Ryan.


“Makasih banyak mantan Boss” balas Dion


“Selamat ya yon” ujar Zidan menepuk bahu Dion. Ia ingin memeluk tapi ia sedang menggendong salah satu dari Triple yaitu baby Afian.


“makasih banyak bang” balas Dion.


“Selamat atas pernikahanmu ya yon, selalu bahagia, dan cepat di beri keturunan” ucap Vina dan Dita.


“Kami ke ruangan Tania dulu ya yon” pamit Dita dan Vina.


Setelah ucapan selamat dari keluarga malik tinggal lah di sana Angga, Dimas, Rina dan Tika yang berdiri bersama Dion.


Sedangkan zidan, Ryan dan orang tuanya sudah menempati kursi bersama dengan cucu-cucu malik yang lain.


“yang.. duduk yok,, nanti kamu pegal lo” bujuk Dimas pada Rina yang sedari tadi tidak ingin duduk dan hanya menatap satu arah.


“Yang… mau itu” tunjuk Rina


“Aku juga mau itu yang” saut Tika pada tempat sama di tunjuk Rina.


Angga, Dimas dan Dion melihat secara bersamaan arah yang diinginkan Rina dan Tika.


Angga melototkan matanya. “Maksud kamu kue kan?” tanya angga.


“bukan.. tapi yang di depan meja kue itu lho” balas Tika.


Angga dan Dimas meneguk salivanya.


“yang botak itu?” tanya angga


“iya”


“mati gua,, di sini dia juga mau pegang orang yang berkepala botak” batin angga


“mau ya yang,, bilangin ya,, ya.. ya..” ujar Tika memelas


“aku juga mau yang itu yang..” saut Rina pada Dimas.


Inilah yang sering sekali membuat Dimas dan Angga terkadang malas menghadiri pernikahan ataupun pesta perusahaan.


Kerap kali keduanya di aniaya oleh istri mereka. Kedua istri mereka akan meminta memegang kepala orang yang botak licin atau memegang brewokan orang yang ada di pesta.


Dion tertawa geli mendengar permintaan kedua istri sahabatnya itu.

__ADS_1


“udah,, sana aja kalian.. minta baik-baik.. pasti di kasih kok. Orang itu adalah rekan kerja papa yang di perusahaan xxxx. Beliau baik kok,, udah sana… turutin,,, nanti anak kalian ileran lho” kompor Dion.


Angga dan Dimas melototkan matanya pada Dion. Sedangkan Dion semakin tertawa terpingkal-pingkal.


__ADS_2