
Setelah menempuh waktu perjalanan kurang lebih dua jam lamanya untuk tiba di kota A, terlihat Dion dan Tania berjalan memasuki rumah sakit milik keluarga Malik itu.
Selama berjalan masuk tidak ada percakapan yang terjadi di antara mereka. Diam adalah sesuatu yang mereka lakukan. Berjalan beriringan tapi tidak berdekatan.
Tania mengembangkan senyumannya ketika dari kejauhan telah terlihat keramaian yang menunggu akan kelahiran triple.
Dion juga tak kalah cepat melebar kan langkah kakinya agar segera berjumpa dengan Dimas dan yang lainnya.
"Apa aku terlambat? masih belum lahiran kan?" tanya Dion pada Dimas.
Mendengar seseorang berbicara, Dimas dan Rina bangkit dari tempat duduknya.
"Tidak Yon kau datang tepat waktu" ucap Dimas segera melakukan sapaan pada sang sahabat yang delapan tahun belakang ini dia kenal.
"Dion... kau sudah datang, kau semakin tampan saja" timpal Rina yang melihat kedatangan Dion.
"Hehehe.. mbak bisa aja, sebenarnya aku memang tampan. Hanya saja dulu tidak kelihatan" ujar Dion sengaja seakan ia tersipu. Ia melihat ada raut tak bersahabat dari Dimas ketika Rina memuji ketampanannya.
Dion menyukai wajah kesal sang sahabat. Ia sangat suka menggoda Dimas.
"Tapi meskipun kau tampan, suamiku lebih tampan dari mu" ucap Rina yang melihat raut tak suka Dimas ketika dirinya memuji Dion.
Dimas segera tersipu dan tersenyum bahagia melihat sang istri kembali memuji lebih untuknya.
Dion mencebik melihat ekspresi Dimas yang seakan merasa menang dari dirinya.
Tak lama terlihat Tania menghampiri mereka bertiga.
"Tan... akhirnya kau datang juga" ujar Rina segera menghampiri Tania dan memeluk nya.
"Iya mbak, aku tidak terlambat kan?" tanya Tania. Ia sudah berjanji akan datang sebelum bayi triple itu lahir dan sekarang ia memenuhi janjinya.
"Tidak Tan.. masih banyak waktu"
"Btw bagaimana dengan mu Dion? apa kau sudah punya pacar atau calon istri?"
"Sayang.. kok kamu nanya itu sih sama Dion, dia itu jomblo sejati loh yank"
Dion menghela nafasnya, bukan pembelaan yang dia dapat malah Dimas semakin meledeknya.
"Kau tampan, tapi kasihan belum ada yang punya" ujar Rina.
Ia sengaja mengatakan hal tersebut, ia berharap dengan begitu Dion dan Tania memiliki kesempatan untuk berhubungan.
"Mbak tenang saja, aku memang tidak memiliki kekasih. Namun, kita tidak ada yang tau mungkin aku akan segera memiliki seorang istri. Jadi doakan saja" balas Dion akhirnya.
"Apa?? apalah wanita itu Tania?" tanya Rina membuat Tania membulatkan matanya.
Dion tidak menjawab hanya mengedik bahunya.
"Sayang.. sudahlah jangan mengusik Dion dengan pertanyaan seperti itu. Kamu berencana menjodohkan mereka ya? lihatlah Tania menjadi malu itu" ucap Dimas kepada sang istri.
__ADS_1
"Maaf Tan, aku tidak maksud apa apa. Aku hanya ingin kau juga memiliki seseorang di sampingmu Tan" ujar Rina tak enak hati dengan perkataan pada Tania.
"Tidak apa apa mbak, aku mengerti" balas Tania lembut menggenggam tangan Rina dan tersenyum. Rina membalas senyuman manis itu.
Pemandangan itu tak luput dari perhatian Dion. Ia merasakan hari yang berdebar melihat senyuman Tania pada Rina.
"Senyuman itu masih sama seperti dulu" batin Dion.
"Bagaimana dengan mbak?? apa sudah ngisi?" tanya Tania lembut ia tidak ingin menyinggung perasaan Rina tapi ia juga penasaran.
"Belum Tan" lirih Rina.
"Maaf mbak, aku tidak bermaksud"
"Aku faham Tan, kamu tenang saja" ujar Rina.
"Lagian aku baru menikah dengan nya dua bulan yang lalu. Jadi masih terlalu baru dan kemungkinan bulan depan ia sudah ada di sini" Ujar Rina mengusap perut nya.
"Semoga saja mbak, di berikan dengan Cepat ya mbak"
"Amin.. semoga ya Tan"
Keduanya kembali tersenyum manis satu sama lain.
Perhatian Tania teralihkan ketika cucu keluarga Malik memanggil dirinya.
"Tante!!" ujar mereka bersamaan.
"Sayang.." balas Tania.
"Tante.. kapan Tante sampai? kami sangat merindukan Tante" ujar Afa.
"Tante juga merindukan kalian" balasnya.
Tania memeluk semua tubuh cucu Malik itu. Pemandangan itu juga tak lepas dari Dion yang terus memperhatikan dengan wajah datarnya.
"Lihatlah.. dia memiliki sifat keibuan yang kuat" bisik Dimas pada Dion. Dion tidak menanggapi pernyataan Dimas. ia memilih untuk Diam.
Tika, Vina , Angga dan Ryan juga menghampiri mereka. mereka menyambut Tania dan Dion dengan saling memeluk tubuh sebagai sapaan.
"Kapan kau tiba?" tanya Angga.
"Baru saja sekitar 15 menit yang lalu"
"Kau terlihat semakin gagah" ujar Angga.
"Biasa saja"
"Apa kalian pergi bersamaan?" tanya Ryan.
"Tidak.."
__ADS_1
"Owh.. baiklah. kirain tadi sudah ada kemajuan" ucap Angga menggoda Dion.
Dion hanya tersenyum.
Berbeda dengan Tania yang sudah di tarik agar sedikit menjauh dari para lelaki itu.
Tika dan yang lainnya bercanda gurau dengan Tania sehingga suara tawanya memenuhi ruangan itu. Tak lama setelah mereka mengobrol bersama terlihat Zidan sudah keluar dari ruangan operasi itu dengan wajah bahagia.
Mereka semuanya mendekat.
"Bagaimana?? apa cucu ku sudah lahir?" tanya nyonya Malik.
"Sudah ibu, mereka sangat sehat" balas Zidan.
"Syukurlah, bagaimana dengan Dita, apa dia juga baik baik saja?" tanya ibu khawatir.
"Dita baik baik saja, sebentar lagi akan keluar dan di pindahkan ke ruangan" balas Zidan.
Tak lama terlihat Tiga orang suster membawa brankar Dita dan dua bayi mungil dalam gendongan mereka.
Mereka semuanya mengikuti dari belakang menuju ruangan Dita dan bayinya.
Sesampainya di ruangan suasana heboh kembali terdengar. Bagaimana tidak, ketiga bayi lucu itu membuat semuanya menjadi gemas.
"Mereka sangat mirip dengan Zidan dan Zico" ujar sang nyonya Malik.
"Iya sayang.. wajah Zidan terpampang nyata di sana" timpal tuan Malik.
"Sepertinya gen bang Zi lebih dominan. Lihatlah.. tidak ada sedikitpun wajah kak Dita yang mereka ikuti" ucap Tika membuat sebuah nya tertawa.
"Kau benar Tik, bahkan aku tidak menyangka nya" balas Dita.
"Sayang.. meskipun di wajah mereka tidak ada yang wajahmu, tetap saja kamu ibu nya. Wanita yang sangat aku cintai" Ujar Zidan mengecup kepala istrinya.
Pemandangan itu membuat semuanya sedikit geli, bagaimana tidak mereka taunya Zidan seperti es. Tapi sekarang sepertinya gunung Es sudah sangat mencair hingga menjadi sungai.
"Namanya siapa bang?" tanya Ryan.
"Yang di gendong ayah namanya Zaland pratama Malik dia yang tertua. Yang di gendongan ibu namanya Zalfa Maharani Malik. sedangkan di bungsu namanya Zavian Pratama Malik yang sedang di gendong Angga. Terserah kalian ingin memanggil namanya apa, asal jangan Malik saja" ucap Zidan dengan candanya.
Mereka semuanya terkekeh mendengar ucapan Zidan.
Mereka setuju dengan nama yang di berikan oleh Zidan.
"Kita panggil baby Aland, Alfa dan Afian saja" ujar Vina yang diangguki semua nya.
Tania sangat bahagia menjadi salah satu orang yang berdekatan dengan keluarga Malik ini. Ia melihat semuanya dengan penuh cinta satu sama lain.
"Akankah jika aku menikah nanti, keluarga suamiku akan memperlihatkan kasih sayang nya padaku?" batin Tania.
...****************...
__ADS_1
...Happy Reading semuanya β€οΈβ€οΈ...
...Author Hadir Kembali membawa lanjutan cerita Dion, jangan lupa untuk meletakkan kembali hadiah kecilnya dari para reader untuk cerita author iniππβ€οΈ...