
"Sudah selesai kamu mencuci pakaian?" tanya mama Ami dengan nada tinggi
"Iya ma, sudah" jawab Tania
"Kalian berempat tidak ada yang membantunya kan?" tanya mama Ami dengan penuh selidik pada keempat pembantu tersebut
Mereka terlihat gugup tidak karuan, baru kali ini melihat ekspresi seram dari sang nyonya besar. Bertahun tahun lamanya nya mereka bekerja baru kali ini disuguhi oleh pertanyaan penuh intimidasi yang sangat menakutkan
"Tidak nyonya, kami melakukan sesuai dengan perintah nyonya untuk mengawasi nona Tania bukan membantunya" ujar salah satu nya dengan menunduk diikuti oleh yang lainnya
"Bagus.. jika kalian berani membantu nya siap kalian aku pecat"
"Iya nya" ujar mereka serempak
"Kamu.." tunjuk mama Ami pada Tania
"Iya ma"
"Kamu telpon balik suami kamu, dari tadi katanya kamu gak angkat telpon dari nya. Dan anak kesayangan ku malah menelpon ku untuk menanyakan keberadaan wanita ****** seperti mu"
"Dan.. ingat..!! jangan berani beraninya kamu mengadu pada Dion tentang kejadian hari ini, jika kau berani maka siap keluarga mu akan merasakan sakit seperti beberapa tahun lalu" ujar mama Ami dengan tertawa sinis
Tania membulat kan matanya tak percaya. Iya benar-benar tidak menyangka wanita yang berdiri di hadapannya yang berstatus sebagai mertuanya itu menjadi sangat kejam padanya
"Kamu dengar yang saya katakan!!" sentak mama Ami
"Iya ma, aku dengar"
"Bagus.. kamu camkan baik-baik di otak udang mu itu!" ujar mama Ami kembali
"Iya ma"
mama Ami beralih pada keempat pembantu yang masih berdiri di samping Tania
"Dan... untuk kalian berempat jangan berani mengatakan hal ini pada tuan besar ataupun Dion. Jika kalian berani aku akan siap untuk menendang kalian dari rumah ini dan tidak akan mendapatkan pekerjaan di mana pun" ancam mama Ami tak kalah kejamnya
"Iya nya" ujar mereka serempak dengan meringis ketakutan
"Ya sudah.. kamu silakan ke kamar dan telpon suami kamu"
"Dan untuk kalian berempat silahkan sibuk dengan yang lainnya"
"Iya nya, kami permisi" pamit keempat pembantu tersebut
Tinggallah Tania dan mama Ami.
"Bagaimana?? apa kamu masih sanggup menjadi nona muda dan istri Dion? jika tidak sanggup lagi silahkan minggat dan gugat cerai anakku" ujar mama Ami sebelum meninggalkan Tania yang mematung di sana
Tania menghela nafas nya. "Sungguh berat ujian mu Ya Allah kuatkan lah hamba"
...****************...
Tut...
Tut...
Tut...
"Kenapa dia tidak mengangkat nya?" tanya Tania
Tania mencoba sekali lagi menelpon suaminya
Tut...
Tut...
Tut...
di tempat lain
Wildan mengernyitkan dahi tidak mengerti
dari tadi Dion hanya menatap pada ponselnya yang berdering
"Kenapa tidak mengangkat nya bos?" tanya Wildan heran
__ADS_1
"Aku sedang marah padanya" ujarnya
Wildan menggeleng gelengkan kepalanya.
"Tuan kekanak-kanakan sekali" ucap Wildan dalam hati ia tidak berani jika mengungkapkan secara langsung atau riwayat nya akan tamat
"Tapi dari tadi nona menelpon anda" ujar Wildan kemudian
"Biarkan saja, aku sedang marah padanya. Dia lebih dulu mengabaikan panggilan ku yang sudah puluhan kali tadi"
"Aku akan menjawab jika sudah sama seperti panggilan ku tadi untuk nya"
Wildan kembali menggelengkan kepalanya
"Kenapa dia tidak menelepon ku lagi?" ujar Dion kesal menatap ponselnya
Wildan menepuk jidatnya. "Ketika bos menjadi bucin sangat menggelikan" batin Wildan
"Apa jangan jangan dia marah padaku? eh.. seharusnya aku yang marah padanya karena lebih dulu mengabaikan panggilan ku bukan dia"
"Arghhh... aku bisa gila begini"
"Wil.. aku harus bagaimana? kenapa dari tadi kamu diam saja?" ujar nya dengan kesal pada Wildan sang sekretaris
"Maaf bos, saran ku pertama anda jangan berpikiran yang buruk terhadap nona. kedua seharusnya anda telpon balik saja jika anda kesal menunggu nona telpon balik" ujar Wildan
Dion mencerca dengan baik ucapan Wildan.
"Kau benar Wil" ujar Dion
Ketika hendak menelpon balik sang istri. tiba tiba
Tut...
Tut...
ponsel berbunyi dan ternyata ponsel milik Wildan yang berbunyi
"Bos..." ujar Wildan pelan
"Bukan.. itu bos. Tapi.. nona Tania menelpon ku" ucap Wildan
Dion langsung menengadah kepala menatap Wildan
"Apa aku harus mengangkat nya bos?" tanya Wilda
"Angkat lah.. loud speaker"
Wildan mengangguk " baik bos"
"Halo nona?"
"Halo Wil.. "
"Ada apa nona?"
"Kamu sedang dengan suamiku tidak? aku sudah menelpon nya berkali kali namun tidak diangkat"
"Ah... itu.. saya bersama dengan bos sekarang nona"
"Kenapa dia tidak mengangkat telepon ku? apa kalian sedang rapat?" tanya Tania lagi
"Itu karena..."
Dion segera mengambil ponsel tersebut.
"Halo.." ujar Dion dingin
Wildan yang merasa aura di ruangan sangat sangat tidak menyakinkan lebih baik dia segera pergi dari sana
Wildan pamit dan Dion hanya mengangguk kepalanya
"Halo.. sayang..." ujar Tania
"Kamu sibuk ya?" lanjutnya
__ADS_1
"Seharusnya aku yang tanya gitu" ujar Dion dengan kesal
"Lah.. Kenapa?" tanya Tania dengan nada heran
"Soalnya aku udah telpon kamu puluhan kali tapi kamu gak menjawabnya. Aku sangat rindu kamu sayang" terang Dion
Di seberang sana Tania menepuk jidatnya
"maaf sayang, aku tadi di bawah dengan mama sedangkan ponselku berada di kamar atas. Jadi maaf ya aku tidak menjawab panggilan mu. Maaf ma. aku. Aku salah . maaf ya sayang" ucap Tania
"Hemm.. "
"Loh.. kok cuma Hmmm aja sih? kamu beneran marah sama aku?" tanya Tania
"Pikir aja sendiri" ujar Dion semakin kesal sendiri
ujar Dion langsung mematikan ponselnya
"ckck... aku ingin di rayu, di bujuk dengan cinta namun kamu malah nanya" ujar Dion memanyunkan bibirnya
Tut..
Tut...
Tut...
Terlihat Tania kembali menelpon suaminya dengan penggilan video
Dion menarik garis lengkung pada kedua bibirnya
"Dia menelpon ku lagi" ujar nya tersenyum
"Sayang..." panggil Tania
"hmmm..."
"Kamu kenapa?? masih marah sama aku?" tanya Tania
"Gak tau"
"Sayang.. suamiku tercinta yang paling tampan sedunia, aku minta maaf ya tadi gak menjawab panggilan dari kamu. aku benar lagi sibuk sayang. Aku minta maaf ya, maafkan aku" Tania berusaha merayu suaminya
"Hmmm... iya aku maafin"
"Kok gak ikhlas gitu?" ujar Tania
"Ikhlas kok"
"Ya sudah.. nanti kamu mau aku masakin apa? ya sebagai permintaan maaf ku untuk suamiku yang tercinta" tanya Tania
"Aku ingin dimasakin apa aja sayang yang penting kamu yang buat" ujar Dion bahagia
"Oke sayang. Btw kamu udah makan? sekarang kan udah jam makan siang" tanya Tania
"Sudah.. sama Wildan tadi, kamu sih gak ke sini aku kan gak kenyang makannya" ujar Dion cemberut
Tania menggeleng geleng kepalanya
"Iya sayang.. maaf ya, aku hari gak bisa besok besok aku janji akan datang ke kantor saat makan siang"
"Iya sayang... kamu janji ya, jangan ingkar nanti"
"Iya .. aku janji"
"Ya sudah.. kamu kembali kerja sana. Aku mau istirahat sebentar " ujar Tania
"Iya sayang.. baik baik di rumah ya"
"Iya sayang.. bye.. bye..." ucap Tania
...****************...
Maaf deh.. sebenarnya semalam udah mau update entah mengapa jaringan di tempat tinggal author tidak terhubung
Semoga suka 💕
__ADS_1
Happy Reading 💕