My Ex Suamiku

My Ex Suamiku
Rencana Penolakan


__ADS_3

Dion meninggalkan ruangan Tania. Sepanjang menuju jalan keluar dia menggerutu tak jelas.


"Mengapa aku mengatakan seperti itu, seharusnya aku mengatakan seperti biasanya saja. Tetapi mulutku tiba tiba kaku dan otak ku tidak berpikir jernih. Tapi untuk apa aku mengatakan hal yang baik untuknya. Dia pantas mendapatkan hal itu karena pengkhianatan yang telah dia lakukan itu. Tapi, kenapa aku merasa tidak enak hati dengan perkataan ku padanya? kenapa aku seperti ini. Kenapa perasaan dan otakku memiliki jalan yang berbeda. Akh....!!! aku bisa jadi kacau jika begini. Sebenarnya aku menginginkan apa? apa keinginan ku? kenapa aku tidak bisa menemukan nya?. Sekarang apa yang seharusnya aku lakukan? aku pun pusing dengan diriku sendiri" gerutu Dion panjang lebar hingga ia melihat Wildan dan Chika sedang berbincang.


Dion menautkan alisnya. "Ada hubungannya apa lagi antara Wildan dan Chika. Kenapa aku merasa diantara mereka ada sesuatu?" ujar Dion melihat Wildan dan Chika sedang mengobrol.


"Ah... itu bukan urusan ku. Lebih baik aku segera pergi dari sini"


"Ekhmmmm...." ujar Dion agar Wildan menyadari keberadaan nya.


"Tuan.." ujar Wildan sembari menunduk.


"Ayo kita kembali" ucap Dion ketus dan dingin.


"Baik tuan"


Mereka berjalan meninggalkan kafe itu. Sebelum itu Wildan tidak lupa meminta izin pada sang kekasih meskipun hanya memakai bahasa isyarat.


Chika mengangguk melepaskan kepergian sang kekasih. Chika kembali mengingat Tania. Ia segera berjalan menuju ruang privat.


Chika penasaran apa yang terjadi pada sahabat nya itu.


Chika merasa ada sesuatu, sebab ia melihat ada raut tidak senang dan wajah Dion ketika menghampiri mereka tadi.


"Tan.." ujar Chika membuka pintu ruangan itu. Chika terkejut melihat Tania sedang menangis dalam keadaan menelungkup kan kepalanya.


"Tan.. Ada apa?" tanya Chika mengelus pelan punggung sang sahabat.


Tania mendongak melihat Chika dengan mata yang berkaca-kaca. "Chi.." ujar Tania.


"Ada apa? apa yang di lakukan oleh si karpet itu pada mu Tan? apa dia membuat hatimu sakit lagi? Kalau tau begini sejak tadi sebelum keluar aku menghajar wajah nya yang sok kegantengan itu" ujar Chika panjang lebar.


Tania hanya menggeleng kepalanya dengan pelan. "Aku hanya bercanda, lagian aku tidak mungkin menghajarnya" ujar Chika kembali.


"Sekarang katakan padaku ada apa sebenarnya?" tanya Chika sembari memeluk tubuh Tania.


"Dia sepertinya sangat membenciku Chi. Dia mengatakan hal yang buruk pada ku. Mengatakan aku ini pengkhianat paling buruk Chi"


"Jika dia tau alasan sebenarnya Tan, dia tidak akan mengatakan hal yang seperti itu. Apa perlu aku mengatakan kepadanya alasan kenapa kau meninggalkan dia dulu Tan. Aku tidak bisa melihat mu seperti ini, selalu di salahkan"


"Jangan Chi.. aku tidak ingin hubungan antara Dion dan Mamanya jadi buruk hanya gara gara aku"

__ADS_1


"Ya sudah.. Baiklah.. aku tidak akan mengatakan padanya. Tapi Tan jika suatu saat nanti Dion terlalu berlebih-lebihan dalam perlakuan terhadap mu. Maaf aku akan mengatakan nya Tan"


Tania hanya diam. "Kau tenang saja, aku rasa aku tidak akan bertemu lagi dengannya Chi"


"Semoga saja" balas Chika menatap dan tersenyum hangat pada Tania.


"Ayo kita keluar.. sudahi sedih mu. mendingan kita keluar cuci mata dengan ketampanan para mahasiswa pengunjung kafe ini. Kata penelitian jika kita melihat wajah pria tampan maka akan membuat mood kita bagus" canda Chika.


Tania tersenyum. "Kau bisa aja Chi"


Tania dan Chika berjalan keluar meninggalkan private room tersebut. Mereka kembali bekerja seperti tadi sebelum Dion menjumpai Tania.


...****************...


Di apartemen Dion.


Dion termenung sendiri memikirkan Tania. otaknya mengatakan jangan mengingat kembali wanita itu, tapi hatinya semakin mendesak otak Dion untuk memikirkan Tania.


Lamunannya buyar setelah mendengar suara telpon milik nya berdering kuat.


Dion mengalikan pandangan nya ke ponselnya. Melihat sang mama yang telah menelpon. rasa nya enggan untuk menjawab tapi karena tak ingin sang ibu khawatir, Dion memilih untuk mengangkat panggilan tersebut.


"Halo ma"


"Aku di apartemen"


"sayang... malam ini pulang ke rumah ya, mama mengundang Adelia dan orang tua nya untuk makan malam bersama. maaf mama tiri mengabari lebih awal padamu"


Dion terdiam. Ia merasa sangat malas untuk bergabung. Tapi sekali lagi karena ucapan memelas sang mama membuat Dion mengiyakan ajakan makan malam bersama tersebut.


"Baiklah ma,, satu jam lagi aku akan tiba di rumah" balas Dion.


"Makasih banyak sayang.. kamu memang anak mama yang paling baik. mama tau kamu pasti tidak akan mengecewakan mama. Terimakasih sayang"


"Iya ma, sama sama" Balas Dion menutup ponselnya.


Dion kembali menghela nafasnya. Sempat terlintas di pikiran nya apa sebaiknya ia menerima saja perjodohan dengan Adelia yang notabene nya merupakan anak dari rekan kerja ayahnya.


Tapi Dion masih sangat ragu, ia takut nantinya dia akan kembali memikirkan Tania. Ia juga merasa belum bisa membalas dendam kepada Tania jika ia menikah dengan Adelia.


"Seperti nya jika aku mendapatkan Tania dan mempertahankan diri nya di sisiku. Aku akan mudah untuk menyiksa, membuatnya sakit hati sehingga dendam ku terbalaskan sudah. Tapi bagaimana caranya untuk membuat dia berada di sisiku? Jika aku menariknya secara baik pasti Tania tidak mau"

__ADS_1


"Jika cara baik tidak bisa maka harus dilakukan dengan cara yang paling baik untuk mengikat nya. Akan aku buat Dia berlutut padaku" ujar Dion dengan seringai serigala nya.


🌜🌜🌜🌜🌜


Di mansion mewah terlihat dua keluarga sedang melakukan makan malam bersama. Tidak ada percakapan yang terjadi selama makan karena sang nyonya membenci ada percakapan di tengah tengah mereka.


Karena sudah memiliki hubungan yang dekat maka para tamu mengetahui bagaimana sikap sang nyonya.


Ya!! mereka adalah Adelia dan keluarga nya yang sedang menikmati makan malam bersama di keluarga Dion.


Dion juga ikut hadir seperti ucapannya pada sang mama ketika melakukan panggilan telepon tadi.


Sang mama yang awalnya sedikit takut, takut bahwa Dion akan membatalkan rencana nya. Namun, siapa sangka Dion tetap memenuhi janjinya.


"Jadi bagaimana jeng dengan janji kita, apa bisa kita teruskan perjodohan mereka??" tanya mama Adelia pada mama Ami. Mereka semuanya telah duduk bersama di ruang tamu.


"Kalau masalah itu jadi lah. Aku rasa Dion akan menerima nya" mama Ami tersenyum.


"Tidak!!!" ucap Dion yang membuat suasana mencekam hebat.


"Apa maksudmu sayang?" tanya mama Ami.


"Aku tidak bisa meneruskan perjodohan ini. aku sudah memiliki calon istri" jawab Dion dengan tegas.


"Apa!!" pekik mama Ami dengan terkejutnya.


"Maafkan Dion ma, bukannya Dion tidak ingin memberi tahu kepada mama. Tapi Dion sedang menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya" balas Dion.


Papa Dion Tuan Zain hanya tersenyum tipis. Ia sebenarnya kurang menyukai permintaan sang istri untuk menjodohkan sang putra sulung. Baginya biarlah sang putra menentukan pilihan untuk teman hidupnya. Bagaimana bentuk wanita itu ia tidak peduli asalkan putranya bahagia.


...****************...


HAPPY READING YA GUYSπŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸŒΉ


Author Hadir Kembali.. Semoga reader tercinta menyukai nya😊


Jangan lupa dukungan ya


Like


Komentar

__ADS_1


and Vote ya☺️☺️


__ADS_2