
"Bagaimana ini Tante?? apa masih bisa kita teruskan?" tanya Adelia tampak gelisah mengingat bahwa Tania sudah tidak tinggal bersama dengan mama Ami di mansion mewah mereka
Mama Ami terdiam dia tidak menjawab apapun
"Apa lagi sekarang mereka sudah pindah ke rumah yang dibeli sama Dion Tante, jadi makin susah dong untuk kasih pelajaran sama si wanita ular itu"
Adelia dibuat kesal sendiri dengan diamnya mama Ami.
"Apa jangan jangan Tante Ami udah nyerah ya, tapi gak mungkin secepat itu, tidak.. tidak bisa.. aku harus membuat tante Ami menerus kan rencana ini. Aku tidak akan melepaskan Dion dengan mudahnya" gerutu Adelia dalam hati
"Bagaimana Tan?? apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Adelia kembali
Mama Ami terdiam tidak menjawab apa pun
"Adelia mohon Tan, kita tetap harus memisahkan mereka. Tante tau sendiri kalau aku udah cinta mati sama Dion Tan. Tolong bantu aku tan" ujar Adelia dengan memelas
"Untuk Saat ini kita diam dulu, agar semua tenang baru kita memulai nya" ujar mama Ami kemudian
"Ya udah deh Tante.." pasrah Adelia
Seperti nya nenek lampir dan dayang nya ini nggak ada kapok kapoknya heran deh sama kelakuan mereka berdua
"Aku harus membuat rencana baru agar Dion harus terpisah dari perempuan ular itu, sampai kapan pun aku nggak akan rela kalau Dion bersama wanita itu" geram mama Ami dalam hati
...****************...
__ADS_1
Sedangkan di apartemen Dion, nampak sepasang suami istri itu sedang melakukan aktivitas seperti biasa nya.
Tania sudah kembali menetralkan hati dan perasaannya dan berusaha melupakan kejadian mengerikan kemarin yang di alaminya.
Dibilang hilang sepenuhnya tentu saja tidak, kata kata cakian dan bentakkan yang di lontarkan mama Ami kepadanya masih membekas dan terngiang ngiang di fikirannya.
Meskipun begitu, Tania berusaha untuk terlihat biasa saja, dan berusaha melupakan semuanya, berusaha memaklumi kenapa mama Ami sampai melakukan peristiwa mengerikan seperti itu.
Tania tidak membenci mama Ami ia hanya takut kejadian itu terulang.
"Sayang..." ucap Dion langsung memeluk tubuh Tania dari belakang
Tania sempat terkejut dengan gerakan Dion yang tiba-tiba dan tanpa suara.
"Eh.."
"Eh.. enggak apa apa cuma lagi ingat ayah aja, jadi kangen mereka deh" jawab Tania seadanya
Padahal Dion tau apa yang sedang mengganggu pikiran istrinya, hal itu pasti berkaitan dengan peristiwa kemarin pikir Dion
"Emmm... gimana kalau nanti kita ajak aja ayah kamu ke sini menjumpai kita" saran Dion
Tania segera menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin bertemu dengan ayahnya dengan kondisi seperti ini.
Nanti ayahnya pasti merasa sedih jika melihat bekas luka cakaran dan tamparan yang di terima Tania.
__ADS_1
"Tidak.. tidak perlu, kapan kapan saja kita jumpa ayah" ucap Tania
Dion hanya tersenyum dan mengangguk, "Baiklah sayang,, kalau itu mau mu" ucapnya mengecup lembut puncak kepala istrinya.
"Kamu nggak ke kantor hari ini?" tanya Tania memulai
"Enggak... aku ambil cuti hari ini dan seminggu kedepan, tadi udah izin sama papa juga" ucap Dion
"Lah.. kenapa cuti? nggak baik loh pekerjaan di tunda tunda"
"Enggak apa kok sayang, aku kan cuti mau temenin kamu di rumah" ucap kembali melabuhkan ciuman di pipi istrinya
"Kenapa harus di temenin? aku nggak akan kemana-mana kok" ucap Tania
"Iya.. aku tau, tapi.. aku takut nanti mama aku nyerang kamu lagi sayang" lirih Dion
Ia sungguh bersalah dengan istrinya karena kelakuan mamanya
Tania membalikkan badannya sehingga mereka sekarang sedang berhadapan
"Jangan berpikir buruk tentang mama, mama nggak akan gitu lagi kok" ucap Tania tersenyum
Ia mengelus lembut rahang kokoh milik suaminya.
"Emm... iya, aku percaya kamu" ucap Dion tidak ingin melanjutkan nya takut sang istri kembali teringat luka lama.
__ADS_1
"Sungguh... kamu benar benar berhati baik Tan, jika aku di posisi kamu pasti akan sangat membenci mama, tapi kamu sama sekali tidak membencinya meskipun yang di lakukan mama bukanlah sesuatu yang baik" ujar Dion dalam hati ia benar-benar kagum dengan kelapangan hati istrinya