My Possessive Cat Girl

My Possessive Cat Girl
Hui Chuan Yun Kau Hanya Milikku!


__ADS_3

Setelah hari menjadi siang dan terik, para pelajar bangsawan itu pun dipersilahkan untuk istirahat.


Seperti biasa, Chuan Yun cepat-cepat meletakkan pedangnya dan hendak berlari pulang untuk bermain dengan kucingnya. Sementara pangeran-pangeran dan bangsawan lain duduk-duduk untuk makan atau minum bersama, ada yang bermain catur, dan ada juga yang bergosip.


"Lihat dia. Lagi-lagi dia langsung pulang begitu saja," ejek Fu Jia sambil tersenyum miring meremehkan kepada He Xian.


He Xian tertawa menanggapi. "Tidak bisa tersenyum dan selalu bersikap dingin," imbuh He Xian.


"Sebenarnya aku juga tidak terlalu menyukainya," timbrung Wu Yin, pangeran ke delapan.


He Xian dan Fu Jia menahan tawa. Mereka masih begitu ingat bagaimana Chuan Yun memarahi Wu Yin yang salah format dalam menuliskan laporan.


"Benar kan? Dia sangat sombong," Fu Jia menaikkan satu alisnya.


"Bergabunglah dengan kami. Aku ingin lihat, sampai kapan manusia sombong itu dapat bertahan," ajak He Xian.


"Sebenarnya aku memiliki sesuatu yang bagus untuk kalian. Tapi aku butuh batuan kalian," cetus Wu Yin tiba-tiba.


"Apa maksudmu?" Fu Jia bertanya dengan penasaran kalau-kalau ia dapat berita bagus mengenai kelemahan adiknya itu.


"Pssst ... dengar-dengar dari pelayanku, Pangeran Ketiga sangat maniak dengan kucing. Kalian juga tahu bagaimana ia sangat penyendiri, dingin, dan sarkas tetapi berotak jenius. Dia hanya bisa berbicara dengan kucing,"


"Lalu? Kalau itu kami juga sudah tahu," Fu Jia memutar bola matanya kesal karena meremehkan.


"Tapi bukan soal itu. Baru-baru ini ada berita kalau dia mulai bisa bergaul dengan gadis,"


"Dan dia membawanya ke kamar ..."


**_**


"Bao Bao ...!"


"Bao Bao ...!" panggil Chuan Yun keras-keras.


"Si Mu!"


"Ya Tuan!" Si Mu langsung menegakkan tubuhnya dengan siap sedia.


"Dimana Bao Bao?"


Si Mu memutar bola matanya sambil berfikir karena takut ia lah yang membuat kesalahan. Terakhir ia lah yang mengawal Bao Bao ke kamarnya semalam.


"Ah mungkin kucing itu tidak dengar. Kamarnya ada di dekat gudang di dalam sana Tuan," jawab Si Mu takut-takut.


"Apa? Kenapa kamu menaruh kasurnya di gudang sana?" Chuan Yu terlihat kurang senang. Ia langsung berlari kecil memasuki lorong menuju gudang bahan makanan.


Si Mu masih termenung di sana, mencari letak kesalahannya. "Ah tapi sejak dulu Bao Bao tidur disana dan suka bermain disana. Apa yang salah?"

__ADS_1


"Tentu saja. Di gudang beras banyak tikus. Bao Bao sangat senang menangkapnya," jawab pelayan wanita yang ada di dekat sana.


Si Mu tersentak, "Ya Tuhan!"


"Aku membuat kesalahan?!" Ia menutup mulutnya dan melenggak-lenggok ke kanan dan ke kiri.


"Tuaan ..." panggil Si Mu sambil berlari terbirit-birit ke arah gudang.


Pelayan wanita itu hanya memandangnya dengan bosan.


"Bao Bao!" Chuan Yun memanggil nama kucing itu, lalu terlihatlah wajah Ting Er dan mata pandanya. Ia sedang memeluk kedua kakinya sendiri dan mendongak untuk menatap majikan yang memanggilnya.


"Bao Bao?" Chuan Yun menatap mata panda dan raut melas yang kusut itu.


"Momo, pasang wajah melasmu juga!" bisik Ting Er.


Anjing golden yang berperasaan dan cerdas itu pun mengikuti raut muka Ting Er. Ia memelas dengan puppy eyes andalannya.


"Majikan ... uhuk uhuk. Penjagamu yang bernama Si Mu itu. Mengusirku dan memberiku tempat tinggal yang buruk ini bersama Momo," Ting Er mendramatisir intonasi bicaranya dalu berpura-pura batuk.


Si Mu melotot dan tersentak tak habis pikir dengan pembalasan tak terkira dari kucing jingga itu.


Chuan Yun langsung membuang pandangannya pada Si Mu dan menatapnya tajam. Si Mu langsung tertunduk dengan mata terpejam karena salah tingkah.


"Cepat-cepat, bangun," Chuan Yun menghampiri Ting Er dan membantunya bangun.


"Ka- ka- kau kan bisa berlari keluar dan memintaku memindahkanmu!" Si Mu protes dengan jari telunjuk bergetar hingga tergagap-gagap sendiri.


"Sudah diam Si Mu!" tegur Chuan Yun.


"Ayo, kembali saja ke kamarku,"


"Si Mu, bawa kasur merah muda ini. Letakkan di bawah kasurku," perintah Chuan Yun.


Setelah Chuan Yun pergi keluar mendahului mereka, Ting Er segera meledek Si Mu dengan lidak terjulur. "Bweeek ... Nye nye nye nye nye,"


"Kau," Si Mu kehabisan kata-kata.


Lalu Ting Er tertawa-tawa sambil berlari menyusul Chuan Yun, diikuti dengan penjaga setia pribadinya yaitu Momo.


Belum lagi kibasan ekor dan lenggak-lenggok pantat anjing perempuan itu yang semakin memojokkan Si Mu.


"Bagaimana hari ini? Apakah lancar?" tanya Ting Er sambil susah payah menyamai langkah kaki majikannya yang begitu cepat.


"Lancar," jawab Chuan Yun sembari duduk di meja belajarnya di kamar. Ia menyahut buku pelajarannya dan mulai membacanya.


"Kenapa majikan bersikap cuek? Apa majikan masih sakit?" Ting Er kembali menyentuh pipi Chuan Yun tanpa ijin.

__ADS_1


"Ou majikan sudah sehat."


"Majikan, majikan!" panggil Ting Er.


"Hm?" tanya Chuan Yun tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang ia pelajari.


"Apa majikan tidak bosan di rumah? Bawa aku keliling istana ini?" Ting Er mengedip-ngedipkan matanya untuk memohon.


"Kau bosan?" tanya balik Chuan Yun. Akhirnya ia mau menatap gadis itu.


Ting Er mengangguk-angguk melas


"Apa yang biasa dilakukan Bao Bao saat bosan? Bukannya menggiggiti bola hijau?" tanya balik Chuan Yun untuk kedua kalinya.


Ting Er merengut, "Tolong manusiakan aku. Aku sudah bukan kucing!"


"Kamu memanglah kucing," tegas Chuan Yun.


"Tuan Muda, ada orang suruhan kaisar di luar. Katanya kaisar ingin bertemu dan membicarakan sesuatu," sela Si Mu.


"Membicarakan apa?" tanya Chuan Yun.


"Sepertinya mengenai Putri negara Hwang?" goda Si Mu.


"Kenapa dia mendahulukan aku ketimbang kakak? Nanti Kak Fu Jia merasa tersaingi lagi," kesal Chuan Yun.


"Mungkin mereka juga lebih tertarik dengan Yang Mulia. Negara kita dengan negara Hwang sudah sering mengadakan banyak kerjasama dan rapat. Sedikit banyak mereka tahu kualitas Yang Mulia lebih baik ketimbang dua anak pertama itu," sanjung Si Mu.


"Kemakmuran dan militer negara kita masih sangat bergantung dengan negara Hwang Yang Mulia. Yang Mulia tidak bisa menolak tawaran ini demi negara tentunya," lanjut Si Mu.


"Dan yang pasti sesuai keinginan Tuan Muda. Cantik, terpelajar, dan juga baik hati. Sudah banyak desas-desus yang beredar mengenai karakter putri Hwang ini," Si Mu terus memanas-manasi Ting Er yang sudah mengadukan dirinya.


Ting Er melipat kedua tangannya. "Hui Chuan Yun, tolong manusiakan aku! Aku juga ingin sekolah dan menjadi terpelajar!" tegas gadis itu tiba-tiba.


Chuan Yun agak kaget mendengar gadis itu menyebut nama lengkapnya dengan berani. Sementara Si Mu melotot selebar-lebarnya.


"Bukannya kamu ingin makan dan tidur saja? Kenapa tiba-tiba?" Chuan Yun memiringkan kepalanya heran.


"Karena aku, adalah milikmu!" marahnya sambil dengan lancang duduk di pangkuan Chuan Yun dan memeluk leher pemudia itu dengan kedua tangannya.


Tanpa sadar kata-kata gadis itu membuat pipi Chuan Yun memerah. Ia tidak tahu mengapa tiba-tiba tubuhnya jadi panas.


"Hui Bao Bao, cepat turun dari sini. Aku harus menemui ibuku," balas Chuan Yun seraya mengangkat pinggang gadis kecil dipangkuannya dan melemparnya ke kasur begitu saja.


Laki-laki itu berjalan cepat meninggalkan kamarnya, diikuti dengan Si Mu. Si Mu menatap Bao Bao sekali lagi sebelum pergi dengan tatapan cengang, masih shock dengan keberanian kucing nakal yang menyebut nama keluarga tuannya.


Ia lebih tercengang lagi dengan sikap tuannya yang sama sekali tidak mempersalahkan atau memarahi perempuan itu.

__ADS_1


__ADS_2