My Possessive Cat Girl

My Possessive Cat Girl
Dia Normal, Hanya Saja Harga Dirinya Tinggi


__ADS_3

Pagi itu seperti biasanya Chuan Yun berangkat ke bangunan istana khusus pelajar bangsawan.


"Kenapa sih mereka berdua melakukan itu?"


"Sepertinya sudah lelah menjadi putra mahkota dan ingin pensiun dini," tawa ceria Ci Sen terdengar paling keras dari luar bangunan itu.


Chuan Yun menghela nafas sejenak mempersiapkan diri sebelum masuk ke sana.


"Tuan, tersenyumlah," Si Mu memberikan aba-aba.


Chuan Yun memaksa bibirnya itu, lalu masuk begitu saja. Sementara Si Mu tetap di luar untuk menunggu seperti biasanya.


"Yo Kakak Ketiga!" sapa Ke Wen, pangeran ke sembilan.


"Apa nanti kakak masih ada waktu untuk main catur lagi? Kali ini aku akan menang!" sapanya antusias.


Melihat Chuan Yun datang, para bangsawan itu jadi teringat soal kesaksian aneh Fu Jia tadi pagi mengenai kakak ketiganya.


"Kakak. Memangnya yang dikatakan Kak Fu Jia benar? Masa Kakak mencium pelayan?"


"Yaah kamu itu. Sudah jelas itu hanya karangannya agar dia tidak ketahuan menculik orangnya ibu suri," Ci Sen menepuk bahu saudaranya agar ia diam.


"Mood kakak sedang buruk," imbuh Ci Sen.


"Kau lihat? Wajahnya kusut sekali," Ci Sen menaikkan satu alisnya.


"Kau benar. Ahahaha tidak tidak Kak maafkan aku. Tentu saja itu rumor orang bodoh," Sha Tian atau pangeran ke sepuluh segera menutup mulutnya.


Chuan Yun tidak menghiraukannya sama sekali. Ia duduk perlahan di tempatnya yang seharusnya di kelas itu, lalu melanjutkan acara baca bukunya.


"Setiap datang langsung membaca buku. Kenapa tidak mengobrol dulu dengan kami,"


"Sudahlah, jangan mengganggunya. Hampir setiap hari dia seperti itu," lagi-lagi Ci Sen membela kakak ketiganya.


"Eh, hari ini pertama kalinya dalam hidup. Tidak ada Kak Fu Jia dan Kak He Xian di kelas. Nanti kita rayakan dengan minum-minum ya?"


"Ah boleh saja, boleh," Ci Sen mengangguk-angguk. Adik terkecilnya yang bernama Sha Tian itu memang masih berjiwa muda dan agak merepotkan, jadi dia harus sedikit ekstra memakai tenaganya entah menemaninya bermain layangan atau apa saja.

__ADS_1


"Kak, nanti ikut kami minum sedikit ya?" Ci Sen segera menghampiri Chuan Yun dan menyenggol lengannya.


"Terserah."


"Wah jadi boleh ya?" Ci Sen agak tak percaya.


"Asik! Nanti Kak Chuan Yun ikut!" Sha Tian langsung menyerocos saja.


Chuan Yun mengangguk. Toh jika ia pulang lebih awal, dia tetap tidak bisa melihat Bao Bao.


"Zu Kang, perpustakaanku kurang lengkap. Kudengar kamu sangat suka dengan pedang. Bisa pinjamkan beberapa buku tentang pedang dan mitos kunonya?" Tiba-tiba Chuan Yun membuka bibir besinya hingga Zu Kang atau pangeran ke tujuh yang diajak bicara itu merasa sangat terhormat dan terkaget melihat dirinya diajak bicara oleh Chuan Yun.


"Bagaimana bisa. Barusan dia mengajakku bicara!" Zu Kang menuding Chuan Yun sambil berdiri dengan kaki gemetar.


"Aku takut sekali," katanya dengan tarikan ingus dan mata berkaca karena terharu.


Chuan Yun menggeleng melihat itu.


Sementara saudara-saudaranya yang lain juga menjadi sama terkejutnya. "Ah apakah ini karena Kak Fu Jia dan Kak He Xian yang kurang etika padanya itu tidak ada disini?" Gua Sha atau pangeran ke empat itu tertawa.


"Ah benar ya ... mungkin saja," semuanya satu pemikiran dengan pangeran ke empat.


"Ah te te te tentu! Pasti!"


"Tapi ... ada syaratnya. Kau harus memberinya syarat Zu Kang!" Gua Sha menggodai Chuan Yun.


"Ah e e apa syarat apa?" Zu Kang masih tergagap gugup seakan baru diajak bicara gebetannya.


Jangan pulang cepat selama seminggu ini saja dan bermain dengan kami, bagaimana?" Gua Sha melihat ke sekitar, mengelilingkan pandangnya sambil menaik turunkan alisnya untuk meminta pendapat yang lainnya.


"Ya ya benar! Kak Gua Sha memang paling bisa memanfaatkan keadaan hahaha!" Semuanya ikut setuju.


"Eh, bukan hanya Zu Kang yang akan mengumpulka koleksi buku pedangnya kepadamu. Kita juga akan. Bagaimana?" Gua Sha kembali bertanya pada Chuan Yun.


"Ahaha kakak ke empat memang sangat pandai bernegosiasi sejak dulu," Wang Fu atau pangeran ke enam langsung menimpali.


"Memang. Dia lebih berbakat menjadi menteri perdagangan dari pada jadi pangeran yang harus duduk manis begitu," Ci Sen yang ramah segera mengambil bagian dari percakapan seru ini.

__ADS_1


"Kalau masalah duduk manis dan memerintah pelayan itu Kak Fu Jia, pfffft ...!" Ke Wen menutup mulutnya menahan tawa.


"Hahahaha!!"


"Kalau ahli strategi perang, pastinya Kak Chuan Yun! Dia selalu menang di papan catur!" heboh pangeran ke enam.


"Benar benar, kalau saja sistim kerajaan ini tidak membagi kita ke banyak wilayah dan menjadi raja. Pasti kita bisa bersatu dengan kuat sesuai skill masing-masing, iya kan?" cetus Wang Fu lagi.


Semuanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju.


"Kecuali pemerintah yang bossy itu, Kak Fu Jia. Aku tidak tahu negara ini akan jadi apa di tangannya," Sha Tian dengan polosnya mencurahkan isi pikirannya.


Semuanya kembali tertawa.


Tiba-tiba Chuan Yun yang tengah duduk serius dengan buku di tangannya sejak tadi itu tersenyum tanpa sengaja. Rupanya ia bisa merasakan kehangatan persaudaraan di tempat itu untuk pertama kalinya.


"Eh kalian lihat kan?" Sha Tian dengan mata lebar hingga nyaris mencuat itu segera menginterogasi kakak-kakaknya.


"Ka- kalian lihat Kak Chuan Yun tersenyum barusan kan?" ulangnya.


"Hooo hoo benar, benar. Itu sangat langka!"


Satu ruangan menjadi heboh dan lebih hangat dari hari-hari biasanya setelah kedua biang kerok itu pergi. Mereka dapat dengan leluasa bercengkrama seperti masa kecilnya.


"Hiks, hari ini aku tahu. Aku salah," tiba-tiba Gua Sha menangis, sementara Ci Sen menepuk-nepuk punggungnya.


"Kakak tidak salah ... ada apa?" Ci Sen memelas.


Suasana menjadi hening.


"Hari ini aku tahu kalau perdamaian itu sangat melegakan. La- lalu. Aku ingin meminta maaf kepada Kak Chuan Yun jika aku pernah merudungnya ketika kita masih kecil,"


Satu ruangan jadi terbawa suasana. Mereka ikut menyesalinya.


"Ya habisnya dia sangat pendiam dan menarik diri. Bagaimana aku mau suka dengannya?" Wang Fu ikut mengaku dan terisak.


"Melihatnya tersenyum tadi, aku sadar dia adalah saudara kita yang normal. Hanya saja harga dirinya tinggi," Ke Wen ikut-ikutan.

__ADS_1


Chuan Yun benar-benar tak bisa menahan senyumnya kali ini. Entah ada apa dengan hari ini sehingga semuanya menghibur disaat yang tepat. Disaat ia kehilangan Bao Bao untuk sementara waktu karena Bao Bao harus diakukan sebagai pelayan atau orang ibunya.


"Ei aku kira tadi ada apa. Ruang kelas ini tiba-tiba menjadi sangat ramai. Ayo semuanya segera kembali ke tempatnya," Guru San datang dan memecah keramaian.


__ADS_2