My Possessive Cat Girl

My Possessive Cat Girl
Bau-bau Pemberontakan Besar


__ADS_3

"Huang Lian!" Duan Wei berteriak cemas ketika melihat temannya kembali dengan darah di sudut bibirnya.


"Sudah kukatakan tanaman obat tadi pasti berbahaya. Apa kau baik-baik saja?? Kita harus minta Yang Mulia menyelidiki tabib jadi-jadian tadi," Duan Wei hendak beranjak dari tempatnya tapi Ting Er segera menahannya.


"Duan Wei kau salah paham. Aku hanya mengunyah pil obat berwarna merah ini," Ting Er menunjuk cepuk obat di tangan Tabib Qing.


"Apa?!" kaget Shi Wai, Ai Xin, dan Duan Wei secara bersamaan.


"Tapi kenapa?" tanya Ai Xin.


"Sudah kubilang aku tidak menyukainya. Aku bahkan tidak berniat masuk ke harem. Jika aku bisa aku sudah memakan racun sendiri," Ting Er sangat percaya kepada teman kamarnya ini hingga membuka rahasianya.


"Kalaupun Kaisar marah, aku siap dibunuh dari pada ditiduri," lanjut Ting Er.


Mereka bertiga menggeleng tak percaya sementara Tabib Qing tak bisa ikut bicara.


"Saya pergi dulu. Bawa saja ini kalau Nona butuh," Tabib Qing menyerahkan cepuk obat merahnya kepada Ting Er.


**_**


"Saya sudah menemukan pemilik kain sulaman itu Yang Mulia Putri," Tabib jadi-jadian tadi kini sudah berganti pakaian ala prajurit lagi dan berlutut menghadap Jing Er.


"Siapa namanya?" tanya Jing Er.


"Nona Huang Lian. Gadis calon selir Kaisar Hu Pei," kata prajurit itu.


"Jadi bukan pelayan?" sela Si Mu.


"Itu tidak mungkin Ting Er," kata Si Mu.


"Dia pasti Ting Er!" Chuan Yun tetap bersikeras.


"Aku ingin tahu seperti apa wajahnya," lanjut Chuan Yun.


"Gadis itu bermata bulat dan berkulit kuning pucat yang rata. Lalu wajahnya juga pucat karena sedang alergi," jelas prajurit itu sambil mengingat-ingat hasil amatanmya tadi.


"Iya dia pasti Ting Er! Kulitnya memang kuning gandum mirip pucat seluruh tubuh. Matanya juga bulat," Chuan Yun langsung melebarkan matanya sambil menuding prajurit itu.


Si Mu menggeleng, "Tidak. Mana mungkin. Kulit pucat bisa dimiliki siapa saja di sana karena keketatan seleksinya. Tuan, mana mungkin dia menjadi calon selir?"


"Itu benar."

__ADS_1


Fokus mereka semua teralihkan ketika dengan Tiba-tiba Tabib Qing datang dan menyela.


"Mohon maaf atas kelancangan saya," Tabib Qing duduk berlutut di depan Chuan Yun dengan rasa bersalah yang dalam.


"Saya baru sadar ketika melihat tabib mata-mata dari Yang Mulia Putri ternyata tidak melukai Nona Ting Er. Saya mengerti ternyata Tuan Putri tidak bermasud buruk, tetapi malah ingin mempertemukan Nona Ting Er kembali dengan Pangeran Ketiga. Saya-"


"Sriiing---!"


Prajurit yang jadi mata-mata tadi langsung salah paham mengira tabib asing itu akan ikut campur dalam permasalahan rahasia mereka.


Tabib Qing menutup mulutnya sambil mendelik takut dengan ujung pedang yang ada di depan lehernya.


"Turunkan pedangmu!!" marah Chuan Yun.


Jing Ru ikut merudung prajuritnya sendiri dengan lirikan tak senang.


Prajurit itu langsung menunduk meminta maaf dan mengembalikan pedangnya ke dalam sarungnya.


"Saya melihat Nona Ting Er benar-benar ada di sana. Kaisar sepertinya menjatuhinya hukuman mati tapi diam-diam membawanya untuk masuk seleksi harem karena menyukainya."


Chuan Yun yang tak percaya itu antara marah dan senang mengetahui gadis yang ia cintai itu masih hidup. Tetapi ia mengepalkan tangannya karena merasa marah terhadap perbuatan tak pantas ayahnya kepadanya.


"Dia ingin mengambil Ting Er dariku karena dia menyukainya!" geram Chuan Yun.


"Hari ini kaisar memanggilnya ke kamar. Tapi Nona Ting Er menolak sampai sengaja memakan udang dan memperparah alerginya-" belum sempat ia melanjutkan ceritanya Chuan Yun sudah naik pitam.


"Apa?!"


"Ta- tapi saya segera membantunya karena Nona meminta tolong. Dia berpura-pura pingsan dan berhasil membuat kaisar menyerahkannya kepada saya," lanjut Tabib Qing dengan cepat untuk menenangkan Pangeran Ketiga.


"Yang Mulia, setidaknya Nona Ting Er masih hidup. Mari kita pikirkan cara. Tapi jangan terburu-buru marah," Si Mu berusaha menenangkan majikan dengan tempramen buruk itu.


"Dia pasti sangat ketakutan di sana Si Mu. Belum lagi gadis-gadis harem itu pasti banyak yang licik. Jika hari ini Tabib Qing tidak membantunya, ayah pasti menidurinya!" marah Chuan Yun hingga air matanya menetes deras.


Jing Ru ikut menangis memahami perasaan anak yang dikhianati ayahnya sendiri itu.


"Aku harus menjemputnya sekarang," putus Chuan Yun dengan gegabahnya karena takut Ting Er tersiksa di sana.


"Tuan!" cegah Si Mu.


"Tidak Tuan! Apa Tuan juga ingin Kaisar membunuh Tuan bersama dengan gadis itu?" Si Mu menggeleng tak mengijinkan begitu juga Jing Er.

__ADS_1


"Kamu benar," Chuan Yun melepaskan tangan Si Mu dari sikutnya sambil berfikir.


"Jika kalian memahami situasiku. Kalian pasti tahu rasa marahku saat ini saat mengetahui ayahku berani mengambil kekasihku bahkan mau menidurinya," jelas Chuan Yun dengan sungguh-sungguh di depan semua orang yang ada di kediamannya itu.


Jing Ru mengangguk membenarkan.


"Dia kira dia seberkuasa itu dan bisa melakukan apa saja kepadaku?" Chuan Yun tertawa karena tekanan.


"Tidak. Ayah salah. Ayah sudah salah memperlakukan anak jenius seperti yang ia sebutkan itu sendiri selama ini," katanya.


"Apa yang akan kau lakukan Yang Mulia?" tanya Jing Ru.


Chuan Yun berjalan cepat meninggalkan mereka ke arah perpustakaan entah unruk melakukan apa.


"Apa dia sudah benar-benar sembuh?" cemas Jing Ru sambil menatap sekelilingnya.


"Jangan khawatir Nona Muda. Sejak kemarin Tuan Muda meminum obatnya dan makan dengan baik," kata Si Mu.


"Bagus kalau begitu," Jing Ru mengangguk.


"Sepertinya dia akan melakukan sesuatu yang besar. Tapi aku juga masih heran dengan kelakuan Kaisar Hu Pei," Jing Ru mendecakkan lidahnya.


"Apapun yang dia rencanakan. Aku akan mendukungnya," tekad Jing Ru.


Si Mu sudah bisa mencium bau-bau pemberontakan besar yang akan terjadi di dinastinya ini. Ia meneguk ludahnya dengan kasar sambil mengingat bagaimana selama ini majikannya itu memainkan catur dan menulis strategi perang ketika luang sejak ia kecil.


Benar saja. Setelah beberapa menit mencari buku rahasianya sendiri di tumpukan buku penting perpustakaan, Chuan Yun keluar dari sana.


"Apa itu Yang Mulia?" tanya Jing Ru dengan penasaran.


"Aku mempelajari pertahanan kerajaan ini selama bertahun-tahun. Awalnya untuk tugas sekolah. Tapi sebenarnya aku sudah mengembangkan dan mencari kelemahannya," kata Chuan Yun dengan percaya diri.


Jing Ru membuka lembar demi lembarnya hingga mulutnya ternganga takjub.


"Memang benar rumor itu. Calon suamiku bukan makhluk bumi. Sangat jenius ..." puji Jing Ru.


Chuan Yun memelototinya ketika Jing Ru menyebutnya sebagai suami. Jing Ru segera terkekeh garing sambil menggeleng tanda tidak jadi.


"Aku hanya bercanda. Aku hanya mencintai Gui Hui Shan! Sumpah!" kata Jing Ru dengan serius kali ini.


Chuan Yun pun tak menghiraukannya dan kembali berfokus pada buku catatan tebalnya.

__ADS_1


"Yah, Kaisar Hui Hu Pei memang sangat salah kalau bermain dengan temanku ini," kata Jing Ru dengan sangat bangga.


__ADS_2