My Possessive Cat Girl

My Possessive Cat Girl
Kerjasama Putri Hwang dengan Pangeran Yun


__ADS_3

"Siapa kamu ..." lirih Chuan Yun.


"Tuan Muda ... kenalkan. Dia adalah Putri Hwang Jing Ru dari kerajaan seberang," sela Si Mu.


"Dan ini adalah Tabib Ahli Racun Zheng Yi Jian," Jing Ru melanjutkan.


"Putri Hwang?" lirih Chuan Yun.


"Aku tidak perduli membuat Ting Er khawatir. Sekarang cepat panggil dia kemari. Aku benar-benar tidak bisa tidak berpamitan dengannya," Chuan Yun masih terlihat kesakitan.


"Jangan banyak bergerak ..." Jing Ru menahan jari-jemari Chuan Yun.


"Berpamitan?" tanya Si Mu.


"Aku kira aku sudah mati sebelumnya. Jadi tolong biarkan aku bertemu dengannya sekali lagi Si Mu," pinta Chuan Yun sungguh-sungguh.


"Tapi kau akan baik-baik saja Yang Mulia Pangeran. Tenanglah. Apa Ting Er itu saudara perempuanmu?" tanya Jing Ru dengan lembut sambil memasang wajah perhatian.


"Dia adalah kekasihku. Jangan menyentuhku," dengan dinginnya Chuan Yun menarik tangannya dari genggaman Jing Ru.


Si Mu kebingungan harus menjawab apa. Dia kehabisan akal untuk membodohi Chuan Yun lagi.


"Tunggu apa! Cepat panggil dia!" marah Chuan Yun setengah berteriak hingga ia merasa kesakitan lagi.


Si Mu berpura-pura melaksanakannya. Ia berlari keluar dari ruangan itu.


"Rupanya Pangeran juga sudah punya kekasih," Jing Ru tersenyum.


Chuan Yun menatap asing wajah Jing Ru. Ia benar-benar tak terbiasa bergaul dengan gadis selain kucing dan gadis kucingnya.


"Sebenarnya Yang Mulia Kaisar Hui Hu Pei juga sudah memberi tahu saya. Sehingga dari kedua belah pihak kaisar sudah memerintahkan saya untuk melaksanakan pernikahannya satu menit setelah Yang Mulia Pangeran Ketiga sadar," jelas biksu itu takut-takut.


"Dan aku harus setuju. Atau dia akan membunuh kekasihku yang ada di penjara," imbuh Jing Ru sambil menatap mata Chuan Yun meminta pertolongan.


Chuan Yun menggeleng tak setuju. Ia tak habis pikir dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Kenapa tidak dua kaisar itu saja yang menikah?" protesnya.


Jing Ru tak bisa menahan tawanya, "Pangeran ternyata sangat bisa membuat kami tertawa ya. Awalnya aku juga berfikir begitu."

__ADS_1


"Segera setelah racun itu di keluarkan oleh paman Yi Jian, Yang Mulia Pangeran sebenarnya sudah sembuh. Hanya sedikit pembersihan lagi selama dua minggu," Jing Ru tersenyum memberi harapan hidup.


"Pamanku ini sangat hebat. Ah iya bagaimana kalau kita laksanakan saja dulu pernikahan ini?" Jing Ru menyentuh kembali telapak tangan Chuan Yun lalu duduk manis di sampingnya sambil menghadap biksunya.


"Apa?" marah Chuan Yun.


"Pangeran Ketiga, tolonglah aku. Aku tidak sanggup melihat kekasihku itu mati. Kalau sudah menikah nanti, aku janji tidak akan masuk ke kamarmu," bisik Jing Ru.


"Nanti mari kita pikirkan kebahagiaan bersama-sama. Setelah kau jadi kaisar, tolong bantu aku melepaskan pacarku dari penjara lalu ceraikan aku," bisiknya lagi.


"Itu mana mungkin. Bisa terjadi perang karena aku menceraikanmu," kata Chuan Yun.


Tabib Fang Leng dan ahli racun itu sampai heran mendengar ucapan Chuan Yun.


"Tidak akan. Bilang saja aku kabur dari istana. Karena aku akan benar-benar kabur bersamanya setelah situasinya aman. Lalu kau bisa menikahi gadis yang kau sukai itu, bagaimana?" tawar Jing Ru.


Chuan Yun tampak memikirkan usulan itu.


"Jika kau memberontak sekarang disaat sakit, yang ada malah keadaan semakin parah. Aku benar kan?" bujuk Jing Ru lagi.


"Aku kira jika Kaisar Hui mengetahui kamu punya kekasih, ia akan bereaksi sama dengan ayahku. Dia akan mengancam akan membunuhnya," Jing Ru belum putus asa.


"Kenapa Si Mu sangat lama? Aku juga harus membicarakan ini dengan Ting Er agar dia tidak merasa kukhianati," Chuan Yun menatap tabib Fang Leng meminta tolong.


"Ah ha- hamba akan membantunya memanggil Nona Ting Er," Tabib Fang Leng juga segera kabur dari sana.


"Ei kita bisa memberitahunya setelah ritual ini kan? Lewat semenit setelah kau sadar begini biksu harus segera mengirimkan surat merpati ke ayah sebagai bukti pernikahan atau dia akan membunuh kekasihku," melas Jing Ru.


Ia tak memberi kesempatan Chuan Yun untuk berbicara, Jing Ru langsung bersujud di depan Chuan Yun dengan air mata.


Chuan Yun tampak tak tega melihat itu karena ia tahu bagaimana perasaan Jing Ru saat ini. Sama seperti perasaan takut kehilangannya terhadap Ting Er.


"Aku mengerti, aku mengerti. Bangunlah!" kata Chuan Yun.


Jing Ru langsung mengusap air matanya dan tersenyum senang. Ia segera duduk di samping Chuan Yun sambil memegang tangannya dan memberi kode kepada biksunya.


"Setelah ini cepat tulis surat agar ayah membebaskan Guo Hui Shan dari hukuman mati," perintah Jing Ru.


"I-iya Yang Mulia Putri," Sang Biksu mengangguk cepat lalu segera mengeluarkan kalung rangkaian bunganya dan kelengkapan lain untuk menikahkan keduanya.

__ADS_1


**_**


"Mereka benar-benar sudah menikah hari ini," ucap gadis yang ada di kamar sebelah.


"Aw!" Lagi-lagi Ting Er menusuk jarinya dengan jarum.


"Bodohnya aku," geramnya pada diri sendiri sambil menekan-nekan jari telunjuknya yang berdarah.


"Itu artinya Chuan Yun sudah bangun dan sehat," Ting Er tersenyum dan mengangguk lalu melanjutkan sulamannya di bagian ekor kucing.


"Yang Mulia Kaisar begitu senang. Tapi dia sengaja tidak datang menjenguk anaknya sampai sekarang. Dia takut Pangeran Ketiga menolak pernikahan itu lagi," lanjut gadis kamar tetangga.


"Ahk!" Ting Er kembali berbuat ceroboh dan melukai jarinya lagi karena tidak fokus.


Darahnya sampai menetes mengotori sulaman kucing jingganya tepat di dekat telinga kucing itu. Tapi kesannya malah indah. Seakan kucing itu menyelipkan bunga mawar di daun telinganya.


"Untungnya sudah jadi," kata Ting Er seraya menggunting sisa benangnya.


"Apa? Sudah jadi?!" Tiba-tiba Shi Wai masuk ke kamar karena ingin mengambil minum.


"Iya," kekeh Ting Er.


"Padahal masih diberi waktu sehari lagi. Kamu hebat!" puji Shi Wai.


Ting Er meletakkan hasilnya itu di kamarnya, lalu berdiri dari kasurnya. "Apa istana harem ini luas? Apa kita boleh jalan-jalan ke luar?" tanya Ting Er.


"Iya iya boleh," jawab Shi Wai dengan segera.


"Mau kutemani?" tawar Shi Wai.


Ting Er menatap kain sulaman Shi Wai yang masih setengah jadi lalu menggeleng tidak setuju, "Kamu lanjutkan saja itu Shi Wai."


"Aku bisa sendiri," Ting Er tersenyum.


"Ah baiklah. Hati-hati ya!"


"Ah ya, apakah permaisuri juga datang ke harem biasanya?" tanya Ting Er yang tak jadi pergi.


"Dia hanya datang saat pengesahan selir saja. Kenapa?" tanya Shi Wai.

__ADS_1


"Ah ya sudah kalau begitu," Ting Er langsung pergi begitu saja dari sana.


__ADS_2