
Chuan Yun menunduk sambil menyentuh kepalanya sendiri. Ia kembali melihat kuburan kucing kesayangannya itu.
"Penjaga!" panggilnya lagi pada yang lain.
"Ya Yang Mulia!" Mereka langsung dengan sigap berkumpul di sekitar Chuan Yun.
"Sudah berapa hari sejak Bao Bao meninggal?"
"Satu minggu kurang Yang Mulia," jawab salah satunya.
"Coba bongkar ini," Chuan Yun menunjuk ke arah timbunan tanah itu.
Penjaga-penjaga itu sempat menoleh saling bertatapan dengan temannya karena bingung, lalu mau tidak mau mereka mengangguk tegas dan segera menggali timbunannya dengan tombak di tangannya.
"Berhenti! Gunakan tangan kalian!" marah Chuan Yun. Ia pikir, tubuh kucing itu bisa koyak karena tombak mereka.
"Ah maafkan kami Yang Mulia!" Mereka dengan serempak membuang tombaknya ke tanah, lalu berlutut ke tanah untuk menggali kuburan itu bersama-sama temannya.
"Tuan ... baunya sudah busuk. Akan diapakan bangkai kucing ini?" tanya mereka sambil berusaha menahan nafas karena baunya.
Chuan Yun juga membuang mukanya karena baunya itu. Sebelum ia mengeluarkan pedangnya untuk melukai jarinya sendiri, Ting Er sudah berlarian datang ke arahnya untuk menghentikannya.
"Majikan! Majikan!" panggilnya dari sana.
Chuan Yun membalik tubuhnya memperlihatkan air mata di pipinya.
"Majikan jangan lakukan itu," Ting Er menggeleng keras sambil menunjukkan buku yang awalnya Chuan Yun baca itu.
"Kau membacanya?" tanya Chuan Yun.
Ting Er mengangguk membenarkan. "Seharusnya lain kali baca ini sampai habis," kata Ting Er.
"Jangan sembrono meneteskan darahmu kesana dan membangkitkan iblis. Menurut kepercayaanku, orang yang meninggal itu jiwanya akan langsung berada di dunia orang mati dan terpisah dari dimensi kehidupan. Jika dia sampai bangun pun, dia adalah iblis," kata Ting Er.
"Kamu harus membaca lanjutannya," Ting Er menyerahkan buku itu.
"Siluman yang bangun itu memang mendapat cinta Kaisar. Tetapi dia terus membunuh orang-orang di sekitar kaisar karena harus bertahan dengan darah. Beberapa abad lalu terjadi banyak kehancuran di kerajaan ini karena gadis itu. Pada akhirnya kaisar sendirilah yang membunuhnya. Karena dia yang meneteskan darahnya disana, dia pula yang bisa membunuh gadis itu," cerita Ting Er sambil menunjukkan beberapa catatan sejarah itu.
__ADS_1
Chuan Yun terduduk nyaris menangis. Ia benar-benar tidak tahu itu.
"Majikan. Aku memang bukan Bao Bao. Dan aku sudah mengatakannya berulang padamu hari itu. Tapi ... hiks. Tapi aku benar-benar menyukaimu," Ting Er berlutut di tanah untuk menyamai Chuan Yun lalu memeluk pemuda itu dengan sesenggukan.
Penjaga di sekitar sana sampai menggeleng ikut menangis haru.
Chuan Yun belum membalas pelukan itu sampai saat ini. Ia masih tertegun di sana sambil memandangi jasad asli Bao Bao.
"Jika saja ... jika saja gadis jahat bernama Zi Lin itu tidak membunuhnya. Kucing itu masih disini. Kucing itu masih mengeong di depanku seperti biasanya," ucapnya dengan suara bergetar.
"Dia sudah tenang di alamnya. Kamu jangan gegabah dan berurusan dengan roh terkutuk seperti itu," Ting Er mengelus-elus punggung Chuan Yun dengan akrab seperti biasanya
"Buang saja pedang itu hm? Itu pasti sangat berbahaya kan?" Ting Er melepaskan pelukannya, lalu menunjuk ke arah pedang yang ada di tangan Chuan Yun.
"Penjaga. Timbun pedang ini di sebelah tanah kuburan Bao Bao," perintah Chuan Yun.
Entah bagaimana ia menjadi sepenurut itu dengan Ting Er. Sebenarnya dia bukan orang jahat, ia juga suka kedamaian dan tidak ingin berbuat aneh-aneh apa lagi berurusan dengan iblis.
"Majikan, sudah jangan menangis," Ting Er berusaha mengusap air mata Chuan Yun.
Tetapi tiba-tiba Chuan Yun menepis tangannya dan tak ingin menatap matanya lagi.
"Aku bukan majikanmu," jawabnya sengan nada dingin.
"Aku tidak kenal kamu," imbuhnya sambil berjalan kembali ke pintu rumahnya tanpa berbalik lagi.
Ting Er menggeleng tak percaya. Ia tidak tahu kalau hari ini akan berakhir seburuk ini.
"Tidak ... Chuan Yun!" panggil Ting Er dengan tangisnya.
Ia terduduk perlahan ke tanah sambil memeluk lututnya sendiri. Matanya menatap ke danau.
Apa tamasya ke luar galaksinya sudah berakhir? batin Ting Er.
"Hei ... hei ... Nona. Jangan lihat ke danau. Anda tidak perlu menangis begitu," Salah satu penjaga yang saat ini sedang menimbun ulang jasad Bao Bao itu menegur.
Ting Er mendongak menatap penjaga yang mengajaknya bicara itu.
__ADS_1
"Jangan melihat ke danau. Apa hari itu Nona juga mencoba bunuh diri dengan terjun ke danau? Tetapi Yang Mulia malah menolong Anda," tanya Penjaga itu.
Ting Er menggeleng.
"Ngaku saja Nona. Tidak masalah. Tetapi di dunia ini jangan sedikit-sedikit ingin bunuh diri," tuturnya.
"Tuan Muda sendiri sebenarnya juga pernah berfikiran seperti itu sambil menatap ke danau saat ia masih kecil."
"Benarkah?" Ting Er menjadi sedikit tertarik.
"Ya. Nona sendiri tahu bagaimana dia tidak punya teman dan sering dirudung dengan saudara-saudaranya dulu. Hanya kucing itu yang mau mengajaknya bicara," kata Penjaga itu lagi sambil menunjuk ke arah jasad Bao Bao yang sudah mirip dengan tanah berbau busuk itu.
Ting Er menatap jasad kucing itu dengan tatapan sendu seakan tersentuh dengan ini.
"Aku sangat memahaminya," kata Ting Er.
"Baru kali ini pun saya bisa melihat Tuan Muda berbicara dengan nyaman dan ceria kepada manusia layaknya bicara pada kucing ini. Yaitu kepada Nona akhir-akhir ini," Penjaga berusia paruh baya itu menggeleng sambil tersenyum.
"Sudahlah Kak Fu. Mau bagaimanapun Nona ini bukanlah Bao Bao. Sekarang bagaimana pangeran akan melanjutkan hidup?" celetuk temannya.
Ting Er menghela nafas mendengar komentar penjaga yang satu lagi itu. Kemudian ia berusaha berdiri, "Aku akan mencoba membuatnya bersemangat lagi."
"Nah begitu. Jangan patah semangat Nona. Hanya Nona satu-satunya orang yang berhasil membuatnya bicara lagi meski Nona bukanlah Bao Bao. Nona jangan menyerah!" Penjaga paruh baya itu menyemangati.
Ting Er tersenyum lalu mengangguk. "Aku akan melakukannya semampuku," pamitnya yang langsung melesat pergi masuk ke kediaman Chuan Yun.
Begitu Ting Er melangkah masuk, Nenek Hwa langsung menyambutnya dengan ekspresi khawatir.
"Nona, sebenarnya ada apa di depan sana tadi? Tuan Muda masuk ke kamarnya dengan wajah datar tanpa harapan begitu," lapor Nenek Hwa.
Ting Er menatap pintu kamar Chuan Yun setelah mendengar laporan itu.
"Nenek. Dia sudah tahu kalau aku bukanlah Bao Bao," jawab singkat Ting Er. Ia langsung berjalan cepat ke arah pintu itu tanpa menghiraukan Nenek Hwa yang semakin bingung dengan jawabannya.
"Majikan ...!" panggil Ting Er pelan.
"Tok tok tok ...!" Ia mengetuknya dengan agak keras.
__ADS_1
"Pergi! Kamu bukan Bao Bao!! Aku bukan majikanmu! Cepat pergi atau aku yang akan menyeretmu keluar!" marahnya.