
"Mei Quan!" tegur Jing Ru pada pelayannya sendiri.
Mei Quan langsung menunduk tak berani.
"Aku sudah membantunya. Kekasihnya yang dipenjara itu pasti sudah dilepaskan sekarang. Tapi, apa kau bisa membangkitkan orang mati untuk membalas jasaku?" Chuan Yun menarik kerah Jing Ru hingga jarak antara wajah Jing Ru dan wajahnya sendiri menjadi sangat dekat.
Jing Ru memahami maksud ucapan Chuan Yun. Ia menggeleng tak sanggup membalas jasa itu.
"Karena itu biarkan aku menyusulnya dan hidup bersamanya Jing Ru," lanjut Chuan Yun.
Jing Ru segera menggeleng dengan keras. Ia tidak membiarkan Chuan Yun mencari senjata tajam dan menahan kedua tangannya dengan tenaga wanita.
"Jangan ... jangan Yang Mulia," tangisnya memohon.
Mendengar tangis itu Chuan Yun menghentikan gerakannya. Lagi pula ia terlalu lemah untuk menangkis tangan gadis itu sekarang.
"Aku tidak akan membiarkan temanku melukai tubuhnya sendiri. Jadi jangan ... jangan ..." pinta Jing Ru.
Jing Ru segera sadar saat tiba-tiba wajah Chuan Yun memucat dan ia tak lagi melawan.
"Yang Mulia, minum obatmu ... kumohon," Jing Ru menunjukkan obat di tangannya.
Melihat itu, Chuan Yun berpura-pura menerimanya. Tapi kemudian ia membuang cairan obat itu ke lantai dengan sengaja hingga Jing Ru membelalakkan matanya tak habis pikir.
Chuan Yun menahan luka dalamnya sambil meringkuk dan memejamkan matanya.
"Yang Mulia ..." Jing Ru menggeleng.
"Siapapun. Pastikan sekali lagi. Apa benar gadis itu sudah mati?" Jing Ru berusaha menolong karena kasihan.
Tetapi pelayan di sekitarnya menggeleng tanpa harapan seakan gadis yang dimaksud itu memang sudah dihukum mati.
Pelayan yang tadi disuruh membuatkan bubur itu datang dengan nampan makanan di tangannya. Begitu juga Si Mu yang datang dengan beberapa jarum perak di tangannya dan sudah memastikan keamanan bubur itu.
"Tuan Muda, makanlah," kata Si Mu.
Tetapi Chuan Yun tak bereaksi sama sekali.
"Dia tidak akan mau. Obatnya saja ditumpahkan begitu ke lantai," lapor Jing Ru.
Si Mu menggeleng. "Tuan Muda. Jangan begini ..."
"Makanlah sedikit saja," pinta Si Mu.
"Itu percuma. Atau buburnya juga akan dia buang nanti," Jing Ru menghela nafas.
__ADS_1
**_**
"Apa? Mao Mu membuat kain sulamanmu tersangkut di bendera?" Shi Wai dengan tam terima mengeraskan suaranya.
"Ah itu sebabnya Huang Lian tidak mau makan tadi malam. Kenapa tidak bilang pada kami dan malah menangis saja di kamar?" tanya Ai Xin.
"Ayo kemari. Dimana tempatnya? Biar aku ambilkan," inisiatif Duan Wei.
Ting Er mengusap air matanya lagi. Lalu memberitahukan dimana kainnya itu tersangkut.
"Ya ampun. Ini sih tinggi sekali. Mao Mu sendiri bagaimana bisa memanjat ke sana?" tanya Duan Wei.
"Dia melemparnya," kata Ting Er.
"Ah kita minta tolong penjaga pintu saja. Mereka kan bawa tombak. Pasti bisa," yakin Duan Wei.
"Apa mereka bisa dimintai tolong?" heran Ting Er.
"Tenang saja. Mereka takut padaku," kata Duan Wei dengan percaya diri lalu berjalan mendekati penjaga pintu yang berada agak jauh dari sana.
"Permisi, bisa kau bantu aku sebentar saja?" Duan Wei memelas minta tolong.
"Ada kain sulaman temanku yang menyangkut di atas sana. Kami tidak sampai," jelas Duan Wei.
"Oh baiklah. Yang mana?" tanyanya sambil mengikuti tuntunan Duan Wei menuju ke taman belakang.
Penjaga pintu yang tinggi gagah itu langsung menggunakan tombaknya untuk mengambil kain itu.
"Ya ampun pakai tombak saja masih kesusahan menggapainya. Tinggal setengah sentimeter saja!" keluh Duan Wei. Sementara Ting Er hanya melihatnya dengan cemas.
Penjaga itu langsung berjinjit dan mengayunkan ujung tombaknya itu.
"Yah kena! Ayo sedikit lagi!" Duan Wei menyangati.
Tapi tepat saat kain itu berhasil dilepaskan dari sangkutannya, angin kencang datang dengan keras mengibarkan bendera dinasti itu. Lembaran kain bendera itu pun mengibaskan kain sulaman Ting Er yang ringan hingga ia ikut terbang bersama angin entah kemana.
"Eh eh eeh ..." Duan Wei menyayangkan kepergian kain ringan itu.
Sementara Ting Er semakin terpuruk.
"Heei kembali! Ya ampun ada apa dengan anginnya," kesal Duan Wei.
"Ahaha terimakasih Penjaga. Maafkan kami yang sudah merepotkanmu," Duan Wei hampir saja melupakan penjaga yang masih berdiri dengan wajah datar di depannya itu.
"Jangan khawatir Ting Er. Aku akan memintakan kain dan benang baru dari Guru Shin untukmu. Kita kerjakan bersama yah? Jangan menangis," hibur Duan Wei.
__ADS_1
Ting Er menghela nafas. Kenapa sial sekali ... batinnya.
"Ya sudah. Maaf ya Duan Wei. Kamu jadi khawatir," kata Ting Er yang tak enakan.
Duan Wei menggeleng tak mempermasalahkan sambil tersenyum baik.
Di sepanjang perjalanan kembali ke gedung istana harem, Ting Er terus menutup mulutnya tak membuka pembicaraan. Ia terus terlamun.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Duan Wei yang mulai mengkhawatirkannya.
"Duan Wei."
"Hm?"
"Menurutmu di malam pernikahannya ini Pangeran Ketiga sedang apa dengan Putri Hwang?"
Duan Wei tampak berfikir, "Dia pasti masih lemah karena baru sembuh dari racun ganas. Kukira dia hanya akan tidur."
"Ah benar juga ya," Ting Er terkekeh pelan.
Duan Wei ikut tersenyum senang melihat senyum Ting Er kembali mengembang karena jawabannya.
"Sudah. Lebih baik bayangkan, kapan kaisar mengangkat kita jadi selir sah. Setelah itu kita harus menjadi teman di istana dan bertahan hidup sampai ajal," kata Duan Wei.
"Terutama menghadapi Selir Mao Mu nanti. Ah aku jadi banyak berhayal. Hidup di istana pasti sangat seru," Duan Wei tertawa semangat.
Tapi Ting Er kembali kehilangan aura bahagianya begitu mendengar kata 'Kaisar'.
**_**
"Kenapa cuacanya berangin?" gumam Jing Ru.
"Nona ... kenapa Nona tidak istirahat aja di kediaman Nona?" tanya Mei Quan.
"Ini sudah malam," lanjut Mei Quan.
"Ini hari pertama pernikahan kami. Jika Kaisar tahu aku tidak menemaninya, bagaimana?" balas Jing Ru seraya berdiri.
"Pikirkan sesuatu Yang Mulia Putri. Tuanku belum makan obat dan belum makan apapun sampai sekarang," tiba-tiba Si Mu bersujud di depan Jing Ru.
"Apa yang bisa kulakukan? Setidaknya dia sudah agak tenang dan tidak berusaha mencari benda tajam saja aku bersyukur," kata Jing Ru.
"Jika saja gadis itu masih ada, aku pasti mengangkatnya jadi selir dan memberikannya untuk Pangeran Ketiga. Aku juga sudah bilang pada Pangeran Ketiga untuk menceraikanku suatu saat. Aku yakin Hui Shan akan menjemputmu untuk kabur. Dia sudah berjanji padaku."
"Kalau sudah begini, siapapun tidak akan ia dengarkan. Berharap saja pikirannya segera terang. Supaya besok dia mau meminum obatnya," lanjut Jing Ru.
__ADS_1
Si Mu kehabisan kata-kata. Perkataan Putri Hwang Jing Ru benar adanya. Apa yang bisa mereka lakukan sekarang? Tidak ada.