My Possessive Cat Girl

My Possessive Cat Girl
Situasi Terjepit


__ADS_3

Tetapi gadis itu tampak sehat saja sekarang. Hanya saja wajahnya berkeringat.


"S- saya masih tidak enak badan. Saya ingin istirahat sejenak hari ini," kata Ting Er sambil menunduk tak berani.


"Sudah tahu punya alergi tetap dimakan. Kamu sengaja menghindari aku," tuding Hu Pei pada Ting Er.


"Cepat kemari!"


"Aaaa!!"


Hu Pei menarik tangannya dengan paksa hingga Ting Er menjerit takut. Teman-temannya itu tak bisa berbuat apa-apa.


"Lepas!" berontak Ting Er.


Melihat gadis itu berani memberontak, kaisar semakin kesal dibuatnya. Ia langsung menggendong gadis itu dan membawanya pergi.


"Seharusnya dia senang," Shi Wai kebingungan.


"Aku takut dia memang masih sakit. Apa dia akan baik-baik saja?" Ai Xin menunduk cemas.


Duan Wei tak bisa menolong temannya itu. Jika sudah berhadapan dengan kaisar mau apa lagi?


Ia sangat paham kalau Ting Er takut pada kaisar dan sedang mencintai Pangeran Ketiga di hatinya.


"Selamat teman. Hari ini pasti jadi hari baik untuknya," kaya Duan Wei sembari membaringan dirinya di kasurnya sendiri.


"Ya Chen sudah pulang ya? Kasurnya jadi kosong satu juga tanpa Huang Lian," kata Shi Wai.


"Menurutmu apa yang mereka lakukan sebentar lagi?" goda Ai Xin pada Duan Wei dan Shi Wai dengan wajah genit.


"Sudah ah hentikan," Shi Wai segera menutupi wajahnya dengan selimut karena tak mau membayangkan.


"Apa itu akan sakit?" gumam Ai Xin lagi dengan mata lebar.


**_**


"Lepaskan aku! Lepas...!" teriak Ting Er sambil meronta-ronta dalam gendongan Hu Pei. Mereka berjalan melewati kamar-kamar calon selir lainnya yang masih dalam tahap seleksi sama seperti Ting Er.


Mereka semua sampai melongok kel luar karena mendengar teriakan Ting Er.

__ADS_1


Gadis bertubuh mungil yang cantik itu terlihat seperti boneka kecil nan ringan yang digendong oleh pria tua bertubuh kekar.


"Kenapa dia berani berteriak begitu? Kaisar sudah baik hati memanggilnya lho," gosip bertebar di mana-mana.


Mao Mu membekap mulutnya tak percaya melihat Kaisar sampai menjemput gadis yang ia ganggu selama ini.


"Dia sengaja makan udang tadi kan? Kaisar bukannya mencari pengganti tapi malah menjemputnya begitu?" Jia Ji menyenggol lengan Mao Mu.


"Tck sepertinya aku salah orang," Jia Ji terlihat menyesal.


"Jika Kaisar begitu menyukainya. Saat pengesahan nanti gelarnya akan berada di atas kita iya kan?" kata Jia Ji yang merasa takut pada Ting Er sekarang.


"Diam! Walau begitu. Gadis bodoh itu akan tetap mudah ditaklukkan. Membuat namanya buruk di mata kaisar setelah sah menjadi istrinya pun tidak akan sulit. Apa lagi aku sesempurna ini, Kaisar tak akan memandangku sebelah mata," Mao Mu tetap bersikeras.


"Iya Nona. Nona memang yang paling menonjol disini," Jia Ji mengurungkan niatnya mengabdi pada Ting Er. Ia akan tetap menjadi kawan Mao Mu dan berlindung dibalik orang ini.


Saat Kaisar dan Ting Er melewati Tabib Qing. Ting Er yang sedang dalam kesempitan itu terpaksa meminta tolong dengan kode ekspresi wajah yang menyedihkan kepada Tabib Qing.


Tolong aku ... tolong ... katanya dari dalam hati sambil mengatupkan kedua tangannya di depan Tabib Qing.


"Pura-puralah pingsan, aku akan mendiagnosamu," kata Tabib Qing setelah berfikir cepat. Ia memakai gerakan mulut dan gerak isyarat tubuh untuk berbicara kepada Ting Er.


Sementara Tabib Qing sibuk membukai kopernya, Ting Er yang berhasil menangkap kata-kata isyarat Tabib Qing pun langsung berakting sakit.


Ia membuat nafasnya jadi pendek-pendek seperti orang sakit dan mulai melemaskan tangan dan badannya.


Merasa gadis yang ada di gendongannya itu tak meronta dan malah jatuh lunglai dalam gendongannya, Kaisar langsung menghentikan langkahnya.


"Huang Lian!" Hu Pei menepuk-nepuk pipi gadis itu dan memperhatikan nafasnya yang pendek.


"Tabib!"


Tabib Qing dengan siap sedia langsung datang menghampiri dan berakting panik.


"Yang Mulia! Baringkan dia kemari. Tadi saya lah yang memeriksa sakit alerginya. Dia belum pulih sepenuhnya," yakin Tabib Qing sambil menuntun Kaisar untuk membaringkan Ting Er di lantai dekat tembok lorong itu.


Kaisar dengan percaya membaringkannya di sana.


"Saya perlu memeriksa dadanya karena dia merasa sesak. Bisakah Yang Mulia menghadap ke sana sebentar?" pinta Tabib Qing.

__ADS_1


Meskipun agak berat hati, Hu Pei pun membalik tubuhnya membelakangi gadis itu agar Tabib Qing tidak banyak membuang waktu berdebat dengannya.


Tabib Qing segera memasukkan pil merah ke dalam mulut Ting Er lalu berbisik, "Kunyah itu. Warnanya merah."


Ting Er segera menangkap maksudnya dan mengunyahnya.


"Gawat, alerginya belum terlalu sembuh. Alergi bawaannya ini seperti kelainan dari lahir. Pernafasannya jadi terganggu dan radang parah. Jika terus dipaksakan berteriak, menangis, berlari, atau melakukan pekerjaan berat dia bisa ..." kata Tabib Qing.


"Jangan mengada-ada. Dia terlihat baik-baik saja tadi. Tabib Qing jangan-jangan kamu sudah sadar kalau Ting-"


Sebelum Kaisar melanjutkan dugaannya, Tabib Qing segera berteriak memanggil nama samaran Ting Er agar Kaisar tak curiga.


"Nona Huang Lian!"


Mendengar teriakan khawatir itu Kaisar segera membalik badannya untuk melihat gadis itu.


Ting Er segera melancarkan aksinya, "Uhuk! Uhuk uhuk!"


Hu Pei mendelik melihat cipratan cairan merah di telapak tangan Ting Er ketika ia membekap mulut dan mulai terbatuk.


"Huang Lian! Itu darah!" Hu Pei menunjuk ke arah sana.


"Apa dia minum racun?!"


"Tidak Yang Mulia. Ini murni karena kelainan alerginya cukup parah. Paru-parunya jadi radang serius dan terluka," jelas Tabib Qing.


"Aku tidak mengerti soal medis begitu. Ya sudah cepat kembalikan dia ke kamarnya. Obati dia. Kalau dia sampai tiada, kau juga akan tiada," ancam Hu Pei pada Tabib Qing kemudian ia menatap tak tega Ting Er sekali lagi sebelum benar-benar pergi meninggalkan mereka berdua.


"Terimakasih Tabib Qing. Aku sangat takut," kata Ting Er dengan suara bergetar.


Tabib Qing menggeleng, "Maafkan saya Nona Ting Er. Sebenarnya semua yang Nona alami adalah salah saya."


"Saya akan bertanggung jawab."


"Aku tidak mengerti apa yang kamu maksud," kata Ting Er.


Tabib Qing tidak melanjutkan perkataannya. Ia kira toh semuanya juga sudah terlambat karena Chuan Yun sudah menikahi Putri Hwang. Tapi ia sendiri juga ingin memastikan. Apakah Pangeran Ketiga hidup dengan baik tanpa gadis yang ia tolong ini.


"Saya akan membawa Anda ke kamar terlebih dahulu dan berpura-pura mengobati. Temui saya lagi besok siang jam dua belas di belakang taman harem," bisik Tabib Qing. Ia segera membantu Ting Er bangun dan berpura-pura memapahnya ke kembali ke kamar.

__ADS_1


__ADS_2