My Possessive Cat Girl

My Possessive Cat Girl
Bulan Purnama Sempurna Datang Lagi


__ADS_3

Chuan Yun tak dapat tidur nyenyak hari ini. Ia terus memikirkan bagaimana jika detik ini ayahnya itu datang lagi ke kamar Ting Er dan menariknya secara paksa.


"Di satu sisi harus menjadi penerus kerajaan agar kerajaan ini tidak salah mengangkat pemimpin. Di satu sisi aku hanya ingin bersama Ting Er dan kabur saja dari sini," lirihnya sambil menatap langit-langit kamarnya.


"Kalaupun memberontak. Apa yang akan ibu pikirkan tentang aku?"


"Tuan Muda. Ada surat balasan," Si Mu datang setelah seekor burung merpati memberinya segulung kertas.


Chuan Yun segera bangun.


"Panggil Jing Ru juga kemari untuk membaca ini," perintah Chuan Yun.


"Aku disini," Jing Ru langsung masuk ke kamar Chuan Yun begitu mendengar namanya disebut.


Mereka berdua membuka gulungan itu secara perlahan seakan begitu penasaran dengan kelanjutan rencana mereka.


[] Jing Ru. Maafkan aku. Tapi jika aku pergi ke sana membantu bersama pasukanku lalu kabur bersamamu. Apa yang akan Kaisar Hwang lakukan pada ayahku selaku panglimanya? Sedangkan aku harus mencuri pasukan ayah bila ingin membantu.


Aku rasa jalan satu-satunya memang kabur. Aku sungguh muak.


Pangeran Chuan Yun akan membawa kabur gadis yang ia maksud itu, lalu aku juga akan kabur bersamamu. Kita akan bertahan hidup ber empat! Kedua kerajaan itu akan tetap akur. Kami juga akan bahagia.


Jika kamu setuju, aku akan bersiap kesana menjemputmu tengah malam.[]


Jing Ru terkejut membaca itu.


"Dia benar. Tentu Kaisar Hwang akan membunuh ayahnya jika dia membantuku dan malah kabur bersamamu. Memang benar," Chuan Yun mengangguk menyetujui.


"Kaburlah bersamanya malam ini. Aku juga akan menjemput Ting Er dan pergi. Aku harap ayah tidak buta meski matanya buta saat melihat gadis. Aku harap dia akan mengangkat putranya yang lain selain Kak Fu Jia atau Kak He Xian seperti dia ingin mengangkatku yang hanya putra ketiga ini," kata Chuan Yun.


"Kalau aku sarankan sih, Ci Sen," Chuan Yun tersenyum.


"Pada akhirnya dia memaksaku untuk pergi. Aku lebih rela begini dari pada maju tanpa pasukan untuk bunuh diri bersama Ting Er," imbuh Chuan Yun.


"Dia juga mengembalikan peta penyeranganmu," kata Jing Ru sembari menyerahkan gulungan kertas lain di tangannya kepada Chuan Yun.


Chuan Yun tersenyum dan menerimanya.


"Aku akan mewariskan ini pada Ci Sen," kata Chuan Yun.


Si Mu menggeleng, "Tuan! Kami akan ikut kemanapun Tuan pergi!"

__ADS_1


"Ya Tuan Muda!" Setiap pelayan di kediaman itu bersujud kepada Chuan Yun.


"Tidak perlu. Kalian semua tidak akan ikut bersalah saat aku kabur. Jangan khawatir," kata Chuan Yun.


"Se- setidaknya biarkan hamba tetap mengabdi!" Si Mu tetap bersikeras sambil bersujud di depan Chuan Yun.


"Untuk apa hidup miskin denganku?" tanya Chuan Yun.


Seketika ia teringat suatu hal, "Yang benar saja. Aku mengajak Ting Er hidup miskin?"


"Tidak, tidak. Bawa banyak perhiasan dulu sebelum pergi. Lalu bersiap untuk jadi pedagang besar dengan modal yang ada. Sepertinya menarik," Chuan Yun mengusap dagunya sambil berfikir.


"Baiklah. Ikut aku Si Mu. Ringkasi perhiasan kecil tapi mahal yang bisa kamu temukan di kediaman ini," perintah Chuan Yun.


"Hamba mengerti Tuan!" Si Mu langsung tersenyum lebar nan sumringah.


Chuan Yun melipat kembali peta penyerangannya lalu mengantonginya.


Sementara Jing Ru sedang sibuk menulis untuk memberikan surat balasan kepada kekasihnya.


"Aku juga akan menyuruhnya mengumpulkan perhiasan," Jing Ru jadi terinspirasi dengan ucapan Chuan Yun.


"Untuk apa?" Pandangan mereka saling bertatapan kali ini.


"Terimakasih saja," Chuan Yun segera membuang pandangannya.


Jing Ru tersenyum tulus, "Sama-sama. Untuk Tabib Ahli Racun itu kan?"


"Bukan."


"Lalu?"


"Untuk sudah memiliki kekasih. Jadi aku tidak perlu repot mengurusi satu musuh baru lagi untuk Ting Er. Tck," Chuan Yun mendecakkan lidahnya.


"Kurang ajar. Kau terlalu percaya diri. Hui Shan jauh lebih tampan darimu. Untuk apa aku berkompetisi dengan Nona Ting Er untukmu," kesal Jing Ru.


Terakhir keduanya malah tertawa bersama karena tak tahan berpura-pura marah.


**_**


"Kenapa kamu belum tidur?" tanya Duan Wei.

__ADS_1


"Kamu sendiri belum. Kenapa?" tanya balik Ting Er.


Duan Wei tersenyum-senyum sendiri sambil memegangi kain syal merah di tangannya.


"Menunggu Pangeran Ci Sen. Aku sudah bilang akan menunggunya sampai tengah malam. Aku pergi ke taman belakang dulu ya," pamit Duan Wei.


"Tapi aku takut," Ting Er menahan tangan Duan Wei sambil berbisik. Pasalnya Shi Wai dan Ai Xin sudah tertidur pulas sehingga mereka harus berbicara dengan suara pelan.


"Takut apa? Ayo ikut saja," tawar Duan Wei.


"Kalau tiba-tiba Kaisar datang lagi," Ting Er menunduk benar-benar takut.


Tapi kalau aku ikut dan Pangeran Ci Sen melihatku. Apa yang akan terjadi? Pangeran Chuan Yun akan diberitahu, lalu Kaisar akan membantainya, batin Ting Er hingga ia menggeleng keras.


"Tidak jadi deh. Pergilah. Jangan lama-lama," perlahan Ting Er melepaskan genggaman eratnya dari lengan Duan Wei.


"Baiklah. Jangan menangis lho," Duan Wei tetap terlihat sangat bahagia karena akan menemui orang yang ia sukai. Ia langsung melesat pergi begitu saja meninggalkan Ting Er.


Ting Er memeluk lututnya sendiri seperti orang kedinginan dan berdiam diri sambil melamun.


Bisa tidak aku minta kembali saja ke galaksi bima sakti? Disini sudah tidak ada pekerjaan. Kalau disuruh makan tidur dan tidur dengan Kaisar, aku tidak mau! Aku lebih suka jadi hewan peliharaan Chuan Yun! batin Ting Er.


Sudahlah. Lupakan pria tampan itu. Saat ini dia sudah punya istri. Entah apa yang ia lakukan malam ini dengan gadis itu, rutuk Ting Er lagi dari dalam hatinya.


Tapi ketika dia selesai bicara dalam hati, seketika kamar gelapnya itu terang. Cahaya yang lembut dan tak menusuk itu rupanya datang dari jendela.


Ting Er takjub melihat bulan purnama sempurna yang terlihat dari jendelanya.


"Ini bukannya bulan yang sama yang waktu itu mengirimku ke galaksi ini?" lirih Ting Er.


"Apa ini artinya aku akan segera kembali? Kapan? Detik ini?" Tiba-tiba ia jadi bersemangat sambil tersenyum dan melambaikan tangannya kepada bulan sebesar tampah itu.


Sepertinya aku harus keluar dari sini agar bulan itu bisa melihatku, ucapnya dari dalam hati dengan pemikiran polosnya.


Ting Er segera melompat keluar dari kasurnya dan berlari ke luar gedung istana harem.


Meski ada penjaga pintu di sana, mereka tampaknya sudah tertidur lelap karena mengantuk.


"Penjaga payah," kekeh Ting Er pelan.


Bersamaan dengan itu samar-samar Ting Er mendengar pembicaraan antara Ci Sen dan Duan Wei.

__ADS_1


__ADS_2