My Possessive Cat Girl

My Possessive Cat Girl
Aku Punya Pemilik


__ADS_3

Keesokan paginya dengan tumbennya Ting Er bangun lebih pagi. Ia langsung berlari ke kamar Si Mu untuk mengganggu Chuan Yun lagi, "Pagi Majikan!"


"Ah mengagetkanku saja," Si Mu jadi ikut terjaga dan langsung berlari ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.


Sementara Chuan Yun dengan perlahan mengusap matanya dan berusaha duduk.


"Pagi Majikan!" ulang Ting Er dengan senyuman lebar.


"Kenapa kau memanggilku majikan lagi?" tanya Chuan Yun lirih karena masih baru bangun tidur.


"Aku tahu Tuan masih malu. Aku juga masih pelayan disini. Lagi pula Tuan lebih merasa santai saat berbicara dengan Bao Bao iya kan?"


"Majikan! Aku Bao Baomu. Aku bukan Nona Bao hihi," Tiba-tiba gadis itu melompat ke ranjang ranjang dengan tidak sungkan lagi seperti biasanya.


"Aku adalah kucing hihi," tawanya lagi sambil meliukkan badan, memposisikan kepalanya di pangkuan Chuan Yun sambil menunjukkan giginya.


Chuan Yun tersenyum dan tertawa tanpa membuka bibirnya, lalu mengusap kepala Ting Er.


Ting Er membalas senyumnya itu dengan senyuman pengertian. Melihat pemuda itu kembali tersenyum kepadanya seperti biasa dan bisa menatap matanya dengan rileks, Ting Er menyadari sesuatu.


Ternyata memang benar. Chuan Yun masih tidak terbiasa berpacaran apa lagi dipanggil sayang oleh seorang manusia perempuan, batinnya.


Alasan dia mencintaiku adalah ... karena aku adalah gambaran dari hewan peliharaannya. Aku adalah Hui Bao Bao! Aku bukan manusia yang terkadang mengecewakannya. Aku adalah kucing yang menghiburnya tanpa memandang pencapaiannya selama ini. Dia adalah pemilikku, batin Ting Er sambil membentangkan senyumnya lebih lagi.


"Apa yang kau pikirkan Bao Bao?"


"Memikirkan majikan hm hm," Ting Er tersenyum dengan mata menyipit nyaris terpejam seperti anak genit.


Chuan Yun tersenyum lebih lagi.


"Pergilah sarapan. Apa kamu mau kubelikan ikan makarel? Kamu tidak bosan makan Sheng Yu Pian?" tanya Chuan Yun.


Sebenarnya aku ingin makan nasi goreng, mie goreng, babi kecap, sate ayam, bakso, spagetti carbonara, aglio olio, dan masih banyak lagi, jawab gadis itu dari dalam hati.


"Iya mau. Ikan apa saja, asalkan itu ikan, aku sangat suka," Ting Er kembali tersenyum.

__ADS_1


"Baiklah. Hari ini bukannya kita akan jalan-jalan ke pasar?" Chuan Yun mengingatkan.


Mata menyipit genit itu langsung membuka selebar-lebarnya karena bersemangat, hingga Chuan Yun menertawakannya pelan.


"Haaa iya! Aku hampir lupa!" katanya.


"Kalau begitu jangan pergi ke mana-mana sampai aku pulang siang nanti. Awas saja kalau kamu menghilang lagi," Chuan Yun menggendong gadis yang bersandar di pangkuannya itu dengan mudahnya lalu memindahkannya ke sisi ranjang.


"Aku harus bersiap buat kelas budaya dan tata kesopanan hari ini," pamit Chuan Yun seraya mengusap puncak kepala Ting Er.


Ting Er mengangguk menginjinkan, lalu ia berlari keluar dari kamar Si Mu ke dapur untuk mencari Nenek Hwa.


"*Yosh! Asalkan Chuan Yun senang. Aku akan benar-benar bersikap seperti kucingnya mulai saat ini.


Hubungan antara majikan dengan hewan peliharaan itu ... bukannya sangat romantis dan manis melebihi pacar*?! batinnya dengan histeris dari dalam hati. Sementara ia berlarian dengan bahagia ala kaki kijang ke dapur.


"Nenek Hwa, aku mau ikan kukus asam manis," pintanya dengan manis sambil menunjukkan giginya hingga Nenek Hwa bisa melihat gigi taring bawaan lahir milik Ting Er.


"Baiklah Bao Bao. Tunggu sebentar dan jangan nakal ya," Nenek itu juga memperlakukannya seperti kucing dan menjawab dengan penuh kasih sayang.


"Aku rasa ... menjadi kucing itu sangat membahagiakan ya ..." Ting Er tersenyum dengan mata terpejam seakan begitu menikmati hari ini.


**_**


Seperti biasa, tepat jam 12.00 Chuan Yun pulang dengan cepat mendahului yang lain, "Aku pergi dulu. Kucingku menunggu."


"Eei Kakak Ketiga kumat lagi. Ayolah Kak, bermain lagi bersama kami sekali lagi," ajak mereka semua secara serempak.


"Maaf. Aku sudah ada janji dengan kucingku," Chuan Yun langsung pergi setelah mengutarkan alasannya.


Setelah mendengar alasan Chuan Yun, Fu Jia menatap He Xian dengan senyuman tipis. Lalu giliran He Xian yang menatap Wu Yin dengan senyuman pula seakan sudah merencanakan sesuatu.


Fu Jia memberi isyarat dengan kepalanya, lalu mereka bertiga pun secara bersamaan beranjak dari tempatnya masing-masing dan ikut-ikutan pulang lebih awal dari kelas.


**_**

__ADS_1


"Waah ... pakaian disini bagus-bagus!"


"Ada juga yang modelnya seperti ikan ya!" tawa Ting Er ketika melihat sebuah pakaian perempuan berbahan kain dan lempengan-lempengan kecil yang berkilau.


"Jangan-jangan kamu membahangkan ikan sambil melihat baju itu. Jangan sampai kamu makan bajunya," Chuan Yun menggeleng-geleng.


"Ya tidak lahh ..." kesal Ting Er.


"Aaa ... aku bosan. Mau lihat sebelah situ!" rengek Ting Er yang tiba-tiba menunjuk ke arah sebaliknya.


"Bao Bao. Kita sudah berjalan sejauh ini dan kamu belum membeli satupun baju?" Chuan Yun menghela nafas berusaha sabar.


"Masalahnya disini tidak ada yang bagus," Ting Er mengeluh lagi.


"Kalau mau bagus, kita pesan saja ke penjahit istana. Ayo lah kita pulang saja kalau kamu tidak bisa memilih disini," ajak Chuan Yun.


"Majikan, kamu selalu kurang sabar dengan perempuan. Kamu sudah selesai membeli pedang di toko pedang bekas itu kan? Mangkannya kamu ingin cepat pulang."


"Kalau tidak beli pakaian disini dan akan memesan ke istana, setidaknya aku mau beli jepit dulu di sana," Ting Er menunjuk gerai penjual lainnya lagi di ujung gang.


"Baiklah terserah. Bawa uang ini, belilah bersama Zhi Yu. Aku sudah lelah," Chuan Yun memberikan kantong uangnya pada Ting Er.


"Oke. Ayo Zhi Yu!" ajaknya dengan bahagia.


"Tuan, minumlah dulu," Si Mu menyodorkan bekal tempat minum tuannya.


"Terimakasih," sahutnya yang langsung menenggak air itu sampai habis seakan sudah begitu dehidrasi sejak tadi.


"Hari panas terik begini. Gadis kucing itu rasanya jadi lebih kuat dari pada aku yang adalah laki-laki," celetuk Chuan Yun sambil menutup kembali botol minumnya dengan sumbatan kayu.


"Perempuan memang begitu Tuan. Jika sudah berada di pasar, tenaganya jadi sepuluh kali lipat, huaah ..." Tak hanya Chuan Yun, ternyata Si Mu juga ikut ngos-ngosan.


"Tapi ... Zhi Yu itu juga belum pernah keluar istana kan? Apa Tuan yakin mereka tidak akan tersesat?" tiba-tiba Si Mu teringat.


"Terakhir kali, dalam penjagaan Zhi Yu juga Bao Bao itu hilang tak pulang-pulang," melas Si Mu.

__ADS_1


Chuan Yun mau tidak mau menghiraukan rasa lelahnya. Ia pun bangun lagi dari tempat istirahatnya.


"Ya sudah, ayo susul mereka sebelum jauh," ajak Chuan Yun.


__ADS_2