My Possessive Cat Girl

My Possessive Cat Girl
Kebenaran Tidak Bisa Disembunyikan


__ADS_3

"Mao Mu, lihat itu Huang Lian," Jia Ji menunjuk Ting Er yang tengah berlari ke luar gedung.


Mao Mu tersenyum jahat. "Kita harus memberinya pelajaran setelah berani berbicara dengan suara tinggi kepadaku kemarin," kata Mao Mu.


"Aku penasaran, sulaman apa yang dia buat," celetuk Jia Ji.


"Ide bagus Jia Ji. Dia pasti meninggalkan sulamannya di suatu tempat. Kita coba lihat dulu ke kamarnya," ajak Mao Mu.


Mereka berdua berjalan cepat menuju kamar Ting Er melalui lorong-lorong sempit agar tidak dicurigai siapapun.


Tak lama mereka sampai di kamar itu. Kebetulan kamar itu kosong dan kamar tetangga juga sedang sepi. Mao Mu segera melambaikan tangannya kepada Jia Ji tanda situasi sedang aman.


Mereka berdua masuk perlahan-lahan ke dalam kamar lalu menggeledahi laci dan membuka balik bantal setiap kasur.


"Cepat temukan itu Jia Ji!"


"Iya, aku sedang mencarinya Mao Mu ..." resah Jia Ji.


"Hah ketemu!" Mao Mu mengangkat kain persegi berukuran dua puluh sentimeter kali dua puluh sentimeter di tangannya.


"Kucing?" Jia Ji menahan tawanya.


"Kucing? Hahaha!" Mao Mu ikut tertawa.


"Apa dia bodoh? Kaisar tidak suka hewan pffft ...," lanjut Mao Mu sambil membekap mulutnya menahan suara tawanya.


"Sudahlah yang terpenting kita akan membuangnya supaya Guru Shin menghukumnya karena tidak mengumpulkan tugas," kata Jia Ji seraya memasukkan kain itu ke balik selendangnya lalu merindik-rindik keluar dari kamar itu.


"Jangan dibuang, itu kurang menarik ..." Mao Mu menarik salah satu sudut bibirnya.


"Nona Xing!" panggil Mao Mu dan Jia Ji bersamaan ketika mereka berpapasan di luar taman.


Ting Er menyeka air matanya, ia membalik badannya dan menemukan dua gadis cantik yang jahat itu.


"Mao Mu?" lirih Ting Er.


"Lihat disana. Ada bendera. Apa itu?" tanya Jia Ji dengan nada bodoh lalu menunjuk ke atas tiang bendera kerajaan.


Sementara terlihat Mao Mu yang melempar kain sulaman Ting Er hingga tersangkut di atas sana.


Ting Er kaget melihatnya, "Sulamanku!"


Segera setelah melihat ekspresi panik Ting Er, keduanya tertawa keras.

__ADS_1


"Nona Jia Ji! Nona Mao Mu! Apa yang kalian lakukan pada sulamanku!" Ting Er sengaja membesarkan suaranya agar gadis-gadis di sekitarnya mendengar itu.


Namun dia lupa. Saat ini dia sedang menjauhi gedung untuk menyendiri di taman belakang.


"Apa yang kami lakukan? Kami hanya menaruhnya di sana. Apa kamu tidak sanggup mengambilnya?" tanya Mao Mu dengan nada mengejek.


"Tidak mungkin. Kakinya itu kan pendek," Jia Ji tertawa keras lagi.


Ting Er mengepalkan jari-jemarinya kesal.


"Sudah biarkan dia mencoba mengambilnya. Kita pergi saja. S


Ah sulamanku belum selesai," Mao Mu mengibaskan roknya seraya membalik tubuhnya.


Mereka berdua berjalan melenggak-lenggok sok cantik dan pergi meninggalkan Ting Er sendirian.


Ting Er segera mencari ranting di sekitarnya untuk meraih kainnya yang tersangkut di sana. Ia mengambil satu ranting yang kebetulan ada di bawah kakinya, lalu mencoba menggapainya hingga berjinjit.


Tapi percuma saja, belum tergapai juga. Akhirnya Ting Er membuang ranting itu dan berusaha mencari ranting lain di sekitarnya. Ia berlarian dengan panik karena sebentar lagi adalah jam makan malam.


**_**


"Dimana Si Mu dan Tabib Fang Leng. Ini sudah malam. Hanya untuk memanggil Ting Er saja mereka berdua membutuhkan tiga jam?" marah Chuan Yun.


"Ei mungkin ada masalah?" heran Jing Ru.


"Gadis kucing? Yang kamu bicarakan dari tadi itu kucing ya?" Jing Ru menggeleng tam percaya sambil menahan tawanya.


"Dia memang peliharaanku. Sangat manja dan banyak bicara. Tapi dia manusia," ekspresi serius Chuan Yun langsung berubah menjadi senyuman cinta saat membicarakannya.


"Ya ampun ternyata begitu," Jing Ru terkekeh.


"Tuan Putri ... kediaman Anda yang baru sudah siap sejak tadi. Apa Tuan Putri tidak ingin beristirahat? Kaisar Hui juga menunggu di aula jamuan makan untuk menyambut kedatangan Anda dan Ahli Racun," Pelayan Pribadi perempuan Jing Ru membungkuk hormat sambil memberi tahu.


"Ah aku sampai lupa," kata Jing Ru.


"Apa kau sudah benar-benar sehat?" tanya Jing Ru sebelum benar-benar meninggalkan Chuan Yun.


"Tidak perlu perhatian padaku. Pergi saja," kata Chuan Yun dengan dingin.


Jing Ru menghela nafas, "Setidaknya teman seperjuangan untuk bekerja sama harus akrab. Kenapa kau terus berkata formal dan dingin?"


Gadis itu langsung pergi meninggalkan Chuan Yun, begitu juga pelayan wanitanya yang sempat membungkuk sekali lagi untuk berpamitan menggantikan Jing Ru.

__ADS_1


"Luo Wen," panggil Chuan Yun kepada salah satu penjaga ruangannya.


"Ya Yang Mulia!"


"Susul Si Mu, katakan padanya. Jika dia tidak segera kembali untuk memberi kabar kepadaku, aku akan memecatnya," perintah Chuan Yun dengan nada marah.


"Baik Tuan!" Luo Wen bergidik takut lalu berlari pergi menyusul Si Mu.


Ia sendiri tahu apa yang sedang terjadi. Tapi mau tidak mau ia harus menyampaikannya kepada Penjaga Pribadi yang malang bernama Si Mu itu.


Setelah menyusul sampai ke kediaman Chuan Yun. Benar saja, Si Mu tengah duduk di sana sambil menangis seharian karena tak bisa kembali dan memberitahukan kebenarannya.


"Senior Si Mu! Tuan Muda menyuruhku memanggil Senior. Jika tidak segera kembali, Senior akan dipecat katanya," ujar Luo Wen dengan berat hati.


"Lalu aku harus bagaimana? Membohonginya lagi?" Si Mu menangis dengan lebih keras.


"Kebenaran akan terungkap dengan sendirinya suatu saat Senior. Tidak ada gunanya kita terus membohongi Pangeran Ketiga," saran Luo Wen dengan senyuman pahit seakan ia juga memahami derita Si Mu sebagai penjaga setianya sejak kecil.


Si Mu sudah lelah menangis. Hingga ia pun mengangguk dan mampu menetapkan keputusannya.


"Karena kebohonganku hari itu. Aku sudah siap mati di tangan Tuanku Chuan Yun," tegasnya sendiri.


Luo Wen menggeleng, "Tidak Senior. Pangeran Ketiga sangat percaya dan sayang pada Anda sejak dulu."


"Oleh karena itu. Karena selama ini aku dipercaya. Dia akan sangat marah. Selain itu bagaimana kesehatannya ke depan?" Si Mu kembali dilema.


"Yang terpenting sekarang berilah jawaban kepada Pangeran Ketiga. Dia sangat gelisah saat ini," Luo Wen mengandeng tangan Si Mu untuk mengajaknya kembali.


Ia tak bisa menolak. Lagi pula kebenaran tetaplah kebenaran. Tuannya juga akan tahu.


"Si Mu! Kemana saja kamu!" Seperti biasanya Chuan Yun selalu marah.


Si Mu menunduk dengan wajah muram dan sedih.


"Si Mu! Katakan sesuatu! Apa terjadi sesuatu dengan Ting Er?!" bentaknya.


Si Mu mengangguk membenarkan, lalu jatuh berlutut di depan Chuan Yun.


"Si Mu apa apaan ini?!"


"Tuan bisa membunuh hamba sekarang. Hamba sudah membohongi Tuan sejak kemarin lusa," Si Mu mulai membuka mulutnya.


Chuan Yun menggeleng pelan, "Aku tidak mengerti. Kebohongan apa?"

__ADS_1


"Sebenarnya keadaan tidak baik-baik saja Tuan. Pangeran Fu Jia membalik keadaannya dengan mengatakan bahwa Pelayan Zhi Yu dan Pelayan Ting Er yang ia culik itu sempat merencanakan pembunuhan."


"Pelayan Ting Er menggodai Tuan Muda sampai jatuh cinta. Lalu meracuninya. Karena kebetulan Ting Er lah yang memberi Tuan Muda sarapan hari itu. Dan pasti ada suruhan Pangeran Fu Jia yang menaruh racunnya disana. Dia ingin membunuh Tuan Muda dan memfitnah Ting Er," ucapan Si Mu tersendat, Chuan Yun memegang erat kedua lengan Si Mu.


__ADS_2