My Possessive Cat Girl

My Possessive Cat Girl
Monster itu Bisa Membunuhku


__ADS_3

Sementara Chuan Yun dan Si Mu malah sibuk mendekati dispenser air karena penasaran.


"Aaw aww!!"


"Tuan Muda! Tuan Muda!"


"Aduh sakit sakit sakit! Panas sekali! Sepertinya ada yang menyabotase kediaman ini, cepat periksa itu Si Mu!" perintah Chuan Yun sambil menunjuk ke arah dispenser mereka.


"Minumannya itu pasti sudah diganti dengan air berbahaya yang bisa melukai kulit!" teriak Chuan Yun lagi.


"Dar!!"


Si Mu mengayunkan pedangnya hingga dispenser itu terbelah jadi dua. Air galonnya mengalir ke mana-mana hingga mengenai stop kontak.


"Yaampun apa yang kalian lakukan!" marah Ting Er dari lantai dua.


"Nona Ting Er! Ada yang ingin melukai Pangeran Ketiga! Air itu- air itu melukai tangan Pangeran Ketiga!" lapor Si Mu dengan takut.


Ting Er nyaris memukul kepalanya sendiri.


"Itu dispenser. Kalau kalian menekan tombol yang merah itu, airnya memang panas!" jelas Ting Er susah payah.


"Kalau seperti ini kan jadi repot harus beli dispenser baru!" kesal Ting Er.


"Aku tidak peduli. Untung saja pedang ini tidak di jual. Jika tidak bagaimana aku bisa melawan barang ini. Apa tadi? Monster bernama dispenser?" tanya Si Mu.


Chuan Yun hanya diam dengan mata berkaca-kaca sambil meniupi punggung tangannya yang masih sakit.


Ting Er yang melihat itu jadi tak tega. Perlahan ia menuruni tangga lalu memegang tangan Chuan Yun untuk melihatnya.


"Seharusnya ada apotik di sekitar sini," gumam Ting Er.


"Harus diberi salep supaya tidak melepuh," kata Ting Er lagi.


"Kenapa kau tidak memanggilkan tabib saja untukku huuhuuu ..." Chuan Yun malah menangis.


Ting Er mati-matian menahan tawanya, "Chuan Yun jangan takut. Ini cuma air panas. Paling melepuh sedikit. Disini tabib itu disebut dokter," tutur Ting Er.


Tiba-tiba air yang mengaliri stop kontak itu membuat saklar pengaman listrik bergerak secara otomatis sehingga listrik seisi rumah jadi padam.


"Ting Er!" Chuan Yun langsung memeluk Ting Er seakan melindunginya.


"Si Mu berjaga! Ada orang yang sengaja memadamkan penerang ruangan!" seru Chuan Yun.


"Sudah hentikan drama iniii ...!" giliran Ting Er yang tertekan itu menangis sendiri


Si Mu dan Chuan Yun pun terdiam kutuk.

__ADS_1


"Kalian semua membuatku stresss ....!" kata Ting Er.


"Jangan menangis. Aku disini. Kami takut gelap?" Chuan Yun belum ngeh juga.


"Ini namanya mati lampu karena listriknya konslet. Saat ini sudah terlalu malam. Jadi kita hanya bisa menunggu sampai pagi untuk memanggil PLN," Ting Er tetap berusaha menjelaskan meskipun sesenggukan.


"Ya sudah apa saja maumu. Tapi jangan menangis," Chuan Yun segera mengelus-elus punggung Ting Er.


"Mauku adalah kalian diam jangan bergerak!" kesal Ting Er.


"Si Mu. Masukkan pedangmu. Duduk saja bersama kami di lantai ini," perintah Chuan Yun.


"Baiklah Tuan," Si Mu langsung menurut begitu saja.


Begitu mereka berdua berhenti berulah, barulah Ting Er dapat tenang.


Merasa gadis itu sudah tenang dalam pelukannya bahkan sepertinya tertidur karena terlalu lelah, Chuan Yun pun menggendongnya.


"Cepat tuntun aku ke kamar, Si Mu!" perintah Chuan Yun.


"I- iya Tuan!" Bisa tak bisa pengabdi setia itu akan tetap melakukan yang terbaik. Ia sampai merangkak untuk meraba sekelilingnya.


"Sebentar lagi ada tangga Tuan, naik lah perlahan. Kamarnya ada di atas," aba-aba Si Mu.


Chuan Yun pun naik perlahan-lahan masih dengan tampang seriusnya seperti biasa. Setelah sekitar sepuluh menit menaiki tangga dengan sangat hati-hati, Si Mu pun meraba sekitarnya dan menemukan pintu kamar.


"Ceklek ..."


"Masuklah Tuan Muda," Si Mu mempersilahkan.


"Si Mu, tidurlah di kamar sebelah," perintah Chuan Yun.


"Hamba mengerti," ia tersenyum menggodai Chuan Yun tuannya. Tapi sayangnya tidak terlihat karena situasi sedang gelap.


Chuan Yun membaringkan Ting Er perlahan agar tidak membangunkannya, kemudian berbaring di sebelahnya sambil memeluk gadis itu.


Tapi sepertinya pelukannya malah membangunkan gadis itu.


"Huh? Kamu bangun lagi?" Chuan Yun menyentuh pipi Ting Er.


"Kamu menangis?" panik Chuan Yun sambil mengusap air mata Ting Er.


"Aku menangis bahagia sekaligus sedih. Hiks!" isaknya tiba-tiba.


"Ada apa?" Chuan Yun khawatir.


"Akhirnya ... akhirnya kita tidak jadi mati tenggelam di danau atau terkena panah ayahmu. Tapi yang kuasa malah membawa kita ke masa depan dengan uang tak terbatas begini," isak Ting Er lagi.

__ADS_1


Chuan Yun langsung memeluk tubuh kecil gadis itu lalu mengusap-usap punggungnya untuk menenangkan, "Kamu pasti masih takut karena kejadian tadi. Sudahlah kan sudah selamat."


Ting Er membalas pelukan itu dengan lebih erat lalu menangis lagi sejadinya.


"Aduh dingin," keluhnya memecah tangisnya sendiri.


Ia segera melepaskan diri dari pelukan Chuan Yun dan bergegas turun dari kasur untuk menyalakan pemanas ruangan.


"Meskipun mati lampu, setidaknya pemanas ruangan tidak bisa mati karena terhubung dengan jenset darurat," Ting Er tersenyum.


"Tit."


Suara remotnya malah membuat Chuan Yun terperanjat takut lagi, "I-itu monster sejenis yang tadi melukai jariku kan!"


"Heh ... tenanglah. Ini namanya pemanas ruangan. Itu bukan monster. Itu alat!" jelas Ting Er.


Tapi Chuan Yun tak percaya. Ia melihat benda itu mengeluarkan cahaya lalu membuka menutup untuk mengeluarkan udara panas. Ia mengira monster itu punya mulut.


"Pedang, pedang, dimana pedang!" Chuan Yun menoleh kesana kemari dengan ketakutan.


Ting Er yang gagal membujuk orang kuno itu mau tak mau mematikan mesin pemanas itu lagi.


"Tit."


Melihatnya tak bergerak ataupun memancarkan cahaya lagi, akhirnya Chuan Yun berhenti mencari pedangnya, "Ka- kau apakan itu tadi?"


"Benda apa itu di tanganmu?"


"Ini remot. Kalau kita menyentuh yang ini, mesinnya akan hidup. Kalau menyentuh yang ini, mesinnya akan mati," jelas Ting Er yang berusaha sabar.


"Jadi di zaman ini manusia bisa membuat monster. Bisa menciptakan makhluk hidup ya!" Chuan Yun masih salah sangka juga.


"Lalu kita bisa menghidupkan atau membunuhnya hanya dengan benda kecil ini?" Pemuda itu menyahut remot di tangan Ting Er.


"Tentu saja bukan begitu, ini-"


Chuan Yun memotong pembicaan Ting Er dengan menempelkan jarinya di bibir gadis itu.


"Aku mengerti. Manusia berevolusi menjadi sehebat itu. Lalu kenapa monster itu diletakkan di rumah kita??" Chuan Yun melebarkan matanya menatap Ting Er.


"Sudah kubilang itu bukan hewan atau monster!" Ting Er menepis tangan Chuan Yun dari bibirnya.


"Itu adalah alat buatan manusia dengan energi listrik. Kau tahu listrik? Mungkin itu belum ditemukan sebelumnya. Intinya itu adalah benda mati yang dialiri energi listrik," jelas Ting Er.


"Apapun alasanmu, jangan hidupkan itu! Dia bisa saja membunuhku," marah Chuan Yun sambil menyahut remot itu dan melemparnya ke pojok ruangan.


Ting Er menggeleng kehabisan kata. Mereka benar-benar seperti pasangan baru yang bertengkar karena masalah sepele.

__ADS_1


"Kalau kamu kedinginan, biar aku peluk saja," putusnya sepihak, lalu menggiring gadis itu ke kasur lagi.


__ADS_2