My Possessive Cat Girl

My Possessive Cat Girl
Xing Huang Lian Si Kulit Gandum


__ADS_3

Mendengar itu Chuan Yun menjadi lebih tenang. "Benarkah? Apa dia mencemaskanku?"


"Kami tidak memberitahunya dan kami melarang yang lainnya memberi tahu. Kami membohonginya, Yang Mulia sedang ikut tamasya sekolah ke hutan untuk berburu selama sebulan," bohong Si Mu lagi.


Tabib Fang Leng membantunya dengan mengangguk-angguk membenarkan agar Chuan Yun tidak curiga.


Chuan Yun tersenyum sambil tertawa pelan seakan lega.


"Ahaha. Ah ahak! Uhuk uhuk!" Chuan Yun membekap mulutnya. Ia kembali memuntahkan darah.


"Tuan Muda!"


"Tabib Leng! Apa yang terjadi?!" marah Si Mu.


"Saya sudah berusaha semampu saya. Tapi semua ini tergantung pada tubuh Yang Mulia yang harus melawan racunnya," kata Tabib Leng.


"Yang Mulia Pangeran Ketiga sangat beruntung. Setelah gejalanya terjadi, langsung ditangani. Jika tidak, mungkin tidak akan tertolong," lanjut Tabib Leng.


Si Mu segera membantu Chuan Yun membersihkan tangannya dengan air dan kain, juga mulutnya.


"Yang Mulia, jangan banyak bergerak dan bicara. Istirahatlah total sampai sembuh dan minum obat teratur," Tabib Leng mengeluarkan pil obat dari tas anyaman bambunya dan memberikannya kepada Si Mu.


"Obat ini di rebus dengan seratus lima puluh mili air dan diminum tiga kali sehari. Saya akan kemari setiap pagi untuk menusukkan jarum akupuntur dan mengeluarkan racunnya," jelas Tabib Leng panjang lebar.


Si Mu mengangguk-angguk mengerti.


"Tuan Muda, Anda masih kuat?" tanya Si Mu saat melihat Chuan Yun memejamkan matanya erat seakan kesakitan.


Chuan Yun mengangguk.


"Buatkan aku obatnya," pinta Chuan Yun sendiri.


"Aku tidak bisa membiarkannya menungguku lama-lama. Dia akan menangis," kata Chuan Yun sambil mencengkram perutnya.


Si Mu menggeleng tak tega melihat majikannya menahan sakit dan masih sempat-sempatnya memikirkan Ting Er.


Apa lagi mengetahui fakta bahwa gadis itu sudah dihukum mati, Si Mu semakin sedih tak bisa membayangkan kedepannya saat tuannya itu tahu.

__ADS_1


Tapi ia segera mengangguk dengan senyum bahagia dan air mata kesedihannya, "Saya akan membuatnya Tuan!"


"Siapa yang berani meracuniku seperti ini ..." lirih Chuan Yun.


"Dia adalah Pangeran Fu Jia. Siapa lagi Tuan?" jawab Si Mu.


"Apa ayah tidak menangkap dan menghukumnya? Dia sangat bodoh. Bisa-bisanya meracuniku terang-terangan begitu. Apa dia ingin dihukum mati oleh ayah?"


Si Mu meneguk ludahnya dengan kasar.


"Tuan Muda, saya janji semuanya sudah aman terkendali. Lebih baik Tuan Muda tidak membicarakan ini dulu dan berfokus pada kesembuhan Tuan Muda. Bukannya Nona Ting Er akan sangat cemas menunggu jika Tuan belum sembuh juga dalam sebulan?" Si Mu tersenyum kaku.


Maaf Tuan Muda. Hamba siap mati di tangan Tuan jika suatu saat Tuan Muda sudah berhasil sembuh dan mengetahui segalanya, batin Si Mu.


"Semuanya aman? Baiklah aku percaya padamu Si Mu," Chuan Yun tersenyum.


"Ah ... sebenarnya sakit mana ini dengan kram menstruasi?" keluh Chuan Yun yang mulai berkeringat dingin menahannya.


"Bertahan Tuan Muda! Obatnya sudah jadi," Si Mu cepat-cepat meniup api pemanasnya dan menuangkannya ke mangkuk keramik, kemudian mengaduk pil obat itu sampai larut ke dalamnya.


"Segera minum ini Tuan," katanya dengan nada khawatir.


Si Mu mengambil sendok yang terjatuh itu sambil membungkuk. Saat ia menegakkan tubuhnya kembali, mangkuk keramik di tangan Chuan Yun itu sudah kosong hingga ia terkejut.


Ia tersenyum senang melihat semangat hidup tuannya itu, lalu mengambil kembali mangkuknya.


Tabib Leng mengangguk-angguk yakin dengan apa yang ia lihat ini, "Jika Yang Mulia Pangeran Ketiga berhasi sembuh karena semangat hidupnya ini, dia akan mencetak sejarah baru dalam dunia racun ganas."


Si Mu menahan tawanya mendengar pernyataan positif dari tabib terpercaya mereka. Ia mengusap keringatnya sendiri kemudian berbalik untuk menyelimuti majikannya.


"Buatkan aku makan," pinta Chuan Yun lagi.


"Buatkan bubur saja. Semoga pencernaannya masih bisa menerima makanan," Tabib Leng menimpali.


Air mata Si Mu kembali terjatuh. Ia mengangguk lalu dengan cepat memanggil beberapa pelayan wanita kepercayaannya untuk membuat bubur.


"Mungkin tidak seenak masakan Ting Er," keluh Chuan Yun dengan mata tertutup seakan ia menggigau.

__ADS_1


"Melihatnya sadar secepat itu, sebenarnya saya tidak menyangka. Seharusnya dia koma berhari-hari. Banyak pasien yang pernah mengalami hal yang sama, biasanya tidak bisa minum obat karena koma, lalu meninggal," kata Tabib Leng pada Si Mu dengan bisikan pelan.


Tapi sepertinya Chuan Yun berhasil menangkap suaranya, "Tadi aku bermimpi ..."


"Apa itu Tuan?" Si Mu segera menoleh penasaran.


"Ting Er berdiri di sampingku dan memanggilku dengan keras. Jadi aku terbangun. Tapi ternyata dia tidak disini ..." cerita Chuan Yun dengan suara lemah.


Si Mu dan Tabib Leng langsung bertatapan dengan muka sedih. "Apa arwah gadis itu membangunkannya?" bisik Tabib Leng takut-takut.


Si Mu menggosok lengannya sampai ke jari-jarinya, sepertinya penjaga itu merinding tanpa sebab.


**_**


"Berdiri disana! Berbaris dengan rapi!" perintah Guru Keputrian Istana. Dia adalah wanita tua bertubuh langsing yang selalu membawa tongkat kayu di tangannya.


"Rentangkan kedua tanganmu!" perintahnya lagi.


Puluhan gadis cantik yang berbaris di sana itu langsung merentangkan kedua tangannya dengan ekspresi kesal, ada pula yang merentangkan dengan tersenyum karena percaya diri akan ukuran tangannya yang proporsional.


Ia berjalan mondar-mandir untuk mengukur panjang rentangan tangan gadis-gadis itu dengan tongkat kayu, lalu mencatat hasilnya di kertas dengan bulu merak bertinta.


Tiba-tiba Yu Nan datang membawa Ting Er dalam genggaman tangannya, lalu membawanya masuk ke sana.


"Penjaga itu lagi?" heran wanita tua yang sibuk mencatat itu. Ia segera menyerahkan kertas dan penanya kepada pembantunya lalu bergegas menyambut Yu Nan.


"Iya bagaimana Penjaga Pribadi Kaisar?" tanyanya dengan tersenyum segan.


"Yang Mulia mengirim gadis ini untuk ikut seleksi. Pastikan dia lolos, karena kalau tidak Yang Mulia akan memenggalmu," kata Yu Nan dengan nada tegas dan ekspresi datar yang kaku.


"Ah hahaha. Baiklah saya mengerti. Jadi ... yang harus lolos adalah Nona Wu Yang Zhu dan Nona ini. Ah maaf nona siapa?" tanya wanita itu.


Yu Nan mengingat pesan Kaisarnya mengenai memberi identitas baru kepada gadis yang ia tangkap ini. Dan kaisar sudah memberikan nama baru untuknya.


"Xing Huang Lian," jawab Yu Nan.


Ting Er mengeja nama barunya itu sekali lagi, lalu mendongak menengok pada Yu Nan sang pemberi nama itu dengan heran.

__ADS_1


"Huang Lian yang artinya kuning langsat?" bisiknya pada penjaga kaisar itu.


"Apa tidak ada nama yang lebih bagus?" gerutunya dengan bibir manyun.


__ADS_2