
"Ayo kita kembali ke kamar. Kamu istirahat saja dulu," Duan Wei menggiring temannya itu agar menjauh dari kerumunan gadis-gadis seleksi.
Ai Xin dan Shi Wai juga segera berlari menyusul mereka dengan cemas.
Duan Wei membantu Ting Er duduk di kasurnya. Lalu mengambil jarum, kain, benang, dan gunting yang masih Ting Er bawa di tangannya da meletakkannya di atas meja.
"Apa itu benar?" tanya Shi Wai tiba-tiba.
"Apanya?" tanya balik Duan Wei.
"Apa dia selalu emosional dan menangisi semua makhluk hidup? Sepertinya dia sudah termakan ajaran buddha," lanjut Shi Wai.
"Iya. Mungkin begitu. Shi Wai, Ai Xin, bisa aku bicara sendiri dengannya berdua saja?" tanya Duan Wei.
"Ah tentu. Ayo Ai Xin," Shi Wai menggandeng tangan temannya itu lalu mengajaknya pergi dari kamar.
"Kalau memang demi kesehatannya, aku rela memberikannya," isak Ting Er tiba-tiba sambil menutup wajahnya.
Duan Wei perlahan-lahan duduk di samping Ting Er, lalu mengusap punggungnya
"Kamu berlebihan. Dia meninggal atau tidak, kamu juga akan tetap menjadi selir kan? Jadi apa gunanya menangisinya," nasihat Duan Wei.
Ting Er menggeleng-geleng dan tetap menangis dalam pelukan Duan Wei.
"Itu sudah bagus untuk kebahagiaannya. Aku dengar dia sangat kesakitan hingga kehilangan kesadaran untuk kedua kalinya. Jika dia manusia normal, dua jam saja sudah tiada harusnya," kata Duan Wei.
Tangis Ting Er jadi semakin kencang.
"Huang Lian sudah ... bisa gawat kalau Guru Shin lewat dan mendengarnya," Duan Wei terus mengusap punggung temannya itu dengan sabar.
"Lalu ... kapan mereka akan menikah?"
"Pangeran Ketiga dan Putri Hwang?" Duan Wei bertanya.
Ting Er menganguk.
"Secepatnya. Aku ini keponakan orang dalam Nona Huang Lian. Aku tahu semua beritanya. Kabarnya Putri Hwang itu juga jatuh cinta dengan pengawal pribadinya sendiri sehingga ayahnya marah," jelas Duan Wei.
"Pengawal pribadi?" lirih Ting Er.
"Iya. Oleh karena itu ayahnya menahan pengawal itu di penjara sampai sekarang, lalu mengirim ahli racun, putrinya, serta pendeta buddha kemari untuk mengesahkan pernikahan mereka segera setelah Pangeran Ketiga bangun," Duan Wei tampak tak sampai hati menceritakannya kepada Ting Er yang sangat cinta mati pada Chuan Yun itu.
"Apa?" Ting Er terlihat tak menyangka.
"Karena keduanya sempat memberontak karena cinta, keduanya akan dinikahkan tanpa pesta. Setelah satu bulan, mungkin akan diadakan pesta. Terutama setelah Pangeran Ketiga pulih total," lanjut Duan Wei.
__ADS_1
"Bukannya itu berita bagus? Pangeran Ketiga akan tetap hidup. Kamu berdoa saja agar saat ahli racun itu tiba besok pagi, Pangeran Ketiga masih bisa bertahan hidup. Karena dia sangat kritis," Duan Wei meyakinkan.
Ting Er kembali menangis mendegarnya. Namun kemudian dia tersenyum merelakan.
"Setidaknya masih ada ahli racun itu," Ting Er mengangguk-angguk berusaha membuat dirinya sendiri senang.
"Setidaknya dia tidak mati," yakin Ting Er lagi pada dirinya sendiri.
Tak lewat dari semenit wajah gadis itu sudah sumringah lagi seperti biasanya. Ia tersenyum hingga membuat Duan Wei agak takut.
"Dia akan baik-baik saja. Dia akan melanjutkan hidupnya dan aku akan segera kembali ke galaksi bima sakti," Ting Er menghela nafasnya.
"Huang Lian ... kamu bicara apa? Kamu alien?" tawa Duan Wei.
Ting Er segera tertawa untuk membuat kesan bercanda, "Tentu saja itu hanya bercanda."
Duan Wei mengangguk-angguk ikut tertawa.
Ting Er kembali menyahut garapan sulamannya dan melanjutkannya dengan semangat.
Kini Duan Wei dapat bernafas dengan tenang.
"Huang Lian sangat mencintai Pangeran Ketiga yah. Ngomong-ngomong aku ada janji bertemu dengan pangeran Ci Sen minggu depan. Aku sudah berjanji akan mengganti syalnya yang aku jatuhkan ke lumpur bulan lalu," Duan Wei tersenyum penuh cinta.
"Kamu bernyali sekali. Tidak takut ketahuan?" tanya Ting Er.
"Mau tidak mau harus mengembalikannya. Itu sepenuhnya salahku Huang Lian. Anggap saja hanya keformalan sebelum aku sah jadi selir," Duan Wei tersenyum.
"Ah begitu ..." Ting Er mengangguk mengerti lalu melanjutkan sulamannya lagi bersama dengan Duan Wei.
Beberapa menit kemudian sulaman kepala kucingnya sudah jadi. Ting Er tersenyum sesaat melihat kucing jingga yang ia buat sendiri itu sebelum melanjutkan ke tahap tubuh kucing hingga ekor kucing.
**_**
Keesokan paginya ahli racun itu datang bersama dengan Putri Hwang. Mereka berlari menuju ruang kesehatan sekolah dan menghiraukan acara penyambutannya dengan alasan darurat.
"Putri Hwang dan Ahli Racun memasuki ruangan!"
Mendengar aba-aba penjaga pintu itu, Si Mu dan Tabib Fang Leng saling bertatapan bahagia.
"Yang Mulia Putri Hwang, Tuan Ahli Racun!" Keduanya bersujud meminta pertolongan.
"Berdirilah," Putri Hwang dengan baik hatinya membantu keduanya berdiri. Sementara ahli racun itu sudah berlari ke arah Chuan Yun untuk memeriksanya.
"Yang ini ...?" heran Si Mu saat seorang biksu juga memasuki ruangan mereka.
__ADS_1
"Amitaba ... saya diutus kemari oleh Yang Mulia Kaisar Hwang untuk menikahkan keduanya," Ia tersenyum.
Si Mu kebingungan hingga saling bertatapan dengan tabib Fang Leng.
Karena Ting Er sudah meninggal, sepertinya ini juga adalah satu-satunya jalan untuk Tuan Muda melanjutkan hidup, batin Si Mu hingga air matanya menetes.
"Cukup di depan dewa. Lalu Kaisar akan membuat perayaan bulan depan. Kaisar Hwang juga akan datang kemari," biksu itu tersenyum lagi sambil menjelaskan.
"Uhuk!"
Semua mata tertuju pada Chuan Yun.
Saat ini ahli racun itu sudah selesai memijat titik-titik pengeluar racun. Itu membuat Chuan Yun memuntahkan darah hitam.
"Tuanku ..." Si Mu menangis melihat itu.
"Dia akan baik-baik saja ..." Putri Hwang dengan sifat perempuannya yang lembut segera menghibur Si Mu.
"Pemuda ini lumayan tampan," bisik Putri Hwang kepada pelayan perempuannya.
"Putri langsung melupakan Guo Hui Shan?" tanya Mei Quan pelayan pribadi perempuannya.
"Tentu tidak. Tapi jika aku tetap tidak melupakannya, ayah bisa saja membunuhnya kapan saja di penjara," sesal Putri Hwang.
Hwang adalah nama dinasti dan keluarganya. Sementara nama aslinya adalah Hwang Jing Ru.
"Padahal Hui Shan sudah bersiap memberontak untukku. Tapi aku melarangnya. Mana mungkin aku membiarkan dia membunuh ayahku?" Jing Ru memasang tampang sedihnya.
"Ting Er ..."
"Eih dia sudah sadar," Jing Ru segera beranjak dari tempatnya untuk melihat Chuan Yun.
"Ting Er ..."
"Siapa Ting Er?" tanya Jing Ru.
Mendengar suara perempuan, Chuan Yun membuka matanya lebar-lebar berharap itu adalah Ting Er.
"Ting Er!"
Chuan Yun menyentuh tangan Jing Ru.
"Tanganmu sangat dingin. Yaampun. Paman Ahli Racun, lakukan sesuatu," cemas Jing Ru.
"Saat ini saya sedang memijat titik refleksi lambungnya Yang Mulia. Sebentar lagi Yang Mulia Pangeran bisa makan sesuatu," jelas Ahli Racun itu.
__ADS_1