My Possessive Cat Girl

My Possessive Cat Girl
Aku Juga Tidak Perlu Hidup


__ADS_3

"Kamu ini meracau apa di sore hari? Ha?" tanya Chuan Yun dengan tak percaya.


"Ini sungguh Tuan," Si Mu menunduk menyesalinya.


"Lalu dimana Ting Er sekarang? Apa ayah memenjarakannya? Ayah tidak sebodoh itu Si Mu ... sudah sangat jelas kalau Kak Fu Jia selalu iri padaku. Dia juga yang bersaksi kalau pelayan menggodai dan ingin membunuhku. Lalu apa yang pelayan itu dapat? Tentu saja pelakunya adalah Kak Fu Jia," jelas Chuan Yun.


"Aku sangat mengerti itu Tuan. Satu istana juga mempergunjingkan ketidak adilan itu. Tapi entah mengapa Kaisar seperti juga ingin membuat pelayan yang Tuan cintai itu disingkirkan. Ini mungkin masalah pernikahan Tuan Muda," terang balik Si Mu.


"Aku akan melepaskannya dari penjara," putus Chuan Yun seraya berusaha berdiri.


"Lagi pula aku sudah menikahi Putri Hwang. Setidaknya dia harus melepaskan Ting Er," lanjut Chuan Yun. Ia terlihat tidak kesakitan sama sekali karena sangat mengkhawatirkan Ting Er.


"Ayo Si Mu!" ajak Chuan Yun untuk mengawalnya seperti biasa.


Si Mu menggeleng. Ia masih berlutut di tempat yang sama dan mulai menangis.


"Si Mu?" Chuan Yun mengerutkan alisnya.


"Kaisar sudah menjatuhinya hukuman mati, Tuan!" ungkap Si Mu akhirnya.


Chuan Yun melebarkan matanya kaget hingga wajahnya memucat lagi, "Uhuk!"


Ia langsung memegangi perutnya yang kembali sakit karena luka yang diakibatkan oleh racun itu. Meski racunnya sudah bersih, lukanya belum terlalu sembuh.


"Tuan Muda!" Si Mu berdiri dengan cekekal.


"Tuaan!" paniknya ketika melihat darah di telapak tangan Chuan Yun.


"Luo Wen! Dan kalian semua! Panggil Tabib Ahli Racun itu lagi! Mereka saat ini ada di aula jamuan kaisar!" perintah Si Mu.


Mereka semua juga tampak khawatir dan panik.


"Tidak. Itu bohong ..." lirih Chuan Yun sambil berusaha tetap sadar.


"Ahk ..." pekiknya sambil bersandar pada dada Si Mu.


"Tuan Mudaa ... tolong bertahanlah! Tuan Muda ..." tangis Si Mu.


"Ting Er belum mati. Kamu membohongiku!" bentak Chuan Yun yang tiba-tiba duduk tegak lagi sambil menuding Si Mu dengan jari telunjuknya yang penuh dengan darah.


Si Mu hanya mampu menggeleng dan menangis.

__ADS_1


"Aku akan segera menyusulnya! Berani sekali ayah melakukan itu ... ah," Chuan Yun kembali merintih sakit.


"Menyusul? Jangan katakan itu Tuan Muda!"


Chuan Yun menarik pedang dari sabuk Si Mu. Ia siap menikam dirinya sendiri. Tapi Si Mu segera merebutnya kembali dengan mudah karena Chuan Yun sedang lemah.


"Tuan Muda tolong tenanglah ..." Si Mu benar-benar ketakutan.


Tepat pada saat Putri Hwang dan Tabib Ahli Racun itu datang, Chuan Yun terjatuh dan kehilangan kesadaran lagi.


"Lebih baik kita bawa Pangeran Ketiga ke kediamannya. Disini agak tidak nyaman," kata Tabib Ahli Racun itu.


Si Mu mengangguk dengan cepat, lalu bergegas membantu prajurit-prajurit di sekitar sana untuk membopong tubuh Chuan Yun.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kami baru saja sampai di aula jamuan makan. Kami baru meninggalkannya lima belas menit!" cemas Jing Ru sembari berlari mengikuti mereka.


"Kekasih Pangeran Ketiga sebenarnya sudah mati dibunuh kaisar," jelas Luo Wen.


"Apa?!" Jing Ru membelalakkan matanya tak percaya.


"Ayahku saja tidak sekejam itu meskipun aku mencintai Guo Hui Shan. Apa yang sebenarnya Kaisar Hui itu pikirkan?!" marah Jing Ru.


"Bagaimana jika Pangeran Ketiga tidak bisa bertahan? Aku tidak masalah menjadi janda. Tapi setidaknya harus punya hati untuk hak kemanusiaan," cerocos Jing Ru yang panik.


"Jika dia tiada, aku masih punya Hui Shan. Tapi dia ini sangat malang!" timpal Jing Ru.


Pelayan wanitanya hanya bisa menggeleng menanggapi celotehan tak masuk akal Jing Ru.


Begitu sampai di kediaman Chuan Yun. Chuan Yun langsung di baringkan di atas kasurnya untuk diperiksa.


Tabib Ahli Racun itu memeriksa dengan menyentuh pergelangan tangan Chuan Yun sambil memejamkan matanya.


Orang di sekitarnya menunggu dengan tidak sabar dan tegang.


"Yin atau hati serta jantungnya sakit karena kesal dan terlalu sedih. Aku bisa menjamin ia sudah bebas dari racun. Dia hanya perlu memulihkan organnya yang sempat terdampak racun itu," jelas Tabib Ahli Racun dengan lugas.


"Jika dia terbangun nanti berikan obat yang sama yang sudah aku resepkan tadi pagi. Lalu pastikan dia makan," kata Tabib itu.


"Tapi bagaimana keadaannya sekarang?" Si Mu menangis lagi.


"Tidak berbahaya. Hanya harus serius memulihkan diri. Tenang saja ..." Tabib Ahli Racun tersenyum menenangkan Si Mu.

__ADS_1


Akhirnya Si Mu dan Jing Ru dapat bernafas dengan lega.


"Tapi percuma saja. Aku tebak dia tidak akan mau makan," Jing Ru melihat ke sekelilingnya, mencari pelayan.


"Pelayan Si Mu, bisa kau carikan aku jarum perak? Mulai saat ini kita harus mengetes makananannya dengan jarum perak," kata Jing Ru.


"Ah tentu saja Yang Mulia Putri!" Si Mu segera bergegas pergi mengambilkan.


"Pelayan, buatkan bubur. Beri daging rebus juga di atasnya. Tapi pastikan ditumbuk lembut," perintah Jing Ru.


"Baik Nona Muda!"


Jing Ru beranjak dari tempatnya sambil melihat-lihat kediaman besar itu.


"Di negara ini laki-lakinya semua berambut pendek ya. Tidak sama dengan kerajaan Hwang yang masih ketinggalan mode," celetuknya sembari melihat-lihat lukisan foto Chuan Yun di dinding.


"Nona! Tuan Muda bangun!" ujar pelayan pribadi Jing Ru.


"Eh?" Jing Ru buru-buru berbalik. Ia langsung berlutut di sebelah kasur Chuan Yun untuk melihat keadaan suami sahnya itu.


"Yang Mulia," panggil Jing Ru.


Chuan Yun tidak terlihat banyak merespon. Ia terlihat sangat tidak bersemangat dan pandangan matanya kosong.


"Yang Mulia!" panggil Jing Ru lebih keras.


"Ting Er sudah tiada, Jing Ru," lirih Chuan Yun.


Jing Ru mengangguk mengerti hingga ia ikut meneteskan air mata.


"Sekarang, tenangkan pikiranmu dan minum obat sebentar," pinta Jing Ru seraya mengambil mangkuk obat di meja.


Ia mencoba menyuapkan sesendok obat itu, tetapi Chuan Yun tetap tidak mau membuka mulutnya.


"Kubilang dia sudah tiada!" bentak Chuan Yun pada Jing Ru yang tetap memaksakan sendok itu untuk masuk.


Jing Ru sampai kaget dan menumpakhan obat itu dari sendoknya hingga mengenai pakaian Chuan Yun.


"Jika dia tiada ... itu artinya aku juga tidak perlu hidup," kata Chuan Yun sambil menatap mata Jing Ru dengan tatapan tertekan.


"Aku sangat mengerti perasaanmu. Tapi ..." Jing Ru kehabisan kata-kata. Ia sendiri mungkin akan melakukan yang sama jika Gui Hui Shan itu dibunuh ayahnya.

__ADS_1


"Tapi setidaknya pikirkan perasaan Nonaku yang sudah menjadi istri Yang Mulia. Tetap lanjutkan hidup Yang Mulia dan mulailah segalanya dengan baru," pelayan wanita Jing Ru bersujud dan berani membuka mulutnya untuk majikannya yang ia sayangkan itu.


__ADS_2