My Possessive Cat Girl

My Possessive Cat Girl
Malam Ini?


__ADS_3

"Kau bawa apa?" tanya Chuan Yun santai.


"Kakak benar-benar sudah sehat ya?" Air mata Ci Sen langsung mengaliri kedua pipinya.


"Hari ini banyak orang menangis di sekitarku. Padahal kalau aku tiada kenapa?"


"Jangan bicara begitu. Tanpa kakak, kelas tidak terasa dingin lagi," tangis Ci Sen.


Si Mu membekap mulutnya menahan tawanya atas sindiran keras Pangeran Kelima terhadap karakter dingin kakaknya.


"Aku membawa ginseng berumur ribuan tahun. Ke Wen memberikannya padaku waktu aku ulang tahun tahun lalu. Katanya ini bisa menambah stamina dan menyehatkan tubuh," Ci Sen memberikan kotak kayu berisi ginseng itu kepada Si Mu.


"Nanti rebuskan untuk kakak," pesannya.


"Baik Yang Mulia Pangeran Kelima. Terimakasih banyak," Si Mu membungkuk bahagia.


"Tidak perlu seperti itu," jawab Ci Sen.


"Kakak. Aku senang mendengar kakak sudah menikahi Putri Hwang Jing Ru. Selamat atas pernikahannya!" kata Ci Sen.


Chuan Yun tak banyak bereaksi selain tetap melanjutkan kegiatan makan buburnya.


"Aku tahu Ting Er masih hidup," kata Chuan Yun tiba-tiba.


"Ting Er? Siapa?"Ci Sen memiringkan kepalanya.


"Dia adalah nama asli Nona Bao Bao. Sebenarnya dia bukan kucing yang bangkit. Dia hanya manusia biasa yang jatuh ke danau. Tapi Tuan Muda sudah terlanjur cinta padanya," jelas Si Mu.


"Ah rupanya dia bukan kucing ya. Dia memang pelayan ya?" Ci Sen menggaruk belakang telinganya.


"Itu tidak mungkin. Saat hukuman mati itu di jalankan, tetap banyak saksi seperti biasanya," celetuk Ci Sen dengan jujur.


Si Mu segera melotot ke arah Ci Sen untuk menghentikan ucapannya sebelum tuannya itu hilang harapan dan kesakitan lagi.


Ci Sen segera menutup mulutnya meliha kode Si Mu.


Sementara Chuan Yun meneteskan air mata lagi.


**_**


Duan Wei sibuk menyulam kain baru milik Ting Er dengan susah payah. Melihat gadis itu masih termenung di pojok kamar dan menangis tanpa suara, ia tak sampai hati untuk menyuruh gadis itu menyulam sendiri.

__ADS_1


"Aku tidak tahu kau suka kucing yang bagaimana. Tapi aku sudah menyulamnya dengan warna jingga lagi," kata Duan Wei.


Tapi Ting Er belum menjawab.


Lalu apa gunanya tetap disini menunggu giliran memasuki kamar Kaisar? batin Ting Er tanpa harapan.


"Huang Lian ...?" panggil Duan Wei.


"Kamu baik-baik saja? Kainnya sudah jadi nih," Duan Wei datang menghampiri temannya itu lalu memberikan kain sulamannya.


Ting Er menerima kain bermotif kucing jingga itu. Saat melihat motifnya, ia jadi bernostalgia di hari ketika ia jatuh ke danau, ditolong, dan dipanggil sebagai kucing jingga bernama Bao Bao.


Ting Er meremas kain itu lalu memejamkan matanya menahan rasa sedih.


"Huang Lian ..." cemas Duan Wei.


"Malam ini kain ini harus dikumpulkan. Sekarang sudah malam, ayo kita ambil makan malam dan mengumpulkan ini ke Guru Shin?" ajak Duan Wei.


Ting Er menggeleng tak mau.


"Tapi kamu bisa sakit, ayo ..." bujuknya lagi.


Ting Er tetap menggeleng, "Jika Guru Shin mencariku, katakan aku tidak enak badan."


"Ayo kemari ambil makan. Atau aku ambilkan saja?" tawar Duan Wei.


Ting Er tidak menjawab sama sekali.


Duan Wei pun menghela nafas. Ia tak bisa membujuk gadis itu lagi, "Baiklah. Aku akan mengumpulkan kainmu."


"Sepertinya kamu kecewa Pangeran Ketiga menikah ya? Kalaupun dia tidak menikah, kamu kan akan tetap disini menjadi selir. Coba pikirkan ini dengan lebih baik," saran Duan Wei yang kemudian langsung pergi dari sana meninggalkan Ting Er sendirian.


"Kamu lama sekali. Kemana saja?" Shi Wai menyambut Duan Wei dengan mulut yang penuh dengan makanan.


"Hari ini hari bebas. Bisa makan tanpa takaran diet," timpal Ai Xin dengan bahagia sambil menyodorkan buah jeruk kepada Duan Wei.


"Kalian tahu apa makanan kesukaan Huang Lian tidak?" Duan Wei langsung menjawab ke pertanyaan intinya.


Mereka berdua langsung berhenti mengunyah dan melongok ke belakang Duan Wei untuk mencari Huang Lian


"Dimana anak itu?" tanya Ai Xin.

__ADS_1


"Dia tidak enak badan," bohong Duan Wei.


"Benarkah? Apa masalah kain sulamannya sudah beres?" tanya Shi Wai dengan khawatir.


"Sudah. Tapi dia tetap mendekam di kamarnya. Aku akan mengumpulkan kainnya," Duan Wei menghela nafas lagi karena kesal sembari berjalan ke meja makan untuk mengambil sesuatu.


"Aku yang akan membawakannya makan. Aku sudah selesai. Kau makan saja Duan Wei," kata Ai Xin.


"Iya," jawab Duan Wei.


Ai Xin segera mengambil buah-buahan, sup tofu, sio bak, dan udang bakar sesuai selera makannya. "Kira-kira dia suka ini tidak ya?" Ia meminta pendapat Shi Wai.


"Seharusnya suka. Pilihanmu enak semua," kekeh Shi Wai.


"Baiklah," Ai Xin tersenyum lebar lalu mulai berjalan ke arah kamar mereka.


Begitu sampai di kamarnya, ia melihat Ting Er yang berbaring menghadap tembok sambil meringkuk.


"Huang Lian, kamu sedang sakit? Apa perlu aku panggilkan tabib?" tanya Ai Xin.


Ting Er mendengarnya. Tapi dia tidak mau menjawab.


"Kamu tidur ya? Aku membawakanmu makanan. Kalau sudah bangun nanti tolong dimakan. Aku taruh di meja ya."


"Oh ya nanti malam kita semua akan kembali ke kamar agak larut malam. Hari ini ada penjurian kain sulaman. Hampir tengah malam nanti kaisar akan mengirim surat keputusan untuk memanggil salah satu calon selir ke kamarnya malam ini," jelas Ai Xin.


"Kamu sendirian nggak apa-apa?" Ai Xin tetap berusaha mengajaknya bicara.


"Tidak apa-apa. Terimakasih Ai Xin," jawab Ting Er dengan suara pelan.


"Ah baiklah kalau begitu," balas Ai Xin sambil tersenyum lega begitu temannya itu meresponi.


Begitu temanny yang satu itu pergi, Ting Er segera menegakkan badannya karena mencium bau lezat. Tapi setelah menatap piring itu ia kembali memasang wajah sedihnya ketika teringat akan Chuan Yun yang selama ini menyediakan makan untuknya.


Ia kembali membaringkan tubuhnya menghadap tembok dan meratapi nasib.


Chuan Yun ... bagaimana pernikahannya? Apa gadis itu lebih manis dariku? batinnya.


Chuan Yun si es batu. Apa kau sudah luluh dengan gadis itu? batinnya lagi.


Ting Er tetap dalam posisi seperti itu sepanjang malam tanpa tertidur. Hingga hampir tengah malam terdengar suara keramaian dari aula.

__ADS_1


"Nona Xing Huang Lian terpilih oleh kaisar! Sulaman kucing keberuntungan adalah ide bagus. Dan lagi patung kucing keberuntungan sempat ada dalam sejarah dinasti. Dia adalah keberuntungan bagi kaisar malam ini!" Terdengar suara lantang pembaca surat keputusan kaisar.


__ADS_2