My Possessive Cat Girl

My Possessive Cat Girl
Apa Kelemahan Siluman Kucing?


__ADS_3

"Selama ini makan ikan?" tanya Permaisuri.


"Ahahaha tidak. Kami selalu makan makanan set untuk pelayan. Semuanya serba sayur. Dia hanya terlalu sering dimanjakan Tuan Muda. Tuan Muda selalu memberinya makanan tambahan berupa ikan agar gizinya tercukupi," Zhi Yu menjawab dengan fasihnya.


Permaisuri mengangguk-angguk mengerti, "Ah begitu rupanya."


"Iya hahaha," Zhi Yu kembali terkekeh garing.


Melihat Zhi Yu yang tiba-tiba memelototinya, Ting Er langsung membenahi cara duduk dan caranya melihat makanannya.


Ia menyumpit beberapa makanan dengan perlahan karena takut. Lalu memakannya dengan perlahan pula agar tidak terlihat kurang sopan.


"Kalian makanlah sepuasnya. Kalau memungkinkan, besok kalian bisa pulang. Tapi ... setelah ini datang ke kamarku dan pijat aku sekali lagi Jiao Bao. Boleh kan?" Permaisuri tersenyum.


"Eh um um um!" Karena mulutnya penuh dengan makanan dan sumpitnya masih menyentuh bibirnya, Ting Er hanya bisa mengangguk mengiyakan dengan gumaman tak jelas.


Setelah Permaisuri pergi, Ting Er segera melahap makanannya dengan tak sungkan-sungkan lagi. Kuahnya sampai bertebaran kemana-mana karenanya.


"Yaampun Bao Bao ..." Zhi Yu terkekeh.


"Permaisuri sangat menghormatimu ya? Menyuruhmu memijatnya saja masih harus meminta ijin kamu. Bao Bao, kamu itu memang memiliki aura yang kuat sampai-sampai orang-orang langsung jatuh cinta padamu," puji Zhi Yu.


"Ehm hm hm hm," Ting Er tertawa menyipitkan mata dengan mulut penuhnya.


Setelah ia menelan semua makanannya dan meminum seteguk air, Ting Er langsung menatap Zhi Yu seakan ingin menanyakan hal yang sama yang ia tanyakan tadi.


"Zhi Yu, apa yang terjadi? Kenapa kita ada disini?!" Seakan baru ingat ia meninggikan suaranya.


"Nona menghirup sapu tangan dengan cairan bius tadi. Sedangkan aku berpura-pura pingsan saja. Ternyata kita diculik Pangeran Kedua dan anak buah Pangeran Pertama,"


Ting Er melebarkan matanya tak percaya, "Lalu ... lalu?"


"Lalu aku menebar kalung dan gelang manik-manik Nona ke jalan agar Tuan Muda bisa menemukan kita. Zhi Yu minta maaf untuk itu Nona," sesal Zhi Yu.


"Tidak masalah, nyawa lebih penting! Besok kita akan beli lagi hihi."


"Kemudian Tuan Muda meminta bantuan permaisuri dan permaisuri mengakui kita sebagai orang kesayangannya. Akhirnya kaisar menghukum Pangeran Pertama dan Pangeran Kedua. Mereka pasti malu," Zhi Yu tertawa pelan.


"Begitu rupanya ... bagaimana nasib Tuan Muda tanpa aku? Sepertinya saat ini dia sedang menangis," gumam Ting Er percaya diri.


**_**

__ADS_1


"Tuan Muda, mengapa akhir-akhir ini selalu membaca buku sejarah pedang pusaka," tanya Nenek Hwa seraya menyajikan kopi yang dipesan Chuan Yun ke meja belajarnya.


Chuan Yun membalik lembar buku selanjutnya dengan tampang serius, "Aku sedang mempelajari kaitan pedang itu dengan mitos perubahan kucing menjadi manusia. Tadi siang aku menemukan pedang bekas dengan harga murah di pasar, tapi ciri-cirinya benar-benar sama dengan pedang pusaka. Untungnya penjual itu kurang literasi, jadi dia menjualnya dengan murah kepadaku."


"Bagaimana bisa ada hubungannya dengan kucing yang menjadi manusia?" Nenek Hwa jadi ikut penasaran.


"Entahlah, aku pun sedang membaca. Tapi masih belum bisa menemukan jawaban pastinya karena tulisan kuno ini sedikit berbelit-belit," Chuan Yun menggeleng tanpa mengalihkan fokusnya dari tulisan-tulisan buku itu.


"Aku akan menyimpannya. Siapa tau berguna suatu saat," Chuan Yun menutup bukunya karena sudah menyerah mencari jawaban.


"Apa Yang Mulia tidak mau diambilkan makan malam?" tawar Nenek Hwa sekali lagi.


"Tidak. Tinggalkan aku."


Nenek Hwa pun menunduk mengiyakan, lalu pergi meninggalkan Chuan Yun.


Kemudian wanita itu berpapasan dengan Si Mu yang terlihat mengkhawatirkan sikap tuannya. "Padahal gadis kucing itu baik-baik saja. Tapi Tuan malah tidak mau makan malam," celetuk Si Mu.


"Baik-baik saja dari mana?"


Menyadari celetukan kecilnya itu berhasil terdengar sampai telinga Chuan Yun, Si Mu mendadak panik dan menunduk tak berani.


"Dia dibius. Lalu sampai sekarang juga belum ada buku yang menjelaskan efek samping bius untuk kesehatan kucing. Bagaimana jika tubuh kucing jadi-jadian ada kelemahannya?"


"Bagaimana jika Pangeran Kedua dan anak buahnya sempat memukulinya?"


"Ah Tuan ... hamba sudah mengirim mata-mata sejak awal. Gadis itu sehat-sehat saja dan sedang makan banyak makanan dengan lahap. Disini Tuan malah memikirkannya dan tidak makan, bukannya itu rugi?" bujuk Si Mu.


"Jadi dia baik-baik saja?" heran Chuan Yun.


Si Mu mengangguk sungguh-sungguh.


Aneh sekali. Padahal Bao Bao termasuk kucing penakut. Ah apa benar? batinnya.


"Pokoknya aku akan menunggu sampai kita bisa bertemu. Kalau sampai ada apa-apa dengannya, aku pasti tidak melepaskan Kakak pertama dan kedua!" Chuan Yun menumpuk semua bukunya dan merapikannya di meja dengan kasar.


"*Bruk."


"Bug!"


"Brug*!!"

__ADS_1


Kemudian bengkit dari tempatnya dan keluar dari kamarnya.


"Eeeih ..." cemas Si Mu.


"Lihat itu Nek. Tuan tidak makan dan tidak tidur. Aku penasaran jika kucing itu tidak memiliki umur yang panjang, apa Tuan akan bisa tetap hidup?" Si Mu menunduk memelas.


Nenek Hwa menggeleng. "Bukannya kalau sudah menjadi manusia, akan hidup sampai tujuh puluh tahun lebih?"


"Seharusnya. Tapi siapa yang tahu? Dia itu kan kucing," Si Mu menaik turunkan bahunya.


"Tapi sebenarnya ... hari ini Kaisar kembali bicara padaku," Si Mu tampak berfikir.


"Soal apa?"


"Soal perjodohan Yang Mulia dengan Putri Hwang. Sayangnya dia sedang tidak mood. Kalau aku mengajaknya bicara soal ini pasti dia marah," Si Mu cemberut.


"Permaisuri yang berusaha mendekatkan Putri Bangsawan Zi Lin dengan Tuan Muda sudah menyerah dan merestuinya dengan Bao Bao. Tapi kaisar ..."


Nenek Hwa terlihat antusias mendengar itu, "Itu adalah kemajuan yang baik. Setidaknya permaisuri sudah mau memberikan ijin. Tinggal kaisar saja."


"Benar. Jika Bao Bao bisa menarik hati permaisuri, tentu menarik hati kaisar tidaklah sulit," Si Mu dengan yakin mengatakan hal itu diikuti dengan anggukan Nenek Hwa.


**_**


Zi Lin masih berbaring di kasurnya dengan mata sembab. Ia terus menangis semenjak pengadilan di aula tadi selesai.


"Aku tidak menyangka. Seekor kucing mengalahkanku," tangisnya.


"Hanya seekor kucing hina."


"Dan permaisuri juga berpihak kepadanya sekarang. Lalu apa gunanya aku tetap bersekolah disini?"


"Tidak. Kita harus mencari sesuatu. Pasti kucing jadi-jadian itu ada kelemahannya."


"Feng Mei!!"


"Iya Nona!" Pelayan pribadi gadis itu segera meletakkan semua peralatan masaknya dengan gemetar, lalu berlari menuju kamar Zi Lin.


"Carikan aku orang pintar yang memahami soal siluman. Aku butuh sekarang juga!" perintahnya dengan emosi yang meluap.


"Baik Nona. Tetapi ... tetapi ... kalau selarut ini tidak bisa-"

__ADS_1


"Kenapa? Kamu menolak perintahku??"


"Bukan Nona. Tapi orang ahli itu pasti sedang beristirahat," Feng Mei menunduk takut.


__ADS_2