My Possessive Cat Girl

My Possessive Cat Girl
Racun Itu Mustahil Disembuhkan


__ADS_3

"Nona Xing ... bagaimana kalau tidur di tempatku saja? Kasurnya tidak terlalu sempit dipakai berdua?" tawar Duan Wei sekali lagi.


"Tolong jangan banyak dipikirkan kata-katanya. Nona Mao Mu memang sangat sombong dan arogan karena kecantikannya sejak dulu. Yang terpenting saat ini adalah keberanian untuk hidup di istana berbahaya ini. Jika mentalmu tidak kuat dan cengeng, bagaimana kedepannya nanti saat berhasil sah menjadi selir?" nasihat Duan Wei.


Ting Er mengangguk sambil tersenyum menghargai kebaikan Duan Wei. Setidaknya ia punya teman baik seperti Duan Wei di sisisnya. Tidak heran ia diberi tanggung jawab besar sebagai penanggung jawab ketertiban calon selir selama program seleksi.


Ting Er berusaha menyembunyikan perasaannya. Kalaupun ia kabur dari sini untuk menemui Chuan Yun, ia takut kaisar yang memiliki otoritas kuat itu benar-benar akan membunuh Chuan Yun karena dirinya. Karena kaisar sudah sempat mengancamnya tadi.


Demi bertahan hidup, ia sudah memutuskan untuk menjalaninya saja sementara waktu. Sampai ia melihat ada jalan keluar untuk masalahnya.


Duan Wei membantunya berdiri, lalu menggandeng dan menuntunnya ke kamarnya dan teman-teman baiknya.


"Ai Xin, kenalkan. Dia adalah Nona Xin Huang Lian. Bukannya dia sangat manis?" tawa Duan Wei seraya memperkenalkan Ting Er kepada teman perempuannya.


"Oh halo Nona Xing," sapa Ai Xin dengan senyuman ramah.


"Ada apa malam-malam begini?" tanya Ai Xin pada Duan Wei.


"Mao Mu mengganggunya sampai dia menangis. Aku kira kalau tidur di sebelahku juga masih cukup," kata Duan Wei.


"Ah Mao Mu memang keterlaluan. Apa dia tidak punya hati? Apa belum cukup kejadian minggu lalu?!" marah Ai Xin yang jadi ikutan emosi.


"Ah maaf barusan aku sangat emosi. Oh ya, karena kamu masuk ke kamar kami, kamu sudah jadi teman kami. Bagaimana kalau aku memanggilmu Huan Lian? Kau keberatan?" tanya Ai Xin.


Ting Er menggeleng sambil tersenyum.


"Baguslah," Ai Xin terkekeh.


"Ungh ... dasar iblis Mao Mu. Lihat saja malam ini dia akan berlari dan menangis lagi setelah digentayangi arwah Jue Luo," racau Shi Wai dengan mata tertutup karena mengantuk. Disana total terdapat empat gadis tidak termasuk Ting Er.


"Arwah?" tanya Ting Er.


"Iya, Jue Luo bunuh diri karena dirudung oleh orang-orang gila yang sok cantik itu," Shi Wai membalik badannya dan membuka matanya begitu mendengar suara gadis asing.


Ting Er menutup mulutnya karena takut, "Padahal mereka bilang, temannya itu tidak lolos seleksi minggu lalu."


"Mereka membohongimu," Shi Wai tersenyum bosan.

__ADS_1


"Itu sudah biasa Nona Huan Lian. Total sudah ada sepuluh kasus bunuh diri tahun ini di harem," Shi Wai merenggangkan tubuhnya sambil terus bercerita dengan suara malas.


"Mereka semua bermental lemah dan bodoh karena mudah diperdaya," lanjut Shi Wai.


"Shi Wai, jangan menakutinya," Duan Wei menyela.


"Dia harus tahu itu. Disini memang tidak mudah," Shi Wai tetap bersikeras.


"Ya Chen, kau sudah tidur?" tanya Shi Wai pada gadis yang satu lagi.


"Belum. Aku masih memikirkan nasibku. Sebentar lagi aku harus pulang ke desa karena gagal masuk seleksi," katanya sambil terisak.


Begitu mendengar isakan itu, Duan Wei, Shi Wai, dan Ai Xin langsung terlonjak dari kasurnya.


"Ya Chen ..." panggil mereka dengan nada simpati.


"Ayahku akan membunuhku hiks. Mereka sudah terlanjur membanggakanku ke keluarga besar karena aku lolos seleksi awal. Tapi seleksi selanjutnya aku gagal. Hiks! Bagaimana ini ... aku pasti sangat malu," tangis Ya Chen dengan agak keras.


"A- aku tidak bisa hidup lagi," katanya sambil menggeleng-geleng.


"Kamu pasti baik-baik saja. Sejahat-jahatnya orangtua, mereka tidak akan membunuh anaknya sendiri," kata Ting Er tiba-tiba.


"Kecuali kalau kaisar. Itu mungkin saja," Ting Er tersenyum kecut sembari mengingat ancaman kaisar mengenai ia akan membunuh Chuan Yun hanya gara-gara memperebutkan dirinya.


Ya Chen sedikit terhibur dengan ucapan Ting Er. Ia pun berhenti menangis.


Sementara Ting Er sudah merangkak masuk ke dalam selambu anti nyamuk dan membaringkan tubuhnya di sebelah Duan Wei.


"Nona Huang Lian memang hebat. Ya Chen langsung berhenti menangis dan mulai percaya atas kasih sayang orangtuanya," puji Shi Wai sambil terkekeh senang.


"Ya Chen. Kalau sudah pulang nanti tolong jangan lupakan kami. Aku sendiri juga mungkin akan menyusulmu suatu saat. Kau tahu sendiri kalau aku punya bisul di paha," Ai Xin menimpali.


Ting Er melotot, "Apa seleksinya seketat itu?!"


"Tentu saja. Haahh padahal aku sudah mandi air susu berkali-kali. Sudah menggosoknya dan memakai obat-obatan anti radang. Tapi karena hidupku yang setertekan ini di istana gila ini, tubuhku sensitif dan membuatku berjerawat!" pekik Ai Xin frustrasi.


"Kenapa? Apa kamu juga ada masalah kulit?" tanya Ai Xin pada Ting Er.

__ADS_1


"Kalaupun ada jangan takut Nona Huang Lian, kamu tidak akan diseleksi. Kamu hanya tinggal menunggu hari pengesahan saja," Duan Wei terkekeh.


"Ah beruntungnya ..." Shi Wai dan Ai Xin memanjangkan nadanya bersama-sama, lalu memejamkan matanya untuk tidur.


**_**


"Apa?!"


"Kenapa dia masih hidup!" marah Fu Jia.


"Sia-sia saja semua ini!" umpatnya sambil menendang meja dan menyerakkan buku-bukunya hingga pelayan-pelayan kediamannya ketakutan.


"Dia bahkan sudah sadar sejak kemarin Yang Mulia. Tampaknya dia sangat semangat untuk hidup, belum lagi Tabib Fang Leng yang sangat berdedikasi. Dia sangat pandai meramu obat," tanggap pelayan pribadinya Fu Jia.


"Bukannya gadis itu sudah mati dihukum oleh ayah?"


"Sudah Yang Mulia," jawab pelayan pribadi itu.


"Lalu bagaimana dia bisa hidup?!"


"Atau mungkin tidak ada yang memberitahunya kalau pelayan itu sudah mati?" tebak pelayan pribadi Fu Jia.


"Jika ya, maka kita harus memberitahunya!" Fu Jia bersikeras.


"Tapi bagaimana Yang Mulia? Penjagaan ruang kesehatannya sangat ketat karena insiden racun itu. Tidak ada yang bisa keluar masuk semudah itu untuk bertemu dengan Pangeran Ketiga," jelas Pelayan Pribadi Fu Jia.


"Itu sulit. Apa lagi banyak beredar kecurigaan bahwa insiden ini adalah permasalahan kekuasaan. Tuan adalah tersangka utama di mata orang-orang meski kaisar tidak menunjukkan kecurigaan itu entah mengapa," Pelayan Pribadi Fu Jia berusaha menjelaskan situasinya.


"Maka yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu kabar kematiannya. Karena racun yang Yang Mulia gunakan itu sudah yang paling ganas. Hampir tidak ada orang yang bisa menyembuhkannya," lanjut Pelayan itu.


"Tuan jangan ragu. Karena kabarnya, meskipun dia sadar, gejala racunnya terus memburuk. Sekalipun itu disembuhkan, racunnya tidak bisa sepenuhnya hilang. Belum ada inovasi kesehatan yang pas untuk racun itu."


Fu Jia mengangguk-angguk sambil tersenyum positif. Ia percaya apa kata pelayannya itu.


"Aku mengerti, aku mengerti. Cepat atau lambat dia pasti tiada," yakin Fu Jia sambil tersenyum miring.


"Adik yang sombong dan merasa bisa menyaingi dan merebut tahtaku itu. Biar dia rasakan ..."

__ADS_1


__ADS_2